News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Thursday, May 1, 2014

Australia Tambah Lagi 58 Pesawat Tempur F-35


F-35A

Pada hari Rabu, 23 April 2014, Australia mengumumkan pembelian 58 pesawat tempur F-35 Lightning II JSF (Joint Strike Fighter) tambahan senilai AUD 12,4 miliar (USD 11,4 miliar). 

Dalam pidatonya, Perdana Menteri Tony Abbott dan Menteri Pertahanan David Johnston mengumumkan langkahnya tersebut dan mengatakan bahwa pesawat-pesawat tersebut akan dikirim ke Australia pada tahun 2023. Ditambah pesanan F-35 sebelumnya yang berjumlah 14 unit, total Australia akan mendapatkan 72 unit F-35. Tidak hanya itu, Australia juga tengah mempertimbangkan opsi penambahan 28 unit F-35 di tahun-tahun mendatang.

Menurut The Australian, harga sebesar AUD 12,4 miliar adalah harga untuk pembelian 58 F-35 lengkap dengan senjata dan pelatihan, dan AUD 1,6 miliar untuk pembangunan fasilitas dan infrastruktur baru untuk F-35 yang akan dibangun di Pangkalan Udara Williamtown di New South Wales dan Pangkalan Udara Tindal di Northern Territory.

Seperti yang dikatakan The Australian, pembelian F-35 tersebut adalah pembelian termahal untuk kesepakatan pertahanan dalam sejarah Australia. Pembelian ini juga muncul di saat anggota parlemen Australia memangkas dana pensiun dan layanan lainnya guna mengembalikan surplus anggaran. Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Tony Abbott berulang kali menegaskan dalam pidatonya bahwa pemerintah Australia sudah memiliki dananya dan pembelian F-35 ini tidak akan mempengaruhi anggaran di masa mendatang.

"Saya ingin menekankan bahwa ini adalah uang yang disisihkan pemerintah selama dekade terakhir atau lebih, untuk memastikan bahwa pembelian ini dapat dipertanggungjawabkan," kata Abbott dilansir The Guardian. Abbott juga menjelaskan bahwa di masa depan, mau tidak mau Australia akan sampai pada satu titik dimana Australia akan membutuhkan kapal baru, pesawat baru, kendaraan lapis baja baru dll, sehingga Australia harus menyisihkan uang mulai dari sekarang untuk dibutuhkan di masa depan guna menjaga kekuatan pertahanan tetap efektif.

Berbeda dengan Abbott, pernyataan Menteri Pertahanan Johnston lebih berfokus pada kemampuan F-35 dan bagaimana pesawat-pesawat ini akan menambah postur pertahanan Australia. "Ini (F-35) adalah sistem yang dapat mendeteksi musuh dari jarak yang cukup fenomenal (jauh) dan tersembunyi (siluman/anti-radar), sehingga sangat sulit untuk dilacak," kata Johnston. Johnston juga menambahkan: "Kami menilai pesawat ini akan memenuhi semua kebutuhan Australia dalam hal kemampuan pesawat hingga sekitar tahun 2050." 

Australia merupakan salah satu anggota dari program JSF (Joint Strike Fighter), dan pada awal program Australia menandantangani kontrak untuk mengakuisisi sekitar 100 F-35. Jumlah ini masih bisa dicapai seandainya opsi penambahan 28 F-35 sudah disetujui. Namun, beberapa anggota JSF lainnya seperti Italia, Denmark dan Kanada tampaknya tidak se-royal Australia, mereka kembali mengevaluasi pilihan mereka terhadap F-35 mengingat harganya yang terus melambung tinggi. Bahkan 2013 lalu santer beredar kabar bahwa Denmark dan Kanada berkemungkinan meninggalkan program JSF. Jika sekutu AS banyak yang keluar dari program ini (tidak membeli atau mengurangi jumlah yang akan dibeli) maka harga F-35 akan terus melambung. Namun pembelian Australia kemungkinan ini bisa menambah "iman" pelanggan potensial lain seperti Korea Selatan, Jepang dan Singapura yang juga ingin membeli pesawat ini.

Sebelumnya, banyak analis yang berpendapat bahwa Australia kemungkinan juga akan kehilangan kepercayaan dalam program pesawat tempur generasi kelima ini, terutama setelah pengumuman tahun lalu yang menyatakan bahwa Australia akan membeli 12 pesawat tempur Super Hornettambahan dari Boeing untuk memperkuat armada yang ada. Tapi tampaknya pembelian Super Hornet ini hanya menjadi pengisi kesenjangan kekuatan tempur udara di Angkatan Udara Australia (RAAF) sebelum mereka menerima atau mengoperasikan F-35.
 
Dua F-35 pertama dari pesanan 14 unit yang disetujui untuk RAAF pada tahun 2009 kemungkinan akan dikirimkan pada akhir tahun ini ke pusat pelatihan terintegrasi RAAF di Pangkalan Udara Luke di Arizona dan akan terus berada di sana selama fase pengujian dan pelatihan. F-35 yang dibeli oleh Australia sendiri adalah varian conventional take-off and landing (CTOL) atau F-35A (khusus untuk angkatan udara).

Keputusan Canberra untuk mendasarkan kemampuan tempur udara di masa depan pada F-35 berarti menegaskan kembali komitmennya untuk menjadi pemimpin di kawasan regional, karena salah satu keunggulan utama F-35 adalah kemampuannya untuk beroperasi dalam satu kesatuan armada yang besar seperti berkolaborasi dengan F-35 dari negara lain. Sebagaimana yang dikatakan Jenderal Mike Hostage, Komandan Tempur Udara AS, bahwa: "Kemampuan pesawat (F-35) untuk beroperasi satu sama lain melalui secure distributed battlespace adalah pondasi penting untuk menghadirkan armada raksasa. Dan keunggulan F-35 yang bersifat sebagai armada global akan memberi keunggulan semua aliansi yang menggunakan F-35 karena dapat berkomunikasi satu sama lain dan saling mendistribusikan sistem operasi tempurnya."

Dengan demikian, semakin banyak negara-negara Asia yang menggunakan F-35, semakin besar kekuatan tempur yang ada di wilayah tersebut. F-35 Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura masing-masing akan saling melengkapi dalam operasi tempur.

Bertolak ke Eropa, bulan Juli nanti sepertinya akan menjadi pembuktian bagi F-35 dalam penerbangannya di pameran udara internasional Farnborough Air Show di luar London. Ini akan menjadi penerbangan pertama F-35 di luar AS.

Banyak yang menilai tujuan AS dalam memamerkan F-35 di Farnborough adalah untuk meningkatkan kepercayaan dari sekutu-sekutunya dalam program JSF. Selain itu, kehadiran F-35 pada pameran udara internasional tentu akan menghadirkan suasana baru mengingat selama ini pesawat-pesawat Rusia-lah yang paling menonjol di pameran-pameran udara internasional.

Gambar: U.S. Air Force photo/Master Sgt. Jeremy T. Lock
»»  READMORE...

Juli: TNI AL Bentuk Armada Ketiga di Papua


Armada tempur TNI AL

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) segera membentuk armada wilayah baru. Sesuai rencananya, armada wilayah ketiga di Indonesia tersebut akan dibentuk di Sorong, Papua, pada bulan Juli nanti. Alasan utama TNI AL membentuk armada wilayah baru di Sorong adalah untuk meningkatkan koordinasi pengawalan wilayah laut Indonesia bagian timur.

Saat ini kekuatan tempur TNI AL masih bertumpu pada dua armada wilayah, yakni Barat atau Armabar, dan Timur atau Armatim. "Armabar di Jakarta, dan Armatim di Surabaya," kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati di Markas Besar TNI AL, Cilangkap, Jakarta, Senin, 28/4/2014. Jika armada laut Sorong sudah dibentuk, Armada Timur di Surabaya akan berubah menjadi Armada Tengah.

Menurut Untung, lokasi Sorong dipilih karena memiliki geopolitik yang tepat dan strategis. Tujuan lain, untuk mempertegas kedaulatan Indonesia di kawasan, terutama wilayah timur yang dirasa masih berlubang pengamanannya.

Soal pembagian kekuatan kapal perang, kata Untung, TNI AL akan menggunakan sistem alih bina atau pembagian kekuatan tempur yang dimiliki. Dengan kata lain, sejumlah kapal perang calon penghuni armada Sorong didatangkan dari sebagian armada Surabaya dan Jakarta.

Saat ini jumlah kapal perang milik TNI AL ada 150-160 unit. Namun Untung menegaskan, jumlah kapal perang tersebut tidak akan dibagi rata untuk mengisi tiga armada wilayah. "Ada pertimbangannya. Bukan cuma kuantitatif saja, tapi kualitatif dan pengamatan intelijen juga," katanya.

Penambahan armada di Sorong, Papua, juga diikuti dengan penambahan divisi pasukan marinir. Sebab, menurut Untung, idealnya pembangunan armada wilayah baru wajib diikuti dengan penempatan pasukan marinir.

"Sebab, konsep TNI kan armada terpadu, jadi harus ada kapal perang, pesawat udara, pangkalan, dan marinir," ujarnya.

Wacana penambahan armada di Sorong sudah dibahas sejak dua tahun lalu. Selama itu pula TNI AL menyiapkan sarana dan prasarana pendukung untuk armada wilayah baru di Sorong. Dalam struktur organisasi yang baru nanti, direncanakan ada seorang panglima bintang tiga yang akan membawahi ketiga komando armada wilayah. (Tempo)
»»  READMORE...

How Lithium-ion Batteries Work


Photo courtesy ZD Net UK

Inside a Lithium-ion Battery Pack and Cell

Lithium-ion battery packs come in all shapes and sizes, but they all look about the same on the inside. If you were to take apart a laptop battery pack (something that weDO NOT recommend because of the possibility of shorting out a battery and starting a fire) you would find the following:
  • The lithium-ion cells can be either cylindrical batteries that look almost identical to AA cells, or they can be prismatic, which means they are square or rectangular The computer, which comprises:
  • One or more temperature sensors to monitor the battery temperature
  • voltage converter and regulator circuit to maintain safe levels of voltage and current
  • A shielded notebook connector that lets power and information flow in and out of the battery pack
  • voltage tap, which monitors the energy capacity of individual cells in the battery pack
  • battery charge state monitor, which is a small computer that handles the whole charging process to make sure the batteries charge as quickly and fully as possible.
If the battery pack gets too hot during charging or use, the computer will shut down the flow of power to try to cool things down. If you leave your laptop in an extremely hot car and try to use the laptop, this computer may prevent you from powering up until things cool off. If the cells ever become completely discharged, the battery pack will shut down because the cells are ruined. It may also keep track of the number of charge/discharge cycles and send out information so the laptop's battery meter can tell you how much charge is left in the battery.
It's a pretty sophisticated little computer, and it draws power from the batteries. This power draw is one reason why lithium-ion batteries lose 5 percent of their power every month when sitting idle.

Lithium-ion Cells

As with most batteries you have an outer case made of metal. The use of metal is particularly important here because the battery is pressurized. This metal case has some kind of pressure-sensitive vent hole. If the battery ever gets so hot that it risks exploding from over-pressure, this vent will release the extra pressure. The battery will probably be useless afterwards, so this is something to avoid. The vent is strictly there as a safety measure. So is the Positive Temperature Coefficient (PTC) switch, a device that is supposed to keep the battery from overheating.

This metal case holds a long spiral comprising three thin sheets pressed together:
  • Positive electrode
  • Negative electrode
  • separator
Inside the case these sheets are submerged in an organic solvent that acts as the electrolyte. Ether is one common solvent.
The separator is a very thin sheet of microperforated plastic. As the name implies, it separates the positive and negative electrodes while allowing ions to pass through.
The positive electrode is made of Lithium cobalt oxide, or LiCoO2. The negative electrode is made of carbon. When the battery charges, ions of lithium move through the electrolyte from the positive electrode to the negative electrode and attach to the carbon. During discharge, the lithium ions move back to the LiCoO2 from the carbon.


»»  READMORE...

PAK DA, Pesawat Pembom Strategis Baru Angkatan Udara Rusia




PAK DA, Pesawat Pembom Strategis Baru Angkatan Udara Rusia
Pesawat Tu-95 (atas) dan pesawat Tu-160 (bawah) dalam penerbangan. Foto: ITAR-TASS

PAK DA kelak akan menggantikan peran pesawat terbang Tu-95 MS, Tu-160, dan Tu-22 3M dalam persenjataan Angkatan Udara Rusia. Direktur Utama UAC Mikhail Pogosyan mengumumkan, pembuatan beberapa komponen untuk perakitan prototipe uji coba akan dimulai dalam waktu dekat.
Subsonik atau Supersonik?

Pada waktu memulai pembuatan proyek PAK DA pada 1999, desainer pesawat ini dihadapkan dengan pertanyaan yang sulit:Angkatan Udara Rusia membutuhkan pesawat subsonik atau supersonik?Desain akhir PAK DA sudah siap, tapi tak ada yang bisa memprediksi perkembangan dunia penerbangan di masa mendatang, sehingga masih terbuka kemungkinan dilakukan modifikasi.
Pesawat supersonik dapat menerebos semua senjata pertahanan udara, namun karena fitur aerodinamis yang dimilikinya, pesawat ini terlalu mencolok bagi musuh. Selain itu, pemakaian bahan bakar pesawat pembom supersonik sangatlah boros, sehingga pesawat ini tidak dapat terbang jauh di udara tanpa mengisi ulang bahan bakar.
Akhirnya desainer pesawat memilih membuat pesawat pembom subsonik. Panglima Tertinggi Angkatan Udara Rusia Viktor Bondar menyatakan keunggulan PAK DA adalah pesawat ini memiliki kapasitas lebih banyak dibanding Tu-160. Selain itu, persenjataan yang dimiliki akan jauh lebih dahsyat. Sementara, masalah lain akan terselesaikan dengan kehadiran rudal.
Pesaing Spirit B-2
Pesawat baru ini akan dibangun berdasarkan skema ”sayap terbang” yakni jenis pesawat yang mengudara hanya dengan sayap, tanpa ekor dan karnard (aeronautik). Fuselage (badan pesawat) hampir rata dan dimensinya dikurangi. Peran umum fuselage seperti menampung kru, peralatan, kargo, dan sebagainya, dibebankan pada sayap pesawat. Sayap tersebut juga dipasangi senjata dan tempat awak kapal.
Kebanyakan pembuatan pesawat tipe “sayap terbang” menggunakan teknologi “siluman” (low observable technology). Kemungkinan, pesawat pembom baru ini akan dibuat agar dapat mengelabui radar dengan membentuk garis-garis rusuk, untuk membuyarkan pancaran radar musuh.
Central Aerohydrodynamic Institute (TsAGI) saat ini sedang melakukan penelitian properti aerodinamik “sayap terbang”. Hal tersebut membuat Rusia mempunyai dasar untuk memproduksi pesawat siluman pesaing Spirit B-2 milik Amerika.
PAK DA memiliki bobot 120 ton. Tidak kurang dari seperempat berat tersebut merupakan barang angkut yang penting seperti bahan bakar, awak kapal, dan persenjataan. Pesawat ini juga akan dilengkapi dengan senjata hipersonik.
Prototipe pertama PAK DA direncanakan selesai pada 2017. Di tahun 2019, prototipe tersebut akan  akan melakukan uji coba penerbangan dan di tahun 2025 pesawat akan masuk ke dalam persenjataan Angkatan Udara Rusia.
Masuknya pesawat baru tersebut ke dalam angkatan udara Rusia akan memberhentikan penggunaan pesawat Tu-160 dan Tu-95, yang sekarang ini merupakan pesawat andalan untuk penerbangan jarak jauh Rusia. Setelah 2025, pesawat-pesawat pembom itu akan pensiun dan digantikan oleh PAK DA.
Saat ini, Rusia memiliki 32 unit pesawat pembom strategis Tu-95 MS dan 16 pesawat supersonik Tu-160 yang bermarkas di kota Engels.
Perkembangan Terus Berlanjut

Kapasitas produksi PAK FA sudah dikerahkan, tetapi T-50 tidak bisa menggantikan peran Su-27 dan Su-30 sepenuhnya dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, dalam sepuluh tahun ke depan Rusia mempertimbangkan penggunaan dua tipe pesawat yakni T-50 dan Su-35SDunia aviasi Rusia terus berkembang. Selain pembuatan PAK DA, uji coba pesawat tempur siluman generasi ke-5, Sukhoi T-50 PAK FA (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) masih dilakukan. Saat ini terdapat enam unit prototipe pesawat PAK FA, dan dua unit lagi akan bergabung dalam uji coba penerbangan pada 2015. Pesawat ini rencananya akan mulai diproduksi dalam jumlah kecil pada 2016. Direktur Utama UAC Mikhail Pogosyan mengatakan pesawat ini akan masuk ke dalam persenjataan Angkatan Udara Rusia setelah tahun 2050.
.
»»  READMORE...

Su-35S, F-22: Perbandingan Spesifikasi Teknis


Su-35S, F-22: Perbandingan Spesifikasi Teknis
»»  READMORE...

Sunday, April 27, 2014

14 KRI Jaga Perairan Timur

Luasnya wilayah perairan laut Indonesia dengan menyimpan beragam potensi kekayaan alam laut sangat rentan terjadinya pelanggaran hukumBiak ★ Komandan Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Armada Timur Indonesia Laksamana Pertama TNI Heru Kuswanto mengungkapkan sebanyak 14 kapal perang RI (KRI) dan dua pesawat jenis Cassa disiagakan menjaga pengamanan teritorial perairan laut Timur Indonesia.

"Hingga saat ini ada 14 KRI yang rutin melakukan patroli pengamanan di laut Indonesia Timur, ya belum ditemukan pelanggaran hukum yang dilakukan kapal asing," ungkapnya di sela-sela perncanangan Hari Gerakan Malaria di Biak, Jumat (25/4).

Ia mengakui luasnya wilayah perairan laut Indonesia dengan menyimpan beragam potensi kekayaan alam laut sangat rentan terjadinya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh kapal asing.

"Untuk mengantisipasi kasus pelanggaran hukum di wilayah perairan Indonesia, setiap waktu belasan kapal perang TNI AL berpatroli mengawasi wilayah teritorial laut Indonesia," ujarnya.

Menyinggung wilayah perairan Papua yang rawan akan kasus pelanggaran hukum karena berbatasan dengan negara tetangga PNG, Komandan Guskamla mengatakan hingga sekarang masih sangat kondusif sehingga terus dilakukan pengamanan melalui kegiatan patroli KRI.

Ia menegaskan bahwa setiap kasus pelanggaran hukum yang terjadi di wilayah perairan teritorial Indonesia maka jajaran prajurit Guskamla akan meindak tegas sesuai aturan yang berlaku.

"Jika terbukti ada kapal asing yang melakukan pelanggaran hukum di wilayah teritorial laut Indonesia Timur akan ditindak tegas sesuai hukum di Indonesia, ya kondisinya sekarang masih aman-aman saja," ujar perwira bintang satu TNI AL.

Hingga Jumat pagi, aktivitas pelayaran di sepanjang perairan laut Kabupaten Biak Numfor tampak berjalan normal seperti hari biasanya.(Ant)


»»  READMORE...

Prajurit TNI dan Tentara Perancis Latihan Menembak

Kegiatan ini bertujuan untuk bertukar ilmu dan pengalaman di antara kedua pasukanLebanon ★ Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-H/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) atau Indobatt (Indonesian Batallion) yang tengah melaksanakan misi perdamaian PBB di Lebanon di bawah pimpinan Letkol Inf M. Asmi selaku Komandan Satgas, menggelar latihan menembak bersama Tentara Perancis (FCR/  Force Commander Reserve) di Lapangan Tembak Sektor Timur Ebel El Saqi, Lebanon Selatan, kemarin.

Acara latihan menembak tersebut disaksikan Komandan Satgas Indobatt Letkol Inf M. Asmi, Komandan FCR Kolonel Loic Mizon, Wadansatgas Indobatt Mayor Inf Ade Rony serta para prajurit dari kedua Kontingen.

Kegiatan ini bertujuan untuk bertukar ilmu dan pengalaman di antara kedua pasukan, terutama di bidang senjata dan kemampuan militer.

Disamping itu, latihan bersama ini juga untuk menjalin hubungan dan kerjasama yang kuat antara kedua negara yang berada di jajaran Sektor Timur Unifil.

Dalam latihan menembak tersebut, masing-masing kontingen mengirimkan satu peleton terbaiknya. Tim penembak Satgas Indobatt berhasil memukau pasukan FCR dengan keakuratan senjata SS2 buatan PT  Pindad.

Di akhir sesi latihan, diadakan Games Competition yang mana dibentuk 2 tim campuran dengan  senjata yang campuran pula. Sehingga pasukan peacekeeper Indonesia bisa merasakan menembak dengan menggunakan senjata Famas yang dimiliki oleh FCR, dan begitu pula sebaliknya.(tiyo)
»»  READMORE...

Brimstone Completes Drone Test Trials



MBDA has successfully demonstrated the operation of Dual Mode Seeker Brimstone (DMB) missile from an MQ-9Reaper Remotely Piloted Aircraft (RPA), scoring nine direct hits against a range of targets including very high speed and manoeuvring vehicles. The main advantage of Brimstone is its dual-mode operating capability, combining millimetre guidance with semi-active laser targeting, enabling the operator to accurately designate a target, after the milimeter-wave seeker locks on the designated target the missile independently follows that target independent of further laser designation, through the engagement. The tests pave the way for the deployment of the weapon on Britain’s MQ-9Reapers. Beyond their use with aerial platforms, Brimstones were also been tested on fast naval crafts, fired against speedboat simulating swarm attacks.


MQ-9 Reaper carrying six Dual-Mode Brimstone missiles. Photo: MBDA
MQ-9 Reaper carrying six Dual-Mode Brimstone missiles. Photo: MBDA
The trials began with captive carry of Avionics and Environmental Data Gathering Missiles, proving the successful integration of the two systems and gathering additional evidence to support future clearance activities. These were quickly followed by a series of live Operational Missile and inert Telemetry Missile firings. The firings were taken from realistic ‘middle of the envelope’ profiles; typically 20,000ft release altitude and 7km – 12km plan range, with the platform being remotely piloted in operationally representative beyond line of sight (SATCOM) conditions, with tracking and designation of targets being conducted in a mixture of manual-track and auto-track modes. Two of the more challenging scenarios were against trucks travelling at 70mph in a crossing target scenario.  At times, the targets were manually tracked by the REAPER crews, showing how the integrated Semi-Active Laser and Active MMW radar seeker works in tandem to ensure direct hits, even while operators are tracking and designating targets manually over satellite communications. “Every Operational and Telemetry missile performed as designed” MBDA announced, “Following the successful demonstration Brimstone can now provide more flexibility to Reaper operators, reducing collateral damage risk while retaining first pass, single shot lethality against high speed manoeuvring targets on land, at sea and in complex environments.”
brimstone_target_50mph700
A Brimstone missile hitting a target moving at a speed of 50 miles per hour (80 km/h). Photo: USAF Big Safari
The original Brimstone missile used a milimeter-wave seeker to defeat massive armor formations in ‘fire and forget’ engagements. Royal Air Force (RAF) Tornado GR4 strike fighters were fitted to carry clusters of Brimstones, to kill multiple tanks in a simultaneous attack. DMSB, the new variant of the missile was optimised to engage asymmetric threats, by turning the fire-and-forget missile into high-precision weapon combining some ‘man in the loop’ capability, allowing the operator to designate the target for the missile, in case the MMW seeker couldn’t lock or was looking elsewhere. In an asymmetric engagement, ‘man in the loop’ function enables the operator to correct a missile that locks on the wrong target, divert the missile to an alternate target or order the missile to abort attack, hitting a pre-defined area, thus avoiding collateral damage. In addition to the dual-mode seeker capability, Brimstone fired from Tornado GR4 demonstrated the ability to engage, from a high off-boresight, targets travelling at up to 70mph. The targets were engaged from longer ranges, without the need to revert to straight and level flight, whilst operating in Close Air Support (CAS) role. These tests were carried out by the RAF in October 2013.
The use of MMW seeker enables the missile to effectively engage moving targets, a task that would require multiple Hellfire missiles. MBDA is employing a focussed, low fragmentation warhead optimised to defeat targets from Fast In-Shore Attack Craft Fast In-Shore Attack Crafts (FIAC) to fast moving armored or unarmored vehicles. In Libya, those characteristics reportedly made it one of the few weapons NATO commanders could use to hit enemy armored vehicles in urban areas.
MBDA is lobbying the USA to select the Dual Mode Brimstone missile to arm the Reaper drones operated by the US government, as an alternative to pursuing further investment in the Joint Air-Ground Missile (JAGM). This missile, developed by Lockheed Martin, was designed to replace Hellfires used by all US military services but is currently pursued only by the Army. It will also employ a dual-mode seeker combining the Hellfire laser seeker and Longbow MMW radar seekers in a similar way the utilised by the Brimstone.
brimstone_cutaway
MBDA is lobbying the USA to select the Dual Mode Brimstone missile to arm the Reaper drones operated by the US government, as an alternative to pursuing further investment in the Joint Air-Ground Missile (JAGM).
»»  READMORE...