News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Saturday, May 10, 2014

Conficker, Sality, Ramnit Malware Spionase Yang Paling Banyak Menyerang Indonesia







Diagram Malware
Diagram Malware
Jakarta, MiliterNews – MALWARE atau yang dikenal dengan virus spionase baru-baru ini tengah menginfeksi 70.000 PC diseluruh Indonesia melalui jaringan protocol internet, terbongkarnya malware ini berhasil di indentifikasi oleh Indonesian Computer Emergency Response Team (ID-CERT), malware tersebut telah menyerang 196 perusahaan (ISP dan non ISP), 27 institusi akademik/universitas, 13 instansi pemerintahan, dan 3 Internet eXchange (2 milik milik pemerintah dan 1 milik komunitas). Malware dari jenis ini berpotensi melakukan serangan DDoS (Distributed Denial of Service) maupun aktivitas lainnya, termasuk cyber crime.
Berikut adalah 3 malware dan variannya yang banyak mendiami PC di Indonesia .
CONFICKER
Diagram Penyebaran Malware Conficker
Diagram Penyebaran Malware Conficker
Conficker, juga dikenal sebagai Downup, Downadup dan Kido, adalah worm komputer menargetkan sistem operasi Microsoft Windows yang pertama kali terdeteksi pada bulan November 2008. Malware ini memanfaatkan kelemahan dalam software OS Windows dan password administrator untuk menyebarkan sampai membentuk botnet. Conficker ini memiliki banyak varian dengan spesifikasi peruntukannya  berikut adalah beberapa contohnya
1. Worm:Win32/Conficker.A
Worm: Win32/Conficker.A adalah worm yang menginfeksi komputer lain melalui jaringan dengan memanfaatkan kerentanan dalam layanan Windows Server (SVCHOST.EXE). Jika kelemahan tersebut berhasil dieksploitasi, bisa memungkinkan eksekusi kode jauh ketika file sharing diaktifkan.
2. Worm:Win32/Conficker.B
Worm: Win32/Conficker.B adalah worm yang menginfeksi komputer lain melalui jaringan dengan memanfaatkan kerentanan dalam layanan Windows Server (SVCHOST.EXE). Jika kelemahan tersebut berhasil dieksploitasi, bisa memungkinkan eksekusi kode jauh ketika file sharing diaktifkan. Hal ini juga dapat menyebar melalui removable drive dan password administrator yang lemah. Ini menonaktifkan beberapa layanan sistem yang penting dan produk keamanan.
3. Worm:Win32/Conficker.C
Win32/Conficker.C adalah worm yang menginfeksi komputer lain melalui jaringan dengan memanfaatkan kerentanan dalam layanan Windows Server (SVCHOST.EXE). Jika kelemahan tersebut berhasil dieksploitasi, bisa memungkinkan eksekusi kode jauh ketika file sharing diaktifkan. Hal ini juga dapat menyebar melalui removable drive dan password administrator yang lemah. Ini menonaktifkan beberapa layanan sistem yang penting dan produk keamanan.
4. Worm:Win32/Conficker.D
Win32/Conficker.D adalah varian dari Win32/Conficker. Conficker.D menginfeksi komputer lokal, mengakhiri layanan, akses blok terhadap keamanan terkait berbagai situs Web dan download kode sewenang-wenang. Conficker.D relay dapat perintah instruksi ke komputer Conficker.D lain terinfeksi melalui built-in peer-to-peer (P2P) komunikasi. Varian ini tidak menyebar ke removable drive atau bersama folder di jaringan (seperti varian sebelumnya). Conficker.D terinstal dengan varian sebelumnya Win32/Conficker.
5. Worm:Win32/Conficker.E
Worm: Win32/Conficker.E adalah anggota dari keluarga Win32/Conficker dan proaktif terdeteksi ketika pertama kali ditemukan sebagai Worm:! Win32/Conficker.gen A. Conficker.E bertindak sebagai mechansim update untuk varian sebelumnya Win32/Conficker. Varian ini akan menghapus executable nya sendiri pada tanggal 3 Mei 2009.Microsoft sangat menganjurkan agar pengguna menerapkan pembaruan sebagaimana dimaksud dalam Buletin MS08-067
S A L I T Y
Diagram Penyebaran Malware Sality (Peer to Peer)
Diagram Penyebaran Malware Sality (Peer to Peer)
Sality, juga di kenalSalLoad atau Sophos adalah sejenis polymorphic file infector. Malware ini akan menyerang setelah kita mangaktifkan create/delete registry keys untuk mengaktifkan security pada system dan akhirnya justru mengaktifkan  proses reboot di masing-masing operating system. Win32/Sality memodifikasi file EXE dan SCR dan menghentikan proses dan layanan yang berhubungan dengan solusi keamanan.
Salah satu contohnya Win32.Sality.NBA adalah salah satu program jahat ilegal yang ada pada Windows. Program tersebut mampu mangambil alih resources system dan memperlambat kinerja komputer. Beberapa program sejenis seringkali muncul dalam bentuk pesan-pesan maupun banner iklan  sehingga mengganggu proses kerja. Sementara itu, malware ini juga merusak data yang tersimpan
Sistem terinfeksi Sality dapat berkomunikasi melalui jaringan peer-to-peer (P2P) untuk tujuan menyampaikan spam, proxy komunikasi, exfiltrating data sensitif, mengorbankan server web dan / atau mengkoordinasikan tugas-tugas komputasi terdistribusi untuk tujuan memproses tugas-tugas intensif (misalnya password cracking). Sejak 2010, varian tertentu dari Sality juga memasukkan penggunaan fungsi rootkit sebagai bagian dari evolusi yang sedang berlangsung dari keluarga malware. Karena perkembangan lebih lanjut dan kemampuan, Sality dianggap salah satu bentuk yang paling kompleks dan tangguh dari malware sampai saat ini.
R A M N I T
Diagram Ramnit
Diagram Ramnit
Ramnit adalah virus yang paling sukses menyebar di tahun 2011, dengan kemampuan update layaknya program antivirus Ramnit berhasil mengecoh system scanner program antivirus. Virus yang muncul akhir bulan Januari 2011 ini mempunyai kemampuan untuk menginjeksi file yang mempunyai ekstensi EXE dan DLL baik berupa file program aplikasi maupun file system Windows sehingga memerlukan langkah pembersihan khusus. Ramnit sempat bertengger sebagai jawara di urutan pertama sampai dengan pertengahan bulan Agustus 2011 sehingga pantas dinobatkan sebagai virus jawara di tahun 2011. Berikut adalah varian dari Malware Ramnit
1.    WIN32/Ramnit.A
Malware ini terkenal bandel dan sudah lama membuat pengguna Internet di Indonesia terganggu. Setelah mengalami penurunan di bulan-bulan sebelumnya, Ramnit kembali bertengger di puncak sejak Mei lalu. Virus berjenis trojan ini relatif sulit disingkirkan. Tips dari Technical Support ESET Indonesia, lakukan update scan via safe mode, atau gunakan sysrescue.
2.    Win32/Ramnit.F
Malware berjenis trojan ini mampu meng-copy dirinya yang akan memenuhi hard drive komputer yang terinfeksi. Virus ini biasanya bersembunyi di dalam aplikasi office, bahkan game. Dengan kemampuannya membuka firewalls dan menyamar menjadi program fake untuk mengumpulkan data penting seperti data transaksi, hingga data keuangan sehingga sanagat dianjurkan untuk segera menghapus jika ditemukan adanya indikasi virus Win32/Ramnit.F ini.
3.    Win32/Ramnit.H
Malware yang memanfaatkan security flaws agar hacker pengendalinya bisa masuk dan mengambil alih komputer yang menjadi target melalui koneksi jaringan. Ramnit.H adalah malware berjenis trojan, dimana setelah berada di dalam komputer, ia akan mengirimkan file-file berbahaya, dan melakukan aktifitas tertentu, yang berdampak pada mandeknya kinerja komputer hanya dengan menambahkan entri file ke sistem registry dan sistem operasi. Ramnit.H juga mampu memonitor aktifitas online korban, kemudian mencuri data-data keuangan seperti data kartu kredit, password, user name. Malware yang diidentifikasi ESET sebagai Win32/Ramnit.H in juga mampu mematikan sistem keamanan.
Berikut sedikit tips Mencegah Malware
  • Hindari menggunakan program bajakan,crack, nulled.
  • Instal Aplikasi Antivirus dan mengupdatenya secara berlaka jika sering berselancar internet gunakan aplikasi antivirus yang mendukung internet Scurity (tidak disarankan antivirus lebih dari pada satu)
  • Bagi pengguna Windows Asli anda bisa memanfaatkannya untuk mengupdate OS secara berkala
  • Menghindari Double Clik pada window explore
  • Sesuaikan menginstal aplikasi sesuai dengan peruntukannya
  •     Hindari browsing internet pada situs-situs porno karena disanalah lumbung malware

Sumber         : Military Technology News Network
»»  READMORE...

Wednesday, May 7, 2014

US Navy Requests Industry Proposals for Carrier-Operable Drones



Following almost a year of delay, and gathering more confidence with drone operations from carriers, the US Navy is moving forward with Unmanned Carrier Launched Airborne Surveillance and Strike (UCLASS) - the future carrier operated drones 


X-47B Unmanned Combat Air System (UCAS-D) completes preparations for launching aboard the aircraft carrier USS Theodore Roosevelt (CVN 71). Theodore Roosevelt is the third carrier to test the tailless, unmanned autonomous aircraft’s ability to integrate with the carrier environment. The future UCLASS will be optimized to operate with the new Ford Class carrier (CVN-78) fitted with electrically rather the conventional steam powered catapult, enabling safe handling of lighter aircraft. (U.S. Navy photo by Heath Zeigler)


The four candidate designs considered for UCLASS depicted in this image published by the US Naval Institute (USNI)
The four candidate designs considered for UCLASS depicted in this image published by the US Naval Institute (USNI)
Future drone attacks could be more pervasive and less constrained by access permissions and host country support, once the US Navy goal to integrate unmanned systems capabilities on board its aircraft carriers is fulfilled. Current operations, conducted by the CIA and Air Force from land-based sites are constrained to the availability, permission and security provided by host nations, bases that should be located relatively close to the target and, hence, may compromise operational security and operator safety. New generations of drones to be operated by the US Navy from aircraft carriers could introduce a new capability, unbound by those restrictions.
Following a year-long delay the U.S. Navy released a draft request for proposal (RFP) for the Unmanned Carrier Launched Airborne Surveillance and Strike (UCLASS) aircraft on April 17, 2014. The draft release was delayed due to disagreements within the Navy, about the technical specifications for the future unmanned aircraft. The final RFP is expected later this year. The new carrier-operated drone is scheduled to enter service in the early 2021.
Four prime contractors are participating in the competition –General Atomics Aeronautical Systems Inc, BoeingLockheed Martin and Northrop Grumman. All four have already been contracted to carry out preliminary studies of a UCLASS type drone and are likely to submit their proposals for the final design. The current draft RFP calls bidders to submit proposals for design, development, assembly, delivery, testing and integration of the air vehicles segment of the UCLASS system. Other elements are likely to include sensors, datalinks, command and control systems.
The US Navy made history last year when the X-47B became the first unmanned air vehicle to launch off the CVN-77 George W. Bush aircraft carrier’s catapult and perform an arresting gear landing. In those cases the X-47B was alone on the carrier. Moving forward, the Navy plans to continue testing the unmanned drone operating as part of a carrier air group. These flights are scheduled to take place in the Atlantic Ocean this summer, aboard the USS Theodore Roosevelt (CVN-71).
UCLASS will be a key Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR) asset for future carrier air groups, enabling each carrier of the CVN-78 Ford class to support two continuous ISR orbits at “tactically significant ranges” over uncontested airspace.
In preparation for these flights an X-47B carried out its first night flight at Naval Air Station Patuxent River, Md. The flights planned for this summer will be carefully scripted to measure and account for any variables. The Navy will initially focus on low-tempo operations but could sometime in 2015 intensify the tempo if there is funding and an available aircraft carrier. Aircraft carrier are normally operating on operational cycles of 12 hours each, and all future unmanned assets would be required to align to these operational tempo.
The UCLASS will benefit from lessons learned through these evaluations. According to Rear Adm. Mat Winter, NAVAIR’s program executive officer for unmanned aviation and strike weapons, UCLASS will be a key Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR) asset for future carrier air groups, enabling each carrier of the CVN-78 Ford class to support two continuous ISR orbits at “tactically significant ranges” over uncontested airspace. The aircraft would have some stealth capabilities to enable it to operate in ‘lightly contested’ areas.
The Navy has budgeted the UCLASS capability at a $150 million per orbit. Assuming that two air vehicles can cover one orbit (if that aircraft is capable of flying for 14 hours), that means the maximum price point for a UCLASS air vehicle is about $75 million, USNI said, quoting industry sources. According to preliminary specifications released in June 2013 the goal for UCLASS was to conduct two unrefueled orbits at 600 nautical miles (1,111 km) or one unrefueled orbit at 1,200 nautical miles (2,222 km).
UCLASS drones will also have moderate stealth characteristics and internal payload carrying capacity to conduct light strike missions to eliminate targets of opportunity. Additional roles for the UCLASS could also be aerial refueling, albeit, given their limited payload capacity, such missions could be relevant primarily for other UAS.
The original spec called for a minimum payload capacity of 3,000-pound (1,360 kg), to include electro-optic/infrared (EO/IR) surveillance and signals intelligence capability similar to the current MQ-1 Predator and MQ-9B Reaper. The Navy would also like to have a modular radar payload to include synthetic aperture radar and moving target indicator (SAR/GMTI) as well as maritime area search radar capability. In addition, the aircraft will be able to carry 1,000 lbs (454 kg) of external load, primarily weapons.
An X-47B Unmanned Combat Air System (UCAS) demonstrator prepares to launch from the flight deck of the aircraft carrier USS George H.W. Bush (CVN 77). George H.W. Bush was the first aircraft carrier to successfully catapult launch an unmanned aircraft from its flight deck. (U.S. Navy photo by Brian Read Castillo)
An X-47B Unmanned Combat Air System (UCAS) demonstrator prepares to launch from the flight deck of the aircraft carrier USS George H.W. Bush (CVN 77). George H.W. Bush was the first aircraft carrier to successfully catapult launch an unmanned aircraft from its flight deck. (U.S. Navy photo by Brian Read Castillo)
An X-47B Unmanned Combat Air System (UCAS) demonstrator is towed into the hangar bay of the aircraft carrier USS George H.W. Bush (CVN 77). (U.S. Navy photo by Timothy Walter)
Part of the Demonstrator Unmanned Combat Air System - Demonstrator (UCAS-D) testing was to demonstrate how an unmanned aircraft can operate within the crowded and complex carrier environment. In this photo the Northrop Grumman X-47B is seen towed into the hangar bay on board the aircraft carrier USS George H.W. Bush (CVN 77) which was one of three carriers that participated in the evaluation. Key design parameters of the UCLASS program will be based on the lessons learned through the UCAS-D evaluations. (U.S. Navy photo by Timothy Walter)
»»  READMORE...

Momen Penembakan Rudal Astra dari Su-30 MKI India


Su-30 MKI menembakkan rudal Astra

Pada tanggal 4 Mei, Sukhoi Su-30 MKI Angkatan Udara India berhasil menguji tembak rudal Astra. Rudal Astra adalah rudal udara-ke-udara BVR (Beyond Visual Range) pertama buatan India.

Rudal Astra baik digunakan dalam segala cuaca dan dilengkapi dengan active radar terminal guidance, kemampuan ECCM (electronic counter-counter measures) yang baik, propulsi tanpa menghasilkan asap, jangkauan lebih dari 60 km, dan tingkat Single Shot Kill Probability (SSKP) yang tinggi.

Rudal baru ini dikembangkan oleh Defence Research and Development Organisation (DRDO) India, yang mana setelah pengujian 4 Mei DRDO merilis beberapa gambar menarik, termasuk gambar di atas dan di bawah ini yang diambil dengan kamera berkecepatan tinggi.

Rudal Astra meluncur dari Su-30 MKI

Kredit gambar: DRDO
»»  READMORE...

Rudal DAGR (Direct Attack Guided Rocket) Amerika Serikat

Jakarta, MiliterNews -  DAGR (Direct Attack Guided Rocket) adalah rudal multi-peran yang dikembangkan oleh Lockheed Martin, Amerika Serikat. Rudal ini efektif menetralisir kendaraan lapis baja dan target bernilai tinggi lainnya sekaligus meminimalisir risiko collateral damage.
rudal-dagr
Rudal DAGR telah diuji coba dari helikopter Apache AH-64D di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, pada bulan Maret 2014. Kemampuan lock-on before launch (LOBL) dan akurasi tingginya berhasil didemonstrasikan dalam 16 kali penembakan.
Lebih dari 40 uji penembakan DAGR di jarak 1 km hingga 6 km telah dilakukan pada bulan Maret 2014. Tingkat presisi yang tinggi dan kemampuan manuvernya yang baik membuat petempur sigap dalam merespon keadaan mendadak dan menyerang target bergerak.
Desain dan fitur DAGR
Rudal DAGR dapat diluncurkan dari udara maupun darat, lengkap dengan fitur lock-on before launch (LOBL) dan lock-on after launch (LOAL).
DAGR membawa 4,5 kilogram hulu ledak M151 dan kombinasi M423. Rudal ini berdimensi panjang 1,9 m, diameter 70 mm dan lebar sayap 222 mm. Bobotnya 16,3 kg sedangkan berat peluncurnya 86,2 kg. Jangkauannya bervariasi antara 1,5 km dan 6 km.
rudal-dagr.1
Dengan bore sight field 8 derajat, membuat rudal ini mampu menyerang target yang bergerak cepat dan target yang muncul tiba-tiba.
DAGR juga dilengkapi dengan kit semi-active laser guidance yang juga adalah teknologi yang digunakan pada rudal udara-ke-darat Hellfire II. Kit ini juga dapat diintegrasikan dengan roket ‘tua’ Hydra-70.
Uji penembakan DAGR
Uji penerbangan pertama DAGR dimulai pada Februari 2006. Uji peluncuran dari darat dengan hulu ledak pertama kali dilakukan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin pada Januari 2009.
Lockheed Martin melakukan uji penembakan pertama 3 rudal DAGR dari helikopter Apache AH-64D di Yuma Proving Ground Arizona pada bulan Juni 2009. Dua roket berhasil mengenai target pada jarak dekat. Demo-demo rudal DAGR selanjutnya membuktikan rudal ini mampu dengan baik menyerang target di siang maupun malam hari.
dagr-apache
DAGR berhasil diuji tembak dari helikopter AH-6 Little Bird di Yuma Proving Ground pada Juli 2009. Canister DAGR terpasang pada outboard rail dari peluncur XM299 yang telah dimodifikasi. DAGR juga telah diluncurkan dari helikopter OH-58D Kiowa Warrior dalam dua uji penerbangannya pada bulan Maret 2010.
Lockheed Martin melakukan empat kali uji penembakan rudal DAGR dari helikopter Apache AH-64D di Yuma Proving Ground, Arizona, pada Mei 2012. Diluncurkan dengan offset 5 derajat, DAGR berhasil menargetkan dan memukul sebuah truk yang berjalan pada kecepatan 40 km per jam dalam kondisi angin kencang. DAGR menghantam target pada titik satu meter dari laser spot.
Pada bulan September 2012, Lockheed Martin mendemonstrasikan kemampuan rudal DAGR dengan cara diluncurkan dari darat dalam dua uji penembakan terpisah di Pangkalan Angkatan Udara Eglin. DAGR mengunci target pada kisaran 3,5 km sebelum peluncuran dan memukulnya pada titik kurang dari setengah meter dari laser spot.
dagr-meluncur-dari-jltv
DAGR juga diluncurkan dari prototipe kendaraan Joint Light Tactical Vehicle (JLTV) Lockheed Martin di Pangkalan Angkatan Udara Eglin pada bulan Februari 2013. Setelah peluncuran, rudal mengunci laser spot dalam waktu dua detik dan mengenai target pada titik satu meter dari laser spot yang ditentukan.
Peluncur DAGR
Canister DAGR dapat dipasang pada pedestal (alas) peluncur M299/M310 dan M272 yang mampu me-load out rudal Hellfire II dan rudal DAGR.
peluncur-dagr
Sistem rudal DAGR dapat diintegrasikan dengan semua platform peluncur Hellfire yaitu kendaraan berawak dan tak berawak, sayap tetap maupun berputar, serta helikopter Apache, OH-58 Kiowa Warrior,  AH-6 Little Bird, Cobra dan Tiger. (Artlr)
»»  READMORE...

Meriam KH-179 TNI AD

Jakarta ☆ Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) menambah koleksi alat utama sistem persenjataan (alutista).

Sebanyak 18 meriam didatangkan dari Korea Selatan dengan kemampuan lebih unggul dari sebelumnya. "Ada 18 meriam yang baru saja dibeli. Ini terbesar dalam sejarah TNI AD. Meriam dengan kaliber 155 mm," ujar Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman di Mabesad AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (6/5/2014).

Meriam berjenis Howitzer KH 179 itu didatangkan sebulan yang lalu. Meriam seberat 5 ton itu buatan pabrikan Hyundai, Korea Selatan.

Meriam ini nantinya akan ditempatkan di tiga daerah di Indonesia yakni di Aceh, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Pembelian meriam seharga US$944 ribu itu, kata Jenderal Budiman, akan ditempatkan di perbatasan guna melengkapi persenjataan yang telah ada.

"Sampai saat ini yang kita punya memiliki jarak lontar 12 km. Meriam baru ini bisa mencapai 30 km. Ini untuk menutup dan untuk menjaga keutuhan negara," tambahnya.

Selain meriam, truk penarik meriam juga ikut diboyong dari Korea Selatan dengan nilai beli US$170 ribu. Harapannya, meriam baru ini bisa menggantikan meriam yang lama. Pasalnya, meriam yang ada sudah kuno.

»»  READMORE...

R-77: Lawan Terberat Rudal AIM-120 AMRAAM – “Pembunuh” dari Balik Cakrawala



screenshot
Jakarta, MiliterNews – terungkap informasi bahwa lawan tanding terberat jet Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker TNI AU ialah F-15SG Strike Eagle RSAF (Republic of Singapore Air Force). Ada dua hal yang menjadi dasar kuat bahwa F-15SG menjadi lawan tanding terberat Sukhoi TNI AU. Pertama, memang diatas kertas Sukhoi Su-27/Su-30 dirancang untuk menandingi air superiority F-15. Lalu alasan kedua, kerapnya gesekan dalam hal isu politik dan pertahanan, khususnya pada urusan batas wilayah laut dan pengendalian ruang udara di Kepulauan Riau (Kepri), ikut menyulut sentimen.
Tapi mari kita kesampingkan dahulu alasan kedua, untuk alasan pertama yang disebutkan diatas. Pada hakekatnya bukan semata-mata soal komparasi fitur dan kemampuan kedua pesawat yang relatif setanding. Lain dari itu juga terkait dengan urusan sista yang melekat pada F-15SG Singapura. Sebagai sekutu nomer satu AS di Asia Tenggara, Singapura menjelma bak militer Israel. Negeri dengan penduduk hanya 5 juta jiwa dengan luas wilayah sebesar DKI Jakarta ini secara fakta menjelma sebagai kekuatan militer dengan alustsista termodern di Asia Tenggara.
Fokus lagi ke F-15SG, jet ini dipercaya banyak pengamat militer sebagai jagoan duel udara nomer satu di seantero Asia Tenggara, karena memang tak ada negara di Asia Tenggara, bahkan di Asia Selatan yang punya F-15SG. Sebab AS pun hanya menjual jet ini kepada sekutu dekatnya yang bisa dipercaya. Daya deteren F-15SG pun semakin gahar dengan adopsi rudal terdepan dikelasnya, seperti AIM-9X/M Sidewinder sebagai rudal udara ke udara jarak dekat, AIM-7 Sparrow sebagai rudal udara ke udara jarak menengah, dan yang paling sakti yaitu AIM-120 AMRAAM.
Penerbang Sukhoi TNI AU dengan R-77.
Penerbang Sukhoi TNI AU dengan R-77.
Menunjang manuver yang tinggi, R-77 dilengkapi 4 fin pada bagian ekor
Menunjang manuver yang tinggi, R-77 dilengkapi 4 fin pada bagian ekor
AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) adalah rudal andalan utama AS dan NATO dalam serangkaian operasi militer. Jelas tak sembarang negara bisa dikabulkan senat AS untuk bisa membeli AMRAAM. Di sekitaran Indonesia, populasi AMRAAM sudah bisa ditebak, yakni ada di AU Singapura dan AU Australia (RAAF/Royal Australian Air Force). AMRAAM digadang sebagai pengganti AIM-7 Sparrow pada tahun ahun 1990. Di kalangan para penerbang, rudal yang mampu melesat hingga 4 Mach dengan jangkauan 70 – 125 km ini akrab disebut sebagai Slammer. AMRAAM sendiri dibuat dalam beberapa varian, mulai dari A hingga C yang mulai digunakan sejak 1996. Kini AMRAAM juga menjadi rudal pamungkas bagi jet stealth Lockhed Martin F-22 Raptor.
Battle proven menjadi nilai jual tersendiri bagi rudal buatan Raytheon ini, kiprah AMRAM mulai terdengar sejak F-14 Tomcat berhasil merontokan MiG-23 Libya pada Januari 1993. Sebelumnya di Desember 1992, MiG-25 Irak juga dihancurkan oleh AMRAAM yang dilepaskan F-16. Di setiap kehadiran AS, terutama yang berkaitan dengan kampanye kekuatan udara, hampir tak lepas dari hadirnya AMRAAM.
Nampak AIM-120 AMRAMM dengan latar F-22 Raptor
Nampak AIM-120 AMRAMM dengan latar F-22 Raptor
F-15SG Singapura, nampak dalam demo statis dengan racikan beragam rudal dan bom pintar. Diantaranya adalah AIM-120 AMRAAM.
F-15SG Singapura, nampak dalam demo statis dengan racikan beragam rudal dan bom pintar. Diantaranya adalah AIM-120 AMRAAM.
R-77 – Sang Penantang AMRAAM
Debut AIM-120 AMRAAM populer sejak era Perang Dingin berlangsung. Melihat rivalnya punya rudal udara yang super canggih, menjadikan kubu Uni Soviet (Rusia) tidak tinggal diam, harus dilakukan upaya untuk menandingi AMRAAM. Dan lewat kerja keras, dalam waktu singkat Uni Soviet akhinya berhasil menciptakan rudal yang punya spesifikasi sepadan dengan AMRAAM, yaitu R-77 (AA-12 Adder – dalam kode NATO).
Dirunut dari sejarahnya, prototipe R-77 mulai dikembangkan sejak 1982 oleh Vympel Design Bureau. Dalam hal segmentasi, R-77 adalah rudal udara ke udara (AAM/air to air missile) jarak menengah dan jauh. Karena merupakan proyek rahasia, Soviet baru memperlihatkan sosok rudal ini pada Moskow AeroShow di tahun 1992. Karena punya desain dan spesifikasi mirip AMRAAM, para jurnalis Eropa memberi nickname R-77 sebagai AMRAAMski. Untuk produksi guna kebutuhan AU Rusia baru dimulai pada 1994.
Perangkat radar penjejak pada R-77.
Perangkat radar penjejak pada R-77.
ws_r-77_rvv-ae
r-77-rvv-ae
Nampak Sukhoi Su-30MK TNI AU dengan dua rudal terpasang. Rudal pada ujung sayap adalah R-73 dan rudal dibawah air intake adalah R-77.
Nampak Sukhoi Su-30MK TNI AU dengan dua rudal terpasang. Rudal pada ujung sayap adalah R-73 dan rudal dibawah air intake adalah R-77.
Baik R-77 dan AMRAAM sama-sama mengusung sistem pemandu active radar homing. Dimana pada moncong rudal terdapat perangkat radar pemancar dan sensor elektronik lainnya yang berfungsi untuk menemukan dan melacak target secara mandiri. Atau dengan kata lain, berlaku pola fire and forget. Dalam hal jangkauan, AMRAAM dan R-77 masuk kategori beyond visual range air to air missile dengan radius tembak diatas 70 km. Keberadaan target jelas diluar jangkauan pandangan mata pilot. Disinilah pentingnya kehandalan radar penjejak sasaran pada pesawat.
Seperti apa kehebatan R-77? Kecepatan luncur R-77 adalah 4,5 Mach. Untuk jarak jangkau ada dua macam, untuk tipe R-77 (90 km) dan R-77M1 (175 km). Dengan hulu ledak HE (high explosive) fragmenting seberat 22 kg, target dapat dihancurkan dengan mekanisme laser proximity fuze, ini artinya proses peledakan dapat dilakukan tanpa bodi rudal harus mengenai sasaran secara langsung. Anda penasaran dengan cara kerja R-77? Mari simak video dibawah ini.
Rudal AAM Andalan Rusia
Meski belum ada rekor “kill,” tapi hingga kini R-77 masih jadi andalan bagi jet-jet tempur buatan Rusia, dalam hal ini termasuk Sukhoi Su-27SK dan Su-30Mk yang juga menjadi arsenal Skadron Udara 11 TNI AU. Dalam skenario, Sukhoi Su-27SK yang dilengkapi radar tipe Fazotron N011 Zhuck-27 (kode NATO: Beetle). Radar pada hidung Sukhoi ini punya kemampuan track while scan alias identifikasi selagi mendeteksi. Kemampuan ini juga diikuti dengan kehebatan lain, seperti look down/ shoot down. Artinya radar bisa mengenali beragam target yang bertebaran di udara maupun permukaan.
 Sukhoi Su-27SK TNI AU dengan rudal R-77 dibawah air intake. Foto: ARC.web.id (Sioux)

Sukhoi Su-27SK TNI AU dengan rudal R-77 dibawah air intake. Foto: ARC.web.id (Sioux)
 Su-30MK TNI AU dengan rudal R-77 dibawah air intake. Foto: ARC.web.id (Sioux)

Su-30MK TNI AU dengan rudal R-77 dibawah air intake. Foto: ARC.web.id (Sioux)
Su-30MK sesaat setelah mendarat, nampak hanya ada satu peluncur yang dilengkapi rudal, peluncur disisi lainnya terlihat kosong. Mungkinkah telah dilakukan uji penembakan?
Su-30MK sesaat setelah mendarat, nampak hanya ada satu peluncur yang dilengkapi rudal, peluncur disisi lainnya terlihat kosong. Mungkinkah telah dilakukan uji penembakan?
Untuk jarak jangkau radar ini, Beetle dapat mengenali sasaran sebesar tiga meter pada jarak lebih dari 100 kilometer. Pada jarak tersebut radar sudah bisa menganalisa sekaligus 10 sasaran yang dianggap mengancam. Nah, dengan kehandalan radar inilah, pliot Sukhoi dapat mengambil keputusan untuk menghajar sasaran yang ada di balik cakrawala dengan R-77.
R-77 sendiri telah diperlihatkan oleh TNI AU kepada publik, dari laporan SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), lembaga independen internasional yang didedikasikan untuk penelitian konflik, persenjataan, pengawasan senjata dan pelucutan senjata yang bermarkas di Swedia. Disebutkan bila Indonesia membeli 50 unit R-77 untuk melengkapi sista di 16 unit Sukhoi.
 R-77 dan R-73 menjadi duet senjata yang mematikan pada Sukhoi. Nampak Sukhoi Su-30MKI AU India.

R-77 dan R-73 menjadi duet senjata yang mematikan pada Sukhoi. Nampak Sukhoi Su-30MKI AU India.
Display R-77 yang diapit dua rudal R-73 milik TUDM (Malaysia)
Display R-77 yang diapit dua rudal R-73 milik TUDM (Malaysia)
Patut disyukuri, bahwa kini TNI AU dapat mengimbangi AMRAAM Singapura dan Australia dengan R-77-nya, tapi harus diingat, bahwa Rusia juga menjual rudal ini pada pengguna Sukhoi Su-27/Su-30 lainnya di Asia Tenggara, yaitu Malaysia dan Vietnam. Bahkan, kedua negara tersebut sudah lebih dulu dalam memperoleh R-77. Lepas dari itu semua, Sukhoi Indonesia kini ibarat Sky Demon, siap memberi efek maut di udara dengan kombinasi rudal R-77 dan R-73. (Indomiliter)
Spesifikasi R-77
Manufaktur : Vympel (Tactical Missile Corp)
Panjang : 3,6 meter
Diameter : 20 centimeter
Wingspan : 35 centimeter
Bobot : 175 kg (R-77) 226 (R-77M1)
Berat hulu ledak : 22 kg
Mekanisme penghancuran : laser proximity fuze
Mesin : Solid fuel rocket motor (R-77)/ Air breathing ramjet (R-77M1)
Kecepatan : 4,5 Mach
Ketinggian luncur : 5 – 25.000 meter
Pemandu : Active radar homing
Jangkauan : R-77 (90 km), R-77M1 (175 km)
Spesifikasi AIM-120 AMRAAM
Manufaktur : Raytheon
Panjang : 3,65 meter
Diameter : 17,8 centimeter
Wingspan : 44,5 centimeter
Bobot : 161,5 kg
Berat hulu ledak : 20,5 kg
Mekanisme penghancuran : proximity and contact
Mesin : Solid fuel rocket motor (R-77)/ Air breathing ramjet (R-77M1)
Kecepatan : 4 Mach
Ketinggian luncur : -
Pemandu : Active radar homing
Jangkauan : 75 – 110 km
Editor  : Teguh Windharto

Berita Terkai
t

»»  READMORE...

Pesawat Pembom Rusia Makin Sering Patroli di Asia


Tupolev Tu-95

Rusia meningkatkan patroli angkatan udara dan laut di kawasan Asia Pasifik secara signifikan, seorang jenderal ternama Amerika Serikat mengatakan pada hari Senin.

Berbicara di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington DC, Jenderal Herbert "Hawk" Carlisle, Komandan Angkatan Udara AS untuk wilayah Pasifik, mengatakan bahwa peristiwa di Crimea dan Ukraina telah berdampak langsung pada bagaimana Rusia beroperasi di kawasan Pasifik.

"Apa yang dilakukan Rusia di Ukraina dan Crimea memiliki efek langsung terhadap apa yang terjadi di Asia Pasifik.... Beberapa yang kita saksikan adalah penerbangan-penerbangan jarak jauh mereka, dan peningkatannya. Dengan jangkauan penerbangan yang jauh, mereka datang ke pantai California. Mereka juga mengitari Guam," Carlisle mengatakan.

Carlisle menilai tindakan Rusia semacam ini adalah untuk menunjukkan bahwa mereka mampu melakukannya, dan untuk mengumpulkan data intelijen latihan-latihan militer AS dan sekutu-sekutunya di Pasifik.
Carlisle mengatakan bahwa baru-baru ini jet tempur F-15 AS mencegat sebuah "Beruang Rusia", sebutan untuk pesawat pembom strategis Tupolev Tu-95 Bear Rusia, yang terbang menuju Guam, di sebelah timur Filipina, dimana terdapat pangkalan militer AS. Patroli udara Rusia juga telah meningkat tajam di sekitar pulau-pulau Korea dan Jepang (Jepang memiliki sengketa wilayah dengan Rusia), dan kapal-kapal perang Rusia juga semakin aktif di wilayah itu.
Guam
Guam. (Google Map)
Sersan Victoria Boncz, petugas urusan publik Angkatan Udara AS wilayah Pasifik mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, North American Aerospace Defense Command (NORAD) telah mencegat lebih dari 50 pesawat pembom jarak jauh Rusia.

"Ukraina dan Crimea merupakan tantangan bagi kami, dan tantangan kami di Asia Pasifik sama halnya seperti tantangan kami di Eropa. Jumlah patroli penerbangan jarak jauh (pesawat Rusia) di sekitar pulau-pulau Jepang serta sekitar Korea telah meningkat drastis," kata Carlisle.

Menurut Bloomberg News, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Timur Dekat dan Pasifik, Danny Russel, sejalan dengan Carlisle dalam mengkritik tindakan Rusia di Pasifik. "Hal ini tidak dapat diterima, yang mana negara-negara besar menggunakan kekuatannya terhadap negara tetangga kecil, termasuk negara-negara di kawasan Asia Pasifik, Rusia harus menghentikannya dan menggunakan cara-cara damai dalam mengatasi sengketa perbatasan," kata Russel seperti yang dilaporkan Bloomberg.

Kantor Berita Reuters bulan lalu melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Jepang juga semakin khawatir mengenai aksi-aksi pesawat terbang Rusia di dekat wilayah udara negara itu. Jepang mengatakan bahwa pada tahun lalu pihaknya telah 359 kali menggegas jet tempurnya dalam upaya menanggapi gangguan Rusia.

Situasi pun semakin memburuk pada tahun ini karena ketegangan antara AS dan Rusia terkait aneksasi Moskow-Crimea. "(Pesawat) Pembom Rusia sering terbang (di dekat Jepang) dalam beberapa hari terakhir, situasi yang tidak pernah kami alami bahkan selama Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet," kata Menteri Pertahanan Jepang, Itsunori Onodera, mengatakan kepada delegasi AS pada bulan lalu seperti yang dilaporkan Reuters. Bahkan dimulai 13 April lalu, Jepang harus menggegas jet-jet tempurnya selama tujuh hari berturut dalam menanggapi gangguan pesawat-pesawat Rusia.

Carlisle mengatakan bahwa AS dan Rusia memang memliki kepentingan konvergen di Asia Pasifik, namun Carlisle menilai operasi Angkatan Udara Rusia di wilayah ini tidak transparan, menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa negara.
»»  READMORE...

Apakah Indonesia Sedang Kembangkan Senjata Biologi?

Bakteri (ilustrasi)

Bakteri (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senjata biologi selama ini identik dengan hal-hal negatif untuk membunuh manusia. Teknologi ini (biological warfare) digunakan untuk melawan musuh, menyebar virus ke ras manusia tertentu bahkan digunakan juga untuk melumpuhkan binatang lain demi kemaslahatan umat manusia.

Teknologi yang memanfaatkan patogen dan mikroba ini mulai diteliti dengan serius oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, pengembangannya tidak untuk tujuan seperti di atas, melainkan untuk mengatasi pengurangan laju kemerosotasn kehati.

Mikroba akan dikembangbiakkan dalam program "Indonesian Cultural Collection" yaitu pusat koleksi pembiakan mikroba pada Mei mendatang.

"Ini merupakan yang pertama kali di Indonesia," kata Kepala LIPI Lukman Hakim di sela-sela "soft launching" buku Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia di Jakarta, Senin.

Lukman mengatakan, untuk keanekaragaman hayati tumbuh-tumbuhan Indonesia sudah memiliki kebun botani yang lebih dikenal dengan Kebun Raya Bogor.

Sedangkan untuk keanekaragaman hayati hewan, sudah didirikan museum zoologi yang merupakan ketiga terbesar di dunia dengan dua juta spesies.

"Dengan adanya pusat biakan mikroba ini nantinya akan dapat menyimpan bakteri yang berpotensi," katanya.

Sebelumnya, saat riset yang dilakukan pada 2011 sudah terdaftar sebanyak 681 isolat bakteri yang terdiri dari 32 genera dan 259 isolat teridentifikasi dengan baik sampai spesies level.

Saat ini tengah disusun buku pemutakhiran Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) serta penentuan target nasional guna melindungi ekosistem di Indonesia sampai 2020.

Dengan diketahuinya kekayaan dan potensi keanekaragaman hayati maka dapat ditentukan target nasional pengurangan laju kemerosotan kehati yang akan dimuat dalam IBSAP 2014-2020.
(repbulika)
»»  READMORE...