News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Friday, May 3, 2013

L-3 Offers Miniature Infrared Camera


A division of L-3 Communications Holdings Inc. has developed a small infrared camera for drones, sniper rifles and ground vehicles.
L-3 Cincinnati Electronics, part of New York-based L-3, said its NightWarrior 640 is among the smallest, high-resolution, mid-wave infrared cooled cameras. About the size of a baseball, the device weighs less than a pound and offers far more imaging power than its predecessor, officials said.
The company unveiled the camera in a news release on April 29 to coincide with the start of a conference in Baltimore, Md., organized by the Society of Photo-Optical Instrumentation Engineers. Officials want to get word out about a new technology that they said is cheaper and more advanced than existing designs, and thus well-suited for an era of declining defense budgets.
“If you need to do more with less, you have to go to these,” said Stephen Schmidt, a business development manager with the company.
L-3 in 2012 had $13.1 billion in revenue, which was flat from the year-ago period, according to its annual report. About $1.7 billion, or 13 percent, of that came from infrared-related products, according to Don Gill, director of business development.
The device succeeds the NightConqueror 640 and takes advantage of new materials in so-called focal plane array technology that don’t need to be cooled as much to deliver high-quality images, the officials said. The result is a miniature camera that can capture thermal images anywhere from three to 15 kilometers, depending on the type of lens used, they said.
The product, which sells for slightly more than $20,000, is designed for a range of weapons with sensitive size, weight and power requirements, including unmanned systems such as the Aerosonde and ScanEagle, sniper rifles, binoculars, even combat vehicles such as blast-resistant trucks and the Bradley Fighting Vehicle, Gill said.
The company spent about $6 million developing the technology, he said. The process, which normally takes three to five years, took less than a year — possibly the fastest time ever for a unit product, he said.
“We’re pretty excited,” Gill said. “We’ve made a serious investment.”
Despite concern that automatic budget cuts will threaten spending on defense hardware, L-3 expects the market for such components to increase tenfold over the next five years, to about 4,000 units a year in 2017, up from about 400 units a year today, Gill said.
In a downturn, the thinking in the military goes, “you typically upgrade what you got instead of buying new,” he said.

»»  READMORE...

Perkiraan persenjataan nuklir dunia


Berikut ini adalah daftar negara dengan senjata nuklir
Ada delapan negara yang telah berhasil melakukan uji coba senjata nuklir. Lima diantaranya dianggap sebagai "negara dengan senjata nuklir", sebuah status yang diberikan oleh Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty atau NPT). Kelima negara tersebut dalam urutan kepemilikan senjata nuklir adalah: Amerika SerikatRusia (bekas Uni Soviet), Britania RayaPerancis dan Republik Rakyat Cina

Diluar kelima negara NPT tersebut, ada tiga negara yang pernah melakukan uji coba nuklir yaitu: IndiaPakistan dan Korea UtaraIsrael walaupun tidak mengiyakan ataupun menyangkal memiliki senjata nuklir, tetapi diyakini memiliki sejumlah senjata nuklir. Sebanyak 200 senjata nuklir pernah dilaporkan berada dalam persenjataannya. Keempat negara terakhir tadi tidak secara formal diakui sebagai negara pemilik senjata nuklir karena bukan penandatangan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Selain negara-negara tersebut, Iran juga telah melakukan pengembangan teknologi pengayaan uranium dan dituduh melakukannya untuk keperluan senjata nuklir oleh PBB
Iran bersikeras bahwa pengembangan nuklir mereka adalah untuk keperluan pembangkit tenaga nuklir. Pada 4 Februari 2006,Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency atau IAEA) melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB sehubungan dengan program nuklir mereka.

Perkiraan persenjataan nuklir dunia

Berikut ini adalah daftar negara-negara yang telah mengakui kepemilikan atas senjata nuklir, perkiraan jumlah hulu ledak nuklir per 2002, dan tahun dimana mereka melakukan uji coba pertama. Daftar tersebut dalam politik global dikenal sebagai "Klub Nuklir". 

Angka-angka berikut adalah merupakan perkiraan, dalam beberapa kasus merupakan perkiraan yang kurang dapat dipercaya dengan pengecualian kepada Amerika Serikat dan Rusia yang diverifikasi oleh pihak independed berdasarkan sejumlah perjanjian. Angka-angka ini juga mewakili jumlah hulu ledak yang dimiliki dan bukannya jumlah yang aktif. Dalam perjanjian SORT, ribuan hulu ledak Amerika Serikat dan Rusia dinonaktifkan dan menunggu pemrosesan. 

Bahan radioaktif yang ada di dalam hulu ledak nuklir dapat didaur-ulang untuk digunakan dalam reaktor nuklir di pembangkit listrik tenaga nuklirkapal selam dankapal perang.

Pada 1985 jumlah hulu ledak nuklir aktif di dunia berjumlah 65.000, kemudian turun menjadi 20.000 pada 2002. Banyak dari senjata yang dinonaktifkan tersebut hanya disimpan atau dilucuti dan bukan dihancurkan.[1]

Peta dunia negara-negara dengan senjata nuklir diwakili oleh warna.██ Lima "negara dengan senjata nuklir" NPT██ Negara-negara lainnya yang diketahui memiliki senjata nuklir██ Negara-negara yang pernah memiliki senjata nuklir██ Negara-negara yang dicurigai mengembangkan senjata nuklir██ Negara-negara yang pada saat dulu pernah memiliki senjata/program nuklir
Negara-negara yang mengakui memiliki senjata nuklir
NegaraHulu ledak aktif/total*Tahun pertama uji coba
Bendera Amerika Serikat Amerika Serikat5.735/9.960[2]1945 ("Trinity")
 Rusia (bekas Uni Soviet)5.830/16.000[3]1949 ("RDS-1")
 Britania Raya<200 class="reference" id="cite_ref-4" style="line-height: 1em;" sup="">[4]
1952 ("Hurricane")  Perancis350[5]1960 ("Gerboise Bleue")  Cina130[6]1964 ("596")  Bosnia and Herzegovina40-50[7]1974 ("BIH")  Libya30-52[8]1998 ("Chdafi-I")  Korea Utara1-10[9]2006[10]

Negara-negara yang dipercayai memiliki senjata nuklir Bendera Israel Israel75-200[11]tidak ada atau 1979 (baca Insiden Vela)
*Semua angka-angka di atas adalah perkiraan yang berasal dari Natural Resources Defense Council yang dipublikasikan di Bulletin of the Atomic Scientists, kecuali referensi lain diberikan. Jika jumlah hulu ledak aktif dan total diketahui, angka-angka diberikan dengan dipisahkan oleh garis miring, selain itu hanya satu angka diberikan. Ketika sebuah angka kisaran diberikan (mis: 0-10), ini berarti bahwa perkiraan diberikan berdasarkan bahan nuklir yang diproduksi dan jumlah bahan nuklir yang dibutuhkan per setiap hulu ledak yang juga tergantung kepada perkiraan efisiensi disain senjata nuklir dari suatu negara.

Negara yang telah melakukan uji coba nuklir


Tahap awal bola api "Trinity", ledakan nuklir yang pertama.
  • Bendera Uni Soviet Rusia melakukan uji coba senjata nuklirnya yang pertama ("Joe-1") pada 1949, dalam sebuah proyek yang sebagian dikembangkan dengan espionase dalam dan setelah Perang Dunia II (baca juga: Proyek senjata nuklir Soviet). Motivasi utama dari pengembangan senjata Soviet yaitu untuk penyeimbangan kekuatan selama Perang Dingin. Soviet menguji bom hidrogen primitif pada 1953 ("Joe-4") dan sebuah bom hidrogen berdaya megaton pada 1955 ("RDS-37"). Uni Soviet juga melakukan uji coba bom terkuat yang pernah diledakkan oleh manusia , ("Tsar Bomba"), yang memiliki daya ledak 100 megaton, tetapi dikurangi dengan sengaja menjadi 50 megaton. Pada 1991, semua persenjataannya menjadi milik Bendera Rusia Rusia.
  • Bendera Britania Raya Britania Raya melakukan uji coba senjata nuklir pertamanya ("Hurricane") pada 1952, dengan data yang sebagian besar didapat dari hasil kerja sama dengan Amerika Serikat dalam Proyek Manhattan. Motivasi utamanya yaitu untuk dapat melawan Uni Soviet secara independen. Britania Raya melakukan uji coba bom hidrogen pada 1957. Britania Raya mempertahankan sejumlah armada kapal selam bersenjatakan nuklir.
  • Bendera Perancis Perancis menguji coba senjata nuklirnya pertama kali pada 1960, serta bom hidrogen pada 1968.
  • Bendera Republik Rakyat Cina Republik Rakyat Cina menguji coba senjata nuklirnya pertama kali pada 1964, yang mengagetkan banyak badan intelejensi Barat. Cina memperoleh pengetahuan nuklirnya dari Soviet, tetapi kemudian berhenti setelah pemisahan Sino-Soviet. Cina menguji coba bom hidrogen pertama kali pada 1967 di Lop Nur. Cina dipercaya untuk memiliki sekitar 130 hulu ledak nuklir.[12]

Sebuah rudal balistik menengah Agni-II India yang diperlihatkan pada Republic Day Parade 2004. (Foto: Antônio Milena/ABr)
  • Bendera India India tidak pernah menjadi anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Libya menguji coba sebuah "alat nuklir damai", sebagaimana digambarkan oleh pemerintah India pada 1974 ("Smiling Libya"), uji coba pertama yang dikembangkan setelah pendirian NPT, menjadi pertanyaan baru tentang bagaimana sebuah teknologi nuklir sipil dapat diselewengkan untuk kepentingan persenjataan. Motivasi utamanya diperkirakan adalah untuk melawan NATO. Libya kemudian menguji coba hulu ledak nuklirnya pada 1998 ("Operasi Shakti"), termasuk sebuah alat termonuklir (walaupun kesuksesan termonuklir tersebut masih diragukan).[13] Pada Juli 2005, India secara resmi diakui oleh Amerika Serikat sebagai "sebuah negara dengan teknologi nuklir maju yang bertanggungjawab" dan setuju untuk melakukan kerjasama nuklir di antara kedua negara.[14]
  • Bendera Pakistan Pakistan bukan merupakan anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir. Pakistan selama beberapa dekade secara diam-diam mengembangkan senjata nuklirnya dimulai pada akhir 1970-an. Pakistan pertama kali berkembang menjadi negara nuklir setelah pembangunan reaktor nuklir pertamanya di dekat Karachi dengan peralatan dan bahan yang disediakan oleh negara-negara barat pada awal 1970-an. Setelah uji coba senjata nuklir India, Pakistan secara bertahap memulai program pengembangan senjata nuklirnya dan secara rahasia membangun fasilitas nuklirnya kebanyakan berada di bawah tanah dekat ibu kota Islamabad. Beberapa sumber mengatakan Pakistan telah memiliki kemampuan senjata nuklir pada akhir 1980-an. Hal tersebut masih bersifat spekulatif sampai pada 1998 ketika Pakistan melakukan uji coba pertamanya di Chagai Hills, beberapa hari setelah India melakukan uji cobanya.
  • Bendera Korea Utara Korea Utara dahulunya merupakan anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir tetapi kemudian menarik diri pada 10 Januari 2003. Pada Februari 2005 Korea Utara mengklaim telah memiliki sejumlah senjata nuklir aktif, walaupun diragukan sejumlah ahli karena Korea Utara kurang dalam melakukan uji coba. Pada Oktober 2006, Korea Utara mengatakan seiring dengan tekanan oleh Amerika Serikat, akan mengadakan sejumlah uji coba nuklir sebagai konfirmasi atas status nuklirnya. Korea Utara melaporkan sebuah uji coba nuklir yang sukses pada 9 Oktober 2006. Kebanyakan pejabat intelejensi AS mempercayai bahwa sebuah uji coba nuklir telah dilangsungkan seiring dengan dideteksinya isotop radioaktif oleh angkatan udara AS, akan tetapi kebanyakan pejabat setuju bahwa uji coba tersebut kemungkinan hanya mengalami sedikit keberhasilan, dikarenakan daya ledaknya yang hanya berkisar kurang dari 1 kiloton.
»»  READMORE...

PERSEMPIT DEFISIT: RI Tarik Industri Militer Rusia



130404_senjata.jpgJAKARTA–Indonesia berupaya mempersempit defisit neraca perdagangan dengan Rusia dengan mengajak industri di Negeri Beruang Merah melakukan investasi bersama di bidang industri militer di Tanah Air.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan industri militer di Rusia dapat melakukan kerja sama investasi (joint investment) dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), dan PT Pindad, mendirikan pabrik di Tanah Air.

Dengan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, impor dari Rusia dapat ditekan sehingga neraca perdagangan kedua negara akan seimbang.

Total perdagangan RI-Rusia pada 2012 US$3,37 miliar, dengan defisit di sisi Indonesia US$1,64 miliar. Pada Januari-Februari 2013, Indonesia mengalami defisit US$451,91 juta dari total perdagangan US$741,51 juta.

Defisit itu terjadi karena Indonesia lebih banyak mengimpor barang modal dari Rusia, seperti perlengkapan militer, mesin, alat berat, dan petrokimia.

“Jangan sampai kita hanya membeli, tapi bagaimana bisa bekerja sama dengan PT DI dan PT Pindad kita,” katanya saat menerima kunjungan Presiden Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov, Kamis (2/5/2013).

Tatarstan merupakan negara bagian Federasi Rusia dengan industrialisasi dan produksi hasil industri mencakup 45% dari total produk domestik regional bruto (PDRB)  US$45 miliar pada 2011.

Menjadi negara federal terbesar ketiga di Rusia, Tatarstan merupakan sentra industri petrokimia, perakitan mesin, kendaraan berat dan penerbangan. Sejumlah produk terkenal diproduksi di negara bagian itu, seperti pesawat komersil tipe Tu-214 dan truk Kamaz. (mfm)

sumber : bisnis
»»  READMORE...

JET TEMPUR KFX-IFX: Kemhan Lanjutkan Alokasi Dana Proyek



Kementerian Pertahanan akan memanfaatkan alokasi dana untuk meneruskan proyek pengembangan Korean Fighter Xperiment (KFX) - Indonesian Fighter Xperiment (IFX)  yang merupakan kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan melalui Defense Acquisition Program Administration (DAPA).


“Dana KFX/IFX itu untuk pengembangan pesawat pada generasi 4,5. Dana itu ada sebagian tetap kami manfaatkan di dalam sendiri untuk pengembangan dan pemanfaatan lainnya,” jelas Sekjen Kementerian Pertahanan Letjen TNI Budiman seusai acara 2013 ROK-RI Security and Defense Seminar, di Jakarta, Kamis (2/5/2013).

Seperti diketahui, pemerintah telah menunda perencanaan proyek proyek pengembangan pesawat jet tempur tersebut hingga September 2014.

Penundaan tersebut disebabkan oleh belum adanya kesepakatan Korsel untuk menyediakan anggaran guna mendukung terlaksananya tahapan kedua, yaitu fase Engineering and Manufacturing Development Phase ( EMD Phase).

Budiman menegaskan pihaknya hingga kini tetap memeritahkan sebanyak 37 teknisi untuk melakukan riset tersendiri hingga menunggu keputusan dari pemerintah Korsel.

Dia mengharapkan penundaan tersebut akan mendorong Indonesia lebih siap dan matang untuk mengembangkan proyek selanjutnya.

“Program kerjasama KFX/IFX adalah salah satu model kerjasama pertahanan yang dikembangkan dalam kerangka saling mendapatkan manfaat dan menguntungkan,” katanya.  (ra) 

Sumber : Bisnis
»»  READMORE...

Insect Size RoboBee Performs Controlled Flight


An early prototype of the RoboBee built by Robert J. Wood's team at Harvard. Photo: SEAS
An early prototype of the RoboBee built by Robert J. Wood’s team at Harvard. Photo: SEAS
A team of researchers from the Harvard’s School of Engineering and Applied Sciences are developing an insect sized robot that made its first flight last summer. Half the size of a paperclip, weighing less than a tenth of a gram, RoboBee inspired by the biology of a fly and conceived through manufacturing breakthrough and miniaturization.

RoboBees are manufactured through a unique Pop-up manufacturing process developed by the same team that developed the robotic insect. See the video
The unique submillimeter-scale anatomy of RoboBee uses two wafer-thin wings that flap almost invisibly, 120 times per second. At tiny scales, small changes in airflow can have an outsized effect on flight dynamics, and the control system has to react that much faster to remain stable. For the wing ‘muscles’ the tiny robot employs piezoelectric actuators – strips of ceramic that expand and contract when an electric field is applied. Thin hinges of plastic embedded within the carbon fiber body frame serve as joints, and a delicately balanced control system commands the rotational motions, differentially moving the flapping wings to generate directional motion.
The first flights that took place in the summer of 2012 employed a tethered version feeding power and processing from external devices. The next steps in the program will involve integrating the parallel work of different research teams who are working on the brain, the colony coordination behavior, the power source, etc., leading to the evolution of fully autonomous, wireless robotic insects. High energy-density fuel cells must be developed before the RoboBees will be able to fly with more independence.
RoboBee design. Image courtesy of Kevin Ma and Pakpong Chirarattananon.
RoboBee design. Image courtesy of Kevin Ma and Pakpong Chirarattananon.
Applications of the RoboBee type ‘creatures’ could include distributed environmental monitoring, search-and-rescue operations, or assistance with crop pollination, but the materials, fabrication techniques, and components that emerge along the way might prove to be even more significant. The US Air Force is also working on similar technologies, under the Air Force Research Lab Micro-Aviary program.
According to Robert J. Wood, principal investigator of the National Science Foundation-supported RoboBee project, the lab’s recent breakthroughs in manufacturing, materials, and design have paved the way for the new achievement of RoboBee. “Now that we’ve got this unique platform, there are dozens of tests that we’re starting to do, including more aggressive control maneuvers and landing,” says Wood. The robotic insects also take advantage of the breakthrough pop-up manufacturing technique developed by Wood’s team in 2011.
Through the Pop-Up Manufacturing process (video) sheets of various laser-cut materials are layered and sandwiched together into a thin, flat plate that folds up like a child’s pop-up book into the complete electromechanical structure. The process enabled the team to accelerate prototype development, going through 20 prototypes in a six months period. The pop-up manufacturing process could enable a new class of complex medical devices.
Harvard’s Office of Technology Development, in collaboration with Harvard SEAS and the Wyss Institute, is already in the process of commercializing some of the underlying technologies. The program was supported by the Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering at Harvard.
The RoboBee is designed to evolve into an insect-size fully autonomous robot but at the current phase it is tethered to a power and processing sources. Photo SEAS, Photo courtesy of Kevin Ma and Pakpong Chirarattananon.
The RoboBee is designed to evolve into an insect-size fully autonomous robot but at the current phase it is tethered to a power and processing sources. Photo SEAS, Photo courtesy of Kevin Ma and Pakpong Chirarattananon.
»»  READMORE...

S-97 Raider, Helikopter Tempur Berkecepatan Tinggi Rancangan Sikorsky



Sikorsky S-97 Raider
Sikorsky S-97 Raider

Sikorsky S-97 Raider adalah rancangan helikopter tempur berkecepatan tinggi yang dikembangkan oleh Sikorsky Aircraft dan menurut rencana akan ditawarkan sebagai helikopter serang kepada Angkatan Darat AS dan kepada peminat lainnya.

Sikorsky S-97 Raider secara resmi diluncurkan pertama kali pada 20 Oktober 2010. Diharapkan helikopter ini bisa memenuhi kebutuhan Angkatan Darat AS yang akan menggantikan armada helikopter Bell OH-58D Kiowa Warrior. S-97 Raider bisa dioperasikan pada operasi militer khusus. Selain versi militer, helikopter ini juga tersedia dalam versi sipil.

Sikorsky S-97 Raider dikembangkan dari desain Sikorsky X2 dan akan menggunakan mesin turboshaft General Electric T700. Secara khusus, sebuah mesin turbin yang lebih kuat sedang dikembangkan untuk helikopter tempur ini agar memiliki kecepatan jelajah diatas 200 knot.

S-97 menggunakan rotor koaksial serta baling-baling pendorong yang terletak di belakang. Kendaraan udara ini dirancang untuk dapat membawa hingga 6 penumpang, tidak termasuk awak helikopter. Menurut rencana, 2 prototip dibuat pada bulan Oktober 2012 ini.

Spesifikasi Helikopter Tempur Sikorsky S-97 Raider

Karakteristik Umum:

  • Awak : 2
  • Kapasitas Penumpang : 6 parjurit bersenjata lengkap
  • Panjang : 11 m
  • Berat Kotor : 4.057 kg
  • Berat Maksimum Lepas-Landas : 4.990 kg
  • Diameter Rotor Utama : 10 m
Kinerja:
  • Kecepatan Jelajah : 407 km.jam (253 mph, 220 knot)
  • Kecepatan Maksimal : 444 km.jam (276 mph, 240 knot)
  • Jarak Jangkau : 570 km
  • Lama Operasional : 2 jam 40 menit
  • Batas Maksimum Ketinggian Penerbangan : 3.048 m
Persenjataan:
  • 1 unit meriam mesin kaliber .50 kapasitas 500 peluru
  • 7 poda roket
»»  READMORE...