News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

Tuesday, May 27, 2014

Nanodevice Karya Peneliti Iran Bikin Baterai Lithium Ion Lebih Irit




Seorang ilmuwan Iran Reza Shahbazian-Yassar bersama timnya di Universitas Michigan AS telah membangun sebuah nanodevice yang  menjanjikan pembuatan generasi berikutnya dari baterai lithium ion lebih efisien.

Kantor berita ISNA melaporkan baterai lithium ion saat ini menjadi  jantung energi hampir semua jenis teknologi, dari ponsel ke tablet hingga kendaraan listrik. Kini dinilai menjadi teknologi yang sudah teruji, ringan, tahan lama dan kuat. Tapi belum sempurna.

"Sebuah mobil listrik seperti Nissan Leaf, bisa mencapai 100 mil sekali charge. Untuk menarik pasar harus ditingkatkan menjadi sekitar 300 mil. Kami ingin meningkatkan kekuatan sistem ini," kata Reza Shahbazian-Yassar, seorang profesor teknik mesin di Michigan Technological University.

Kini, Yassar telah mengembangkan perangkat yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan baterai lithium ion generasi berikutnya yang lebih irit.

Penemuan ini telah mendorong permintaan dari industri dan laboratorium nasional yang tertarik menggunakan kemampuan resolusi atomik dalam pengembangan baterai.

"Ini sangat menarik," kata Yassar. "Ada begitu banyak pilihan untuk elektroda, dan sekarang kami memiliki alat baru yang dapat memberi tahu kami apa yang terjadi dengan mereka. Sebelumnya, kita tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi, kami hanya menebaknya saja," pungkasnya.(IRIB Indonesia/PH
)
»»  READMORE...

Saturday, May 3, 2014

Peluang Mesin Waktu dan Neutrino



Di dalam buku fiksi ilmiah Timeline (1999), Michael Crichton menulis tentang mesin waktu yang berbasis pada ilmu fisika modern: mekanika kuantum. Tubuh manusia yang dikirim ke masa lalu dipecah menjadi partikel-partikel dan kpemudian disatukan kembali di tempat tujuan.
Di dalam kehidupan nyata, dunia ilmu pengetahuan baru saja dikejutkan oleh temuan partikel subatomik neutrino yang bergerak melampaui kecepatan cahaya. Temuan yang diumumkan sebulan lalu itu, pada akhir Oktober diuji coba lagi untuk membuktikan bahwa kesimpulan ini bukanlah sekadar spekulasi.

Seperti yang ditulis dalam jurnal ilmiah Nature, temuan luar biasa itu berawal dari percobaan OPERA, Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus. Percobaan berlangsung 1.400 meter di bawah tanah di Laboratorium Nasional Gran Sasso, Italia. Di sini, para ilmuwan menghitung berapa lama waktu tempuh neutrino yang dikirim dari CERN, suatu laboratorium fisika partikel di dekat Geneva, Swiss, dengan jarak 731 kilometer.

Perjalanan itu ternyata membutuhkan waktu 2,4 milidetik. Harian The Guardian menyebutkan, hasil tersebut diperoleh setelah melakukan uji coba selama tiga tahun dan mengukur waktu kedatangan 15.000 neutrino. Dengan kecepatan cahaya 299.792.458 meter per detik, neutrino yang melesat pada kecepatan 299.798.454 meter per detik itu telah melampaui kecepatan cahaya.

Neutrino

Menurut Prof Dr Terry Mart, Ketua Peminatan Fisika Nuklir dan Partikel Teori di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, neutrino adalah partikel yang sangat ringan, hampir tidak bermassa.

Kehadiran neutrino diprediksi oleh Wolfgang Pauli pada 1931 untuk menjelaskan peluruhan beta, suatu transformasi neutron menjadi proton plus elektron. ”Tanpa neutrino, momentum angular reaksi menjadi tidak sama sebelum dan sesudah reaksi sehingga tidak sesuai dengan hukum kekekalan energi,” kata Terry.

Neutrino yang tidak bermuatan berinteraksi dengan materi lain hanya melalui gaya lemah sehingga mampu menembus Bumi, bahkan unsur terpadat, seperti timbal, sekalipun. Tahun 1934, Enrico Fermi mengembangkan teori yang lebih komprehensif tentang peluruhan radioaktif ini dengan melibatkan partikel hipotetik dari Pauli. Partikel ini disebut Fermi sebagai neutrino, dalam bahasa Italia berarti ’si kecil yang netral’. Dengan neutrino, teori Fermi secara akurat telah menjelaskan berbagai hasil eksperimen.

Namun, baru tahun 1959 Clyde Cowan dan Fred Reines membuktikan kehadiran partikel yang karakteristiknya mirip dengan neutrino. Reines kemudian menerima Nobel Fisika tahun 1995 atas kontribusinya dalam penemuan itu. Ditanggapi skeptis

Kembali pada temuan neutrino yang bergerak melebihi kecepatan cahaya, temuan spektakuler ini ditanggapi skeptis oleh para peneliti. Mereka berbasis pada pendapat James Clerk Maxwell bahwa kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di semesta.
Teori Maxwell kemudian disempurnakan Albert Einstein dengan teori relativitas khusus. Banyak perkembangan ilmu fisika modern yang berlandaskan teori ini. Dengan demikian, apabila sampai ada materi yang bergerak melebihi kecepatan cahaya, waktu akan menjadi kacau.

Tidaklah mengherankan apabila sejak September ada lebih dari 80 karya ilmiah membahas temuan ini di arXiv Preprint Server, suatu situs yang memuat banyak karya ilmiah—terutama fisika—dan dikelola oleh Perpustakaan Universitas Cornell, Amerika Serikat.
Keskeptisan itu pula yang memicu uji coba ulang temuan tersebut. Menurut Direktur Riset CERN Dr Sergio Bertolucci, seperti dikutip BBC News, ”Dalam beberapa hari ini, kami akan mengirim kembali sinar dalam berbagai struktur waktu yang berbeda ke Gran Sasso.”

Neutrino yang muncul di Gran Sasso berawal dari sinar partikel proton di CERN. Melalui seri interaksi yang kompleks, partikel neutrino kemudian dibangkitkan dari sinar itu dan meluncur melalui kerak Bumi menuju Italia. ”Cara ini memungkinkan OPERA untuk mengulang pengukuran dan menyingkirkan beberapa kesalahan sistematis,” kata Bertolucci menjelaskan.

Mesin waktu

Spekulasi terbesar dari temuan ini tentu saja adalah kemungkinan diwujudkannya mimpi para ilmuwan: mesin waktu. Bahkan, Bertolucci pun tergoda untuk berkomentar. ”Kita semua suka dengan ide mesin waktu, tetapi itu tampaknya masih sangat sulit.”
Orang membayangkan, dengan menggunakan neutrino, perjalanan ke masa lalu dan masa depan bisa dilakukan. Memang dari teori relativitas khusus yang diajarkan di SMA, waktu ataupun massa partikel menjadi imajiner jika kecepatan partikel melebihi kecepatan cahaya.

Menurut Terry Mart, interpretasi sebenarnya bisa bermacam-macam. ”Mungkin saja partikel tersebut menghilang pindah ke masa depan. Hanya saja, kalau ke masa lalu, tidak mungkin karena melanggar hukum termodinamika,” ujarnya. Namun, apabila eksperimen kolaborasi OPERA ini benar dan bisa dibuktikan dengan eksperimen-eksperimen lain, sebenarnya teori Einstein tidak perlu runtuh. ”Ada kemungkinan neutrino itu masuk dimensi ruang keempat sehingga kita bisa menempuh jarak dengan lebih singkat,” tutur Terry.
Meski demikian, memang tidak tertutup kemungkinan bahwa teori Einstein sekali waktu perlu dimodifikasi. Yang jelas, ilmu fisika kembali unjuk gigi.

Selama ini, hampir semua teknologi modern berbasis teori fisika, dari teori mekanika Newton untuk gerak benda-benda makro hingga teori partikel yang mendeskripsikan dinamika materi elementer. Sayang sekali kalau ilmu ini masih kurang dihargai di Indonesia.
Sumber : Kompas
»»  READMORE...

Thursday, August 1, 2013

Penerapan Prinsip Pemuaian dalam Teknologi



(Pustaka Fisika). Secara sederhana, pemuaian adalah fenomena pertambahan panjang, luas, atau volume suatu benda akibat adanya perubahan suhu. Prinsip pemuaian ini ternyata sudah banyak diterapkan untuk teknologi dalam kehidupan sehari-hari kita. Beberapa diantaranya adalah:
1. Bimetal
Bimetal adalah dua keping logam yang angka muainya berbeda kemudian dijadikan satu. Bimetal yang dipanaskan akan melengkung ke arah logam yang angka muainya kecil. Demikian juga kalau didinginkan, bimetal akan melengkung ke arah logam yang angka muainya besar. Penggunaan bimetal antara lain untuk termostat, sakelar otomatis pada lampu sein, dan termometer bimetal.
Termometer Bimetal
Gambar: Termometer Bimetal (source: leengatevalves.co.uk)
2. Pengelingan
Mengeling yaitu menyambung dua pelat dengan menggunakan paku keling. Cara pengelingannya dengan memanaskan paku, kemudian dimasukkan ke dalam lubang pelat. Setelah dimasukkan, ujung paku keling dipukul hingga melebar dan menjepit 2 pelat tersebut. Setelah dingin, paku keling mengkerut dan menjepit pelat dengan sangat kuat. Pengelingan biasanya digunakan pada pembuatan badan kapal, penyambungan besi jembatan, pembuatan tangki, dan pembuatan badan pesawat.
Pembuatan badan pesawat
Gambar: Pembuatan badan pesawat
3. Pemasangan Bingkai Besi Roda
Zaman dahulu, roda pedati atau delman dibuat dari kayu yang dibingkai dengan besi dan karet. Untuk memasang bingkai besi, bingkai diusahakan dalam keadaan panas karena dalam keadaan dingin bingkai tidak dapat masuk pada roda. Setelah dipanaskan, bingkai akan mengalami pemuaian sehingga besar lingkaran dalam bingkai membesar dan dapat masuk pada roda delman. Saat dingin, bingkai besi akan mengerut dan menempel pada roda dengan kuat.
Roda pedati
Gambar: Roda pedati
4. Pemasangan Kaca Jendela
Pada pemasangan kaca jendela, biasanya tidak dilakukan dengan tepat tetapi agak longgar. Mengapa demikian? Jika kita memasang kaca dengan tepat pada bingkainya maka saat udara panas, pemuaian akan terjadi pada kaca dan kaca dapat pecah. Karena besarnya pemuaian kaca lebih besar daripada pemuaian bingkai jendela, sehingga luas dan volume bingkai tidak dapat mengikuti kaca. Dari prinsip pemuaian ini, pemasangan kaca jendela atau kaca pintu dibuat agak longgar untuk mengantisipasi pemuaian yang terjadi pada kaca.
Proses pemuaian kaca jendela
Gambar: Proses pemuaian kaca jendela
5. Pemasangan Rel Kereta Api dan Jembatan
Penerapan prinsip pemuaian juga dapat kita lihat pada teknologi rel kereta api. Pada rel kereta api, sambungannya tidak berimpit, tetapi ada rongga atau jarak antara rel yang satu dengan yang lain. Hal ini untuk mengatasi kemungkinan terjadinya pemuaian pada siang hari sehingga rel tersebut tidak melengkung. Penerapan prinsip pemuaian yang lain adalah pada pembuatan jembatan. Sambungan pada jembatan diberi celah untuk mengatasi kemungkinan pemuaian pada besi jembatan.
Pemuaian Rel kereta api
Gambar: Pemuaian pada rel kereta api
Sekian tulisan mengenai Penerapan Prinsip Pemuaian dalam Teknologi, semoga bermanfaat.
»»  READMORE...

Tuesday, July 16, 2013

Siswa SMU Ubah Kotoran Sapi Jadi Pewangi Ruangan



Siswa SMU Ubah Kotoran Sapi Jadi Pewangi Ruangan
Ilustrasi sapi.
Dua siswi SMA Muhammadiyah Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti, meraih juara pertama tingkat nasional pada ajang Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2013.

Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti menghasilkan karya berupa parfum pengharum ruangan yang dibuat dari kotoran sapi. Atas keberhasilannya, keduanya mewakili Indonesia pada lomba International Environment Project Ilympiade (INEPO) 2013 di Istanbul, Turki, pada 17-20 Mei 2013.

Karya dua siswa tersebut juga sudah diuji coba. Biaya untuk memproduksinya cukup murah, yakni Rp 21 ribu bisa meghasilkan kemasan berisi 225 mililiter. Produk pengharum ruangan di pasaran Rp 39.900 untuk kemasan 275 gram. “Biayanya murah sekali,” kata Nailul pada saat memaparkan karyanya di depan Bupati Lamongan Fadeli, di Guest House Pemerintah Kabupaten Lamongan, Kamis, 7 Maret 2013.

Penggunaan kotoran sapi sebagai bahan baku merujuk persyaratan panitia INEPO 2013. Ditekankan agar bahan baku harus yang mudah ditemukan di semua negara. Persyaratan tersebut mendukung karya Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti. Sebab, Kabupaten Lamongan memiliki populasi sapi yang berlebih. Pada 2012 saja, populasi sapi mencapai 116.963 ekor. Kotorannya belum banyak dimanfaatkan.

Rencananya, hasil karya kedua siswa tersebut akan diajukan untuk mendapatkan hak paten di Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM. Pemerintah Kabupaten Lamongan akan memfasilitasinya. “Ini karya yang langka,” ujar juru bicara Pemerintah Kabupaten Lamongan, Mohammad Zamroni, kepada Tempo, Kamis, 7 Maret 2013.

Pada ajang INEPO, Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti akan beradu karya dengan peserta dari 50 negara. Di antaranya Kanada, Denmark, Finlandia, Jerman, Italia, Portugal, Malaysia, Amerika Serikat, Rusia dan Polandia.

source : TEMPO.CO
»»  READMORE...

Monday, July 15, 2013

Cahaya Bisa Menghasilkan Daya Angkat

Para ilmuwan menciptakan foil cahaya yang dapat mendorong obyek-obyek kecil ke samping.

Cahaya Bisa Menghasilkan Daya Angkat

Cahaya difungsikan untuk menghasilkan tenaga yang sama yang membuat pesawat udara terbang, seperti yang ditunjukkan oleh studi baru.

Dengan desain yang tepat, aliran seragam cahaya mendorong obyek-obyek yang sangat kecil seperti halnya sayap pesawat terbang menaikkan tubuh pesawat ke udara.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa memukul sebuah obyek dengan cahaya dapat mendorong obyek tersebut. Itulah pemikiran di balik layar surya, yang memanfaatkan radiasi untuk tenaga pendorong di luar angkasa. "Kemampuan cahaya untuk mendorong sesuatu sudah diketahui," tutur rekan peneliti Grover Swartzlander dari Institut Teknologi Rochester di New York, seperti yang dikutip Science News.

Trik baru cahaya lebih menarik dari sebuah dorongan biasa: Hal itu menciptakan tenaga yang lebih rumit yang disebut daya angkat, bukti ketika sebuah aliran pada satu arah menggerakkan sebuah obyek secara tegak lurus. Foil udara atau airfoil menghasilkan daya angkat; ketika mesin memutar baling-baling dan menggerakkan pesawat ke depan, sayap-sayapnya yang dimiringkan menyebabkan pesawat itu naik.

Foil cahaya tidak dimaksudkan untuk menjaga sebuah pesawat tetap berada di udara selama penerbangan dari satu bandara ke bandara lainnya. Namun kesatuan alat-alat yang sangat kecil tersebut boleh digunakan untuk mendayakan mesin-mesin mikro, mentransportasikan partikel-partikel yang sangat kecil atau bahkan membolehkan metode-metode sistem kemudi pada layar surya.

Daya angkat optik merupakan "ide yang sangat rapi", kata fisikawan Miles Padgett dari Universitas Glasgow di Skotlandia, namun terlau dini untuk mengatakan bagaimana efek tersebut boleh dimanfaatkan. "Mungkin berguna, mungkin tidak. Waktu yang akan membuktikan."

Cahaya tersebut dapat memiliki daya angkat yang tak terduga ini dimulai dari sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, Swartzlander mengatakan, "Jika kita mempunyai sesuatu berbentuk sayap dan kita menyinarinya dengan cahaya, apa yang terjadi?" Eksperimen-eksperimen pemodelan menunjukkan kepada para peneliti bahwa sebuah defleksi asimetris cahaya akan menciptakan sebuah daya angkat yang sangat stabil. "Jadi kami pikir lebih baik melakukan satu eksperimen," kata Swartzlander

Para peneliti membuat batangan-batangan sangat kecil berbentuk mirip sayap pesawat terbang, di satu sisi pipih dan di sisi lainnya berliku. Ketika foil-foil udara berukuran mikron ini dibenamkan ke dalam air dan dipukul dengan 130 miliwatt cahaya dari dasar wadah, foil-foil tersebut mulai bergerak ke atas, seperti yang diduga. Namun batangan-batangan tersebut juga mulai bergerak ke samping, arah tegak lurus terhadap cahaya yang datang. Bola-bola simetris sangat kecil tidak menunjukkan efek daya angkat ini, seperti yang ditemukan tim tersebut.

Daya angkat optik berbeda dari daya angkat aerodinamis dengan sebuah foil udara. Sebuah pesawat udara terbang karena udara yang mengalir lebih lambat di bawah sayap-sayapnya menggunakan tekanan lebih besar daripada udara yang mengalir lebih cepat di atas. Namun pada foil cahaya,daya angkat diciptakan di dalam obyek-obyek tersebut ketika sorotan sinar melaluinya. Bentuk foil udara transparan terebut menyebabkan cahaya dibiaskan berbeda-beda tergantung pada tempat cahaya itu lewat, yang menyebabkan pembengkokan sesui momentum sorotan yang menghasilkan daya angkat.

Sudut-sudut daya angkat foil-foil cahaya ini sekitar 60 derajat, menurut temuan tim tersebut. "Kebanyakan benda-benda aerodinamis mengudara pada sudut-sudut yang sangat gradual, akan tetapi hal ini memiliki sudut daya angkat yang luar biasa dan sangat kuat," ujar Swartzlander. "Anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika pesawat anda mengudara pada 60 derajat -- perut anda akan berada di kaki."

Ketika batangan-batangan itu terangkat, seharusnya tidak jatuh atau kehilangan daya angkat, seperti yang diprediksi. "Sebenarnya benda tersebut bisa menstabilkan diri sendiri," kata Padgett.

Swartzlander mengatakan bahwa dia berharap pada akhirnya bisa menguji foil-foil cahaya tersebut di udara juga, dan mencoba berbagai bentuk serta material dengan berbagai sifat pembiasan. Dalam studi tersebut para penelit menggunakan cahaya infra merah untuk menghasilkan daya angkat tersebut, tapi jenis cahaya lainnya juga bisa, kata Swartzlander. "Yang indah tentang hal ini ialah bahwa benda itu akan berfungsi selama anda memiliki cahaya."
»»  READMORE...