Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan, militer AS akan menempatkan lebih banyak kekuatan udara, pasukan darat dan persenjataan berteknologi tinggi di kawasan Asia-Pasifik dengan tujuan menciptakan keseimbangan strategis.
|
Dalam pidatonya pada hari Sabtu (1/6), Hagel juga menuduh Cina melakukan cyber serangan. ISNA melaporkan.
Hagel meyakinkan sekutu dan mitra AS dalam Dialog Keamanan Shangri-La di Singapura. Ia mengatakan, AS sepenuhnya mampu melanjutkan poros strategis di kawasan Asia-Pasifik meskipun keterbatasan anggaran militer. "Washington menyatakan khawatir terhadap meningkatnya ancaman cyber, di mana sebagian kasus berhubungan dengan pemerintah dan militer Cina," jelasnya. Hagel menggarisbawahi bahwa menyelesaikan banyak masalah keamanan regional akan membutuhkan kerjasama yang lebih erat antara Washington dan Beijing. Ia juga menekankan upaya AS untuk memperdalam hubungan dengan sekutu dan mitra di kawasan melalui keterlibatan baik bilateral maupun multilateral. Pada kesempatan itu, Hagel mengundang para menteri pertahanan dari negara-negara ASEAN untuk bertemu di Hawaii tahun depan. (TGR/IRIB Indonesia) |
Informasi Seputar Teknologi Komputer Alutsista Militer Indonesia dan Dunia
News in Picture
Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts
Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts
Saturday, June 8, 2013
Militer AS Perkuat Kehadiran di Asia-Pasifik
Friday, May 31, 2013
NORTHROP GRUMMAN MQ-4C TRITON UAV AS TERBARU
Angkatan Laut AS sukses melakukan ujicoba terbang pesawat pengintai tanpa awak, Northrop Grumman MQ-4C Triton, Rabu (22/05/2013). Pesawat yang dirancang untuk pengawasan dan pengintaian udara ini dapat beroperasi hingga 24 jam dan dengan ketinggian hingga 16 kilometer.
Pesawat pengintai tanpa awak, Northrop Grumman MQ-4C Triton usai menjalani ujicoba terbang selama 80 menit.
Pesawat Northrop Grumman MQ-4C Triton dirancang untuk pengintaian udara hingga 24 jam dengan ketinggian lebih dari 16 kilometer.
Pesawat pengintai tanpa awak Northrop Grumman MQ-4C Triton usai menjalani ujicoba terbang selama 80 menit.
Sumber : Vivanews
Thursday, May 23, 2013
AGM-65 Maverick Rudal Udara Ke Darat Amerika Serikat
AGM-65 Maverick adalah sebuah peluru kendali udara ke darat yang dirancang untuk keperluan dukungan udara. Rudal ini efektif dipakai untuk banyak target seperti kendaraan lapis baja, pertahanan udara, kapal dan fasilitas darat lain. Maverick memiliki bentuk silindris dan memiliki ujung yang terbuat dari gelas untuk pemandu elektro-optik atau seng sulfida untuk pemandu inframerah, sayap berbentuk delta serta hulu ledak yang terletak di bagian tengah. Pada A-10 Thunderbolt, F-15E dan F-16, sejumlah 6 Maverick dapat dibawa yang diletakkan di bawah sayap. Maverick bersifat tembak dan lupakan, sehingga pilot dapat segera melakukan gerakan manuver atau menyerang target lain karena rudal akan mencari targetnya sendiri secara otomatis.
Model AGM-65F yang digunakan oleh AL-AS memiliki pemandu inframerah. (136 kg). AGM-65 memiliki dua macam hulu ledakyaitu yang memiliki pemicu kontak di ujung dan yang memiliki pemicu dengan interval yang menembus target dengan energi kinetiksebelum meledak. Model terakhir lebih efektif untuk target yang keras dan besar. Sistem mesin untuk kedua model memakai motor roket berbahan bakar padat.
Beberapa varian dari rudal AGM 65 Maverick diantaranya
- AGM-65A
Memiliki pemandu elektro-optik . Setelah kubah pelindung dicabut dan sirkuit videonya diaktifkan, tampilan yang dilihat oleh sistem pemandu akan muncul di layar kokpit. Pilot kemudian memilih target, mengunci target kemudian rudal ditembakkan.
- AGM-65B
Mirip dengan model A dengan pengembangan pada sistem televisinya yang memungkinkan pilot untuk memperbesar layar (zoom) untuk mengidentifikasi target yang kecil.
- AGM-65D
Memiliki pemandu inframerah , yang memungkinkan penggunaan pada malam hari atau cuaca buruk, pembidik inframerahnya juga dapat melacak panas yang dihasilkan oleh target.
- AGM-65E
Memiliki pemandu laser yang digunakan korps marinir. Rudal akan melacak laser yang dipantulkan. Jika pantulan laser tidak lagi dideteksi, rudal akan terbang melewati target dan tidak akan meledak.
- AGM-65F
Memiliki 136 kg hulu ledak yang digunakan oleh angkatan laut serta pemandu elektro-optik yang dioptimalkan untuk target kapal.
- AGM-65G
Mirip dengan model D, tetapi memiliki hulu ledak berat dibandingkan dengan model A, B dan D yang shaped-charge.
Spesifikasi
Spesifikasi teknis Rudal AGM 65 Maverick
- Mesin : Thiokol TX-481 dengan motor roket berbahan bakar padat berpendorong ganda
- Berat :
- 207,9 kg (AGM 65A/B)
- 218,25 kg (AGM 65D)
- 301,5 kg (AGM 65G)
- 286 kg (AGM 65E)
- 301,5 kg (AGM 65F)
- Panjang : 2,55 meter
- Diameter : 30,48 cm
- Bentang sayap : 71,12 cm
- Kecepatan : 1.150 km/jam
- Jangkauan :
- 27 km ( ketinggian tinggi )
- 13 km ( ketinggian rendah )
- Hulu ledak :
- 56,25 kg (AGM 65A/B)
- 135 kg (AGM 65G)
- 56,25 kg (AGM 65E)
- 135 kg (AGM 65F)
- Sistem pemandu :elektro-optik, inframerah dan laser
- Platform : Pesawat
Pengguna
Angkatan udara AS pertama kali menerima Maverick pada Agustus 1972. Rudal AGM-65 dipakai oleh F-16 Fighting Falcondan A-10 Thunderbolt II selama Perang Teluk tahun 1991. Maverick berperan besar dalam penghancuran kekuatan militer Irak dalam Perang Teluk. Peluncur Maverick LAU-117 digunakan oleh angkatan laut dan angkatan udara AS berikut:
- A-4 Skyhawk
- A-6 Intruder
- A-7 Corsair II
- AH-1W
- AV-8 Harrier II
- F-4 Phantom II
- F-5 Freedom Fighter
- F-15 Eagle, F/A-18 Hornet
- General Dynamics F-111
- P-3 Orion
- SH-2G
Beberapa negara lain yang menggunakannya antara lain:
Royal Air Force Harrier GR7
Republic of Korea Air Force A-50
TNI-Angkatan Udara F-16 A/B Block 15 OCU
Luftwaffe Panavia Tornado
Yugoslav (sekarang
Soko J-22 Orao
Sunday, May 19, 2013
MIM 104 PATRIOT , SI PENANGKIS RUDAL MUSUH
![]() |
| MIM 104 Patriot |
Namanya mencuat semasa Perang Teluk 1991. Dialah pembungkam rudal maut Scud paling jitu. Dimana letak keunggulannya?
Prestasi rudal taktis yang satu ini memang luar biasa. Tak percaya? Simak saja unjuk kebolehannya semasa Perang Teluk 1991, kala Angkatan Bersenjata AS berusaha mengusir kekuatan Irak dari Kuwait. Patriot berhasil "melahap" 70 persen rudal Scud yang diluncurkan Irak ke Kuwait dan Arab Saudi, langsung di udara.
Setiap rudal punya kelebihan. Tetapi ketika perhatian tertuju pada duel rudal, pertama yang terbayang tentu soal kecepatan dan keakuratan. Sejak awal, selaku pembuat, Raytheon sadar betul kebutuhan mendasar tersebut. Jika Scud biasa melaju mendekati satu kali kecepatan suara atau Mach 1, Patriot tentu harus lebih cepat dari itu. Tanpa keunggulan ini, sang rudal hanyalah mesin pembunuh yang bodoh. Lebih dari itu operatornya pun harus orang-orang yang cekatan.
Alhasil, mengoperasikan rudal pelahap rudal ini memang lebih merepotkan ketimbang rudal lain. Kelengkapan andalan Angkatan Darat AS ini pun ekstra kompleks. Sistemnya tak hanya terdiri dari sebatas peluncur, tetapi juga harus didukung banyak piranti lain. Yang sudah pasti jadi pasangan tetap adalah radar pengendus khusus serta stasiun penentu dan pengarah data tersebut.
Radar akan jadi pengendus sasaran selagi masih dalam jarak yang sangat jauh. Sementara stasiun penentu/pengarah data secara sinergis akan menampilkan data penerbangan rudal musuh yang dimaksud. Baik itu berupa data trayektori dan posisi. Perlengkapan terakhir yang biasa dijuluki Engagement Control Station (ECS) ini juga akan jadi penuntun utama Patriot ke arah rudal yang akan dimusnahkan.
Prestasi rudal taktis yang satu ini memang luar biasa. Tak percaya? Simak saja unjuk kebolehannya semasa Perang Teluk 1991, kala Angkatan Bersenjata AS berusaha mengusir kekuatan Irak dari Kuwait. Patriot berhasil "melahap" 70 persen rudal Scud yang diluncurkan Irak ke Kuwait dan Arab Saudi, langsung di udara.
Setiap rudal punya kelebihan. Tetapi ketika perhatian tertuju pada duel rudal, pertama yang terbayang tentu soal kecepatan dan keakuratan. Sejak awal, selaku pembuat, Raytheon sadar betul kebutuhan mendasar tersebut. Jika Scud biasa melaju mendekati satu kali kecepatan suara atau Mach 1, Patriot tentu harus lebih cepat dari itu. Tanpa keunggulan ini, sang rudal hanyalah mesin pembunuh yang bodoh. Lebih dari itu operatornya pun harus orang-orang yang cekatan.
Alhasil, mengoperasikan rudal pelahap rudal ini memang lebih merepotkan ketimbang rudal lain. Kelengkapan andalan Angkatan Darat AS ini pun ekstra kompleks. Sistemnya tak hanya terdiri dari sebatas peluncur, tetapi juga harus didukung banyak piranti lain. Yang sudah pasti jadi pasangan tetap adalah radar pengendus khusus serta stasiun penentu dan pengarah data tersebut.
Radar akan jadi pengendus sasaran selagi masih dalam jarak yang sangat jauh. Sementara stasiun penentu/pengarah data secara sinergis akan menampilkan data penerbangan rudal musuh yang dimaksud. Baik itu berupa data trayektori dan posisi. Perlengkapan terakhir yang biasa dijuluki Engagement Control Station (ECS) ini juga akan jadi penuntun utama Patriot ke arah rudal yang akan dimusnahkan.
![]() |
| Gambar Tembakan Rudal Patriot |
Lalu, bagaimana cara operator ECS memastikan bahwa sasaran benar-benar rudal musuh? Sederhana saja. Sebagaimana cara penerbang militer dunia mengidentifikasi kawan dan lawan, operator ECS juga menerapkan teknik IFF (Identification Friend or Foe).
Dengan teknik IFF, persisnya, setiap pesawat kawan akan memancarkan kode pengenal yang selalu diperbaharui setiap hari. Di layar radar, bentuknya biasa berupa lingkaran berkedip di layar dengan huruf "T" di tengah. "T" berarti true friend. Namun, jika yang tertangkap radar hanya lingkaran kosong, bisa dipastikan bahwa dia adalah obyek tak dikenal. Operator ECS tak pernah bisa melihat wujud fisik rudal secara langsung. Berkat tatacara elektris inilah serangan bisa fokus.
Akan tetapi, sebagaimana lazimnya radar terestrial, ECS punya kelemahan mendasar yang sulit ditutupi. Hal itu berkaitan dengan ketidakmampuan mengendus sasaran sebelum melewati batas ufuk (horizon). Itu sebabnya dalam pentas Perang Irak 1991 AD AS menganggap perlu mengerahkan satelit mata-mata sebagai pendukung radar ECS.
Karena letaknya ada di langit, satelit bisa memantau dalam cakupan lebih luas. Alhasil, berkat DSP (Defense Support Program) begitu nama satelit dimaksud operator Patriot bisa mengantisipasi kehadiran rudal musuh lebih dini dari kemampuan standarnya. Scud, misalnya, sudah bisa dipantau sejak "masih" pada jarak 115 km. Ini artinya, alarm ECS Patriot di Jakarta misalnya sudah mulai menyalak saat rudal yang diluncurkan dari Ujung Kulon sudah memasuki wilayah udara Sukabumi.
Sejak alarm berbunyi, operator ECS akan punya waktu 6-7 menit untuk meluncurkan Patriot. Sementara sang rudal sendiri hanya perlu waktu 15-18 detik untuk menghancurkan musuh di udara. Sasaran biasa ditabrak pada jarak 16-32 km dengan kecepatan menanjak 700-1.400 m/detik.
Untuk memperkecil risiko, kesatuan operasi Patriot biasanya meluncurkan lebih dari satu rudal untuk "memburu" sebuah Scud. Brigade Artileri Pertahanan Udara ke-11, AD AS, yang diterjunkan di Kuwait semasa Perang Teluk 1991, misalnya, biasa meluncurkan 2-4 rudal untuk setiap Scud yang diluncurkan.
Mulai dikembangkan pada 1961, rudal berkecepatan Mach 5 ini diproyeksikan untuk mengganti rudal permukaan ke udara MIM-23 Hawk. Raytheon perlu waktu sampai 14 tahun hingga benar-benar yakin sang rudal bisa berfungsi sesuai spesifikasi. Ia dipersiapkan secara teliti mengingat salah sedikit saja ia bisa berubah menjadi penebar teror yang amat mengerikan.
Rudal sepanjang 5,8 meter ini akan terbang sesuai arahan pamandu inertial yang ditanam di bagian tengah badan. Sinyal yang diberikan adalah sinyal ECS yang telah diproses dan diterima melalui antena yang ditaruh di bagian ekor. Sinyal ini akan menjaga penerbangan tetap pada koridor beam radar ECS. Sementara penjejak pasif yang ditanam di bagian kepala akan menuntun terbang fokus ke arah sasaran.
Versi pertama Patriot, MIM-104A, pertama kali diperkenalkan pada Oktober 1980. Dari berat totalnya yang mencapai 900 kg, 91 kg di antaranya adalah hulu ledak yang berasal dari kategori high explosive. Tak lama kemudian, Raytheon juga meluncurkan versi kedua, yakni MIM-104B, dengan spesifikasi sasaran berupa radar pengacak sinyal elektronik.
Dengan teknik IFF, persisnya, setiap pesawat kawan akan memancarkan kode pengenal yang selalu diperbaharui setiap hari. Di layar radar, bentuknya biasa berupa lingkaran berkedip di layar dengan huruf "T" di tengah. "T" berarti true friend. Namun, jika yang tertangkap radar hanya lingkaran kosong, bisa dipastikan bahwa dia adalah obyek tak dikenal. Operator ECS tak pernah bisa melihat wujud fisik rudal secara langsung. Berkat tatacara elektris inilah serangan bisa fokus.
Akan tetapi, sebagaimana lazimnya radar terestrial, ECS punya kelemahan mendasar yang sulit ditutupi. Hal itu berkaitan dengan ketidakmampuan mengendus sasaran sebelum melewati batas ufuk (horizon). Itu sebabnya dalam pentas Perang Irak 1991 AD AS menganggap perlu mengerahkan satelit mata-mata sebagai pendukung radar ECS.
Karena letaknya ada di langit, satelit bisa memantau dalam cakupan lebih luas. Alhasil, berkat DSP (Defense Support Program) begitu nama satelit dimaksud operator Patriot bisa mengantisipasi kehadiran rudal musuh lebih dini dari kemampuan standarnya. Scud, misalnya, sudah bisa dipantau sejak "masih" pada jarak 115 km. Ini artinya, alarm ECS Patriot di Jakarta misalnya sudah mulai menyalak saat rudal yang diluncurkan dari Ujung Kulon sudah memasuki wilayah udara Sukabumi.
Sejak alarm berbunyi, operator ECS akan punya waktu 6-7 menit untuk meluncurkan Patriot. Sementara sang rudal sendiri hanya perlu waktu 15-18 detik untuk menghancurkan musuh di udara. Sasaran biasa ditabrak pada jarak 16-32 km dengan kecepatan menanjak 700-1.400 m/detik.
Untuk memperkecil risiko, kesatuan operasi Patriot biasanya meluncurkan lebih dari satu rudal untuk "memburu" sebuah Scud. Brigade Artileri Pertahanan Udara ke-11, AD AS, yang diterjunkan di Kuwait semasa Perang Teluk 1991, misalnya, biasa meluncurkan 2-4 rudal untuk setiap Scud yang diluncurkan.
Mulai dikembangkan pada 1961, rudal berkecepatan Mach 5 ini diproyeksikan untuk mengganti rudal permukaan ke udara MIM-23 Hawk. Raytheon perlu waktu sampai 14 tahun hingga benar-benar yakin sang rudal bisa berfungsi sesuai spesifikasi. Ia dipersiapkan secara teliti mengingat salah sedikit saja ia bisa berubah menjadi penebar teror yang amat mengerikan.
Rudal sepanjang 5,8 meter ini akan terbang sesuai arahan pamandu inertial yang ditanam di bagian tengah badan. Sinyal yang diberikan adalah sinyal ECS yang telah diproses dan diterima melalui antena yang ditaruh di bagian ekor. Sinyal ini akan menjaga penerbangan tetap pada koridor beam radar ECS. Sementara penjejak pasif yang ditanam di bagian kepala akan menuntun terbang fokus ke arah sasaran.
Versi pertama Patriot, MIM-104A, pertama kali diperkenalkan pada Oktober 1980. Dari berat totalnya yang mencapai 900 kg, 91 kg di antaranya adalah hulu ledak yang berasal dari kategori high explosive. Tak lama kemudian, Raytheon juga meluncurkan versi kedua, yakni MIM-104B, dengan spesifikasi sasaran berupa radar pengacak sinyal elektronik.
Thursday, May 16, 2013
AS LUNCURKAN PESAWAT TEMPUR TAK BERAWAK DARI DEK KAPAL INDUK. ERA BARU TELAH DIMULAI
Pada tanggal 14 Mei, untuk pertama kalinya Angkatan Laut AS berhasil meluncurkan pesawat tempur tak berawak (Unmanned Combat Air Vehicle / UCAV) Northrop Grumman X-47B dari dek sebuah kapal induk di lepas pantai Virginia. Sebuah terobosan besar untuk robot terbang dan implementasi untuk sistem tak berawak militer.
Video, yang dirilis oleh Angkatan Laut AS menunjukkan X-47B Unmanned Combat Air System (UCAS) -harap dicatat, akronim UCAV dan UCAS sama ditujukan untuk pesawat tak berawak ini-meluncur kemudian dilontarkan (catapult) dari dek penerbangan kapal induk USS George H.W Bush. Di dek penerbangan, X-47B dikontrol menggunakan arm-mounted control display unit (CDU).
Video, yang dirilis oleh Angkatan Laut AS menunjukkan X-47B Unmanned Combat Air System (UCAS) -harap dicatat, akronim UCAV dan UCAS sama ditujukan untuk pesawat tak berawak ini-meluncur kemudian dilontarkan (catapult) dari dek penerbangan kapal induk USS George H.W Bush. Di dek penerbangan, X-47B dikontrol menggunakan arm-mounted control display unit (CDU).
Pesawat tak berawak ini diluncurkan pada pukul 11:18 waktu setempat dari dek kapal induk George H.W. Bush untuk mendarat di Stasiun Udara Angkatan Laut Patuxent River, setelah terbang selama 65 menit. X-47B merupakan teknologi demonstrator, artinya masih sebagai teknologi pembuka jalan bagi pengembangan teknologi sejenis di masa depan.
"Penerbangan hari ini menunjukkan bahwa X-47B ini bisa dioperasikan dari kapal induk, hand-off dari satu stasiun kontrol misi ke stasiun lainnya, terbang melintasi wilayah udara nasional, dan recovery di tempat lain tanpa mengalami degradasi dalam hal keselamatan ataupun presisi," ujar Matt Funk, teknisi pemimpin uji coba untuk program pesawat tempur tak berawak ini.
![]() |
| X-47B diluncurkan dari USS George H.W Bush 14 Mei 2013 (Foto : U.S. Navy photo courtesy of Northrop Grumman by Alan Radecki/Released) |
"Keberhasilan uji terbang ini merupakan bukti kerjasama tim, profesionalisme dan keahlian setiap orang-orang yang terlibat dalam program X-47B," ujar Laksamana Mat Winter, pejabat eksekutif program untuk Unmanned Aviation and Strike Weapons. "Usaha mereka akan berdampak positif untuk pengembangan pesawat tempur tak berawak di masa mendatang."
Subscribe to:
Posts (Atom)



