News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Radar. Show all posts
Showing posts with label Radar. Show all posts

Tuesday, May 27, 2014

Dua Lagi Capaian Militer Iran Dipamerkan



Iran meluncurkan dua perlengkapan militer baru yang dirancang dan diproduksi di dalam negeri dalam sebuah acara yang dihadiri oleh pejabat militer senior.

Sebuah sistem komando dan kontrol taktis cerdas bernama Basir dan sistem radar baru bernama Matla-ul Fajr adalah dua perangkat keras militer yang diresmikan pada upacara di ibukota, Tehran, pada Ahad (25/5) oleh Panglima Pangkalan Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Farzad Esmaeili.

Basir dapat mengumpulkan informasi dari radar pasif dan aktif, termasuk militer dan non-militer, pos-pos pengamatan, serta sistem kontrol dan komando pusat rudal yang berdekatan.

Sistem radar Matla-ul-Fajr dapat mengamankan komunikasi taktis berkelanjutan dan suara mentransfer dan data antara unit pertahanan udara dan kontrol dan pusat komando .

Sistem ini juga dapat menyusun informasi , dan mempercepat kecepatan dan ketepatan sistem anti-pesawat mengenai transfer data radar dari medan pertempuran

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah mengukri prestasi besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan penting dan sistem militer.

Republik Islam telah berulang kali mengatakan kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara lain, karena doktrin pertahanan berdasarkan pada asas pencegahan.(IRIB Indonesia/MZ
)
»»  READMORE...

Saturday, May 24, 2014

Iran akan Luncurkan Radar Anti-Pesawat Siluman


Komandan
Pangkalan Pertahanan UdaraKhatam al-Anbiya Republik Islam Iran mengatakan, Tehran akan segera meluncurkan sistem radar buatan dalam negeriyang mampu mendeteksi pesawat siluman.

Brigadir Jenderal Farzad Esmaili pada Sabtu (17/5) mengatakan, sebuah sistem radar khusus untuk mendeteksi pesawat siluman, yang telah dikembangkan oleh para pakar muda pasukan Iran di tengah-tengah sanksi rekayasa Amerika Serikat, akan digunakan untuk menangkal pesawat siluman.

Ia menambahkan, sistem radar akan diresmikan pada tanggal 1 September, yang menandai ulang tahun pembentukan pangkalan pertahanan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi sistem dan peralatan penting militer.

Pada Desember 2013, Iran meluncurkan sebuah sistem radar yang dirancang dan diproduksi dalam negeri bernama Arash. Pada bulan November 2013, Angkatan Laut Iran juga meluncurkan sistem radar arrayyang disebut sebagai Asr.

Radar yang memiliki luas permukaan sekitar empat meter persegi itu dapat mendeteksi target pada jarak sejauh 110 mil dan mampui mendeteksi rudal jelajah. (IRIB Indonesia/RA
)
»»  READMORE...

Friday, April 11, 2014

Radar Terbang


Selain “Piring Terbang” saya sering mendengar istilah “Radar Terbang”. Apa sebenarnya yang dimaksud?
Doni Pramono – Depok

Istilah radar terbang adalah sebuah istilah yang mengacu pada sistem yang dikenal sebagai  Airborne Early Warning and Control (AEW&C) atau sistem pengendalian dan peringatan dini terbang. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi pesawat terbang, kapal, dan kendaraan jarak jauh serta melakukan pengendalian dan komando dalam pertempuran udara dengan mengarahkan pesawat tempur sergap serta pesawat serang darat. Satuan AEW & C juga digunakan untuk melakukan pengawasan, termasuk atas sasaran darat dan seringkali berfungsi menjadi  C2BM (Command,Control, and Battle Management) atau komando, kendali, dan manajemen pertempuran, sebuah fungsi yang mirip dengan Pengawas Lalu Lintas Udara pada jajaran komando operasi militer.

Ketika digunakan di ketinggian, maka radar pada pesawat memungkinkan operator untuk mendeteksi dan melacak target serta membedakan antara pesawat kawan dan lawan pada jarak lebih jauh daripada radar darat, dengan tetap dapat mengawasi sasaran yang terbang rendah di balik pegunungan atau dalam lembah. Kemampuan ini meningkatakan kewaspadaan situasi udara dalam operasi udara. 

Pesawat AEW&C digunakan untuk operasi udara defensif maupun ofensif, baik untuk mengendalikan kekuatan udara maupun kekuatan laut dan darat . Sistem ini digunakan secara ofensif untuk mengendalikan pesawat tempur langsung ke lokasi target mereka, dan untuk membela diri , mengarahkan serangan balik terhadap pasukan musuh, baik lawan di darat dan udara..Sangat menguntungkan memiliki aset  radar udara yang mampu melakukan  komando dan kontrol dari suatu ketinggian.

Sebagai gambaran Angkatan Laut Amerika Serikat beroperasi Northrop Grumman E - 2 Hawkeye AEW & C  yang terbang dari kapal induk untuk meningkatkan pengawasan  dan melindungi gugus tugas nya. Dalam angkatan udara Inggris (RAF) fungsi "peringatan dini udara" ( AEW ) menggunakan pesawat seperti Fairey Gannet AEW.3 dan Lockheed EC–121 dan terus digunakan oleh RAF dengan pesawat  Sentry AEW 1. Sementara fungsi AEW & C ( peringatan dini dan kontrol udara) lebih lengkap dalam kemampuan pengendalian pertempuran udara yang tidak ada  pada pesawat radar biasa.

Pesawat AEW & C modern dapat mendeteksi pesawat hingga jarak  250 mil (400 km) jauh di luar jangkauan kebanyakan rudal permukaan ke udara. Sebuah pesawat AEW&C yang terbang pada ketinggian 30.000 kaki (9.100 m) dapat mencakup area seluas 120.460 mil persegi (312.000 km2). Dengan kemampuan ini maka tiga buah pesawat tersebut yang diterbangkan dalam orbit tumpang tindih dapat menutupi seluruh Eropa Tengah. Dalam pertempuran udara-ke-udara  sistem AEW&C dapat berkomunikasi dengan pesawat kawan  memperluas jangkauan sensor mereka dan membuat mereka lebih sulit untuk dilacak lawan, karena mereka tidak lagi perlu mengaktifkan radar mereka sendiri untuk mendeteksi ancaman.

Awal dari penggunaan sistem radar adalah dalam Perang Dunia II. Inggris yang pertama kali mengembangkan seperangkat radar yang bisa dilakukan di pesawat terbang untuk "Air Controlled Interception" atau "Penyergapan Udara Terkendali”. Tujuannya untuk mendeteksi ancaman dari arah Barat Laut di mana pesawat pembom jarak jauh Jerman Fw 200 Condor merupakan ancaman bagi pelayaran. Sebuah pesawat pembom Vickers Wellington (serial R1629) dilengkapi dengan sebuah antena berputar. Alat ini diuji coba terhadap sasaran udara dan kemudian juga untuk kemungkinan penggunaan terhadap kapal “E Boat” Jerman. Peralatan lainnya adalah pesawat Wellington yang dilengkapi radar digunakan untuk mengarahkan pesawat Bristol Beaufighters kepada pesawat penyerang  Heinkel He 111s yang digunakan untuk meluncurkan bom terbang V-1 sebagai versi awal rudal jelajah.

Banyak negara telah mengembangkan sistem AEW & C mereka sendiri, meskipun Boeing E-3 Sentry dan Northrop Grumman E-2 Hawkeye adalah sistem yang paling umum di seluruh dunia. Pesawat  E-3 Sentry dibangun oleh Boeing Defense, Space & Security berdasarkan pesawat Boeing 707-320. 65 buah pesawat E-3 dibangun dan dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, NATO, Inggris, Perancis dan Arab Saudi. Untuk Japan Air Self-Defense Force, teknologi E-3 telah dipasang ke dalam pesawat jenis Boeing E-767.

Pesawat khusus Grumman E-2 Hawkeye mulanya dirancang untuk mendukung kebutuhan operas Angkatan laut AS mulai beroperasi pada tahun 1965 dan telah dioperasikan oleh delapan negara yang berbeda. Lebih dari 168 buah telah diproduksi dan versi baru terus dikembangkan sehingga sistem AEW yang paling banyak digunakan.
The Royal Australian Air Force, Angkatan Udara  Korsel, dan Angkatan Udara Turki menggunakan pesawat Boeing 737 AEW&C. Berbeda dengan E-2 dan E-3, Boeing 737 AEW & C ini  tidak menggunakan radome disk yang berputar (rotodome) tetapi memiliki sirip punggung besar.

Angkatan Udara Swedia menggunakan S 100B Argus sebagai platform AEW-nya didasarkan pada pesawat Saab 340 dengan radar Erieye PS-890 buatan Ericsson.

Angkatan Udara Yunani, Angkatan Udara Brasil dan Angkatan Udara Meksiko menggunakan pesawat Embraer R-99 dengan dilengkapi radar Erieye PS-890  Ericsson, seperti pada S 100B.

Pada awal tahun 2006, Angkatan Udara Pakistan membeli  enam sistem  Erieye AEW yang dipasang pada pesawat Saab 2000 dari Swedia dengan harga total sekira 1 miliar dolar AS. Pada bulan Desember 2006, Angkatan Laut Pakistan mengakuisisi tiga pesawat bekas P-3 Orion AL AS dan dilengkapi dengan sistem AEW Hawkeye 2000. Sementara China dan Pakistan juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan bersama AEW&C.

Rusia menggunakan pesawat AEW dengan dasar pesawat Tupolev Tu-126 dan  mulai beroperasi pada 1965 saat itu masih bernama Angkatan Udara Uni Soviet dan tetap digunakan sampai digantikan oleh Beriev A-50 pada tahun 1984.

Nefara Israel telah mengembangkan sistem radar terbang buatan Israel Aircraft Industries  yaitu Elta EL/M-2075Phalcon, yang menggunakan radar modern AESA (ActiveEelektronically Scanned Array) sebagai pengganti antena rotodome. Sistem ini dipasang pada Boeing 707 dan dikembangkan untuk Pertahanan Udara Israel dan untuk ekspor dengan dipasang pada pesawat jenis lain sesuai permintaan negara pemesan.

Setiap Angkatan Udara sudah selayaknya dilengkapi sistem AEW&C. Dengan harapan dalam pelaksanaan operasi udara dapat mengawasi area yang lebih luas dan jangkauan tidak terhambat oleh bentang alam seperti permukaan bumi yang bergelombang. Semua ancaman bisa ditangkap agar tidak terjadi pelanggaran wilayah udara lewat ketinggian rendah serta meningkatakan koordinasi serta kewaspadaan situasi dan mengurangi ancaman udara terhadap pesawat kawan  dalam pelaksanaan operasi udara, khususnya dalam medan perang udara modern. (Kol. Pnb. Agung "Sharky" Sasongkojati)
»»  READMORE...

Mengenal INFRA RCS, Industri Radar Swasta dalam Negeri

Kemandirian anak bangsa Indonesia dalam membuat alat utama sistem senjata (alutsista) telah banyak menoreh prestasi di dalam maupun luar negeri, seperti pembuatan pesawat, kapal perang, kendaraan tempur, senjata ringan maupun berat. Alutsista-alutsista strategis ini tidak terlepas dari peran BUMN Industri Strategis dan industri swasta lainnya.
Mengenal INFRA RCS, Industri Radar Swasta dalam Negeri
Kemandirian alutsista Indonesia tak terlepas dari peran BUMN Industri Strategis dan industri swasta lainnya.

PT Infra RCS Indonesia adalah salah satu industri strategis swasta yang terlibat dalam memajukan teknologi radar dalam negeri. Beberapa produk perusahaan yang telah berdiri sejak 2009 ini telah dipasang di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Parchim.
 


"Ada 4 KRI Van Speijk dan 1 Parchim.  Di situ ada radar LPI (Low Probability of Intercept) dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh, ada ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) karena 1 paket dan ada juga ESM (Electronic Support Measures) untuk KRI Yos Sudarso dan KRI OWA," ucap Technical Advisor PT  Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (7/4/2014).

Selain itu saat ini Infra RCS sedang mengembangkan Coastal Radar yang berfungsi untuk mengawasi pesisir pantai dan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS). Dalam pengembangan ini, Infra RCS bekerjasama dengan Dislitbang TNI AL sebagai end user.

"Coastal Radar kita kebanyakan dari luar, dan seperti kita ketahui garis pantai kita itu kan panjang. Jadi perlu banyak radar pengawas pantai, jadi wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing lalu juga illegal fishing seperti di Maluku dan lain-lain. Tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL," ujar pria murah senyum itu.

Di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan selain dipasarkan ke TNI AL, radar-radar pabrikannya juga bisa dijual ke kalangan swasta dan pemerintah. Tawaran dari institusi pemerintah juga sudah mulai berdatangan.

"Kita pemasarannya bisa kalangan kecil, swasta dan pemerintah, jadi terbuka ya. Kita rencananya kerjasama dengan asosiasi galangan kapal, tentu untuk dipasang di on-board ya. Kalau untuk coastal rencananya dengan Bakorkamla, Kementerian Perikanan. Pertamina juga berminat untuk pengawasan oil rig-nya," imbuh wanita berkerudung ini.

Untuk masalah harga, Wiwiek menilai, produk buatan perusahaannya lebih kompetitif dibanding radar impor. Selain itu, perusahaannya memberikan pelatihan berkala sampai pihak user mengerti tentang kegunaan radar pabrikannya.

"Secara cost kita sangat kompetitif, seperti kalau beli dari China di kita harganya cuman 50%-nya," tutur Wiwiek.

Meski dengan keterbatasan SDM, PT Infra RCS Indonesia bercita-cita untuk mendukung revitalisasi dan kemandirian bangsa dalam bidang penelitian dan produk radar dalam negeri. Untuk anggaran Research and Development (R&D) awalnya dari hasil patungan dan akhirnya dibantu Ditlitbang TNI AL.

"Untuk Infra ini kan kita punya misi  untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis.  Jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan. Kalau lihat produk luar biasanya setelah instalasi lalu ditinggal, itu banyak kita lihat di lapangan itu," katanya.

"Ada (anggaran) dari internal ada juga kerjasama dengan litbang. Kalau coastal ini kita kerjasama dengan litbang TNI AL. Dengan keuntungan sedikit kita akan pakai lagi untuk R&D dan pengembangan varian-varian baru agar kemandirian bangsa dalam teknologi radar bisa setara dengan negara maju. Saat ini fokus 70% untuk radar maritim dan sisanya untuk radar lainnya." (Rizki Gunawan | Liputan6)
»»  READMORE...

Wednesday, April 9, 2014

Radar Pasif Pencari Jejak UAV Hingga Pesawat Siluman Dari Jarak 600 km




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW5Rmq3fyttwKmibeYYuhdeTuffQd51C8rdsaqvSSyScwe8OkSe_KVpKFYbNHz07VI0iAdPevlEYUU7_u_IjyrSffvO1uvZ_snM758pR8Z0C99PeOOhDtYhEgIuuTMeRKJeAeZGkYJ4eE/s320/Radar+Pasif.jpg

Radar (Radio Detecting And Ranging) adalah sebuah peralatan elektronik yang umumnya digunakan untuk memantau suatu wilayah udara untuk kepentingan pengamatan dan pengendalian lalu lintas udara. Meskipun demikian radar juga digunakan untuk keperluan pengamatan cuaca, lalu lintas kapal laut dan bahkan mengamati kecepatan lalu lintas darat.

Prinsip kerja radar konvensional adalah memancarkan gelombang radio ke angkasa dan menangkap kembali pantulan akibat mengenai benda terbang. Besarnya sinyal pantulan dikenal dengan nama Radar Cross Section (RCS). Pesawat terbang konvensional akan menghasilkan RCS sesuai ukurannya, namun pada pesawat modern, khususnya pesawat militer generasi terkini memiliki nilai RCS kecil atau bahkan sangat kecil sehingga sulit terdeteksi radar konvensional sehingga disebut pesawat “Siluman”.

Kemampuan menjadi “Siluman” atau Stealth ini dihasilkan oleh pengembangan teknologi airfoil/airframe, material dan avionik pesawat. Teknologi airfoil/airframe menggunakan desain bentuk yang mengurangi pantulan radar. Teknologui material menggunakan penyerapan gelombang radar sehingga mengurangi pantulan sampai tidak memantul sama sekali.

Tehnologi avionik yang mengurangi pancaran elektromagnetik atau mengganggu pancaran elektromagnetik lawan. Jika teknologi ini digunakan pada pesawat tak berawak (UAV) maka akan sangat ampuh, ukuran UAV yang kecil dan tidak tertangkap radar akan menyulitkan untuk mengantisipasi ancaman, terelbih bila pesawat UAV memiliki kemampuan penyerang di samping pengintai berkemampuan tinggi.

Untuk menghadapi pesawat-pesawat yang sulit dideteksi maka dikembangkan peralatan “penjejak pasif” (passive sensor) atau radar pasif. Cara kerjanya adalah dengan menerima semua frekuensi elektromagnetik yang dipancarkan oleh pesawat dan UAV. Meliputi gelombang komunikasi, data link, radar altimeter, radar cuaca, radar early warning, radar deteksi, peralatan navigasi, transponder IFF, GPS, ADSB, dan aneka pancaran gelombang elektromagnetik yang terpancar atau diterima oleh pesawat tadi.

Diketahui prinsip radar pasif yang menggunakan 3-4 peralatan sensor penerima pada suatau jarak tertentu sanggup menggunakan prinsip triangulasi untuk menentukan posisi, ketinggian, kecepatan dan arah pergerakan sasaran yang di deteksi. Dengan makin canggihnya teknologi maka radar pasif makin peka dan makin canggih. Peralatan ini bisa menjadi alat deteksi, alat analisis, dan pengumpul data elektronis. Bisa menjadi alat Electronic Intelligent, Electronic Support Measures, dan Signal Intelligence.

Keuntungan menggunakan radar pasif adalah antara lain mampu mendeteksi sasaran secara tiga dimensi pada jarak 400-600 km tanpa diketahui sasaran (senyap) karena tidak memancarkan sinyal radar, mampu juga mendeteksi emisi di daratan dan lautan secara senyap, handal terhadap jammer, bekerja secara rahasia, relatif murah dan mudah dirawat, mudah diintegrasikan, mudah dilakukan alih teknologi, serta sangat ampuh bila digabungkan dengan sensor radar pertahanan udara aktif yang sudah ada.

Kemampuan pertahanan udara yang mengandalkan radar aktif akan sangat terdongkrak dengan dilengkapi sistem radar pasif, sehingga tidak saja pesawat konvensional bisa lebih mudah tertangkap radar namun juga pesawat non konvensional berkemampuan stealth, termasuk pesawat tanpa awak dan rudal jelajah bisa terdeteksi dan bisa dilumpuhkan sedini mungkin.
»»  READMORE...