News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Tank. Show all posts
Showing posts with label Tank. Show all posts

Wednesday, November 12, 2014

Sang Badak Andalan Pindad

Setelah melewati masa pengembangan yang panjang, Pindad akhirnya melansir panser kanon yang kemudian dinamai Badak (Rhinoceros) oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pameran Indo Defense 2014. Dikatakan panjang, karena niatan Pindad untuk membuat panser kanon sesungguhnya sudah dimulai sejak 2009, dengan purwarupa pertama selesai pada 2011 dan dipaparkan oleh Pindad dalam sarasehan mengenai panser kanon bersama Pussenkav. Ketika itu, purwarupa pertama masih menggunakan kubah milik tank Alvis Scorpion dengan meriam 90mm Low Pressure Cockerill Mk III. Penulis sendiri sempat ngoprek purwarupa pertama ini, termasuk mencoba duduk di dalam kursi komandan dan juru tembak.

(all photo by PINDAD)

Tahun demi tahun berlalu, dan Pindad melanjutkan ke purwarupa kedua, diberi nama Bee. Masih menggunakan kubah Alvis, Bee dimodifikasi pada sistem otomotif terutama suspensi, dengan penjarangan roda ketiga dari roda pertama dan kedua untuk memperbaiki titik beratnya. Sementara itu, TNI AD malah merealisasikan pembelian ranpur Doosan Tarantula, dengan sistem senjata utama kanon 90mm Mk III dalam kubah CSE90LP, Dengan spek setara panser kanon buatan Pindad, sepertinya produk dalam negeri kalah skor 1-0 dalam pertempuran panjang merebut kemandirian bangsa dalam bidang alutsista. Pindad hanya kebagian transfer of technology berupa integrasi kubah ke dalam hull Tarantula.

Pada tahun  2014, akhirnya Pindad comeback dengan meluncurkan panser kanon dalam speknya yang definitif. Dengan merubah beberapa tampilan dari purwarupanya yang terakhir, Pindad membuat beberapa kemajuan. Pertama, Pindad akhirnya memperoleh kepastian pasokan baja armor grade dari pabrik baja dalam negeri Posco-Krakatau Steel melalui MoU yang ditandatangani pelaksana tugas Dirut PT Pindad dan Dirut Posco-Krakatau Steel pada pembukaan Indo Defense 201. Baja kualitas militer ini menjadi krusial karena Pindad berulangkali masih harus mengimpor baja dari luar negeri dalam proses yang tidak ekonomis karena harus membayar pajak bea masuk atas lembaran baja tersebut, belum lagi ditilik dari segi kemandirian pembuatan alutsista. Yang kedua, Pindad juga dijanjikan akan melakukan perakitan sistem kubah CSE90LP, sehingga nama kubah ini kelak menjadi CSE90LP- P untuk Pindad. Yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pindad dan Kementrian Pertahanan adalah membangun industri mesin yang aplikatif untuk kendaraan besar termasuk kendaraan militer, karena Indonesia sama sekali tidak memiliki dan bahkan masih sangat tergantung dengan impor. Begitu pula dengan industri sistem optik dan kendali penembakan untuk kendaraan darat.

Walaupun dari segi kemampuan kanon 90mm Low Pressure sudah termasuk ketinggalan jaman, tetapi pemakainya masih banyak, seperti tank Scorpion dan panser V150 kanon milik TNI AD, ataupun Sibmas dan Scorpion milik AD Diraja Malaysia, dan jangan lupa V300 milik AD Filipina. Dengan anggaran militer pas-pasan dari negara penggunanya, diperkirakan masih akan ada pasar untuk sistem senjata ini setidaknya 15-20 tahun kedepan.

Kanon 90mm Low Pressure Cockerill MkIII memiliki varian munisi yang cukup banyak, mulai dari HE, HEAT, dan bahkan APFSDS dengan rating penetrasi 100mm RHA pada kemiringan 60o pada jarak 1.000m, jadi jangan mengharapkannya atau bermimpi menjebol Main Battle Tank. Untuk operasi anti gerilya menghadapi insurjen yang lari di balik rerimbunan pohon, bolehlah. Akurasinya juga oke punya, pengujian internal Kavaleri atas sistem senjata serupa di atas Tarantula mampu menghasilkan bullseye, berkat akurasi sistem laser rangefinder dalam memberikan pembacaan jarak. Pindad sendiri telah mampu membuat sebagian munisi 90mm ini, jadi kesempatan dan peluang pasar untuk Pindad sebagai centre of excellence dari sistem senjata 90mm MkIII tersebut masih terbuka lebar.

Nah, kembali ke soal hull, Pindad meracik Badak sedikit berbeda dengan dua purwarupa pendahulunya. Bentuk glacis di sisi atas terlihat sangat melandai, untuk memberikan kemampuan menahan impak peluru dengan lebih baik, bahkan memaksanya memantul. Pindad memberi jaminan bahwa Badak dengan kulitnya yang keras memenuhi standar NATO STANAG 4569 Level III, atau mampu menahan impak peluru 7,62x51mm AP (Armor Piercing) standar NATO dari jarak 30 meter. Seperti kebiasaan Pindad yang sebelumnya mendandani Anoa dengan lapisan applique tambahan, Badak juga bisa ditingkatkan perlindungannya, setidaknya mampu menahan impak peluru 14,5mm. Bentuk glacis atas yang melandai ini juga membantu memberikan sudut tunduk laras yang lebih besar, sehingga apabila Badak ada di atas perbukitan, meriam masih mampu menyasar sasaran dibawahnya.

Bentuk glacis yang melandai ekstrim ini juga membawa pengaruh pada posisi duduk pengemudi yang ditempatkan di sebelah kanan depan. Tidak menggunakan tutup palka biasa, pada Badak palka pengemudi dibuat tidak flush alias sedikit menonjol dari pelat atas kendaraan, untuk memberikan ruang pandang yang memadai. Tersedia tiga periskop panoramik untuk pengemudi, sesuatu yang cukup ‘wah’ untuk ranpur semacam ini yang biasanya hanya dilengkapi satu periskop prisma. Tersedia kamera di sisi belakang yang terhubung ke display untuk pengemudi, membantu saat memundurkan kendaraan.

Di sebelah kiri pengemudi terdapat mesin Diesel inline 6 silinder yang dilengkapi turbocharger, mampu menyemburkan daya sampai dengan 320hp. Dengan bobot kendaraan hanya pada kisaran 11 ton, power to weight rationya mencapai 29hp/ ton, tidak heran Badak bisa dipacu dengan sangat kencang sampai kecepatan 90km/ jam di jalanan aspal mulus dan rata. Di tengah kendaraan terpasang kubah CSE90LP, dimana (dari atas) komandan duduk di sebelah kiri, dan juru tembak duduk di sebelah kanan. Komandan memiliki lima periskop prisma dan satu periskop besar hadap depan, sementara juru tembak memiliki empat periskop dan satu periskop bidik besar yang bisa dilengkapi dengan beragam sistem mulai dari kamera pandang malam, kamera termal, sampai dengan kamera infra merah. Meriam berulir 90mm ditemani oleh senapan mesin koaksial 7,62x51mm NATO di sebelah kiri untuk menyapu habis ancaman pasukan infantri. Untuk fungsi anti infantri/ helikopter, disediakan pintle mount pada sisi komandan untuk memasang senapan mesin sedang seperti FN MAG, MG3, atau bila diperlukan, opsi dudukan senapan mesin berat seperti CIS 50MG.


Potensi sang Badak

Sebagai ranpur kelas 10 ton, Pindad sudah dapat diacungi jempol mengingat hasil kerja keras mereka akhirnya terwujud dalam kendaraan produksi final. Melihat kemampuannya, Badak boleh dikatakan setara atau bahkan melebihi kemampuan 22 unit Tarantula yang kadung dibeli oleh TNI AD, menandakan bahwa untuk kelas kendaraan panser kanon, Indonesia sebagian besar sudah mampu mandiri dan tidak tergantung dari Negara luar lagi. Yang patut disayangkan adalah sistem senjata yang dipilih. CMI sebagai pemasok memiliki banyak varian kubah dan meriam, dan boleh dikatakan CSE90LP kelasnya ada di bawah Badak. Meriam 90mm Low Pressure sewajarnya merupakan senjata bagi ranpur kelas 4x4 seperti V150 (versi modernnya saat ini dikenal sebagai Textron COMMANDO Select), bukan 6x6. Pindad harus berani melirik meriam 90mm medium pressure seperti yang terpasang pada kubah CMI CT-CV 90MP/ LCTS 90MP. Meriam yang merupakan turunan dari Cockerill Mk8 KEnerga ini mampu menggasak tank sekelas T-72 (generasi awal) dan M60. Apalagi CMI sudah menyebut bahwa LCTS 90MP mampu digotong oleh ranpur kelas 10 ton, dan sudah dibuktikan pada SIBMAS 6x6. TNI sebagai user juga sudah harus membuka mata dan melakukan update atas pengetahuan yang mereka miliki, jangan melulu terpaku pada kanon 90mm low pressure yang sudah usang dan kalah dari kanon tembak cepat 25/30/40mm. Ayo Pindad, tunggu apa lagi? (ARY)

PINDAD BADAK 6x6
Dimensi (pxlxt)            : 6x2,5x2,9m
Wheelbase                  : 1,5m
Bobot                          : 11 ton
Power to weight ratio    : 22,85-29hp/ ton
Ground clearance         : 400mm
Max speed                  : 90km/ jam
Sudut tanjakan            : 60o
Sudut kemiringan         : 30o
Arung air                     : 1m
Halangan parit             : max. 0,75m
Radius putar               : 10m
Jarak tempuh              : 600km
Mesin                         : Diesel inline turbocharger intercooler 6 silinder daya 320hp dengan transmisi otomatis 6 maju dan 1 mundur

Sistem senjata
‒    Kubah CSE 90LP dengan kanon 90mm rifled dan koaksial 7,62mm
‒    Pintle mount 7,62mm
‒    66mm smoke discharger

* ARC
»»  READMORE...

ZBD-05 Amphibious Infantry Fighting Vehicle, China

fighting vehicle

ZBD-05 is an amphibious infantry fighting vehicle produced by China North Industries Corporation (NORINCO), for the People's Liberation Army Navy Marine Corps (PLAMC). The vehicle was developed based on ZBD2000 amphibious armoured fighting vehicle.
The ZBD-05 IFV complements the ZTD-05, a light tank variant based on the ZBD2000, in amphibious operations. The IFV's design concept is similar to that of the Expeditionary Fighting Vehicle (EFV) designed for the US Marine Corps.

ZBD-05 design and features

The ZBD-05 incorporates a plane hull with engine section in front, welded turret in the centre of the hull and passenger compartment in the rear. The IFV is operated by a crew of three and accommodates up to ten fully equipped marines.
The driver sits at forward and the commander and gunner are positioned inside the 30mm cannon turret. Troops enter and exit the vehicle through the rear door or roof hatches.


The Russian Plavayushchiy Tank or PT-76 is a light, amphibious tank developed in the early 1950s.

The vehicle has a length of 5.18m, width of 2.74m and height of 3.04m, and weighs 8,000kg.

Observation and fire control

The vehicle is equipped with a computerised fire-control system including a fire-control computer, commander sight with laser rangefinder input, and gunner sight with passive night vision. The satellite navigation and night vision systems ensure all-weather amphibious operations during day and night.

Armament and self-protection

The ZBD-05 integrates all-welded steel armour hull and turret, and protects its crew from small arms fire, 12.7mm rounds and shell splinters. It is also equipped with nuclear, biological and chemical (NBC) protection system.
The two-man turret integrates components of the Ukrainian Shkval turret and is mounted with a 30mm automatic cannon, a coaxial 7.62mmmachine gun, AGS-17 automatic grenade launcher, and two Hong Jian-73C anti-tank guided missile (ATGM) launchers one on either side of the turret. Eight 76mm smoke grenade dischargers are also fitted on either side of the turret. The vehicle also carries missiles inside the hull for reloading and can fire all its weapons afloat.
The KBA-2 30mm automatic gun (ZTM-1) aboard can fire 330 rounds a minute for a maximum range of 4,000m supported by optic-television system with the viewing field stabilisation in vertical and horizontal planes, anti-aircraft periscope day sight, and day periscope surveillance devices.

Propulsion

The ZBD-05 is powered by a high performance diesel engine and can operate at higher speeds in water. The power-pack is mounted at the forward of the vehicle and gives the IFV a maximum speed of 65kmph on road.
"The ZBD-05 is powered by a high performance diesel engine and can operate at higher speeds in water."
The fully amphibious vehicle is propelled in water by two large water jets mounted to the rear side of the hull. It also features a hydraulically operated bow with transom flaps ensuring hull skimming on the water. The large bow wave plate is hinged and hydraulically extended when the vehicle enters the water. The plate covers the bow and glacis plate to form another layer of frontal protection when stowed.

Mobility and manoeuvrability

The ZTD-05 infantry fighting vehicle features six double road wheels and three return rollers. The upper part of the suspension can be covered by armour plates. The vehicle has a maximum range of 500km and can negotiate a gradient of 60% and side slope of 30%. It can cross a vertical step of 0.7m and trench of 2m.
The vehicle can be launched at sea from amphibious assault ships and sails at high speed over a long distance to shore, while the maximum speed on water is about 45km/h.
»»  READMORE...

Tank Ringan Amphibi 2S25 Sprut-SD Pendamping BMP-3F

Tank Ringan Amphibi PT-76 milik TNI AL memasuki usia tua meskipun berbagai perbaikan dan modifikasi telah dijalankan selama ini. Perbaikan struktur hingga mesin sudah menjadi agenda rutin selama ini, sehingga tetap dapat digunakan dalam peran tempur. Namun jelas semakin tua umurnya maka semakin ketinggalan teknologinya, dan bila terus digunakan maka memerlukan biaya besar untuk terus-terusan mengupdate sistem dan persenjataannya.
Tidak salah bila Tank 2S25 Sprut-SD masuk untuk menggantikan PT-76 karena memiliki peran yang sama sebagai Amphibi Light Tank. Tank ini dirancang untuk pasukan Udara dan Infantri Angkatan Laut yang memiliki peran sebagai tank perusak serta memiliki daya tembak sebanding dengan MBT.
Dipersenjatai dengan senapan smoothbore 125-mm sepenuhnya stabil, dilengkapi dengan autoloader. Senjata ini juga digunakan untuk meluncurkan missile anti-tank  dipandu dengan cara yang sama seperti proyektil biasa. Fitur ini biasanya terdapat pada MBT Rusia terbaru. Dipandu laser rudal anti-tank memiliki jarak efektif hingga 5 km. Rudal juga dapat digunakan terhadap helikopter yang terbang rendah. Sebanyak 40 putaran termasuk rudal dilakukan untuk meriam utama. Sebuah autoloader memegang 22 dari mereka.  2s25 Sprut SD mampu menghasilkan 7 putaran per menit. Kendaraan ini dilengkapi dengan sistem kontrol penembakan modern.  Persenjataan lainnya terdiri dari senapan mesin single coaxial 7,62 mm
Kendaraan memiliki awak tiga, termasuk komandan, penembak dan sopir. 2S25 Sprut-SD menggunakan modifikasi sasis dari BMD-3 udara kendaraan tempur. Hal ini didukung oleh mesin diesel 2V-06-2S, yang memiliki daya 510 tenaga kuda. Tank ini memiliki suspensi hydropneumatic dengan ground clearance disesuaikan . 2S25 Sprut-SD sepenuhnya amfibi yang didorong oleh dua waterjets. 
Penambahan Alutsista terutama TNI Angkatan Laut sudah barang tentu menjadi menu wajib untuk memperkuat stigma Poros Maritim. Salam NKRI.
»»  READMORE...

Sunday, April 13, 2014

Tank Siluman Polandia


0
Firma Polandia meluncurkan PL-01, satu tank siluman yang bisa mengecoh musuh dengan kemampuan "mengganti" imaji yang ditampilkan berbasis sensor inframerah melalui pancaran di lapisan cerdasnya. 

Pada saat banyak produser tank dunia berkutat pada kekuatan mesin dan pelapis dari terjangan peluru kendali dan arsenal musuh serta kamuflase berbasis cat dan bentuk rancangan, perusahaan Polandia telah melangkah lebih maju secara relatif. Di antara mereka itu adalah M1A1/2 Abrams dan 2A4/2A5 Leopard dari Jerman

Prototipe tank buatan Obrum dan BAE Systems itu, PL0-01, bisa menampung tiga orang, dengan berat 35 ton. Tank ini ditutupi jaring yang khusus dikembangkan sehingga bisa membuat dirinya terlihat seperti mobil dengan hanya mengubah temperatur material pelapis cerdas itu. 

PL-01 dimunculkan perdana pada International Defence Industry Exhibition, di Kielce, Polandia, pada 2 September 2013. Diharapkan prototipenya paripurna dibangun pada 2016 dan memasuki roda produksi massal pada 2018. 

Kekuatan kulit tank ini berkat pemakaian lempeng pelapis keramik aramid yang memenuhi standar perlindungan tank pada skala STANAG 4569 Annex A pada tingkatan 5+ di bagian turret, badan utama, dan sebagian lain di pelindung rantainya, berdasarkan sistem NATO

Kunci dari kemampuan silumannya itu pada penerapan lempengan-lempengan heksagonal yang bisa diatur untuk mengendalikan temperatur tank.
Jika mereka menyesuaikan pada level lingkungan, tank tersebut secara efektif menghilang dari sensor panas yang biasa digunakan untuk mendeteksi kendaraan pada saat perang.

Dengan menyesuaikan sensor, kendaraan ini bahkan bisa menyamar menjadi satu mobil. Tank sepanjang tujuh meter ini diawaki tiga orang dan diharapkan bisa mulai digunakan pada 2018.

Tank ini juga bisa "menyatu" dengan lingkungan. Hal ini, seperti dikutip laman Daily Mail, dimungkinkan berkat sensor-sendor infra merah kecil yang dipasang di sekeliling tank yang dideteksi musuh itu, yang lalu menyajikan pola serupa mantel sarang lebah yang paling pas dengan data terkumpul dari sensor infra merah itu. 

Inilah yang kemudian membangun imaji pengelabuhan secara sempurna pada tank itu. Lapisan-lapisan itu juga bisa memanipulasi temperatur, menciptakan satu layar dan memungkinkan pengawak mengendalikan dia persis sebagaimana dia seharusnya dilihat. 

Sistem inilah yang memungkinkan tank itu memakai kamuflase infra merah aktif, sebagaimana halnya satu harimau mengaktifkan organ infra merah mereka untuk mengenali satu obyek di hutan, atau menjadikan tank itu serupa mobil di perkotaan. 

PL-01 juga mampu menurunkan jejak infra merah mereka dengan cara mendinginkan dan menyebarkan asap dan temperatur buangan mesin diesel bertenaga 940 HP itu. 

»»  READMORE...

Saturday, April 12, 2014

BMD-4M Infantry Fighting Vehicle, Russia


header
The BMD-4M is a new generation amphibious infantry fighting vehicle (IFV) manufactured by Kurganmashzavod JSC, for the Russian Army. The vehicle will provide improved protection and support for the airborne troops.
The BMD-4M vehicle will undergo a complex test as per an agreement signed by Russia's General Tank-Automation Command of the Ministry of Defence and airborne troops (VDV) in 2008. Serial manufacture is expected to commence in 2015 based on the test results.
The IFV was demonstrated in March 2008 and exhibited during the Russia Arms Expo (RAE) in September 2013. The Russian Ministry of Defence planned to deploy the vehicles with its VDV in December 2012.

BMD-4M IFV design and features

The BMD-4M armoured infantry fighting vehicle was developed by Volgograd Tractor Plant and the Tula KBP Instrument Design Bureau. It is the modernised variant of the BMD-4 airborne combat vehicle. The upgraded IFV vehicle has a length of 6m, width of 3.15m and height of 2.7m. The combat weight of the vehicle is 13.5t.
The new IFV features more spacious hull compared to its predecessor. The manned compartment accommodates up to two crew and six infantrymen. The driver is seated in the front and the engine is placed at the rear part of the hull.


BVP M-80 and M-80A are light-armoured tracked amphibious vehicles.

A satellite navigation system is incorporated to provide geographic location details. The vehicle also features a digital computer control system.

Armament and protection of BMD-4M IFV

The airborne assault vehicle is armed with a 100mm 2A70 semi-automatic gun / missile launcher weighing 332kg.
The 2A70 gun is coupled to a highly reliable 30mm 2A72 automatic cannon mounted on the turret. It can fire GSh-6-30 rounds with a muzzle velocity of 960m/s. The rate of fire is more than 300 rounds per minute. The launcher can fire either 3UOF17 or 3UOF19 rounds at a rate of ten rounds a minute. Its muzzle velocity ranges from 250m/s to 355m/s.
The secondary armament of the vehicle is a 7.62mm PKT coaxial machine gun which can fire Arkan Tandem 9M117M1 and Konkurs anti-tank guided missile (ATGM) systems.
The turret is also equipped with three smoke grenade dischargers each side at the front.
The vehicle is equipped with bullet proof armour protection. The all-welded aluminium chassis and turret protect the crew and infantrymen from small arms fire.

Fire control

The weapon system is integrated with an improved fire control equipment to provide the IFV with the ability to track and engage the targets while on the move. The fire control system incorporates a gunner's sight to identify the targets during both day and night, a commander's panoramic TV-aimed sight and an automatic target tracker.

Engine and mobility

The BMD-4M is powered by a multi-fuel, type UTD-29 diesel engine that produces a power of 500hp.
"The turret is also equipped with three smoke grenade dischargers each side at the front."
The armoured vehicle offers superior mobility in all terrains, thanks to increased track length and reduced ground pressure. It can accomplish a speed of 69.4km/h on highways and 10km/h afloat. It has a cruising range of 500km on highways. The ground clearance ranges from 130mm to 530mm.
An adjustable hydro-pneumatic suspension system connects the vehicle to six dual rubber-tyred wheels.
The running gear and the chassis control system of the upgraded vehicle include more power-plant installation units. The chassis is also incorporated with control linkages, pumping devices and water jet propellers used in BMP-3 amphibious IFV.
The BMD-4M can be dropped from airplane by use of a parachute platform. It can also drive through the water.
Defence Technology
BMD-4M is the modernised variant of BMD-4 airborne combat vehicle.
The upgraded IFV offers superior mobility in all terrains.
The BMD-4M IFV can accommodate two crew and six infantrymen.
The BMD-4M IFV was exhibited during the Russia Arms Expo (RAE) in September 2013.


»»  READMORE...