News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sunday, May 5, 2013

Penyerap Gelombang Radar Ditemukan Peneliti IPB


130414_ilustrasi radar, wikipedia.jpg
 BOGOR--Keberhasilan memenangkan perang di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kuantitas personil angkatan bersenjata dan instrumentasi militer yang dimiliki, tetapi juga kemampuan mengadopsi perkembangan teknologi militer modern.

“Salah satu inovasi militer modern terkini adalah teknologi siluman (stealth) yang dapat diadopsi Indonesia dalam kerangka peningkatan teknologi militernya dan mengantisipasi gangguan keamanan wilayah perbatasan,” jelas Staf Pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Riyanto, S.Pi, M.Si. dalam siaran pers IPB, Sabtu (13/4).

Teknologi siluman berprinsip penyerapan gelombang radar oleh suatu material. Penelitian tentang material penyerap gelombang elektromagnetik (radar absorbant material) telah dimulai sejak tahun 1930, akan tetapi paten yang muncul baru pada tahun 1971, yaitu berupa radar absorbtive coating. Bahan penyerap ini menggunakan karbon hitam dan titanium oksida.

Aplikasi teknologi siluman dapat dikembangkan dengan dua cara, yang pertama dengan membuat struktur peralatan militer yang mampu memantulkan gelombang radar ke arah lain, namun pengembangan cara ini membutuhkan anggaran besar.

Cara kedua, dengan melapisi permukaan kapal dengan suatu material yang mampu menyerap gelombang radar, yaitu material penyerap gelombang radar (radar absorbing material).

Berdasarkan kondisi inilah, Staf Pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Riyanto, S.Pi, M.Si bersama rekannya Dr.Akhiruddin Maddu, S.Si, M.Si. dan mahasiswanya Esa Ghanim Fadhallah menemukan inovasi material baru yang bisa dijadikan bahan baku teknologi penyerap gelombang radar peralatan militer.

“Beberapa material anorganik telah dikembangkan sebagai material penyerap gelombang radar, diantaranya bahan berbasis besi (serat besi polikristalin dan besi karbonil), berbasis karbon, dan keramik,” lanjut Bambang.

Kecenderungan material penyerap gelombang radar baru juga mulai mengarah kepada material organik, diantaranya serat kolagen, tetapi terobosan ini belum banyak dikembangkan.
Material organik yang mempunyai sifat dielektrik tinggi telah dikembangkan sebagai material penyerap gelombang radar adalah polianilin.

Menurut Bambang, karakteristik polianilin sebagai material organik penyerap gelombang radar diduga karena muatan positif berupa proton dari atom nitrogen yang banyak pada gugus kimianya.

Bambang mangatakan bahwa ada material organik lain yang mempunyai kemiripan sama dengan polianilin, yakni chitosan.
Chitosan merupakan biopolimer yang bersifat polikationik atau memiliki banyak muatan positif dari gugus nitrogennya. Sifat polikationik ini cenderung menggolongkan chitosan kepada bahan dielektrik.

“Bahan dengan sifat dielektrik yang tinggi akan mampu menyimpan gelombang yang terserap dalam jumlah besar,” papar Bambang. Chitosan bisa diperoleh dari cangkang udang, kerang, tulang ikan, dan produk-produk perikanan lain.

Penelitian Bambang dan timnya berawal dari keinginantahuan terhadap sifat mekanik chitosan. Struktur kimia chitosan terdiri dari gugus amin dan karbosil.
Gugus karbosil ini oleh Bambang dan tim dilarutkan dalam larutan asam lemah (asam cuka) dan menghasilkan asam asetil serta ion COOH-. Selanjutnya dicampur dengan Polivinil Alkohol (PVA) dan diuapkan.

Dari proses ini diperoleh film berbentuk plastik tipis transparan yang merupakan campuran homogen chitosan dengan polivinil alkohol.
“Film ini bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan. Kami lalu mengujinya dengan menembakkan gelombang mikro pada lapisan film. Ternyata gelombang mikro tersebut diserap oleh film tersebut,” kata Bambang. Foto ilustrasi: Wikipedia
»»  READMORE...

Pesawat Listrik Pertama Sukses Terbang


Pesawat listrik sukses melakukan penerbangan yang pertama kali dan memenangi CAFE Green Flight Challenge yang diadakan NASA. Elektra One yang dikembangkan Calin Gologan itu diuji pertama kali oleh pilot Jon Karkow.


Pesawat ini terbang tanpa menggunakan bensin karena 100 persen menggunakan tenaga listrik, dan baru-baru ini pesawat tersebut telah dicoba di Jerman. Untuk pertama kalinya , Elektra One melayang selama 30 menit. Pesawat dengan awak tunggal itu terbang setinggi 500 meter di udara. Penerbangan itu sangat sunyi karena peran dari motor listrik yang hanya menghabiskan setengah baterai 6 kWh.

Menurut PC-Aero, performa tinggi dari baterai yang dapat diisi ulang itu memberikan ketahanan pesawat untuk terbang lebih dari tiga jam, jarak lebih dari 400 km, dengan kecepatan 160 km per jam. Berat bersih dari pesawat listrik ini sebesar 100 kg dengan berat maksimum yang dapat ditampung sebesar 300 kg.

Minggu berikutnya, Elektra One akan mendapatkan baling-baling dengan variabel baru dan roda landas yang dapat ditarik. Tambahan peralatan ini akan memberikan performa yang lebih baik untuk pesawat listrik ini.

Pesawat hemat energi ini diharapkan akan komersil dengan harga kurang dari 100.000 euro atau sekitar Rp 12 miliar.

Pesawat Elektra One yang diciptakan oleh PC-Aero ikut berkompetisi dan memenangi CAFE Green Flight Challenge yang diadakan NASA. Pertandingan ini bertujuan menciptakan sebuah pesawat terbang yang mampu terbang sejauh 200 mil kurang dari dua jam, menggunakan energi yang setara dengan kurang dari satu galon bensin per penumpang.


»»  READMORE...

F/A-18 Hornet



All-weather fighter and attack aircraft. The single-seat F/A-18 Hornet is the nation's first strike-fighter. It was designed for traditional strike applications such as interdiction and close air support without compromising its fighter capabilities. With its excellent fighter and self-defense capabilities, the F/A-18 at the same time increases strike mission survivability and supplements the F-14 Tomcat in fleet air defense.
F/A-18 Hornets are currently operating in 37 tactical squadrons from air stations world-wide, and from 10 aircraft carriers. The U.S. Navy's Blue Angels Flight Demonstration Squadron proudly flies them. The Hornet comprises the aviation strike force for seven foreign customers including Canada, Australia, Finland, Kuwait, Malaysia, Spain and Switzerland.

The newest model, Super Hornet, is highly capable across the full mission spectrum: air superiority, fighter escort, reconnaissance, aerial refueling, close air support, air defensesuppression and day/night precision strike. Compared to the original F/A-18 A through D models, Super Hornet has longer range, an aerial refueling capability, increased survivability/lethality and improved carrier suitability. *Capability of precision-guided munitions: JDAM (all variants) and JSOW. JASSM in the future*
Capabilities and Features
The F/A-18 Hornet, an all-weather aircraft, is used as an attack aircraft as well as a fighter. In its fighter mode, the F/A-18 is used primarily as a fighter escort and forfleet air defense; in its attack mode, it is used for force projection, interdiction and close and deep air support.
History and Background
The F/A-18 demonstrated its capabilities and versatility during Operation Desert Storm, shooting down enemy fighters and subsequently bombing enemy targets with the same aircraft on the same mission, and breaking all records for tactical aircraft in availability, reliability, and maintainability.
Hornets taking direct hits from surface-to-air missiles, recovering successfully, being repaired quickly, and flying again the next day proved the aircraft's survivability. The F/A-18 is a twin engine, mid-wing, multi-mission tactical aircraft. The F/A-18A and C are single seat aircraft. The F/A-18B and D are dual-seaters. The B model is used primarily for training, while the D model is the current Navy aircraft for attack, tactical air control, forward air control and reconnaissance squadrons. The newest models, the E and F were rolled out at McDonnell Douglas Sept. 17, 1995. The E is a single seat while the F is a two-seater.
The F/A-18 E/F acquisition program was an unparalleled success. The aircraft emerged from Engineering and Manufacturing Development meeting all of its performance requirements on cost, on schedule and 400 pounds under weight. All of this was verified in Operational Verification testing, the final exam, passing with flying colors receiving the highest possible endorsement.
The first operational cruise of Super Hornet, F/A-18 E, was with VFA-115 onboard the USS Abraham Lincoln (CVN 72) on July 24, 2002, and saw initial combat action on Nov. 6, 2002, when they participated in a strike on hostile targets in the "no-fly" zone in Iraq.
Super Hornet, flew combat sorties from Abraham Lincoln during Southern Watch, demonstrating reliability and an increased range and payload capability. VFA 115 embarked aboard Lincoln expended twice the amount of bombs as other squadrons in their airwing (with 100% accuracy) and met and exceeded all readiness requirements while on deployment. The SuperHornet cost per flight hour is 40% of the F-14 Tomcat and requires 75% less labor hours per flight hour.
All F/A-18s can be configured quickly to perform either fighter or attack roles or both, through selected use of external equipment to accomplish specific missions. This "force multiplier" capability gives the operational commander more flexibility in employing tactical aircraft in a rapidly changing battle scenario. The fighter missions are primarily fighter escort andfleet air defense; while the attack missions are force projection, interdiction, and close and deep air support.
The F/A-18C and D models are the result of a block upgrade in 1987 incorporating provisions for employing updated missiles and jamming devices against enemy ordnance. C and D models delivered since 1989 also include an improved night attack capability. The E and F models have built on the proven effectiveness of the A through D aircraft. The SuperHornet provides aircrew the capability and performance necessary to face 21st century threats.
General Characteristics, Super Hornet, E and F models
Primary Function: Multi-role attack and fighter aircraft.
Contractor: McDonnell Douglas.
Date Deployed: First flight in November 1995. Initial Operational Capability (IOC) in September 2001 with VFA-115, NAS Lemoore, Calif. First cruise for VFA-115 is onboard the USS Abraham Lincoln.
Unit Cost: $57 million
Propulsion: Two F414-GE-400 turbofan engines. 22,000 pounds (9,977 kg) static thrust per engine.
Length: 60.3 feet (18.5 meters).
Height: 16 feet (4.87 meters).
Wingspan: 44.9 feet (13.68 meters).
Weight: Maximum Take Off Gross Weight is 66,000 pounds (29,932 kg).
Airspeed: Mach 1.8+.
Ceiling: 50,000+ feet.
Range: Combat: 1,275 nautical miles (2,346 kilometers), clean plus two AIM-9s
Ferry: 1,660 nautical miles (3,054 kilometers), two AIM-9s, three 480 gallon tanks retained.
Crew: A, C and E models: One
B, D and F models: Two.
Armament: One M61A1/A2 Vulcan 20mm cannon; AIM 9 Sidewinder, AIM-9X (projected), AIM 7 Sparrow, AIM-120 AMRAAM, Harpoon, Harm, SLAM, SLAM-ER (projected), Maverick missiles; Joint Stand-Off Weapon (JSOW); Joint Direct Attack Munition (JDAM); Data Link Pod; Paveway Laser Guided Bomb; various general purpose bombs, mines and rockets.
General Characteristics, C and D models
Primary Function: Multi-role attack and fighter aircraft.
Contractor: Prime: McDonnell Douglas; Major Subcontractor: Northrop.
Date Deployed: November 1978. Operational - October 1983 (A/B models); September 1987 (C/D models).
Unit Cost: $29 million.
Propulsion: Two F404-GE-402 enhanced performance turbofan engines. 17,700 pounds static thrust per engine.
Length: 56 feet (16.8 meters).
Height: 15 feet 4 inches (4.6 meters).
Wingspan: 40 feet 5 inches (13.5 meters).
Weight: Maximum Take Off Gross Weight is 51,900 pounds (23,537 kg).
Airspeed: Mach 1.7+.
Ceiling: 50,000+ feet.
Range: Combat: 1,089 nautical miles (1252.4 miles/2,003 km), clean plus two AIM-9s
Ferry: 1,546 nautical miles (1777.9 miles/2,844 km), two AIM-9s plus three 330 gallon tanks.
Crew: A, C and E models: One
B, D and F models: Two
Armament: One M61A1/A2 Vulcan 20mm cannon; AIM 9 Sidewinder, AIM 7 Sparrow, AIM-120 AMRAAM, Harpoon, Harm, SLAM, SLAM-ER, Maverick missiles; Joint Stand-Off Weapon (JSOW); Joint Direct Attack Munition (JDAM); various general purpose bombs, mines and rockets.
»»  READMORE...

Saturday, May 4, 2013

Pasukan Gabungan TNI Hancurkan Kekuatan Musuh



Latgab01-n


NTB – Pasukan gabungan TNI berhasil menghancurkan kekuatan musuh negara “Sonora” yang berusaha menguasai wilayah Kalimantan Timur dan Bima Nusa Tengara Barat, dengan menggabungkan ketiga unsur kekuatan TNI yaitu Darat, Laut dan Udara.
Latgab330
Dalam waktu sekitar 2 jam akhirnya musuh berhasil dihancurkan, serangan ini merupakan latihan pendahuluan dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2013, di daerah Asembagus, Jawa Timur, Jumat (3/5).
Operasi gabungan yang dilaksanakan terdiri dari Operasi Khusus, Operasi Udara, Operasi Laut Gabungan, Operasi Amfibi, Operasi Linud, Operasi Pendaratan Administrasi dan Operasi Darat Gabungan dengan kekuatan personel 16.745 orang.
Latgab475
Selain mengerahkan personil dengan jumlah besar, TNI juga mengerahkan peralatan tempur yang dimiliki, antara lain dari TNI AD 14 unit Tank Scorpion, 5 unit Tank Stormer APC, 2 unit Tank Stormer Komando, 13 unit Tank AMX, 21 pucuk meriam, 12 unit Helikopter Mi-17, 12 Helikopter Bell, tiga NBO-105 dan 15 Panser Anoa 6×6.
TNI AL mengerahkan 36 Kapal Perang (KRI), 17 unit Tank Amfibi BMP-3F, 33 BTR-50, 6 Kapa K-61, dua unit peluncur Rudal Multilaras RM-70/Grad, 7 unit Tank Angkut Personel Amfibi LVT-7A1, dua unit BVP-2, 3 Pesawat NC 212, dan lima Helikopter.
Sementara dari TNI AU mengerahkan lima unit Pesawat Sukhoi SU 27/30, lima Pesawat Hawk SPO, lima unit F-16, lima unit Hawk PBR, 11 Pesawat C-130, dua Pesawat B-737 Intai, dua Pesawat NC-212, dua unit CN-235, 1 unit CN-235 MPA, dua Helikopter NAS332/Sa-330 dan empat Helikopter EC-120 Colibri.
Latgab04
Dengan tembakan gencar secara terpadu dari seluruh kekuatan senjata yang dikerahkan dan di dukung dengan kemampuan prajurit infantri yang handal, akhirnya dalam waktu tidak lama musuh berhasil dihancurkan. Sementara, untuk mengejar kelompok musuh yang melarikan diri dilaksanakan operasi Mobud (Mobil Udara) sebagai upaya tindak lanjut pembersihan terhadap musuh.
Pelaksanaan latihan gabungan ini ditinjau dan disaksikan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden RI Boediono yang menyaksikan serangan hingga selesai di titik tinjau tersier 12 di daerah latihan Marinir Situbondo. (puspen/d)
»»  READMORE...

Norway Invests $750 Million Modernizing and Expanding CV90 Fleet



BAE Systems is offering this latest modernized version of the CV9030. Photo: BAE Systems
Updated June 22, 2012: The Norwegian Government awarded BAE Systems a contract worth over US$750 million (£500 M.) for the upgrading and manufacturing of 144 CV90 armored combat vehicles for the Norwegian Army. This number will include the upgrading of all 103 CV9030s, currently operational with the Norwegian Army since the mid 1990s, and the production of 41 new chassis, bringing all future Norwegian CV90s to a common configuration by 2017.
The Norwegian Defense Logistics Organization (NDLO) stated the program’s budget is about US$1 billion, about two thirds of a $1.6 billion allocated for the program, the difference will be allocated for the provision of Government Furnished Equipment (GFE) including remote controlled weapon stations (RWS), unmanned air and ground vehicles (UAV/UGV), spare parts, training and communication.
“This is one of the largest investments ever made in the Army. Delivery will take place between 2015 and 2017, and forms an important part of our overall modernization efforts and will provide the Armed Forces and the Army with the capabilities they need to carry out future operations both domestically and internationally.” says Rear Admiral Morten Jacobsen of the NDLO.
The vehicles will be delivered in different configurations, the most common will be 74 infantry fighting vehicles providing protected transport for the two mechanized battalions of the Norwegian Army. Among other variants to be built are 21 new reconnaissance vehicles, to be equipped with a sensor suite for improved surveillance capability.

The new CV90 fleet is therefore intended to replace some of the existing M113 vehicles in support roles. These platforms will include 15 command vehicles, 16 engineering specialist vehicles and 16 multi-role platforms that will be able to fulfill different functions, including mortar carrier and logistics transport. Two vehicles will be used for driver training. Delivery of all vehicles is expected to complete within five years (2017).
Incorporating lessons learned from Norwegian operations in Afghanistan, the new vehicle fleet will have significantly enhanced protection, survivability, situational awareness, intelligence and interoperability. “We have had a long and excellent experience with CV90, and have built up considerable expertise about the system, which we have chosen to further develop together with our supplier in Sweden,” said Petter Jansen, managing director at the Norwegian Defence Logistics Organisation. “This is one of the largest Army investments and an important part of the Norwegian Army modernization plan.”
The Norwegian group Kongsberg is the leading domestic partner in the program, leading an industry team that also include Thales Norway and Vinghøg. The team is responsible for the Integrated Combat Solution to the Norwegian CV90. According to Kongsberg, the system will be based on open standards for connectivity and integration of sensors, weapons, communication networks and security systems. The system increases crew situational awareness and ability to operate swiftly and efficiently. As part of the current upgrade Kongsberg was awarded about US$68 million contract for the supply of the CV90 combat systems. The Norwegian Army’s upgrade program of the CV90 also includes installations of Kongsberg’s Protector Remote Weapon Stations (RWS) on all vehicles. The RWS will be delivered through the PROTECTOR “Nordic” contract, awarded separately by the Norwegian defense ministry in December 2011. Under these contracts valued about US$78 million, the company will develop and produce some Protector RWS in a common configuration, to be adapted for CV90s in service with the armies of Norway and Sweden. The total value of the production lots for both countries could reach US$160 million over several years.
The Swedish CV90 has been selected by the Nordic nations (Norway, Sweden, Denmark and Finland), Switzerland and The Netherlands. The first CV90 was delivered to Sweden in 1993, and this program will increase the number of vehicles ordered to more than 1,200.

The latest-generation CV90, a multi-role vehicle, features a wide range of enhancements from earlier models. Among these developments are significantly enhanced protection, survivability, situational awareness, intelligence and interoperability, incorporating lessons learned from operations in Afghanistan by Norwegian and other forces. (Photo: BAE Systems
»»  READMORE...

Kirim Astronot ke Luar Angkasa, AS Numpang Rusia


NASA harus bayar Rp4 triliun untuk 6 orang astronot.



Astronot-astronot yang bekerja di International Space Station
Astronot-astronot yang bekerja di International Space Station(nasa.gov)
-
VIVAnews - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menghentikan proyek pengiriman astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS)pada tahun 2011.

Saat ini, NASA mengandalkan Badan Antariksa Rusia untuk menerbangkan astronot-astronotnya ke ruang angkasa. 

Artinya, Rusia menjadi satu-satunya negara yang bisa mengirimkan astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. 

Kepala NASA, Charles Bolden mengatakan, penyebab NASA tidak bisa mengirimkan astronot ke luar angkasa adalah minimnya dana yang diberikan oleh pemerintah Barack Obama.

"Sampai tahun 2017, NASA tidak akan bisa mengirimkan awaknya ke luar angkasa," kata Bolden, dilansir CSMonitor, 2 Mei 2013.

Kongres AS memang tidak menyetujui pengeluaran anggaran untuk proyek pengiriman awak NASA ke luar angkasa. "Penolakan dana ini akan menimbulkan dampak pada program-program luar angkasa NASA," ujar Bolden.

Beruntung

Untuk tetap bisa mengirimkan astronotnya ke Stasiun Luar Angkasa, NASA akhirnya membuat kesepakatan dengan Badan Antariksa Rusia untuk menerbangkan astronot dengan menggunakan pesawat ruang angkasa Soyuz.

Dalam kontrak dengan Rusia, NASA akan mengirimkan enam astronotnya pada tahun 2016 dan 2017. Rusia pun meminta bayaran sebesar US$424.000.000, setara Rp4 triliun untuk enam orang astronot.

Artinya, satu orang astronot harus membayar US$70 juta atau sekitar Rp688 miliar. Harga tersebut telah dinaikkan Rusia, dari sebelumnya per US$65 juta, setara Rp632 miliar, per astronot.

Tidak hanya menerbangkan astronot-astronot NASA, Rusia juga diketahui bekerja sama dengan sejumlah negara Eropa, Kanada, dan Jepang untuk pengiriman astronot ke luar angkasa.

»»  READMORE...

Korea Selatan beli 36 helikopter serang AH-64 Apache



Helikopter AH-64E Apache saat melundurkan roket AGM-114 Hellfire di udara. Helikopter serang buatan Boeing Company, Amerika Serikat, ini sekelas dengan Eurocopter Tiger dan Kaman Ka-52 Aligator buatan Rusia. (air.attack.com)
 ... kehadiran AH-64E Apache Guardian itu, Korea Selatan semakin percaya diri menghadapi provokasi Korea Utara... "

Seoul (ANTARA News) - Korea Selatan mengonfirmasik pembelian 36 unit helikopter serang Boeing AH-64E Apache Guardian senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat. Pembelian itu terjadi saat ketegangan makin memuncak di Semenanjung Korea. 

Badan Program Pengadaan Alat Pertahanan (DAPA) Korea Selatan, mengatakan, ke-36 AH-64E Apache Guardian itu akan lengkap hadir pada 2016. Jika lengkap semua, Korea Selatan bisa membuat tiga skuadron kaveleri udara terdiri helikopter serang ini. 

Apache merupakan helikopter serang yang dapat menghancurkan tank utama dan kendaraan lapis baja lain, selain memberi payung udara pada operasi pasukan infantri serta misi militer lain. Dia memiliki empat cantelan (pods) bagi roket AGM-114 Hellfire dan roket udara-darat Hydra-70.

Dengan kehadiran AH-64E Apache Guardian itu, Korea Selatan semakin percaya diri menghadapi provokasi Korea Utara. 

Keputusan membeli 36 AH-64E Apache Guardianitu dibuat saat semenanjung Korea tetap berada dalam keadaan ketegangan militer yang tinggi dengan Korea Utara yang mengancam "perang thermo-nuklir" karena marah pada sanksi-sanksi PBB yang baru dan pelatihan militer gabungan Amerika Serikat-Korea Selatan, Foal Eagle 2013.

Badan itu menolak merinci harga dan hanya mengatakan perjanjian itu termasuk alih teknologi tetapi kantor berita Yonhap mengatakan proyek itu akan menelan biaya 1,8 triliun won atau 1,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Korea Selatan akan merupakan negara keempat membeli helikopter bermesin dua itu setelah Amerika Serikat, Taiwan dan Arab Saudi, kata Yonhap.

Helikopter itu akan menggantikan satu armada helikopter AH-1 Cobra yang telah beroperasi selama puluhan tahun di Korea Selatan, kata para pejabat DAPA.
»»  READMORE...

AS luncurkan skuadron gabungan helikopter dan "drone"




Drone/ pesawat tak berawak militer Amerika Serikat (reuters)

Coronado - Angkatan Laut Amerika Serikat mengenalkan skuadron pertama yang menggabungkan helikopter tempur dengan wahana tanpa awak (drone) di satu pangkalan dekat San Diego.  Skuadron ini diklaim sebagai pendekatan baru untuk perang masa depan.

Skuadron berkekuatan 140 pelaut yang menyebut dirinya Magicians ini akan mengoperasikan kapal perang di lepas pantai yang ukurannya lebih kecil dan lebih cepat dibandingkan destroyer dan kapal induk.

"Kami telah menggunakan destroyer-destroyerberharga jutaan dolar AS untuk memburu para pembajak Somalia," kata Laksamana David Buss seperti dikutip Reuters.

"Pendekatan ini dirancang untuk lingkungan dekat pantai yang berdasarkan pengalaman kami menjadi tempat ancaman-ancaman paling sering muncul."

Pendekatan ini menggabungkan helikopter-helikopter MH-60 Romeo yang digunakan Angkatan Laut, dengan pesawat tak berawak MQ-8 Fire Scout buatan Northrop Grumman.

Jika helikopter-helikopter itu dirancang untuk operasi anti kapal selam dan kapal perang serta SAR, maka Fire Scout akan digunakan untuk pengamatan, mencirikan target dan mengumpulkan informasi.

Pesawat tak berawak ini dikendalikan dua pilot jarak jauh di darat atau di atas kapal perang dari jarak 110 mil.  Pesawat ini bisa mengudara selama delapan jam, sedangkan helikopter hanya bisa mengudara maksimal 3,3 jam.

Angkatan Laut AS mengujicoba Fire Scout sejak 2007 dan menggelarkannya sejak 2009, untuk memerangi operasi antinarkoba di Afghanistan.

Pada 2012, dua pesawat ini jatuh sehingga harus di-grounded. Satu pesawat lainnya ditembak jatuh Libya pada 2012. 

"Daya tahan terbang Fire Scout yang bisa sampai delapan jam, membuat helikopter bisa kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar, dipersenjatai lagi dan ditambah lagi awaknya selagi Fire Scout menjalin kontak," kata Buss seperti dilaporkan Reuters.
sumber : (ANTARA News) 

»»  READMORE...