News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Senapan. Show all posts
Showing posts with label Senapan. Show all posts

Saturday, April 13, 2013

CIS AGL 40: Pelontar Granat Otomatis Andalan Rantis TNI


land_rover_defender_08_of_82

Untuk segmen senjata serbu yang dioperasikan perorangan, bisa dibilang AGL-40 tidak hanya mematikan, tapi sekaligus mampu menghancurkan target lawan secara masif. Inilah kebisaan yang ditawarkan dari pelontar granat otomatis alias AGL (automatic grenade launcher) 40.
Kelebihan senjata ini tak lain karena pengoperasiannya yang praktis tetapi punya daya hancur yang  lumayan dahsyat. Jenis amunisinya pun unik, berbentuk mirip ‘deodorant,’ granet kaliber 40 mm ini juga dapat dilontarkan dalam platform senjata serbu seperti M-16 A1/A2. M-16 biasa ditambahkan pelontar granat M203 single shot weapon yang baru digunakan US Army pada awal 1970. M203 efektif memberikan daya deteren kepada musuh.  Serupa dengan M-16, bahkan senapan serbu SS-1juga punya varian SS-1 SPG-1A yang dibekali pelontar granat 40 mm. Baik M-16 dan SS-1 merupakan senapan serbu kaliber 5,6 mm standar TNI.
M16-A1 dengan pelontar granat M203
M16-A1 dengan pelontar granat M203
Personel Korps Marinir TNI AL menyandang SS-1 SPG-1
Personel Korps Marinir TNI AL menyandang SS-1 SPG-1
Kembali ke CIS 40 AGL, pelontar granat otomatis ini punya kemampuan meluncurkan proyetil sejauh 2.200 meter. Dengan pola linked belt, AGL ini dapat memuntahkan antara 350 hingga 500 granat per menit. Bisa kebayang, bagaimana sasaran yang bisa dihancurkan, pastinya sangat luar biasa daya rusaknya. Proyetil granat ini pun meluncur cukup cepat ke target, yakni 242 meter per detik. Karena kinerjanya yang tinggi, dalam operasi pertempuran laras bisa sangat cepat panas. Sesuai petunjuk dari produsennnya, untuk keamanan maka setiap 10.000 kali tembakan laras harus diganti.

Dalam penggunaanya, CIS AGL 40 biasanya memakain cartridge box yang berisi 32 butir amunisi. Dengan Tipe amunisi CIS AGL 40 terbagi dua, yaitu high velocity dan low velocity. Sedangkan untuk hulu ledak tersedia dengan pilihan HE (high explosive), HEDP (high explosive dual purpose), flare, thermobaric, target practice, infra red illumination, dan non lethal. Yang terakhir non lethal bisa difungsikan sepeti granat asap dalam pembubaran demonstrasi. Sementara bicara soal daya hancur, dengan hulu ledak HE dampak ledakan bisa dirasakan hingga radius 30 meter. Wow!
Land Rover Defender MRCV Kopassus dengan 40 AGL
Land Rover Defender MRCV Kopassus dengan AGL 40 pada dudukan rollbar

land_rover_defender_28_of_82
land_rover_defender_79_of_82

Pelontar granat ini dirancang antara tahun 1986 – 1989 oleh Singapura. Mulai dari rancangan hingga produksi perdana dilakukan oleh Chartered Industries of Singapore (CIS) – sekarang ST Kinetics. CIS AGL 40 resmi diproduksi sejak 1991 hingga kini. Selain memperkuat AB Singapura, senjata ini nyatanya telah diproduksi berdasarkan lisensi oleh Pindad dengan sebutan seri SPG-3. Selain Indonesia, AGL 40 juga digunakan oleh AB Thailand, Uruguay, Sri Lanka, Peru, Filipina, Maroko, Mexico, dan Georgia. Dalam bentuk yang relative serupa, pelontar granat otomatis dengan kaliber 40 mm juga diproduksi oleh negara lain, seperti MK 19 buatan AS, Denel Y3 AGL buatan Afrika Selatan, AGS-17 (kaliber 30 mm) buatan Rusia, dan Heckler & Koch GMG dari Jerman.

Karena unggul dalam mobilitas dan praktis dalam gelar tempur, AGL 40 bisa dibilang ‘laris manis’ digunakan di lingkungan TNI. Satuan elit yang sudah terang-terangan meminang senjata ini adalah Kopassus TNI AD dan Kopaska TNI AL. Kopassus terlihat mengadopsi AGL 40 pada rantis (kendaraan taktis) di jeep Land Rover Defender MRCV, P1 Pakci, Alvis Mamba, Flyer 4×4, danCasspir MK3. Sementara Kopaska terlihat telah memasang AGL 40 pada X38 Combat Boat. Lain dari itu AGL 40 juga dipasang sebagai pilihan senjata pada panser Anoa 6×6 buatan Pindad dan ranpur sepuh BTR-40. Kesemuanya memperlakukan AGL 40 sebagai senjata portable, yang sewaktu-waktu dapat dilepas.


40mm annunition ST Kinetics
IMAG0239

CIS 40GL
Bila diusung oleh personel infrantri, karena bobotnya AGL harus menggunakan tripod
Bila diusung oleh personel infrantri, karena bobotnya AGL harus menggunakan   tripod
Meski bisa dioperasikan oleh seorang personel, bobot senjata ini yang mencapai 33 kg menjadikannya harus didudukan dalam platform tripod. Sementara bila di jeep Land Rover Kopassus nampak dipasang pada dudukan rollbar. Di lingkungan Asia Tenggara, AGL 40 telah digunakan dalam kancah pertempuran, diantaranya dioperasikan oleh Marinir Filipina dalam perang anti gerilya. Bagaimana dengan medan operasi di Indonesia? Boleh jadi AGL 40 atau SPG-3 pernah digunakan dalam operasi militer di NAD. 
Spesifikasi AGL 40
  • Produksi         : Singapura – lisensi oleh Pindad sebagai SPG-3
  • Kaliber             : 40×53 mm
  • Panjang senjata        : 966 mm
  • Berat            : 33 kg
  • Kecepatan proyektil    : 242 meter per detik
  • Kecepatan tembak     : 350 – 500 amunisi per menit
  • Jarak tembak max     : 2.200 meter
  • Usia laras         : 10.000x tembakan
»»  READMORE...

Friday, April 12, 2013

CIS 50MG: SMB Serbu Kopassus dan Kostrad TNI AD


Dalam pola serbuan cepat, personel pasukan khusus perlu mendapat dukungan tembakan yang memadai. Dalam kondisi tertentu, bahkan senapan mesin sedang kaliber 7,62 mm seperti M-60 dan FN GPMG (general purpose machine gun) menjadi kurang memadai bila yang dihadapi lawan dengan kelengkapan senjata berat. 

Untuk itu unit serbu pasukan khusus dibekali pula dengan SMB (senapan mesin berat) untuk membungkam basis perkubuan lawan. Bahkan dengan kaliber yang besar serta jarak tembak cukup jauh, SMB mampu mengusir pesawat/helikopter yang terbang rendah. 
TNI pun memiliki beragam tipe SMB kaliber 12,7 mm, dari SMB veteran DShk-38 buatan Rusia/Uni Soviet, Browning M2HB, dan CIS 50MG buatan Singapura. Setelah sebelumnya dibahas seputar DShk-38 dan Browning M2HB, kini giliran CIS 50MG yang rasanya menarik untuk diulas. 

CIS (Chartered Industries of Singapore) 50MG mulai dirancang pada pertengahan tahun 80-an berdasarkan pesanan Departemen Pertahanan Singapura. Militer Singapura merancang CIS 50MG untuk menggantikan M2HB yang usia pakainya sudah lumayan tua. Dan secara resmi CIS 50MG mulai diproduksi pada tahun 1988, namun sejak tahun 2000 produksinya ditangani ST (Singapore Technologies) Kinetics. Dual sistem sabuk amunisi CIS 50MG dengan tripod Dibanding DShk-38 dan M2HB, 

CIS 50MG punya keunikan dari sisi desain, dimana SMB ini mengadopsi gas piston ganda dengan posisi dua tabung yang masing-masing berada disisi laras. 
Dengan teknologi gas piston ganda menjadikan CIS 50MG mampu mengadopsi dual sistem sabuk amunisi, masing-masing di kanan dan kiri. Dalam pengoperasiannya, senjata maut ini artinya bisa menenteng langsung dua box amunisi dan memuntahkan amunisi secara masif dan simultan. 
Dengan dual sistem sabuk amunisi, daya gempur SMB ini menjadi begitu besar, umbaran proyektil ke sasaran bisa lebih banyak tanpa awak harus cepat-cepat untuk reload. Diumpamakan satu box berisi 100 amunisi, maka total ada 200 amunisi yang bisa ditembakan tanpa harus reload. Proses switching antar sabuk amunisi dapat berlangsung cepat dan mudah. Umumnya jenis amunisi yang diandalkan adalah jenis munisi pembakar, penembus lapis baja hingga tracer.
  CIS 50MG nampak terpasang pada rollbar rantis GMC
   
Di rantis GMC umumnya SMB ini ditambahkan dudukan untuk lampu sorot

 
 
CIS 50MG terpasang pada rolling bar jeep tempur Kopassus, Land Rover Defender MRCV (multi role cambat vehicle) .

Bagaimana dengan daya gempur CIS 50MG? Merujuk ke spesifikasinya, SMB dengan berat total 30 kg, serta berat laras 13 kg ini dapat memuntahkan 400 – 600 proyektil dalam satu menit. Kecepatan luncur proyektilnya mencapai 890 meter per detik dengan pola kerja gas operated dan rotating bolt. Soal jarak tembak, maksimum dapat mencapai 6.765 meter, namun untuk jarak tembak efektifnya 2.000 meter. 

Tidak diketahui persis kapan TNI mulai mengoperasikan CIS 50MG, kemungkinan di tahun 2002. Dan hebatnya penggunaan senjata ini cukup luas, khususnya di lingkungan TNI AD. Sebut saja Kopassus dan Kostrad plus Batalyon Raider Kodam mengadospi CIS 50MG untuk kelengkapan pada rantis (kendaraan taktis) mereka. Kopassus menempatkan CIS 50MG pada rantis Land Rover MRCV dan Kostrad/Raider mengadopsi senjata ini pada rantis GMC. 
Di kedua kendaraan ini CIS 50MG ditempatkan pada dudukan rollbar. Lain dari itu, panser Anoa buatan Pindad juga pernah terlihat menggunakan senjata ini. Selain dipasang pada rollbar di rantis dan ranpur, sepert halnya DShk-38 dan M2HB, CIS 50MG dapat dipasang pada dudukan tripod.
   
Tampak panser Anoa dengan senjata utama SMB CIS 50MG
 
AB Singapura telah mengadopsi CIS 50MG dengan teknologi RCWS.

Menurut informasi dari Wikipedia, CIS 50MG juga telah diproduksi secara lisensi oleh PT Pindad. Ini menjadikan produksi kedua Pindad dari varian CIS, setelah sebelumnya ada CIS AGL 40 (pelontar granat otomatis). 
Bila di Indonesia terapan CIS 50MG masih serba manual, lain halnya AB Singapura yang telah mengadopsi CIS 50MG dengan teknologi RCWS (Remote Control Weapon System) pada beberapa ranpurnya, dengan RCWS arah bidik tembakan bisa lebih akurat dan keselamatan juru tembak lebih terjamin. RCWS juga tengah dikembangkan oleh Kavaleri TNI AD dengan SMB Browning M2HB. 

Spesifikasi CIS 50MG

  • Kaliber : 12,7 x 90 mm 
  • Kecepatan proyektil : 890 meter/detik 
  • Berat total : 30 kg Berat laras : 13 kg 
  • Jarak tembak efektif : 6.765 meter 
  • Jarak tembak efektif : 2.000 meter 
  • Panjang Total : 1,654 meter about these ads
»»  READMORE...