Setelah melihat pembuatan Sukhoi SU-34 dan Kapal selam Kilo Rusia, kali ini penulis akan menyajikan foto-foto keren pembuatan rudal Rusia, antara lain: Sistem rudal anti pesawat portabel Igla, Missile systems Ataka (“Attack”) Chrysantemum-S dan Tactical ballistic missile systems Iskander. Mari kita lihat.
Rudal Ataka atau NATO biasa menyebut AT-9 spiral Merupakan versi upgrade dari rudal Shturm dapat dipasang pada kendaraan lapis baja (versi Ataka T) atau heli tempur. Rudal ini memiliki jarak jangkau 6000m mampu menghancurkan kendaraan lapis baja maupun helicopter yang terbang rendah
SS-26 Iskander adalah Rudal Balistik jarak pendek (SRBM) buatan Rusia yang dikembangkan sejak awal tahun 1980 dan sering dijuluki “Son of Scud”. Iskander-M memiliki jarak jangkau 400 kilometer, sedangkan versi ekspor Iskander-E berjarak jangkau 280 kilometer. Rudal Iskander mampu meluncur hingga kecepatan 7 Mach (2200 meter per detik) yang membuatnya susah untuk dicegat rudal Anti-Ballistic.
source: jkgr
Sumber : Wikipedia/Chirpstory.com/kaskus/englandrusia.com
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro akhirnya mengumumkan rencana pembelian kapal selam dari Rusia, untuk memperkuat armada TNI AL. Rencana ini ditindaklanjuti dengan mengirim Tim TNI AL ke Rusia pada pertengahan Januari 2014, untuk melihat tawaran apakah mengambil kapal selam bekas/refurbish atau yang baru.
Sistem Pertahanan Rudal Buk-M2E Rusia (photo:Rosoboronexport)
Pernyataan ini disampaikan Menteri Pertahanan usai bertemu dengan Perwakilan RosoboronExport yang ditemani Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin di Kantor Kemenhan.
Dengan dibelinya kapal selam Kilo Class dan Amur dari Rusia, menunjukkan rencena-rencana pembelian seperti yang tercatat di SIPRI maupun yang ditawarkan Rusia, terpenuhi sudah. Dari pola ini terlihat, walau TNI mengejar transfer teknologi dalam pengadaan alutsista, namun tidak melupakan kualitas. Alutsista yang berkualitas tetap dibeli sambil memburu ToT dari berbagai negara, termasuk Rusia.
Berbicara alutsista yang berkualitas jika dikaitkan sistem pertahanan udara, negara Rusia bisa dikatakan yang terdepan untuk urusan teknologi ini. Sistem pertahanan Rusia berkembang pesat dan semakin matang. Mereka pun terus meningkatkannya dengan membangun S-500 yang memiliki jarak tembak 600 km dan bisa membidik setiap benda yang terbang di udara.
Indonesia memang sedang mencari sistem pertahanan udara, antara lain untuk menjaga Ibukota Negara. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin saat bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Pertemuan tanggal 21/8/2013 itu membahas sinergi antara Kementerian Pertahanan dan Pemerintah DKI Jakarta dalam pembangunan ruang bawah tanah di Monas yang akan diintegrasikan dengan sistem pengamanan Ibukota, termasuk pertahanan udara.
Ide pembangunan sistem pertahanan udara yang modern ini, bisa jadi sudah didengar RosoboronExport, beberapa waktu sebelumnya.
Pada Indo Defence 2012, RosoboronExport menawarkan sistem pertahanan udara modern bagi Indonesia. Sitem pertahanan rudal yang ditawarkan adalah integrasi air defence system yang menggabungkan sistem pertahanan rudal jarak menengah BUK-M2E dengan sistem pertahanan rudal/senjata jarak pendek Pantsir-S1.
Pakar RosoboronExport meyakini konfigurasi sistem itu akan secara efektif melindungi obyek-obyek vital militer maupun instalasi lainnya dari potensi serangan udara musuh, termasuk serangan udara yang masif.
Buk-M2E (nama di NATO: SA-17 Grizzly) merupakan sistem medium-range surface-to-air missile (SAM) bergerak, yang didisain untuk melindungi pasukan maupun instalasi/bangunan dari ancaman serangan udara. SA=17 Grizzly merupakan upgrade dari sistem pertahanan udara bergerak versi Buk-M1 yang sudah combat proven.
Buk-M2E dibuat untuk menetralisir serangan masif dari pesawat tempur taktis maupun strategis, rudal balistik taktis, rudal jelajah, rudal pesawat tempur, bom pintar, helikopter, termasuk hovering rotorcraft, UAV, meski Buk-M2E mendapatkan serangan electronic countermeasures yang gencar.
Sistem Pertahanan rudal/senjata jarak pendek mobile,Pantsir-S1 Rusia (SA-8 Greyhound
Adapun Pantsir-S1 (NATO: SA-8 Greyhound) merupakan sistem pertahanan udara berbasis rudal/senjata yang didisain untuk melindungi areal-areal yang vital, big military areas, target industri dan unit pasukan darat. Pantsir-S1 memperkuat unit pertahanan udara dalam melindungi pasukan maupun instalasi militer dari serangan udara presisi, baik di ketinggian rendah maupun extreme low altitudes.
Sepertinya, Kementerian Pertahanan dan TNI sedang menjajaki sistem rudal pertahanan modern dari Rusia itu. Sekali lagi, menjajaki. Penjajakan ini dimulai dengan datangnya perwakilan RosoboronExport ditemani Duta Besar Rusia untuk Indonesia, menghadap Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro di Jakarta. (JKGR)
Sistem rudal pertahananan udara Rusia S-400 mulai beroperasi di atas langit Moskow. Sistem ini sebelumnya sudah diuji langsung di lapangan Kapustin Yar
Delapan unit peluncur rudal pertahanan udara S-400 tampil dalam parade di Lapangan Merah Moskow pada peringatan peringatan ke-69 kemenangan Rusia dalam Perang Patriotik Raya, Jumat (9/5) lalu. Foto: Wikipedia.org
Awak tempur Resimen Rudal Pertahanan Udara Zvenigorod yang dilengkapi dengan S-400 ‘Triumph’ ZRS (Zenitnaya Raketnaya Sistema/Sistem Rudal Pertahanan Udara) mulai menjalankan tugas, setelah melakukan latihan menggunakan simulator ‘Tembr-M’. Hal tersebut disampaikan oleh Kolonel Aleksey Zolotukhin, Perwakilan Resmi VKO (Vozdushno-Kosmicheskaya Oborona/Pasukan Pertahanan Udara) pada ITAR-TASS, Senin (12/5).
Resimen Rudal Pertahanan Udara Zvenigorod yang berwenang mengoperasikan sistem ‘Triumph’ S-400 dan ‘Pantsir-S1’ sejak Maret lalu tersebut telah berhasil menyelesaikan tes uji pengoperasian sistem S-400 dalam satu-satunya resimen pelatihan Pertahanan Udara di pangkalan Rusia. Mereka menjalankan latihan menembak langsung dengan sistem S-400 di lapangan pengujian Kapustin Yar dan mulai menjalankan tugas membela ruang udara di atas Moskow dan pusat kawasan industri Rusia.
Sebagai bagian dari Pasukan Pertahanan Udara, tujuan utama resimen rudal pertahanan udara adalah mempertahankan wilayah udara Moskow dan pusat kawasan industri, serta melindungi pejabat militer, pejabat negara, industri, dan tenaga listrik. Mereka juga bertugas melindungi pasukan dan jaringan transportasi dari ancaman serangan udara musuh.
Menurut Zolotukhin, Pasukan Pertahanan Udara di Podmoskovye dirancang untuk memperbaharui pelatihan awak tempur di pos komando resimen rudal pertahanan udara serta barisan S-300 dan S-400. Hal ini untuk memungkinkan mereka melakukan operasi tempur di lingkungan udara yang kompleks menggunakan penerbangan aktual dan simulator ‘Tembr-M’.
Sifat unik dari simulator ‘Tembr-M’, menurut Zolotukhin, terletak pada kemampuannya untuk melakukan simulasi tempur secara real-time dan dalam dimensi geografis yang sebenarnya. Di wilayah Moskow, spesialis dari resimen pelatihan dapat melatih awak tempur S-300 dan S-400 dari resimen rudal pertahanan udara untuk melakukan operasi di setiap sudut dunia dengan menggunakan peta digital wilayah yang bersangkutan.
Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di ITAR-TASS.Zolutukhin menyampaikan, tahun lalu ada lebih dari 30 latihan uji taktis di pangkalan resimen pelatihan. Lebih dari 70 awak tempur dari pos komando dan barisan resimen rudal pertahanan udara dilatih oleh spesialis resimen, dan sekitar 1.000 personil dari pasukan rudal pertahanan udara menjalani pelatihan verifikasi.
The Multi-Service Standard Guided Projectile (MS-SGP) went through a successful first test firing from a 5-inch 62-caliber Mk 45 Mod 4 Naval Gun System at White Sands Missile Range, New Mexico. According to BAE Systems, the projectile’s developer, all MS-SGP guided flight test objectives were achieved. The guided flight test, culminating more than 110 MS-SGP subsystem tests, demonstrates the tactical capability to a range of 38 kilometers. The MS-SGP’s maximum range is nearly 100 kilometers, with accuracy of less than five meters. The MS-SGP significantly enhances the capability of U.S. Army and Marine Corps field artillery and U.S. Navy Mk 45 gun systems.
The MS-SGP provides a single projectile capable of responsive, tactical fires for addressing stationary or moving targets for multiple U.S. or allied services at a fraction of the cost of current alternatives. “Currently the U.S. and its allies are using significantly more expensive solutions to address fire support and tactical targets,” said Chris Hughes, vice president and general manager of Weapon Systems at BAE Systems. “The projectile can provide the U.S. forces with an affordable, long-range, and precision gun-launched projectile to greatly expand our fire support capability.”
The guided projectile is developed in the standard 5-Inch naval gun configuration and saboted 5-Inch variant sized for 155mm howitzers operated by the Army and Marine Corps. The naval Mk 45 Mod 4 five inch guns has been deployed worldwide with more than 25 navies. Designed to fit this popular caliber in naval gun systems, SGP offers current naval platforms the capacity to provide long range joint fires and support asymmetric operations around the world. The Mk 45 Mod 4 will deliver 5-Inch fires at a maximum rate of 10 rounds per minute to 52 nautical miles to achieve desired effects.
While BAE Systems has achieved this milestone with its guided projectile, Raytheon is moving into this slot with a new derivative of its combat proven Excalibur Ib. The company is funding a development program to enhance its the current GPS-guided projectile with a new Guidance and Navigation Unit (GNU) employing a semi-active laser (SAL) offering ‘end-game targeting capability’. According to Raytheon, the addition of the SAL seeker will allow the munition to attack moving targets designated by other sources, such as forward observers or remotely piloted aircraft (RPA). Using laser targeting Excalibur will be able to attack targets that have re-positioned after firing, or change the impact point to avoid casualties and collateral damage. Raytheon plans to integrate the new GPS/SAL capability in 5-inch (127mm) naval guns, enabling such weapons to engage moving targets on land and at sea. Counter-swarming boat capability will be the prime focus of such at-sea moving target capability using a high-firing rate naval guns. According to company sources the transition to the naval 5-inch configuration will be easily made as the existing 155mm Excalibur Ib GNU design also fits in a 127mm projectile body.
“No other gun-launched GPS-guided artillery round is as precise as Excalibur, which in its current design gives one the ability to hit within 4 meters of the target 90 percent of the time,” said Kevin Matthies, Excalibur program director for Raytheon Missile Systems. “Now we’re ready to take this to the next level, giving the warfighter the ability to not only re-target the munition in flight, but leverage Excalibur’s maneuverability to use the pinpoint precision of a semi-active laser seeker to hit targets on the move.”
Recent tests of the SAL seeker have demonstrated the robustness of the design in a severe gun-firing environment. The company said it will offer existing customers to upgrade their Excalibur Ib guidance and navigation units with the new GPS/SAL capability.
On the other side, BAE is moving into Raytheon’s turf offering the land-based derivative of the saboted 5-Inch SGP, that can be fired from standard 155mm howitzers in service with the Army and Marine Corps. The company plans to fire the MS-SGP from an M777 towed howitzer in the summer of 2013. MS-SGP will expand the range and area covered by direct and general support artillery units, to provide long range joint fires in support of ground combat operations. Artillery units firing the 5-Inch Saboted SGP will deliver a volume of effects on desired area targets out to a range of 70 kilometers. By use of flight profiling, the 5-Inch Saboted SGP can execute Multiple Rounds Simultaneous Impact (MRSI) missions, magnifying lethal effects.
Both the 5-Inch SGP and Saboted SGP offer rapid time of flight and the capability of in-flight retargeting to address moving targets, changing target conditions, and surface threats. They both deliver all weather precision attack capability to fully defeat targets with high-explosive warheads, while operating within a jamming environment. Tested component designs are based on a spiral of the highly successful 155-mm Long Range Land Attack Projectile (LRLAP).
Russia on Thursday test-launched several ballistic missiles during planned exercises overseen by President Vladimir Putin, news reports said, as a crisis raged in neighbouring Ukraine.
The Russian military fired a Topol intercontinental ballistic missile from its northern test site in Plesetsk, as well as "several" shorter-range missiles from its submarines in the Northern and Pacific Fleets, news agencies cited defence officials as saying.
Other military manoeuvres involved the launch from an undisclosed location in western Russia of air-to-surface rockets by Tu-95 strategic bombers, and the entry into the English Channel of a Northern Fleet armada led by the aircraft carrier Admiral Kuznetsov.
The exercises, overseen by Putin and four visiting presidents from Kremlin-allied ex-Soviet states, were staged ahead of Russia's commemoration on Friday of the defeat of Nazi Germany in World War II.
Putin stressed in televised comments that the war games had been planned in November, implying that they were not directly linked to events in Ukraine.
But he told the visiting presidents from Belarus, Armenia, Tajikistan and Kyrgyzstan that Russia's nuclear defence capabilities remained strong and on constant alert.
"You have been able to witness the great readiness and cohesion of our country's offensive and defensive strategic forces," said Putin.