News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Lapan. Show all posts
Showing posts with label Lapan. Show all posts

Saturday, May 10, 2014

LAPAN GANDENG 7 UNIVERSITAS KEMBANGKAN TEKNOLOGI SATELIT DAN ROKET

Kerjasama dengan 7 universitas ini, adalah dalam pengembangan 4 bidang, yakni: sains antariksa dan atmosfer, pemanfaatan keantariksaan, teknologi kedirgantaraan, dan kajian kebijakan kedirgantaraanhttp://images.detik.com/content/2014/04/03/1034/pelni1.jpgSatelit Lapan A2 yang akan diluncurkan (Foto: Lapan)

Lapan menggandeng 7 universitas untuk mengembangkan riset tentang satelit dan roket, demi mewujudkan mimpi teknologi satelit dan roket yang tidak perlu lagi bergantung pada negara lain.

“Satelit umurnya tidak lama, hanya 5-10 tahun. Maka kita tidak boleh tergantung dengan negara lain. Industri satelit adalah industri yang terus menerus, dan perlu dikembangkan terus. Saya yakin kita bisa membangun sendiri,” tutur Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, saat penandatanganan kerjasama riset dengan 7 universitas di Kantor Lapan, Jakarta.

“Saat ini kita masih merancang pesawat N219, direncanakan 60 persen merupakan komponen lokal. Dan harapannya semoga bisa terwujud,” imbuh profesor riset astronomi-astrofisika ini.

UU keantariksaan yang disahkan 6 Agustus 2013 menjadi kerangka pengembangan keantariksaan yang kuat. Dalam 25 tahun ke depan ditargetkan Indonesia memiliki satelit penginderaan jauh sendiri, satelit komunikasi yang diluncurkan dengan roket sendiri dan dari bandar antariksa sendiri. Ada beberapa tempat yang telah disurvei untuk menjadi tempat bandar antariksa sendiri. Seperti di Biak dan Morotai.

Untuk teknologi satelit, Lapan sudah menyiapkan 2 satelit, yakni Lapan A2 dan Lapan A3. Kedua satelit itu akan diluncurkan dari Pusat Stasiun Luar Angkasa Sriharikota, India di tahun 2015. Komponen kedua satelit yang dibuat di Indonesia oleh orang Indonesia ini, separuhnya masih impor.

“Sebagian dari dalam negeri, dan sebagian impor, perbandingan 50:50. Industri kita masih beluim mampu membuat komponen satelit, yang tahan dengan kondisi ekstrem,” tuturnya.

Kerjasama dengan 7 universitas ini, adalah dalam pengembangan 4 bidang, yakni: sains antariksa dan atmosfer, pemanfaatan keantariksaan, teknologi kedirgantaraan, dan kajian kebijakan kedirgantaraan.

Dalam membangun 4 kompetensi tersebut, Lapan dan 7 universitas itu menjadi center of excellence, dengan 4 aspek besar yakni Pengembangan kompetensi, pengembangan layanan publik, memperkuat kerjasama nasional-internasional serta pengembangan SDM.

Anggaran riset berasal dari swadaya universitas dan Lapan. Lapan sendiri memiliki anggaran Rp 800 miliar, yang diperuntukkan operasional Rp 500 miliar dan sisanya untuk riset pembuatan pesawat N219 yang bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Kerja sama riset ini nantinya hanya akan menciptakan dan mengembangkan prototipe teknologi. Kemudian untuk produksi prototipe itu, barulah bekerja sama dengan pihak industri.

“Seperti contoh untuk bahan bakar roket, ketika digunakan dalam jumlah banyak, karena Kementerian Pertahanan perlu roket untuk pertahanan, tentu Lapan tidak bisa menanganinya sendiri. Maka, kerjasama Lapan dengan PT Bahana untuk pengembangan pembuatan roket tersebut. Di mana kita akan membuat prototipe dan nantinya industri yang akan mengembangkan,” tuturnya.

Selain Kepala Lapan, 7 perwakilan universitas yang meneken kerjasama itu: Rektor Telkom University Mochamad Azhari, Rektor Surya University Yohanes Surya, Direktur PENS Zainal Arief, Wakil Rektor Unpad Med Setiawan, Dekan Fakultas Tekni Universitas Nusa Cendana ML Gaol, Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip Muhammad Nur dan Kepala Bidang Hubungan Internasional UGM Rahmat Sriwijaya.
»»  READMORE...

Wednesday, April 16, 2014

LAPAN: Negara Maju Pelit Berbagi Ilmu Teknologi Roket

Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket.


Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal
Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal
Penguasaan teknologi roket Indonesia masih sangat jauh di bawah negara maju, khususnya Eropa. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket secara mandiri karena negara maju cenderung pelit untuk membagi ilmu mereka. 
Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Ari Sugeng Budiyanta mengakui teknologi roket tidak mudah untuk dikuasai. “Teknologi peroketan itu teknologi yang sangat tinggi dan sulit. Selain itu, teknologinya sangat tertutup tidak gampang dicari di luar seperti teknologi penerbangan lain. Teknologi roket kurang dibuka oleh negara maju,” kata Ari di sela-sela acara Workshop Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (KOMURINDO) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa 15 April 2014. 
Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mampu bangkit sendiri dalam bidang tersebut dengan ahli-ahli dari Indonesia. “Mau tidak mau kita harus bangkit sendiri, sulit untuk mengharapkan negara lain untuk memberikan training bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya lagi.
Meskipun berat, Ari mengingatkan, penguasaan teknologi sangat penting bagi negara manapun saat ini, tak terkecuali Indonesia. Teknologi roket membuat sebuah negara mampu meluncurkan satelit komunikasi sipil atau untuk kepentingan pertahanan negara. 
Namun ia menilai hal itu masih sangat jauh, karena saat ini Indonesia belum mampu meluncurkan satelit secara mandiri dan harus menumpang kepada negara lain.
LAPAN memiliki cita-cita dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Sehingga, LAPAN mengapresiasi gelaran KOMURINDO dan KOMBAT yang digelar oleh DIKTI di UMY. 
Saya berharap kompetisi tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda, khususnya mahasiswa dalam dunia roket. Sehingga ke depan para calon ahli roket tersebut dapat mempercepat perwujudan cita-cita LAPAN," katanya. (umi)
(viva)

»»  READMORE...

Friday, April 11, 2014

LFX Lapan Fighter Expriment



Lapan
Salah satu industri Alutsista yang sangat penting adalah ..
Pesawat Terbang dan pesawat Tempur, karena dengan kemampuannya yang serba bisa dan mematikan, dapat meng-cover seluruh Kawasan Nusantara.
Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan segudang para ahli dan orang pintar yang mumpuni dengan berbagai bidang keahlian, termasuk salah satunya adalah kemampuan membuat dan menciipta pesawat, baik pesawat komersil ataupun pesawat tempur, sebut saja kita mengenal Prof.dr.ing.BJ Habibie profesor bidang aerodinamika ternama dan terbaik saat ini yang dimiliki bangsa Indonesia. Dari tangan dinginnya kita mengenal N250 yang lahir dari hasil buah karya putra putri bangsa indonesia saat itu.
Indonesia dengan Kondisi Geografis yang luas dan terdiri dari berbagai pulau, sangat membutuhkan Armada Pesawat Tempur yang memadai, untuk memenuhi kebutuhan Dalam Negerinya maka Indonesia merancang dan membuat sendiri Pesawat Tempur, hal ini didasarkan atas dasar kebutuhan yang mendesak dan vital.
Dimulai dengan kerja sama pembuatan pesawat tempur dengan Korea Selatan dengan program KFX /IFX dan saat ini masih berjalan kerja samanya. Adapun hasil kerjasama ini kelak diharapkan dapat membawa kemajuan penting dalam ilmu pesawat tempur bangsa ini kedepannya.
Menurut Ir. SULISTYO ATMADI salah seorang Kepala Program LFX, saat ini ada kerjasama antara LAPAN, PT.DI dan berbagai Universitas Teknik ternama dalam negeri untuk membantu terwujudnya program LFX ,KFX/IFX, dalam arti minimal kita mampu mencuri ilmu nya dari Korea Selatan.
Sementara tujuan dari kerja sama Lapan/ PT.DI dan lainnya adalah:
  • • Mendapatkan suatu konsep pesawat latih-lanjut generasi ke 4.5 dengan kemampuan multi misi.
  • • Memperoleh Rancangan Pesawat Tempur yang sesuai dengan kondisi dan situasi Indonesia
Design IFX Lapan image PPKP
Design IFX Lapan image PPKP 1
lapan1
Design IFX Lapan image PPKP 2
lapan3
Design IFX Lapan image PPKP 3
lapan4
Design IFX Lapan image PPKP 4
lapan5
Design IFX Lapan image PPKP 5
Dalam hal ini banyak hal telah dilakukan LAPAN sebelum dimulainya program LFX dan KFX/IFX, seperti:
  • LAPAN harus menyiapkan SDM nya utk mendukung Program KFX Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, di bidang Teknologi, Penerbangan, khususnya Pesawat Tempur Supersonik GENERASI 4,5 serta generasi 5.
  • Membuat Desain Konseptual Pesawat Tempur Supersonik
  • Pembuatan Model untuk Uji Terowongan Angin dan Uji dengan perangkat lunak berbasis CFD Pengujian model Aerodinamik menggunakan Terowongan Angin Bekerjsama dengan perguruan tinggi (ITB) yang juga sebagai tim perancang KFX mempunyai Kemampuan/ Kelebihan dalam teori Perancangan, dan dari Industri (PT.DI, PTSmartAviation)
  • Koordinasi Sinergi antara Lembaga Riset (Pustekbang-LAPAN), Perguruan Tinggi jurusan AeroAstrodinamika Teknik Penerbangan ITB, diwakili oleh Dr. Ir.Rais Zain,PTDI, PTSmartAviation, diwakili oleh Ir. Agung Nugroho
Tujuannya adalah :
  • Merealisasikan Pembuatan Prototipe Pesawat LFX dari hasil rancangan ini, setelah dilanjutkan dengan tahap Preliminary Desain dan Perancangan detail Tahapan Pengembangan ke depan.
  • Evaluasi Rancangan Konseptual yang telah dihasilkan/ prototipe.
  • Melanjutkan Tahap Preliminary Desain (Rancangan Awal)single atau dobel engine. Melanjutkan Tahap Perancangan Rinci dan pembuatan terowongan angin.
  • Pembuatan Prototipe Pesawat Terbang Tempur Supersonik LFX Tiga tahun dari sekarang.
Dengan demikian diharapkan hal ini menjadi gambaran bahwa bangsa Indonesia tidak main main dalam mengembangkan program mandiri pesawat tempur nya mari kita berdoa semoga tidak lama lagi bangsa indonesia dapat kembali menjadi macan asia di bidang industri pesawat tempur yang di segani oleh negara kawan dan lawan. (by Telik Sandi).
»»  READMORE...

Tuesday, June 25, 2013

TAK HANYA ROKET, LAPAN JUGA SIAPKAN SATELIT MATA-MATA MADE IN RI




http://images.detik.com/content/2013/06/24/1036/satelitlapan.jpg
Purnarupa Satelit LAPAN A2
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan meluncurkan satelit berkuran kecil atau mikro satelit varian kedua (A2). Varian satelit A2 akan diluncurkan pada awal 2014.

"Misinya surveillance (pengawasan), sensor maritim, komunikasi data orari," ucap Enjiner Ground Session LAPAN Unggul Satrio kepadadetikFinance, di sela Pameran Harteknas di Aula BPPT Jakarta, Senin (24/6/2013).

Satelet ini nantinya diluncurkan dengan menggandeng India. India berperan memasok roket pembawa satelit A2 buatan LAPAN. Hal ini juga dilakukan saat membawa satelit pendahulunya, A1.

"Ini masih numpang roket India," tambahnya.

Dengan berat sekitar 70 kg, satelit ini bisa memotret dengan radius jangkauan 3,5x3,5 km. Satelit ini diklaim murni rancangan LAPAN meskipun ada beberapa komponen yang harus diimpor karena tidak diproduksi di dalam negeri.

"Satelit A2 ini diproyeksikan bisa 14 kali dalam sehari melewati wilayah Indonesia," terangnya.

Mikro satelit ini, sebelumnya telah diluncurkan tahun 2007. Satelit dengan nama A1, telah mengorbit hingga saat ini. Padahal usia dari mikro satelit di dunia rata-rata hanya 2 tahun.

"Mikro satelit umur rata-ratanya 2 tahun. Ini sudah 6 tahun, masih beroperasi. Ini untuk A1," katanya.

LAPAN sendiri, secara berkelanjutan terus mengembangkan varian satelit. Hingga akhirnya dapat menghasilkan varian satelit untuk telekomunikasi.(feb/ang) 


  ● detikFinance 
»»  READMORE...

Sunday, June 23, 2013

Uji Statik Multi Nosel Roket RX 550 LAPAN

Dalam rangka mendukung program kerja pemerintah Republik Indonesia yaitu revitalisasi industri Hankam, sebagai salah satu lembaga non departemen yang diantara tugasnya adalah mengembangkan teknologi peroketan nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang berdiri pada 1963, mempunyai kewajiban untuk mendukung program tersebut sehingga Lapan dapat berkontribusi lebih besar dalam kancah nasional untuk mendukung industri Hankam. 

Saat ini Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) Lapan masih terus mengembangkan teknologi beberapa jenis roket dengan berbagai model, bentuk konfigurasi grain, komposisi bahan propellant, material nosel dan lain sebagainya. Agenda besar kegiatan yang telah dilakukan pada 2012 diantaranya adalah uji statik RX 550 dan uji terbang RX 550 di Stasiun Peluncuran Roket Lapan Cilauteureun Pameungpeuk Garut. Beberapa saat yang lalu Pustekroket juga telah berhasil menguji statik roket dengan menggunakan multi nosel yang dilaksanakan di Instalasi Uji Statik Wahana, Tarogong Rumpin.


Pada kesempatan tersebut dilakukan uji statik untuk mengetahui performa motor roket secara keseluruhan, yang meliputi uji kekuatan struktur motor roket, uji optimalisasi kontur nosel, uji sistem penyalaan mula dan pada akhirnya adalah hasil propfil thrust (gaya dorong) fungsi waktu yang dapat mempresentasikan performa motor roket. Menurut keterangan Kepala Bidang Teknologi Motor Roket, Ir. Saeri, M.Si., kelebihan yang terdapat dalam pengembangan teknologi roket dengan multi nosel ini adalah.

1. Struktur nosel lebih ringan
2. Saat pembakaran yang tidak merata dapat lebih mengendalikan defleksi flame,
3. Ketika dibutuhkan fin yang komplek pada daerah nosel lebih mudah dalam penempatannya
4. Dapat digunakan sebagai generator spin roket


Roket sepanjang 2000 mm dengan diameter 200 mm adalah roket RX 2020 jenis roket balistik yang baru dikembangkan pada 2009 dengan bahan bakar propelan komposit (HTPB). Roket jenis ini dapat menggunakan folded fin (sirip tetap) yang diletakkan pada bagian nosel. Roket RX-2020 merupakan roket yang diproyeksikan sebagai ballistis missile dengan jangkauan 20-30 km. Roket ini dirancang untuk terbang spin pada kecepatan terbang tinggi dan diasumsikan terbang pada sea level dengan kerapatan konstan 1.225 kg/m3. 

Gaya Dorong maksimum (Fmax) yang diperoleh pada kisaran (Fr) 2250 kgf yang tercapai selama 7.7 detik. Acuan rancang bangun roket jenis ini mengacu pada roket 122 RM 70 yang mempunyai jarak jangkau 10 km sampai dengan 20 km yaitu roket balistik berbahan bakar propelan padat jenis double base.
»»  READMORE...