News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Lapan. Show all posts
Showing posts with label Lapan. Show all posts

Saturday, May 10, 2014

LAPAN GANDENG 7 UNIVERSITAS KEMBANGKAN TEKNOLOGI SATELIT DAN ROKET

Kerjasama dengan 7 universitas ini, adalah dalam pengembangan 4 bidang, yakni: sains antariksa dan atmosfer, pemanfaatan keantariksaan, teknologi kedirgantaraan, dan kajian kebijakan kedirgantaraanhttp://images.detik.com/content/2014/04/03/1034/pelni1.jpgSatelit Lapan A2 yang akan diluncurkan (Foto: Lapan)

Lapan menggandeng 7 universitas untuk mengembangkan riset tentang satelit dan roket, demi mewujudkan mimpi teknologi satelit dan roket yang tidak perlu lagi bergantung pada negara lain.

“Satelit umurnya tidak lama, hanya 5-10 tahun. Maka kita tidak boleh tergantung dengan negara lain. Industri satelit adalah industri yang terus menerus, dan perlu dikembangkan terus. Saya yakin kita bisa membangun sendiri,” tutur Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, saat penandatanganan kerjasama riset dengan 7 universitas di Kantor Lapan, Jakarta.

“Saat ini kita masih merancang pesawat N219, direncanakan 60 persen merupakan komponen lokal. Dan harapannya semoga bisa terwujud,” imbuh profesor riset astronomi-astrofisika ini.

UU keantariksaan yang disahkan 6 Agustus 2013 menjadi kerangka pengembangan keantariksaan yang kuat. Dalam 25 tahun ke depan ditargetkan Indonesia memiliki satelit penginderaan jauh sendiri, satelit komunikasi yang diluncurkan dengan roket sendiri dan dari bandar antariksa sendiri. Ada beberapa tempat yang telah disurvei untuk menjadi tempat bandar antariksa sendiri. Seperti di Biak dan Morotai.

Untuk teknologi satelit, Lapan sudah menyiapkan 2 satelit, yakni Lapan A2 dan Lapan A3. Kedua satelit itu akan diluncurkan dari Pusat Stasiun Luar Angkasa Sriharikota, India di tahun 2015. Komponen kedua satelit yang dibuat di Indonesia oleh orang Indonesia ini, separuhnya masih impor.

“Sebagian dari dalam negeri, dan sebagian impor, perbandingan 50:50. Industri kita masih beluim mampu membuat komponen satelit, yang tahan dengan kondisi ekstrem,” tuturnya.

Kerjasama dengan 7 universitas ini, adalah dalam pengembangan 4 bidang, yakni: sains antariksa dan atmosfer, pemanfaatan keantariksaan, teknologi kedirgantaraan, dan kajian kebijakan kedirgantaraan.

Dalam membangun 4 kompetensi tersebut, Lapan dan 7 universitas itu menjadi center of excellence, dengan 4 aspek besar yakni Pengembangan kompetensi, pengembangan layanan publik, memperkuat kerjasama nasional-internasional serta pengembangan SDM.

Anggaran riset berasal dari swadaya universitas dan Lapan. Lapan sendiri memiliki anggaran Rp 800 miliar, yang diperuntukkan operasional Rp 500 miliar dan sisanya untuk riset pembuatan pesawat N219 yang bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Kerja sama riset ini nantinya hanya akan menciptakan dan mengembangkan prototipe teknologi. Kemudian untuk produksi prototipe itu, barulah bekerja sama dengan pihak industri.

“Seperti contoh untuk bahan bakar roket, ketika digunakan dalam jumlah banyak, karena Kementerian Pertahanan perlu roket untuk pertahanan, tentu Lapan tidak bisa menanganinya sendiri. Maka, kerjasama Lapan dengan PT Bahana untuk pengembangan pembuatan roket tersebut. Di mana kita akan membuat prototipe dan nantinya industri yang akan mengembangkan,” tuturnya.

Selain Kepala Lapan, 7 perwakilan universitas yang meneken kerjasama itu: Rektor Telkom University Mochamad Azhari, Rektor Surya University Yohanes Surya, Direktur PENS Zainal Arief, Wakil Rektor Unpad Med Setiawan, Dekan Fakultas Tekni Universitas Nusa Cendana ML Gaol, Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip Muhammad Nur dan Kepala Bidang Hubungan Internasional UGM Rahmat Sriwijaya.
»»  READMORE...

Wednesday, April 16, 2014

LAPAN: Negara Maju Pelit Berbagi Ilmu Teknologi Roket

Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket.


Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal
Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal
Penguasaan teknologi roket Indonesia masih sangat jauh di bawah negara maju, khususnya Eropa. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket secara mandiri karena negara maju cenderung pelit untuk membagi ilmu mereka. 
Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Ari Sugeng Budiyanta mengakui teknologi roket tidak mudah untuk dikuasai. “Teknologi peroketan itu teknologi yang sangat tinggi dan sulit. Selain itu, teknologinya sangat tertutup tidak gampang dicari di luar seperti teknologi penerbangan lain. Teknologi roket kurang dibuka oleh negara maju,” kata Ari di sela-sela acara Workshop Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (KOMURINDO) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa 15 April 2014. 
Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mampu bangkit sendiri dalam bidang tersebut dengan ahli-ahli dari Indonesia. “Mau tidak mau kita harus bangkit sendiri, sulit untuk mengharapkan negara lain untuk memberikan training bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya lagi.
Meskipun berat, Ari mengingatkan, penguasaan teknologi sangat penting bagi negara manapun saat ini, tak terkecuali Indonesia. Teknologi roket membuat sebuah negara mampu meluncurkan satelit komunikasi sipil atau untuk kepentingan pertahanan negara. 
Namun ia menilai hal itu masih sangat jauh, karena saat ini Indonesia belum mampu meluncurkan satelit secara mandiri dan harus menumpang kepada negara lain.
LAPAN memiliki cita-cita dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Sehingga, LAPAN mengapresiasi gelaran KOMURINDO dan KOMBAT yang digelar oleh DIKTI di UMY. 
Saya berharap kompetisi tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda, khususnya mahasiswa dalam dunia roket. Sehingga ke depan para calon ahli roket tersebut dapat mempercepat perwujudan cita-cita LAPAN," katanya. (umi)
(viva)

»»  READMORE...

Friday, April 11, 2014

LFX Lapan Fighter Expriment



Lapan
Salah satu industri Alutsista yang sangat penting adalah ..
Pesawat Terbang dan pesawat Tempur, karena dengan kemampuannya yang serba bisa dan mematikan, dapat meng-cover seluruh Kawasan Nusantara.
Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan segudang para ahli dan orang pintar yang mumpuni dengan berbagai bidang keahlian, termasuk salah satunya adalah kemampuan membuat dan menciipta pesawat, baik pesawat komersil ataupun pesawat tempur, sebut saja kita mengenal Prof.dr.ing.BJ Habibie profesor bidang aerodinamika ternama dan terbaik saat ini yang dimiliki bangsa Indonesia. Dari tangan dinginnya kita mengenal N250 yang lahir dari hasil buah karya putra putri bangsa indonesia saat itu.
Indonesia dengan Kondisi Geografis yang luas dan terdiri dari berbagai pulau, sangat membutuhkan Armada Pesawat Tempur yang memadai, untuk memenuhi kebutuhan Dalam Negerinya maka Indonesia merancang dan membuat sendiri Pesawat Tempur, hal ini didasarkan atas dasar kebutuhan yang mendesak dan vital.
Dimulai dengan kerja sama pembuatan pesawat tempur dengan Korea Selatan dengan program KFX /IFX dan saat ini masih berjalan kerja samanya. Adapun hasil kerjasama ini kelak diharapkan dapat membawa kemajuan penting dalam ilmu pesawat tempur bangsa ini kedepannya.
Menurut Ir. SULISTYO ATMADI salah seorang Kepala Program LFX, saat ini ada kerjasama antara LAPAN, PT.DI dan berbagai Universitas Teknik ternama dalam negeri untuk membantu terwujudnya program LFX ,KFX/IFX, dalam arti minimal kita mampu mencuri ilmu nya dari Korea Selatan.
Sementara tujuan dari kerja sama Lapan/ PT.DI dan lainnya adalah:
  • • Mendapatkan suatu konsep pesawat latih-lanjut generasi ke 4.5 dengan kemampuan multi misi.
  • • Memperoleh Rancangan Pesawat Tempur yang sesuai dengan kondisi dan situasi Indonesia
Design IFX Lapan image PPKP
Design IFX Lapan image PPKP 1
lapan1
Design IFX Lapan image PPKP 2
lapan3
Design IFX Lapan image PPKP 3
lapan4
Design IFX Lapan image PPKP 4
lapan5
Design IFX Lapan image PPKP 5
Dalam hal ini banyak hal telah dilakukan LAPAN sebelum dimulainya program LFX dan KFX/IFX, seperti:
  • LAPAN harus menyiapkan SDM nya utk mendukung Program KFX Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, di bidang Teknologi, Penerbangan, khususnya Pesawat Tempur Supersonik GENERASI 4,5 serta generasi 5.
  • Membuat Desain Konseptual Pesawat Tempur Supersonik
  • Pembuatan Model untuk Uji Terowongan Angin dan Uji dengan perangkat lunak berbasis CFD Pengujian model Aerodinamik menggunakan Terowongan Angin Bekerjsama dengan perguruan tinggi (ITB) yang juga sebagai tim perancang KFX mempunyai Kemampuan/ Kelebihan dalam teori Perancangan, dan dari Industri (PT.DI, PTSmartAviation)
  • Koordinasi Sinergi antara Lembaga Riset (Pustekbang-LAPAN), Perguruan Tinggi jurusan AeroAstrodinamika Teknik Penerbangan ITB, diwakili oleh Dr. Ir.Rais Zain,PTDI, PTSmartAviation, diwakili oleh Ir. Agung Nugroho
Tujuannya adalah :
  • Merealisasikan Pembuatan Prototipe Pesawat LFX dari hasil rancangan ini, setelah dilanjutkan dengan tahap Preliminary Desain dan Perancangan detail Tahapan Pengembangan ke depan.
  • Evaluasi Rancangan Konseptual yang telah dihasilkan/ prototipe.
  • Melanjutkan Tahap Preliminary Desain (Rancangan Awal)single atau dobel engine. Melanjutkan Tahap Perancangan Rinci dan pembuatan terowongan angin.
  • Pembuatan Prototipe Pesawat Terbang Tempur Supersonik LFX Tiga tahun dari sekarang.
Dengan demikian diharapkan hal ini menjadi gambaran bahwa bangsa Indonesia tidak main main dalam mengembangkan program mandiri pesawat tempur nya mari kita berdoa semoga tidak lama lagi bangsa indonesia dapat kembali menjadi macan asia di bidang industri pesawat tempur yang di segani oleh negara kawan dan lawan. (by Telik Sandi).
»»  READMORE...

Tuesday, June 25, 2013

TAK HANYA ROKET, LAPAN JUGA SIAPKAN SATELIT MATA-MATA MADE IN RI




http://images.detik.com/content/2013/06/24/1036/satelitlapan.jpg
Purnarupa Satelit LAPAN A2
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan meluncurkan satelit berkuran kecil atau mikro satelit varian kedua (A2). Varian satelit A2 akan diluncurkan pada awal 2014.

"Misinya surveillance (pengawasan), sensor maritim, komunikasi data orari," ucap Enjiner Ground Session LAPAN Unggul Satrio kepadadetikFinance, di sela Pameran Harteknas di Aula BPPT Jakarta, Senin (24/6/2013).

Satelet ini nantinya diluncurkan dengan menggandeng India. India berperan memasok roket pembawa satelit A2 buatan LAPAN. Hal ini juga dilakukan saat membawa satelit pendahulunya, A1.

"Ini masih numpang roket India," tambahnya.

Dengan berat sekitar 70 kg, satelit ini bisa memotret dengan radius jangkauan 3,5x3,5 km. Satelit ini diklaim murni rancangan LAPAN meskipun ada beberapa komponen yang harus diimpor karena tidak diproduksi di dalam negeri.

"Satelit A2 ini diproyeksikan bisa 14 kali dalam sehari melewati wilayah Indonesia," terangnya.

Mikro satelit ini, sebelumnya telah diluncurkan tahun 2007. Satelit dengan nama A1, telah mengorbit hingga saat ini. Padahal usia dari mikro satelit di dunia rata-rata hanya 2 tahun.

"Mikro satelit umur rata-ratanya 2 tahun. Ini sudah 6 tahun, masih beroperasi. Ini untuk A1," katanya.

LAPAN sendiri, secara berkelanjutan terus mengembangkan varian satelit. Hingga akhirnya dapat menghasilkan varian satelit untuk telekomunikasi.(feb/ang) 


  ● detikFinance 
»»  READMORE...

Sunday, June 23, 2013

Uji Statik Multi Nosel Roket RX 550 LAPAN

Dalam rangka mendukung program kerja pemerintah Republik Indonesia yaitu revitalisasi industri Hankam, sebagai salah satu lembaga non departemen yang diantara tugasnya adalah mengembangkan teknologi peroketan nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang berdiri pada 1963, mempunyai kewajiban untuk mendukung program tersebut sehingga Lapan dapat berkontribusi lebih besar dalam kancah nasional untuk mendukung industri Hankam. 

Saat ini Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) Lapan masih terus mengembangkan teknologi beberapa jenis roket dengan berbagai model, bentuk konfigurasi grain, komposisi bahan propellant, material nosel dan lain sebagainya. Agenda besar kegiatan yang telah dilakukan pada 2012 diantaranya adalah uji statik RX 550 dan uji terbang RX 550 di Stasiun Peluncuran Roket Lapan Cilauteureun Pameungpeuk Garut. Beberapa saat yang lalu Pustekroket juga telah berhasil menguji statik roket dengan menggunakan multi nosel yang dilaksanakan di Instalasi Uji Statik Wahana, Tarogong Rumpin.


Pada kesempatan tersebut dilakukan uji statik untuk mengetahui performa motor roket secara keseluruhan, yang meliputi uji kekuatan struktur motor roket, uji optimalisasi kontur nosel, uji sistem penyalaan mula dan pada akhirnya adalah hasil propfil thrust (gaya dorong) fungsi waktu yang dapat mempresentasikan performa motor roket. Menurut keterangan Kepala Bidang Teknologi Motor Roket, Ir. Saeri, M.Si., kelebihan yang terdapat dalam pengembangan teknologi roket dengan multi nosel ini adalah.

1. Struktur nosel lebih ringan
2. Saat pembakaran yang tidak merata dapat lebih mengendalikan defleksi flame,
3. Ketika dibutuhkan fin yang komplek pada daerah nosel lebih mudah dalam penempatannya
4. Dapat digunakan sebagai generator spin roket


Roket sepanjang 2000 mm dengan diameter 200 mm adalah roket RX 2020 jenis roket balistik yang baru dikembangkan pada 2009 dengan bahan bakar propelan komposit (HTPB). Roket jenis ini dapat menggunakan folded fin (sirip tetap) yang diletakkan pada bagian nosel. Roket RX-2020 merupakan roket yang diproyeksikan sebagai ballistis missile dengan jangkauan 20-30 km. Roket ini dirancang untuk terbang spin pada kecepatan terbang tinggi dan diasumsikan terbang pada sea level dengan kerapatan konstan 1.225 kg/m3. 

Gaya Dorong maksimum (Fmax) yang diperoleh pada kisaran (Fr) 2250 kgf yang tercapai selama 7.7 detik. Acuan rancang bangun roket jenis ini mengacu pada roket 122 RM 70 yang mempunyai jarak jangkau 10 km sampai dengan 20 km yaitu roket balistik berbahan bakar propelan padat jenis double base.
»»  READMORE...

Sunday, May 19, 2013

EXPEDISI MOROTAI DAN KESIAPAN LAPAN DALAM PELUNCURAN ROKET PEMBAWA SATELIT

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) meluncurkan roket pembawa satelit di Kabupaten Morotai, Maluku Utara pada November 2013, karena daerah itu dinilai sangat strategis untuk peluncuran roket satelit itu.

Kepala Bappeda Pulau Morotai, Syamsuddin, di Ternate, Sabtu, mengatakan tim dari Lapan telah melakukan survei lokasi di Pulau Morotai yang akan menjadi titik peluncuran satelit tersebut. "Peluncuran roket dari Lapan sudah dipastikan pada bulan November 2013 di wilayah Sangowo Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai," katanya.

Ia mengatakan tim Lapan dan Bappenas sudah kembali melakukan survei lokasi peluncuran, sehingga peluncuran roket di Sangowo itu ada kepastian pada November mendatang.

Menurut dia, kedatangan tim Lapan bersama Bappenas adalah sebagai mitra kerja untuk meninjau lokasi kepastian peluncuran roket oleh Lapan, sehingga dari Lapan sendiri berharap ada dukungan dari Pemda Morotai untuk kegiatan tersebut. "Dari Lapan meminta ada dukungan dari Pemda dan Pemda sendiri merespons kegiatan peluncuran roket dari Lapan akan dilaksanakan pada bulan November mendatang," katanya.

Untuk peluncuran tersebut nantinya akan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Lapan, sedangkan untuk persiapan-persiapan yang akan dilakukan nanti dipastikan selesai bulan Oktober, mulai dari bangunan untuk operator, VIP, dan beberapa tenda untuk para tim yang akan datang.


PERSIAPAN LAPAN

Indonesia Sebentar Lagi Memiliki Bandar Antariksa di Morotai. Ekspedisi Morotai ini akan membawa citra baik buat tanah air ini,proyeknyaakan dimulai pada 2013 dan bandar antariksa ini diprediksi sudah resmi berdiri pada 2025.

Lapan sudah merencanakan lima sampai dengan enam titik lokasi yang dinilai sangat baik. Morotai memiliki beberapa keunggulan daripada daerah lain di tanah air, yaitu letaknya strategis sehingga lebih ekonomis dan faktor keamanan yang tinggi karena berhimpitan dengan Samudera Pasifik.

Lapan tengah berupaya untuk mewujudkan inovasi nasional dalam pengendalian wahana terbang kecepatan tinggi hingga 1 mach. Namun untuk mencapai ‘lompatan’ inovasi tersebut, LAPAN memulai dengan wahana terbang kecepatan rendah dengan menciptakan unmanned aerial vehicle (UAV). "Salah satunya telah sukses dilakukan uji terbang UAV di kawasan Bintaro dan pemotretan Gunung Merapi menggunakan UAV.

Selain UAV, Lapan juga berhasil mengembangkan wahana terbang LSU-02G2 Lapan. Pesawat ini dapat mengudara secara autonomous dan mampu menempuh jarak sekitar 26 kilometer dengan kecepatan terbang mencapai 90 km/jam. Beberapa keberhasilan lain yang dicapai LAPAN pada 2012 ini ialah program light surveillance aircraft (LSA) dan S-15 Stemme hasil kerja sama dengan TU Berlin, Jerman, persiapan satelit LAPAN A-2 untuk diluncurkan serta inovasi LAPAN A-3 pada 2014 dan LAPAN A-4 pada 2017, pengembangan roket konversi dan Roket Sonda RX-550.










All Pic By Kenyot10 (Kaskuser)

  ● LAPAN  
»»  READMORE...

Wednesday, April 24, 2013

LAPAN Rintis Bandar Antariksa untuk Peluncuran Satelit



Satelit kembar, salah satu produksi LAPAN
Satelit kembar, salah satu produksi LAPAN(Humas LAPAN)

VIVAnews - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memperlihatkan kemampuan dalam mengembangkan satelit dan roket. Untuk terus mengembangkan teknologi antariksa, LAPAN merintis pembangunan bandar antariksa nasional atau spaceport untuk keperluan peluncuran Roket Pengorbit Satelit (RPS), juga satelit lain.

LAPAN telah memilih Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara sebagai calon bandar antariksa nasional. Ini mengingat potensi dan kualifikasi pulau tersebut yang paling memungkinkan untuk pembangunan bandar antariksa.

"Kami sudah kaji, periksa, dan infrastrukturnya harus siap. Morotai memiliki lahan yang luas," kata Kepala LAPAN, Bambang S. Tedja, di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan.
Bambang mengatakan Pulau Marotai mempunyai tujuh lapangan terbang yang panjang sisa Perang Dunia II, dengan panjang landasan mencapai 3 KM. Lokasi Pulau Marotai yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik dan Laut Halmahera di sebelah utara, timur dan barat memungkinkan untuk pembangunan. Pulau ini juga jauh dari pemukiman penduduk.

Meski demikian, Bambang menjelaskan untuk mewujudkan bandar antariksa nasional masih perlu waktu yang panjang. Menurut Bambang, dalam roadmap LAPAN, bandar antariksa di Pulau Marotai akan selesai dibangun pada 2025.

"Kami merintis dulu. Untuk langkah pertama kita siapkan launcher-nya, landasan peluncuran, pemindahan alat-alat meteorologi ke sana, juga mulai menempatkan para insinyur kita di sana," paparnya.

Jika tahapan tersebut sudah selesai, menurutnya baru akan melangkah ke pembangunan bandar antariksa.

Sebelumnya, LAPAN telah memiliki fasilitas peluncuran satelit di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Fasilitas tersebut selama ini digunakan untuk ujicoba peluncuran roket hasil riset, namun untuk keperluan peluncuran RPS, dibutuhkan bandar antariksa.

"Selain itu, di Pameungpeuk itu sudah padat penduduk dan muncul berbagai penginapan untuk objek wisata, juga banyak kapal berlalu lalang di sana" katanya.

Pulau Morotarai dipilih sebagai calon bandar antariksa setelah mengkalkulasi dua tempat lain yang sebelumnya dikaji LAPAN, Pulau Enggano, Bengkulu dan Pulau Biak, Papua.

"Enggano berpotensi kena tsunami. Kalau di Biak, kami baru masuk, sudah banyak masalah sosial," tambahnya.

Lembaga antariksa negara ini mengkaji enam wilayah di Kabupaten Pulau Marotai sebagai calon bandar antariksa. Alternatif pertama yaitu Tanjung Gurango, Desa Gorua, Kecamatan Marotai Utara. Alternatif kedua Desa Bido, Kecamatan Morotarai Utara, ketiga Desa Mira Kecamatan Morotarai Timur.

Seluruh lokasi ini merupakan daerah perbukitan, pinggir pantai dan menghadap lautan bebas, dekat dengan sungai, berjarak 1-2 KM dari pemukiman penduduk.

Alternatif selanjutnya Pulau Tabailenge, berada di depan kota Berebere dengan jarak kurang lebih 2,5 KM, lokasi lain antara Desa Sangowo dengan Desa Daeo, Morotarai Timur dan alternatif terakhir Tanjung Sangowo, yang berlokasi antara Desa Sangowo dan Desa Mira, Morotarai Timur. Wilayah terakhir ini merupakan wilayah yang sangat potensial sebagai bandar antariksa. (eh)

sumber; vivanews
»»  READMORE...

Tuesday, April 23, 2013

Pesawat Pengamat Berawak Ala LAPAN


Pesawat melintas Pegunungan Jayawijaya lewati Lembah Baliem Wamena (ilustrasi)

VIVAnews - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengembangkan pesawat baru: Lapan Surveillance Aircraft (LSA). Pesawat ini akan digunakan untuk memotret wilayah Indonesia yang relatif besar.
Lahirnya pesawat pengamatan ini sekaligus untuk membuktikan penguasaan teknologi pesawat terbang di Indonesia. Hal ini ditegaskan LAPAN dalam penandatanganan kerja sama LAPAN dengan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Senin 22 April 2013.

"Kita masih ada kekurangan akuisisi data dari satelit. LSA ini punya fungsi verifikasi dan validasi data satelit. Satelit perlu data lapangan secara acak," jelas Rika Andiarti, Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN di kantornya, Rawamangun, Jakarta.

Selain pelengkap data satelit, Rika menambahkan, misi LSA yaitu memonitor data pertanian, pemetaan kawasan banjir, mendeteksi titik kebakaran, mendukung evakuasi, tata kota sampai memantau curah hutan.

"Pesawat ini untuk melengkapi LSU (LAPAN Surveillance UAV) atau pesawat pengamat nirawak. Waktu banjir melanda Jakarta beberapa waktu lalu, LSU sudah digunakan. Juga setelah Gunung Merapi meletus," ujarnya.

Pesawat dengan dua awak LSA memiliki keunggulan dalam mengoleksi data pencitraan dibandingkan satelit. Datanya bersifat cepat dan disuguhkan dalam citra resolusi tinggi.

"Soal resolusi temporal, LSA lebih fleksibel. Kapanpun dibutuhkan, bisa. Kalau satelit, resolusi temporal butuh waktu 16 hari," ujarnya.

Performa LSA

Soal performa, LSA memiliki daya terbang 8-24 jam dengan ketinggian maksimal 7,5 km. Resolusi yang dihasilkan mencapai 50 cm dengan muatan (payload) mencapai 70 kg. "Ke depan kami upayakan LSA nirawak," ujar Rika.

LSA ditargetkan beroperasional secara penuh pada tahun 2015. Akhir tahun ini, sekitar November-Desember, LAPAN menargetkan penerbangan perdana secara resmi.

Guna merintis penerbangan resmi, LAPAN menggandeng Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub. LSA akan diuji di Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan sampai kemudian mendapatkan sertifikasi laik terbang di udara Indonesia.

Kerja sama dengan Kemenhub meliputi penyediaan hanggar pesawat, fasilitas uji terbang, perawatan, dan operasionalisasi pesawat.

Berikut ini spesifikasi LSA:

Dimensi    Total panjang : 8,52 m
Total tinggi.   : 2,45 m
Total Lebar dengan sayap. : 18 m
PerformaTake off ground roll : 300 m
Cruise speed : 220 km per jam
Max range : 1300 km
Max endurance : 8 jam
Serving cieling : 7260 m
BebanMTOW : 1100 kg
Berat muatan maksimal : 80 kg
Max baggage weight : 20 kg
PropulsiEngine power (MTOP) : 115 hp
Propeller number : 3 bladed
Kapasitas bahan bakar : 130 liter
Jenis bahan bakar : Avgas 100LL/Mogas

»»  READMORE...

Wednesday, April 17, 2013

SASARAN KEGIATAN LAPAN 2013




 Sasaran Kegiatan LAPAN 2013 


Sasaran kegiatan ini akan dicapai dalam tiga tahun anggaran yaitu tahun anggaran 2012, 2013 dan 2014. Sasaran hasil kerja tahun 2013 adalah sebagai berikut:

 1. Pusat Teknologi Roket 




a. Dengan dilengkapinya sarana dan prasarana yang dilakukan sampai tahun 2012 maka di Lapan sudah ada peningkatan kualitas untuk kegiatan disain, fabrikasi dan pengujian roket, sehingga pada tahun 2013 dapat ditingkatkan performance roket melalui peningkatan Isp (Impuls Spesific) dari 216 s menjadi 230 s dan penurunan rasio berat struktur dari 0,4 menjadi 0,35. Peningkatan Isp tersebut dicapai melalui optimalisasi komposisi propelan, penggunaan tiga macam ukuran Ammonium Perkhlorat (AP tri-modul), dan burning rate catalyst. Sedangkan penurunan rasio struktur dicapai melalui peralatan manufaktur struktur yang telah diremajakan dan peralatan plasma coating.

b. Kegiatan utama peroketan Lapan tahun 2013 adalah Ekspedisi Morotai, yaitu melaksanakan kegiatan peluncuran roket RX-122, RX-200, RX-320, RX-450 dan RX-550 di Morotai. Kegiatan peluncuran roket tersebut dilaksanakan setelah uji statik setiap roket berhasil dilaksanakan. 

Disamping pencapaian sasaran di atas, fasilitas yang dikembangkan di Lapan di bidang peroketan juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan program roket nasional (konsorsium) untuk penggunaan di bidang pertahanan dan pemanfaatan lainnya. Untuk tahun 2013 program roket konversi mempunyai sasaran empat prototip, yaitu RX-122 dengan jangkauan 23 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km, RX-320 dengan jangkauan 70 Km dan RX-450 dengan jangkauan diatas 100 Km (roket 3 digit).

c. Pengembangan Roket Cair pada tahun 2013 mempunyai sasaran :


  • • Prototipe Enjin roket cair kapasitas 1000 kgf dan 2000 kgf dengan sistem pendingin regenerative cooling yang mampu menahan panas pembakaran hingga 20 detik;
  • • Rancangan lanjut pompa turbin untuk sistem pengumpan roket cair;
  • • Rancangan awal sistem pengumpan berbasis cryogenic.

d. Pengembangan Roket Kendali pada tahun 2013 mempunyai sasaran prototipe roket kendali dengan sistem propulsi roket padat (booster), Electrical Ducted Fan (RKX-200EDF) dan Turbo Jet (RKX-200TJ) berkecepatan 250 km/jam, terbang secara AutoPilot, dengan menitik beratkan pada Uji Darat (simulasi HILS, Wind Tunnel dan Captive Test) sebelum akhirnya dilakukan Flight Test. Serta peningkatan performance RKX-200 khususnya pada bagian Separasi, Booster dan Aktuator.


 2. Pusat Teknologi Satelit 


a. Mengirim Satelit Lapan-A2 ke SDSC (Satish Dawan Space Center), Shriharikota, India. Menempatkan sejumlah engineer untuk mengawasi dan memantau kondisi Satelit Lapan-A2, serta menyiapkan dan membangun sistem remote monitoring untuk memantau satelit dari Indonesia hingga hari peluncuran, yang direncanakan pada kuartal pertama 2014.

b. Menyiapkan sarana pendukung (infrastruktur, SDM dan SOP) untuk operasi kendali satelit (TT&C), akuisisi & pengarsipan data misi Satelit Lapan-A2. Penyelesaian dan penyempurnaan sistem otomatisasi operasi Stasiun Bumi, TTC dan akuisisi data misi, untuk mengurangi SDM pada kegiatan operasi rutin dan memberdayakannya guna mendukung kegiatan penelitian, perekayasaan dan AIT satelit.

c. Menyiapkan clean-room dan sarana-uji sistem lensa/fokus kamera untuk melihat jarak jauh, bagi pelaksanaan AIT (Assembly, Integration and Test) Satelit Lapan-A3. Clean-room kelas 100.000 berukuran 10x5m adalah primer untuk integrasi komponen high rate X-band transmitter, dan lensa/detektor optis pada sistem pencitra push-broom Imager 4 kanal. 

Target AIT adalah dihasilkannya Flight Model (FM) satelit Lapan-A3 dengan capaian 70%. Pelaksanaan AIT satelit masih membutuhkan supervisi, konsultasi dan peningkatan kualitas SDM Lapan. Mengadakan sejumlah alat-ukur untuk melengkapi fasilitas uji RF di dalam negeri, untuk memenuhi persyaratan uji EMI/EMC satelit, baik untuk downlink data misi pada frekuensi 8.0 s/d 8.4 GHz, maupun TT&C satelit pada pita VHF/UHF.

d. Menyiapkan konsep awal rancangan satelit Lapan-A4. Satelit Lapan- A4 merupakan pengembangan lanjut dari Satelit Lapan-A3, dimana imagernya akan ditingkatkan dengan pencitra inframerah dekat (Near Infra red, NIR). Prosesnya dimulai dengan kajian komprehensif mengenai sub-sistem satelit dan komponen ruas-bumi untuk imager visible s/d inframerah dekat, pembelajaran teknologi sensor inframerah-dekat tanpa cooler (bolometer) serta identifikasi kebutuhan koreksi data imager infra-merah dekat. Target kegiatan Lapan-A4 meliputi pembuatan dokumen PDR (Preliminary Design Review), peningkatan kemampuan SDM tentang sensor Bolometer dan pengadaan komponen dasar satelit.

e. Mempererat kerjasama luar negeri dengan Chiba, Hokaido dan Tohoku University, untuk belajar sistem satelit Jepang dan teknologi Radar dan Optis. Menjajaki kemungkinan peluncuran satelit menggunakan wahana peluncur Jepang. Misi Synthetic Aperture Radar (SAR) menjadi target terakhir pada penguasaan teknologi satelit kelas 100 kg, yang selanjutnya kegiatan pembangunan dan penguasaan teknologi satelit bergeser ke satelit kelas mini/small. 


Dalam rangka mempersiapkan diri menuju ke satelit kelas mini/small, Pusteksat bersinergi dengan unit kerja lain di Lapan/Nasional dalam menyusun konsep satelit remote-sensing operasional untuk bahan kajian pembangunan satelit konsorsium. 
Program ini akan dimanfaatkan untuk pembelajaran guna mengatasi fase sulit saat transisi dari fase satelit eksperimen ke satelit operasonal. Sinergitas semua pemangku kepentingan dan pemberdayaan semua potensi Nasional, menjadi poin penting akan keberlangsungan program, termasuk target penguasaan teknologi satelit di Lapan.

f. Berperan aktif dalam menjaga slot dan filing satelit Lapan melalui kegiatan Koordinasi Satelit. Meningkatkan Filing Lapan-A3 (X-band, bandwidth 168MHz) menjadi berstatus API (Advance Publication Information) serta pengajuan filing baru untuk Satelit Lapan-A4, khususnya terkait dengan rencana penggunaan TTC S-band. 

Aktifitas didalam negeri, fokus pada penyelesaian ISR (Izin Stasiun Radio) bagi Stasiun Bumi Rumpin, Rancabungur dan Biak. Penyelesaian sertifikat perangkat, usulan penggunaan TTC S-band dan perlindungan stasiun penerima/TTC dari gangguan frekuensi lain dengan radius 5 km serta aktif pada rapat koordinasi dengan operator satelit, pengguna pita-X, pita-S, pita-L, UHF dan VHF untuk melindungi penggunaan frekuensi riset dirgantara Lapan.


 3. Pusat Teknologi Penerbangan 




a. Di tahun 2013 akan dihasilkan sebuah pesawat ringan dua penumpang berbasiskan S15 dengan modifikasi sistem surveillance untuk kebutuhan pemetaan dan pemantauan (LSA-01). Dalam program ini, akan di laksanakan training 6 orang engineer di Technische Universitat Berlin (TU Berlin) dan di Stemme (sebuah perusahaan UKM Jerman) untuk melakukan reverse engineering terhadap pesawat S15. 

Pembuatan prototype LSA-01 akan dilakukan di Jerman, sedangkan integrasi akhir akan dilakukan di Indonesia. Untuk menguji kinerja LSA-01 ini, pengujian terbang akan dilakukan di akhir tahun 2013. Dari program ini akan dihasilkan juga sebuah desain konsep pesawat ringan hybrid untuk pemantauan, yang merupakan kelanjutan dari pengembangan LSA-01. Disamping itu, beberapa engineer akan ikut serta dalam pengujian pesawat LSA unmanned yang tengah dikembangkan TU Berlin bekerjasama dengan Stemme.

b. Akan dihasilkan sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan membawa payload misi 10 Kg (LSU-03) yang mampu terbang secara autonomous dengan jarak jangkau 150 Km dan lama terbang 2 jam. Dalam program ini akan dilakukan pengembangan desain dan manufaktur LSU-03 dalam hal: Optimalisasi desain agar lebih aerodinamis dengan analisis, simulasi dan pengujian, optimalisasi perhitungan beban dan kekuatan struktur, serta optimalisasi pemilihan bahan. 

Beberapa prototype akan dibuat dan diuji terbang. Disamping itu akan dilakukan optimalisasi LSU-02 sehingga dapat mencapai jarak jangkau 150 km dan lama terbang 4 jam (pemecahan rekor MURI). Sedangkan aplikasi LSU ini akan diperluas pada bidang mitigasi bencana, pertanian, kehutaan, dan pertahanan.

c. Akan dihasilkan beberapa optimasi subsistem pesawat N219 seperti High Lift Device dan Airfoil. Dalam program ini akan dihasilkan data uji terowongan angin dan data hasil simulasi numerik CFD untuk optimasi Advance High Lift device, Airfoil design dan winglet pesawat N219. 

Adapun validasi hasilnya akan dilakuka noleh NLR Belanda. Disamping kegiatan penelitian di atas, jika di tahun 2013 ini program N219 mendapatkan dukungan dana dari pemerintah untuk pembuatan prototipe, Lapan akan ikut berpartisipasi dalam pembuatan prototype pesawat N219 tersebut.(GM)

sumber:abarky
»»  READMORE...

Thursday, April 11, 2013

Roket RX 550 dan Rudal Strategis


Roket RX 550 LAPAN Negara tetangga boleh saja banyak. Mereka bisa membeli mesin perang canggih dengan uang yang berlimpah. Yang repotnya adalah jika negara tetangga itu mulai bertingkah. Mereka mulai menyusun rencana untuk memperluas wilayah, dengan cara mencaplok perbatasan negara yang bersengketa. Apakah itu mungkin ?. Sangat mungkin, jika negara Indonesia lemah, sehingga gampang ditekan dengan kekuatan militer. Berbicara tentang uang tidak ada batasnya untuk mereka. Sementara Indonesia harus berpikir 10 kali, untuk membeli mesin perang yang canggih. 

Sadar akan situasi ini, Indonesia mulai mencoba mandiri dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Salah satunya adalah sistem pertahanan missile/ peluru kendali jarak menengah dan jauh. Senjata ini akan membuat negara lain yang ingin mengganggu Indonesia. RX 550 LAPAN Perjalanan pembuatan Roket dan Missile Indonesia masih panjang dan berliku, jika dibandingkan Jepang, India, Iran dan China. Namun para ahli 

LAPAN telah berjanji akan membuat roket Indonesia yang bisa mengarungi ruang angkasa, serta peluru kendali jarak jauh. Coba bayangkan kecanggihan peluru kendali China. Roket mereka berhasil menembak jatuh satelit yang berada di luar angkasa. Jika China mau, mereka bisa menembak semua satelit yang memata-matai negara mereka. Bagaimana dengan Indonesia ?. 

LAPAN memiliki rencana ambisius dengan meluncurkan satelit buatan Indonesia ke ruang angkasa pada tahun 2014. Untuk itu, LAPAN bekerjasama dengan pabrik baja Krakatau Steel, membuat diameter roket lebih besar dari RX 420. Krakatau Steel berhasil mengerjakannya dan terciptalah roket RX 550 (kaliber 550mm). RX 550 merupakan komponen tingkat pertama dan kedua dari Roket Pengorbit Satelit yang memiliki panjang 8-10 meter. 

Saat ini roket RX 550 terus menjalani tahap revisi desain. Lapan menargetkan, RX 550 mampu meluncur hingga 500 km dan rampung pada akhir tahun 2012. Selain menggarap RX 550, LAPAN dan lembaga lembaga strategis lainnya juga sedang merancang roket kendali atau cruisser. Salah satunya diberi nama Roket Kendali Nasional atau RKN 200. RKN 200 akan menjadi roket tingkat empat yang berfungsi sebagai roket pengorbit satelit. RKN 200 sedang dirancang untuk memiliki tujuh kali kecepatan suara atau 7 Mach. 

HSFTB Pembuatan roket kendali memang rumit, karena Indonesia belum menguasai guide missile-nya. Sejak tahun 2010 guide missile tersebut dipelajari dengan membuat pesawat tanpa awak High Speed Flying Test Bed, HSFTB. HSFTB merupakan wahana terbang turbojet, untuk menguji sistem kendali dengan memeriksa beragam parameter dinamika terbang yang tepat dan akurat. Selain untuk roket pengorbit satelit, HSFTB berguna sebagai tahapan membuat rudal nasional dan UAV tingkat advance. Wahana terbang HSTFB menganalisa anomali trayektori, menguji signifikansi perbaikan peralatan, serta menguji strategi terbang agar mencapai sasaran.

   
HSFTB 

Informasi dari pesawat HSFTB ditransfer ke RKN 200 untuk merevisi kemampuan flight control system (rate gyro, akselero dan GPS), sistem tracking rocket jarak jauh (Multi Gain IMU), serta teknologi UAV (komunikasi data). Pesawat yang dijadikan acuan dalam proses desain HSFTB LAPAN adalah Long range missile: Storm Shadow/SCALP EG buatan Konsorsium Eropa, serta AGM-158 Joint Air-to-Surface Standoff Missile, Lockheed Martin, USA. 

HSFTB LAPAN sempat jatuh (stall), saat melakukan manuver akibat kehilangan daya dorong. Kejutan daya dorong yang berubah mendadak, tidak bisa diantisipasi oleh aerodinamika HSFTB. Setelah mencoba selama dua tahun, Hasil yang dicapai HSFTB yang diluncurkan dengan booster, lebih baik dibandingkan wahana yang diluncurkan dengan engine. Kini peluncuran dengan booster merupakan pilihan yang dikembangkan lebih lanjut. Semuanya itu terus diujicoba di Serpong Tangerag Banten, Garut- Jawa Barat, serta di Baturaja, Sumatera Selatan. 
   
Jika proyek itu berjalan lancar, Indonesia segera memiliki roket pengorbit satelit ke luar angkasa dan peluru kendali strategis jarak jauh. So come and joint with LAPAN. (Jkgr)
»»  READMORE...