News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label China. Show all posts
Showing posts with label China. Show all posts

Wednesday, April 9, 2014

China Terus Kembangkan Flanker


J-11

Perhatian dunia banyak tertuju pada program pengembangan pesawat tempur China, seperti J-10,J-20 dan J-21/31. Pabrikan pesawat China "Shenyang" terus mengembangkan seri Flanker yang sudah sejak tahun 1992 menjadi bagian Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF). Versi Flanker terbaru yang sudah diproduksi China saat ini adalah pesawat tempur J-15 versi kapal induk dan pesawat serang multiperan J-16.

Awal Kemunculan Flanker China


China memulai hubungannya dengan Sukhoi Flanker pada tahun 1992, ketika itu China menjadi negara pertama di luar negara-negara bekas Uni Soviet yang memiliki pesawat tempur kelas berat ini. Tiga batch Sukhoi Su-27SK kursi tunggal dan Su-27UBK kursi ganda diperoleh China langsung dari Rusia, sekaligus menjadi awal transformasi kemampuan pertahanan udara China.

Berdasarkan pembelian dan pengalaman menggunakan Flanker, China akhirnya memperoleh lisensi Rusia untuk memproduksi Su-27SK melalui pabrik pesawatnya Shenyang. Akhirnya pada tahun 1996, China memerintahkan pembuatan 200 pesawat, kit perakitan masih dipasok dari Rusia namun proses produksi di China. Pesawat pertama dinamai dengan J-11, namun Flanker hasil rakitan Shenyang ini mengalami masalah quality control, dan produksi akhirnya dihentikan setelah memasuki produksi yang ke-105. Termasuk didalamnya adalah sejumlah J-11AS dengan upgrade pada kokpit dan persenjataan.

Meskipun terkesan menemui kegagalan di awal, Shenyang dan Shenyang Aircraft Design Institute telah mendapatkan pengalaman berharga dalam membangun pesawat, yang pada akhirnya mereka mampu mengembangkan sendiri J-11B. Karena semangat yang tinggi untuk terbebas dari ketergantungan dengan Moskow, industri-industri China mulai membuat sendiri sejumlah komponen kunci agar bisa membangun pesawat tempur tanpa pasokan dari Rusia, dan juga agar bisa menggunakan senjata buatan China sendiri.

Sejauh ini, salah satu komponen pesawat tempur buatan China yang paling berharga adalah mesin Shenyang Liming WS-10A Taihang yang menggantikan mesin Saturn AL-31F. Dan akhirnya prototipe J-11B terbang untuk pertama kalinya pada tahun 2004 dengan dua mesin WS-10A. Produksi J-11B pertama sudah mulai menggunakan mesin buatan China, tetapi karena lagi-lagi terganjal masalah keandalan, akhirnya pesawat produksi berikutnya kembali menggunakan mesin AL-31F. Sekarang tampaknya isu-isu tentang kurang andalnya mesin WS-10A telah berhasil diatasi dan produksi J-11B sudah kembali menggunkan mesin buatan China. Di akhir tahun lalu muncul foto J-11B dengan desain nozzle yang berbeda, ini mengindikasikan adanya perbaikan yang berati pada mesin WS-10A.

Bersama dengan mesin baru, J-11B juga dilengkapi dengan radar multifungsi, sistem pencarian inframerah dan databus buatan China yang membuat senjata-senjata China bisa digunakan, seperti rudal udara ke udara PL-12. Kokpit J-11B juga dibuat dari komponen China, menghadirkan lingkup kerja yang modern bagi pilot dengan 5 layar multi fungsi.

J-11B mulai dioperasikan PLAAF menjelang akhir tahun 2007 dan sejak itu jumlahnya kian bertambah. Pada awal 2010, Angkatan Laut China (PLAN) mulai dilengkapi dengan J-11B untuk misi tempur berbasis pantai. Selain J-11B kursi tunggal, pabrik Shenyang juga mengembangkan J-11B kursi ganda yang dikenal sebagai J-11BS. Pesawat ini terbang pertama kali pada tahun 2007, dan mulai dioperasikan oleh PLAAF dan PLAN pada tahun 2010.

Hiu Terbang


Sama seperti Uni Soviet yang mengembangkan Su-33 Flanker versi angkatan laut untuk memenuhi kebutuhan operasional kapal induk, China juga mengembangkan Flanker angkatan lautnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan operasional kapal induk barunya Liaoning. Bahkan, China sampai membeli prototipe Su-33 dari Ukraina sebagai bahan percontohan untuk mengembangkan Flanker angkatan lautnya sendiri.

Dikenal sebagai J-15 atau Flying Shark (Hiu Terbang), Flanker Angkatan Laut China ini sangat mirip dengan Su-33 dalam urusan body dan sistem tetapi menggunakan lebih banyak material komposit untuk menurunkan bobotnya. Dalam hal peralatan misi, pesawat ini masih banyak mengambil teknologi untuk J-11B. J-15 memiliki radar yang sama, meskipun diduga telah dipercanggih untuk mode misi maritim. Juga dilengkapi dengan sistem peringatan rudal seperti yang milik J-11B dengan lima layar pada kokpit.
J-15

Untuk urusan persenjataan, J-15 mengusung berbagai persenjataan presisi untuk misi udara ke udara dan udara ke permukaan, termasuk rudal anti kapal. Salah satu fitur menarik lainnya adalah dilengkapi dengan pod pengisian bahan bakar di tengah, yang memungkinkan J-15 mengisi bahan bakar pesawat lain (terutama saat misi jarak jauh dengan beban senjata yang berat). Pod pengisian bakar ini identik dengan pod UPAZ-1A Rusia, kemungkinan telah impor dan ditiru oleh China.

Seperti yang terjadi pada J-11B, J-15 juga terkendala karena ketidakmampuan industri China menghadirkan mesin yang andal. Mesin yang dimaksud adalah WS-10H, versi angkatan laut dari mesin WS-10A dengan peningkatan daya dorong untuk meningkatkan kecepatan lepas landasnya dari ski-jump deck kapal induk Liaoning. Namun diketahui hanya dua prototipe J-15 yang menggunakan mesin WS-10H, selebihnya menggunakan mesin AL-31F Rusia.

Prototipe J-15 dengan mesin AL-31F terbang pertama kali pada bulan Agustus 2009, dan pada bulan Mei tahun berikutnya berhasil lepas landas dari ski-jump tiruan di darat. Percobaan pada kapal induk yang sesungguhnya dilakukan akhir tahun lalu, berhasil lepas landas dan mendarat pertama kali oleh dua prototipe J-15 pada tanggal 23 November. Dari foto-foto yang beredar di internet terlihat J-15 tersebut masih menggunakan mesin Rusia.

Sementara itu, Shenyang juga mengembangkan J-15 kursi ganda, yang disebut sebagai J-15S. Prototipenya dengan mesin WS-10A terbang pertama kali pada November 2012. Meski kemungkinan besar pesawat ini hanya ditujukan China sebagai pesawat latih, J-15S juga sudah mengusung peran tempur dan peralatan peperangan elektronik.

Flanker Baru


Terkesan dengan pembelian Su-27 pertamanya, China tampaknya juga menginginkan Sukhoi kelas berat guna memenuhi persyaratan misi serangan besar. Pada akhir tahun 2000, batch pertama dari Su-30MKK bomber dua kursi tiba dari Rusia, dengan itu kemampuan PLAAF untuk mengirimkan (misi penembakan) senjata precision-guided pun berubah. Dua batch Su-30MKK, masing-masing 38 pesawat, yang dibeli untuk PLAAF, sedangkan PLAN menerima 25 Su-30MK2 dengan radar yang sudah dimodifikasi dengan kemampuan multi target dari rudal anti kapal.

Berdasarkan pengalaman China mengembangkan J-11B dari Su-27SK, Shenyang dan Shenyang Aircraft Design Institute juga memulai program serupa pada Su-30MKK. Hasilnya adalah J-16, yang kemungkinan besar akan menjadi pesawat tempur utama PLAAF, dan mungkin juga akan digunakan PLAN untuk misi anti kapal.

Seperti halnya J-11B, J-16 banyak menggunakan peralatan buatan China,  termasuk mesin WS-10A. Perubahan yang paling penting adalah radar AESA buatan China, meskipun masih sedikit yang diketahui dari sensor ini. Seperti halnya J-15 dan Su-30MKK, pesawat ini juga memiliki probe refueling retractable (untuk air refueling).

Rincian program J-16 masih samar, tapi tampaknya diketahui bahwa J-16 Flanker pertama telah terbang pada akhir 2011. Tahun lalu setidaknya ada dua prototipe J-16 yang diuji coba oleh PLAAF, dan ada kemungkinan bahwa jenis ini akan mulai memasuki fase evaluasi operasional yang lebih jauh.

Super Flanker China?


Dalam beberapa tahun terakhir, China terus dikabarkan akan memperoleh Su-35 dari Rusia. Su-35 adalah Flanker generasi kedua yang menggabungkan banyak perubahan pada badan pesawat, avionik dan mesin. Disebut-sebut, mesin Saturn 117S/AL-41F pada Su-35 lah yang membuat China tergila-gila pada pesawat ini, yang diketahui bahwa China telah mengalami kendala serius soal pengembangan mesin Flanker.

Potensi penjualan Su-35 ke China mulai terendus media pada awal 2012, awalnya akan dibeli 48 pesawat namun kemudian dikurangi menjadi 24. Laporan mengenai potensi penjualan terus dikabarkan dan pada akhir tahun lalu seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan bahwa kesepakatan penjualan akan ditandatangani pada tahun ini. Namun ada pula laporan lain yang bertentangan, yang mengatakan bahwa pembelian China atas Su-35 tidak dapat dilanjutkan.
»»  READMORE...

Monday, July 15, 2013

US Intelligence Report a Cut-Paste on Chinese Missiles



A list of cruise missiles published in the NASIC report.
A list of cruise missiles published in the NASIC report.
College students can be flunked for cut-and-paste reports, think tankers can be embarrassed, Defense News staff writers can be fired, but not, apparently, members of the National Air and Space Intelligence Center (NASIC). Defense News reports.
Most of its so-called “updated” report, 2013 Ballistic and Cruise Missile Threat, which contains contributions from the Defense Intelligence Agency Missile and Space Intelligence Center and the Office of Naval Intelligence, was largely a cut-and-paste job from its 2009 report. Some of the material is identical to the 2006 and 1998 report.
Download the  NASIC report 2013 here.
Download the NASIC report 2013 here.
Though it was reformatted and photographs rearranged with some being enlarged or decreased, the 2013 report appears verbatim from the 2009 report. This clever reordering and reformatting with new color schemes for boxes and graphs is embarrassing since there is more impressive data on Chinese missiles on Wikipedia.
The best illustration is the sections on Chinese missiles. Media reports have exclaimed that the new report indicated that China’s ballistic missile development program is the “most active and diverse” in the world.
“China has the most active and diverse ballistic missile development program in the world. It is developing and testing offensive missiles, forming additional missile units, qualitatively upgrading missile systems, and developing methods to counter ballistic missile defenses. The Chinese ballistic missile force is expanding in both size and types of missiles,” the 2013 report stated.
Actually, it is the exact same paragraph in the 2009 report and a paraphrase from the 2006 report.
There is a slight emphasis this year in anti-access/area-denial (A2/AD) missile systems such as the DF-21D (CSS-5) anti-ship ballistic missile, which is “specifically designed to prevent adversary military forces’ access to regional conflicts.” This is hardly new information and one wonders why it was left out in the 2009 report. Still interested? You can download the report here or directly from NASIC.

»»  READMORE...

Friday, July 5, 2013

PESAWAT SILUMAN J-20 CHINA TERBANG DENGAN WEAPON BAY TERBUKA




J-20


Beberapa hari lalu di media-media online China muncul gambar dan video yang menunjukkan pesawat tempur generasi kelima Chengdu J-20 Mighty Dragon melakukan uji coba penerbangan dengan pintu weapon bay (teluk senjata) terbuka. Gambar dan video beredar pada 2 Juli 2013.

Ini merupakan pertama kalinya muncul gambar pesawat tempur China itu membuka weapon bay yang akan menjadi tempat beberapa senjata.
J-20 dengan weapon bay terbuka

Yang perlu diperhatikan, bagian dalam weapon bay itu sengaja dibuat kabur dengan efek Photoshop dari lambang khas Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China untuk menyembunyikan senjatanya.

Namun tidak jelas apa maksud efek pengkaburan ini, bila memang ingin menutupi seluruh weapon bay, mengapa kepala rudal yang dibawa J-20 masih ditampilkan. Apakah ini hanya karena hasil edit Photoshop yang buruk atau China memang ingin membuat tanda tanya tentang rudal apa yang bakal dibawa oleh J-20 nantinya.

Weapon bay adalah tempat untuk menyimpan senjata (rudal). Senjata sengaja ditempatkan di dalam weapon bay agar tidak terdeteksi oleh radar (terlindungi oleh pintu) yaitu untuk menjaga RCS (Radar Cross Section) serendah mungkin. Weapon bay tetap tertutup hingga rudal digunakan.

J-20 dengan weapon bay terbuka



Namun tak lama setelah kemunculan gambar J-20 dengan weapon bay yang dikaburkan, muncul pula gambar J-20 dengan weapon bay yang tidak diedit. Menunjukkan J-20 dengan weapon bay terbuka dengan dua rudal PL-12 udara-ke-udara. Rudal yang satu tampaknya PL-12B dan rudal satunya lagi tampaknya juga PL-12B atau C yang tidak bersirip.



 


»»  READMORE...

Monday, June 17, 2013

Shenzhou-10 spacecraft to be launched in mid-June




illustration only

The Shenzhou-10 manned spacecraft is scheduled to be launched in the middle of June, a spokesperson for China's manned space program announced on Monday.

The mission has entered the final phase of preparations, with the modified model of the Long March-2F carrier rocket and spacecraft being transported to the launch site on Monday morning, said the spokesperson.

The spacecraft, which will be launched in mid-June from the Jiuquan Satellite Launch Center in northwest China, will carry three astronauts and dock with the Tiangong-1, a target orbiter and space module sent to space in 2011.
During the mission, astronauts will also teach a lesson to a group of students via a video feed, said the spokesperson.

The spokesperson said that after propellant was injected into the Shenzhou-10, the launch platform carrying the spacecraft and carrier rocket was safely transported out of the assembly and testing plant to the launch tower on Monday morning.

The spokesperson added that the functional examination and the joint tests of the spacecraft, carrier rocket and ground facilities will be conducted at the launch site in the next few days.
The Shenzhou-10 will dock with the Tiangong-1, where astronauts will conduct space science experiments and offer lessons to students back on Earth. The space module entered the appropriate docking orbit at the end of May and is now running normally, the spokesperson added.

Preparations are going smoothly for all eight major systems of the missions. Astronauts have finished training sessions, including special simulated training on the ground for space experimentation and teaching during the mission, said the spokesperson.

Source: Xinhua News Agency
»»  READMORE...

Wednesday, June 12, 2013

ROKET THE LONG MARCH 2F BAWA ASTRONOT WANITA KEDUA CHINA




Roket Long March 2 F Diluncurkan

China meluncurkan roket Long March 2F dengan pesawat ruang angkasa berawak Shenzhou-10 dari Situs Peluncuran Satelit Jiuquan, provinsi Gansu, China, Selasa, 11 Juni 2013, pukul 5:38 petang. Peluncuran pesawat ruang angkasa tersebut dalam rangka misi 15 hari ke laboratorium ruang angkasa eksperimen dan untuk pengembangan stasiun ruang angkasa.
Roket Long March-2F yang sudah diisi bahan bakar sejak Senin petang itu membawa taikonot (sebutan populer untuk astronot China) Nie Haisheng (komandan), Zhang Xiaoguang dan seorang taikonot perempuan Wang Yaping.
Wang Yaping, taikonot perempuan kedua China
Wang Yaping, 33 tahun, merupakan taikonot perempuan kedua dalam misi antariksa berawak China, yang lahir dari keluarga petani di bagian timur China. Sedangkan taikonot perempuan China yang pertama adalah Liu Yang, yang juga merupakan seorang pilot Angkatan Darat China dengan jam terbang lebih dari 1.680 jam. Uniknya, dalam misi ini Wang akan memberikan kuliah pertamanya dari luar angkasa kepada siswanya yang berada di bumi.

"Saya akan mendemonstrasikan beberapa percobaan ilmu fisika di lingkungan bergravitasi. Kita semua adalah siswa di alam semesta dan saya pikir kita akan belajar bersama-sama dan mendapatkan momen yang tepat," ujar Wang dalam sebuah konferensi pers pra-peluncuran, Senin, 10 Juni 2013.

Dalam misi kali ini, kapsul kru dilepaskan dari roket bagian atas sekitar sembilan menit setelah lepas landas. Misi ini sendiri akan memakan waktu lebih dari 40 jam untuk mencapai orbitnya yang berjarak 335 kilometer (208 mil) dari permukaan bumi. Misinya utama adalah melakukan dua uji perkaitan ataudocking dengan modul laboratorium antariksa Tiangong-1, secara otomatis dan manual, serta mencoba teknologi baru yang berkaitan dengan konstruksi stasiun luar angkasa. Tiangong-1 sendiri sudah dalam kondisi stabil dan siap untuk uji docking dan menerima taikonot.

Foto Peluncuran Long March 3F : REUTERS/Stringer/bb
Foto Wang Yaping : AP Photo/Andy Wong

»»  READMORE...