News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Friday, May 10, 2013

Australia Beli Jet Tempur F-35 Dan EA-18G Growler Untuk Antisipasi Kekuatan Militer China Dan India

F-35 Joint Strike Fighter. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara


Borong Alutsista Canggih, Australia Fokuskan Pertahanan Antisipasi China dan India

Australia mengumumkan kebijakan pertahanan terbarunya, dan mengungkapkan rencana untuk memborong sejumlah alutsista canggih seperti pesawat tempur generasi terbaru AS, F-35 dan pesawat tempur berkemampuan perang elektronika EA-18G Growler. Kebijakan baru pertahanan Australia itu juga mengubah fokus mereka ke wilayah Indo-pasifik dengan titik perhatian pada peningkatan kekuatan militer India dan China.

Dalam buku putih pertahanan tersebut, Australia yang selama ini ikut ambil bagian dalam operasi militer Barat di lokasi yang jauh seperti di Irak dan Afghanistan mengubah pandangannya ke kawasan yang lebih dekat. Fokus ini sejalan dengan langkah Presiden Obama yang tahun 2011 silam menetapkan bahwa pusat perhatian mereka kini adalah kawasan Asia-Pasifik.

Boeing EA-18G Growler. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Dalam rilis mengenai kebijakan pertahanan itu, Australia kembali menegaskan bahwa AS tetap menjadi sekutu terdekat mereka. namun Australia juga menggunakan nada yang lebih bersahabat terkait China yang juga menjadi salah satu mitra dagang terbesar mereka. Australia menyebut meningkatnya postur pertahanan China adalah wujud alamiah dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut. “Pemerintah tidak menganggap China sebagai musuh. Kebijakan pemerintah justru bertujuan mendorong kebangkitan damai China dan memastikan bahwa kompetisi strategis di kawasan ini tidak mengarah kepada konflik,” sebut kebijakan pertahanan tersebut.

Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith menyatakan bahwa terkait peningkatan kapasitas pertahanan, pemerintah sudah berkomitmen untuk membeli setidaknya beberapa skuadron pesawat Lockheed-Martin F-35 Joint Strike Fighter. Satu skuadron berjumlah antara 16-25 pesawat. Australia juga akan membeli 12 pesawat temnpur terbaru yang berkemampuan melaksanakan perang elektronika produksi Boeing Co, EA-18G Growler. Pesawat ini adalah varian lanjutan dari Super Hornet yang sudah dimiliki Australia sebanyak 24 buah.

Dua pesawat pertama F-35 Australia ditargetkan diserahkan di AS tahun 2014-2015 mendatang. Sementara ini Australia akan membeli 14 pesawat itu dan kemudian membangun tiga skuadron atau sekitar 75 pesawat. Skuadron operasional pertama direncanakan terbentuk sekitar 2020.
»»  READMORE...

Komputer Akan Sepandai Manusia 2029




ilustrasi Penampilan komputer genggam Raspberry Pi karya Nathan Morgan. (Parts People)
 Perkiraan saya tidak berubah, tapi pandangan konsensus ilmuwan kecerdasan buatan telah berubah menjadi lebih dekat dengan pandangan saya,"

Jakarta - Ide mesin superpintar mungkin terdengar hanya terjadi pada film saja seperti "The Terminator" atau "The Matrix,". Namun banyak ahli yang meyakini ide mesin super itu dengan tingkat kecerdasan dapat melebihi manusia, bisa terjadi.

Para ahli meyakini singularitas atau saat kecerdasan buatan menyamai bahkan melebihi manusia, bisa terjadi dalam 16 tahun. Tapi ada ahli lain yang berbeda mengenai kapan dan bagaimana singularitas akan terwujud, seperti dilansir Livescience, Rabu.

Beberapa orang percaya manusia dapat melampaui keterbatasan fisik mereka dengan bantuan mesin. Tetapi yang lain berpikir manusia pada akhirnya akan melepaskan sebagian besar kemampuan mereka dan secara bertahap diserap ke dalam kecerdasan buatan berbasis organisme, seperti energi membuat mesin dalam sel manusia sendiri.

Seorang futuris bernama Ray Kurzweil, dalam bukunya "The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology", memprediksi pada 2029 komputer akan sepandai manusia dan pada 2045, komputer dapat miliaran kali lebih hebat dari kecerdasan manusia tanpa bantuan.

"Perkiraan saya tidak berubah, tapi pandangan konsensus ilmuwan kecerdasan buatan telah berubah menjadi lebih dekat dengan pandangan saya," tulis Kurzweil.

Ilmuwan komputer di University of Wisconsin-Madison, Bill Hibbard, tidak berani memprediksi. Tapi Hibbard tetap yakin kecerdasan buatan akan memiliki tingkat kecerdasan manusia beberapa kali di abad ke-21.

"Bahkan jika tebakan paling pesimis saya adalah benar, itu akan terjadi selama masa orang yang sudah lahir," kata Hibbard.

Sedangkan peneliti kecerdasan buatan lain skeptis dengan ide mesin yang melampaui kecerdasan manusia.

"Saya tidak melihat tanda-tanda bahwa kita dekat dengan singularitas," kata ilmuwan komputer di New York University, Ernest Davis.

Ia mengatakan karena itu intuisi fisik, manusia dapat menonton seseorang membatalkan secangkir kopi dan hanya tahu bahwa hasil akhirnya akan menjadi genangan air di lantai.

Sebuah program komputer, di sisi lain, harus melakukan simulasi melelahkan dan mengetahui ukuran yang tepat dari cangkir, ketinggian cangkir dari permukaan dan berbagai parameter lain untuk memahami hasilnya.

Hibbard menambahkan, setelah singularitas terwujud, orang pun tidak akan mati. Manusia dapat memperbaharui pada bagian sibernetika mesin tersebut.

"Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan-asalkan secara fisik mungkin dan tidak membutuhkan terlalu banyak energi," ujar Hibbard.

Menurut Hibbard, kekhawatiran lainnya, adalah ketika manusia menuju masa depan yang menghilangkan pekerjaan. Misalnya mobil yang bisa menyetir sendiri, dapat meningkatkan keselamatan, tetapi juga menempatkan jutaan pengemudi truk keluar dari pekerjaan.

"Sejauh ini, tidak ada orang yang berencana untuk kemungkinan tersebut," kata Hibbard.

Sebaliknya, saat mesin telah sepandai manusia, menurut Robin Hanson, ekonom George Mason University di Washington DC, ekonomi akan berlipat ganda setiap bulan atau minggu. Ini telah terjadi pada singularitas sebelumnya yakni revolusi pertanian dan industri.

Devolusi manusia?

Saat produktivitas melonjak, bisa jadi adalah bukan hal yang baik. Misalnya, robot mungkin bisa bertahan dalam skenario kehancuran yang akan melenyapkan manusia.

"Sebuah masyarakat atau ekonomi yang dibuat terutama dari robot tidak akan takut menghancurkan alam dengan cara yang sama dimana manusia harus takut merusak alam," kata Hanson.

Sementara itu, ahli mikrobiologi perguruan tinggi Kenyon, Joan Slonczewski, mengatakan manusia telah melepaskan banyak tugas yang cerdas seperti kemampuan menulis, navigasi, menghafalkan fakta atau menghitung.

Bahkan, sejak Gutenberg menemukan mesin cetak, manusia terus menerus mendefinisikan ulang kecerdasan dan memindahkan tugas kemanusiaan seperti merawat orangtua, orang sakit.

"Pertanyaannya yaitu bisakah kita berevolusi diri dari eksistensi, berangsur-angsur digantikan oleh mesin?" ujar Slonczewski.

"Saya pikir itu merupakan pertanyaan terbuka," ujarnya.

Slonczewski menganalogikan masa depan kemanusiaan kemungkinan mirip dengan mitokondria, pembangkit energi sel. Mitokondria sesekali adalah organisme independen, tapi pada beberapa titik, ditelan bakteri primitif.

Bahkan mitokondria kemudian membiarkan sel secara bertahap mengambil alih semua fungsi yang mereka gunakan, sampai sel memproduksi energi.

"Kita seperti mitokondria, kita menyediakan energi, tapi mereka semakin melakukan segala sesauatu," kata Slonczewski .(*)
sumber : (ANTARA News)
»»  READMORE...

KERETA API BUATAN INDONESIA


PT INKA persero merupakan salah satu badan usaha milik negara yang memproduksi Kereta Api Indonesia sejak tahun 1981.  Proses dan kegiatan produksi  Kereta Api baik untuk kebutuhan dalam dan luar negeri pun terus dilakukan disini, Selasa (7/5/2013).

GB
Sejak awal, PT INKA memang dikenal sebagai produsen lokomotif bertenaga uap di tahun 1981, kini seiring perkembangan jaman semua itu berubah menjadi lebih modern.

GB
Salah satu gerbong terbaru untuk kereta ekonomi AC yang sudah mulai di operasikan juga berasal dari sini.

GB
PT INKA juga memproduksi lokomotif diesel.

GB
Sedikitnya seluruh Kereta Rel Diesel di seluruh Indonesia keluaran PT INKA persero.

GB
Yang terbaru adalah monorail kontainer yang akan digunakan untuk mengangkut barang di Pelabuhan Tanjung Perak ini dikelola oleh Pelindo III.

GB
Yang menghebohkan, ternyata PT INKA juga mampu memproduksi monorel yang sangat dibutuhkan untuk moda taranportasi masal di kota-kota besar.


  ● detikFinance  
»»  READMORE...

Pesawat bertenaga surya terbang perdana melintasi AS



Solar Impulse saat mendarat di Phoenix, Amerika Serikat, Sabtu (4/5). Pesawat itu merupakan model dari pesawat lebih canggih yang akan dibangun untuk mengelilingi dunia pada 2015.(www.solarimpulse.com)
San Francisco (itmiliter) - Pesawat bertenaga surya yang dijuluki Solar Impulse mendarat dengan aman di Phoenix setelah terbang tanpa sedikitpun bahan bakar selama 18 jam dan 18 menit dari San Francisco, Amerika Serikat (AS), Sabtu (4/5).

Pesawat itu mencapai Phoenix dengan penerbangan berkecepatan rendah pada leg pertama dari rencana untuk melintasi AS hanya menggunakan tenaga matahari, demikian laporan Reuters.

Solar Impulse rencananya akan menyelesaikan penerbangan pertama melintasi AS dalam lima leg dan dijadwalkan singgah di Dallas, St Louis, Washington dan pemberhentian terakhir di New York.

Pesawat berbadan ramping itu berdengung ketika lepas landas dari bandara sipil-militer di dekat San Fransisco, Moffett Field, Jumat (3/5) pagi, dan mendarat dalam gelap dini hari di Sky Harbor International Airport di Phoenix menurut laman Solar Impulse.

Para awak pesawat tersebut merencanakan jeda di setiap pemberhentian untuk menunggu cuaca membaik. Pesawat diharapkan tiba di John F. Kennedy International Airport, New York, dalam sekitar dua bulan.

Pilot asal Swiss Bertrand Piccard, salah satu pengusung proyek itu, dan Andre Borschberg akan bergiliran menerbangkan pesawat dengan satu kursi kokpit itu. Pada penerbangan pertama ke Arizona, Piccard yang memegang kendali.

Pesawat yang dibuat dari serat karbon ringan itu memiliki lebar sayap seukuran sayap jet jumbo dan bobotnya hampir sama dengan bobot sebuah mobil kecil.

Dari kejauhan, pesawat yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa terbang selama 24 jam sekali jalan itu nampak seperti seperti serangga raksasa yang melayang di udara.

Pesawat itu digerakkan oleh energi yang dikumpulkan dari 12.000 sel surya pada bagian sayap yang secara simultan mengisi ulang empat baterai besar dengan kapasitas simpan setara sebuah mobil listrik Tesla, memungkinkannya terbang setelah gelap.

Desain yang ringan dan sayap yang lebar membuat pesawat itu mampu melakukan menyimpan energi, namun juga membuatnya rapuh, tidak bisa menembus angin kencang, kabut, hujan atau awan.

Pesawat tersebut mampu terbang hingga 28.000 kaki atau sekitar 8.500 meter dengan kecepatan rata-rata 43 mil per jam atau 69 kilometer per jam. 

Proyek yang dimulai sejak 2003 dengan anggaran untuk sepuluh tahun sekitar 112 juta dolar AS dan melibatkan sejumlah insinyur dari perusahaan pembuat eskalator asal Swiss, Schindler, serta bantuan penelitian dari grup perusahaan bahan kimia asal Belgia, Solvay.
sumber = antara
»»  READMORE...

Thursday, May 9, 2013

Airbus Military C295 Demonstrate release of Marte Missile






Airbus Military and MBDA have successfully demonstrated the release of an instrumented Marte MK2/S anti-ship inert missile installed under the wing of the C295 maritime patrol aircraft. This flight was the last of a series of trials performed in a joint Airbus Military – MBDA collaboration to validate the aerodynamic integration of Marte on C295, its handling qualities and performance tests.
The installation of weapons under the wings provides new operational capabilities to the C295 MPA allowing the aircraft to perform new missions demanded by customers. In the anti-submarine warfare (ASW) role, the C295 is already in-service carrying the MK46 torpedo.

This successful trial provides further proof of the operational versatility of the Marte missile and clearly establishes it as the benchmark weapon in the medium weight anti-ship missile sector.
The Marte Mk2/S is already integrated on the AW-101 and the NFH (Naval NH90) helicopters in service with the Italian Navy and integration activities for the Marte ER on the Eurofighter Typhoon are currently underway.
The MBDA Marte MK2/S missile is a fire-and-forget, all-weather, medium-range sea-skimming anti-ship weapon system, equipped with inertial mid-course guidance and radar homing terminal guidance, and capable of destroying small vessels and heavily damaging major vessels. The missile has a weight of 310 Kg and is 3.85 m long.

About MBDA
With industrial facilities in five European countries and within the USA, in 2012 MBDA achieved a turnover of €3 billion with an order book of €9.8 billion. With more than 90 armed forces customers in the world, MBDA is a world leader in missiles and missile systems.
MBDA is the only group capable of designing and producing missiles and missile systems that correspond to the full range of current and future operational needs of the three armed forces (land, sea and air). In total, the group offers a range of 45 missile systems and countermeasures products already in operational service and more than 15 others currently in development.
MBDA is jointly held by BAE SYSTEMS (37.5%), EADS (37.5%) and FINMECCANICA (25%).

About Airbus Military
Airbus Military is the only military and civic/humanitarian transport aircraft manufacturer to develop, produce, sell and provide support and services for a comprehensive family of airlifters with a payload range of three to 45 tonnes. An Airbus subsidiary, Airbus Military is responsible for the A400M programme, the A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT) and further military derivatives based on Airbus civil aircraft. These, together with the smaller 'Light & Medium' C295, CN235 and C212, make Airbus Military the global leader in the market for military transport, tanker and surveillance aircraft capable of performing the most varied types of missions. Altogether, Airbus Military has sold more than 1,000 aircraft to nearly 138 military, civil and governmental customers. More than 800 of these aircraft have been delivered. Airbus is an EADS company.

»»  READMORE...

AS 532 U2/A2 Cougar Multi-Purpose Helicopter, France


Spesifikasi

  • CrewTwo
  • Passenger Capacity20
  • Maiden FlightSeptember 1977
  • ManufacturerEurocopter Company
  • OperatorsFrench Army, Bulgarian Air Force, Slovenian Army, Saudi Arabia and Turkey armed forces
  • Length18.70m
  • Height4.92m

AS 532 U2/A2 Cougar multi-role helicopter
AS 532 U2/A2 Cougar multi-role helicopter

The Eurocopter Company manufactures the Cougar family of twin engine helicopters, of which more than 350 have been ordered. Eurocopter is a subsidiary of EADS (European Aeronautics Defence and Space) company formed by DaimlerChrysler Aerospace of Germany, Aerospatiale Matra of France and CASA of Spain.
The helicopter is in service with 28 air forces, eight armies and five navies. 64 are operational with the French Army. As well as the AS 532 A2 combat search and rescue (CSAR) helicopter, there are two other versions of the Cougar: the AS532 Horizon surveillance system operated with a ground station, and the AS532 UB/AB utility version.

Orders and deliveries

Orders include four for Slovenia which were delivered in 2003/2004 and 12 (four CSAR and eight utility) for Bulgaria, ordered in November 2004. The first AS 532 was delivered to Bulgaria in August 2006.
Deliveries for Bulgaria began in August 2006 and the final (12th) AS 532 was delivered in July 2009. The first eight helicopters delivered to Bulgaria are being used as utility helicopters for carrying troops or injured people on stretchers with other medics or passengers.
Spain ordered an additional two transport helicopters in December 2007. In November 2010, the Directorate General of Armaments (DGA) of France awarded a $294m contract to Eurocopter for the upgradation of four Cougar helicopters. The upgrade will involve the replacement of the avionics and self-protection systems and installation of a new terminal information system in helicopters.

Cougar multi-role helicopter design

The helicopter has a high level of crashworthiness, including impact tolerance and redundancy in vital systems and components. The occupants of the helicopter are protected up to impact velocities of 11.4m/sec. The fuel tanks are self-sealing, with a fuel crossfeed system that provides continuity of supply if one of the fuel circuits fails.
The main rotor and the tail rotor are equipped with high-impact-tolerance Spheriflex hubs, which have unlubricated metal antifriction bearings. The rotors are tolerant to impact from rounds from 20mm cannon and 12.7mm machine guns. The gearboxes are capable of running for 30 minutes up to one hour and 30 minutes without lubrication.
The helicopter is fitted with a 272kg capacity rescue hoist and an external sling. The enlarged sponsons provide additional stowage for carrying extra fuel, life rafts, floats or other equipment. The helicopter is equipped with emergency flotation landing gear for over-water missions.

Combat search and rescue (CSAR)

Eurocopter's combat search and rescue (CSAR) helicopter is in service with the armed forces of France, Saudi Arabia and Turkey.
"The AS 532 U2/A2 Cougar helicopter has a high level of crashworthiness."
A personnel locator system (PLS) is used to locate survivors, which is based on an encrypted communications homing system.
This communicates with the Thales Avionique Nadir mk2 navigation computer, which selects the navigation mode according to the phase of the mission and controls the integrated flight display, which is presented on four flat screens.
Nadir mk2 interfaces to the positional and navigation equipment on the helicopter, the global positioning system, the inertial navigation, Doppler radar, the VHF omnidirectional radio range equipment (VOR), tactical air navigation (TACAN) and distance measuring equipment (DME).
The Cougar is equipped with observation domes to the cabin doors, searchlight, forward-looking infrared sensor (FLIR) and panoramic view detection radar with homing and personnel location system functions. The crew are equipped with third-generation night-vision goggles, and the mk2 Cougar aircraft cockpit and cabin area is night-vision goggle compatible.
In search-and-rescue missions involving pick-up from the sea, higher operating modes of the helicopter's SFIM PA 165 digital auto-pilot are used and manoeuvres in transition and hovering flight are performed automatically.

Weapons

The aircraft is equipped with two outboard 20mm cannons, pod-mounted rockets and two 12.7mm machine guns.

Countermeasures

The search-and-rescue helicopter is fitted with a radar warner and a missile launch warning system. The helicopter also has radar and infrared jammers and a chaff and flare decoy system.
Eurocopter and the French ONERA research centre worked in cooperation on the jet exhaust deflectors / diluters, low infrared reflectance paint and low radar reflectance surfaces and in reducing the acoustic, radar and infra-red signatures of the helicopter.

Engines

The Cougar is equipped with two Turbomeca Makila 1A2 engines. The engines provide a maximum continuous power of 1,240kW and are able to maintain their maximum take-off power of 1,380kW for five minutes.
"The search-and-rescue helicopter has a radar warner and a missile launch warning system."
Centrisep multipurpose air intakes are provided for operations in high-dust / particulate or desert conditions.
For extreme long-range missions, the combat search and rescue helicopter can carry auxiliary fuel tanks in the cargo hook well, sponson tanks, cabin floor tanks and up to five ferry tanks. Rescue missions of 500nm and return to base are possible without in-flight refuelling. An in-flight refuelling capability is being developed by Eurocopter.

Performance

The AS 532 U2/A2 can climb at the rate of 6.2m a second. The maximum and cruise speed of the helicopter are 278km/h and 231km/h respectively. The range and service ceiling of the helicopter are 573km and 3,450m respectively. The maximum endurance of the helicopter is four hours. The helicopter weighs around 4,560kg, and the maximum take-off weight is 9,000kg.
Cougar in flight.
Medical evacuation rescue.
The Cabin console with radar and FLIR display.
The machine guns fire out of the doorways from within the cabin.
A French Cougar Mk. 2.
The hoist joystick and main hoist. The joystick allows the winchman to adjust the position of the aircraft in regard to the rescuees.
Cougar's cabin capacity allows for up to 12 stretcher patients or 29 seats.
Flotation gear for over-water flying.


»»  READMORE...

Ini Robot Terbang Terkecil di Dunia


Besarnya seperti serangga. Tak kalah gesitnya.


Robot serangga
Peneliti Universitas Harvard AS mengembangkan robot terbang terkecil di dunia. Mengadopsi bentuk serangga, beratnya hanya beberapa gram, tapi otot sayapnya punya kekuatan elektronik super cepat.

Dilansir BBC, 3 Mei 2013, robot yang dikembangkan dari serat karbon ini dapat digunakan untuk mendukung operasi penyelamatan. Misalnya, menavigasi reruntuhan bangunan melalui ruang sempit serta kemampuan terbang yang gesit, bisa menghindari pukulan manusia.

Dengan performa sayapnya, robot serangga ini mampu melakukan manuver senyap, datang tiba-tiba, melayang di udara hampir tak terlihat. Seperti halnya lalat, sayap fleksibel robot ini dapat mengepakkan sayap 120 kali tiap detik.

Soal performa sayap yang cepat itu, peneliti memanfaatkan bahan muatan listrik pada benda padat (pizoelektrik) khusus, yang menyusut tiap kali tegangan listrik diaplikasikan.

Dengan peralihan tegangan on and off yang sangat cepat itu, peneliti mampu menjadikan material khusus ini dapat berperilaku seperti otot kecil pada sayap lalat yang bergerak begitu cepat.

"Kami membuatnya menyusut dan rileks, seperti halnya otot biologis," ujar pemimpin peneliti, Dr. Kevin Ma dari Harvard University.

Perbandingan besar robot terbang dengan koin logam. (BBC)

Evakuasi Sampai Pertanian

Tujuan utama penelitian ini untuk memahami bagaimana serangga terbang, bukan untuk membangun robot yang bisa dijalankan. "Tapi, sebagai tujuan akhir, robot serangga bisa mendorong penelitian selanjutnya," tambahnya.

Meski penelitian hanya untuk mengkaji cara terbang serangga, ia tidak memungkiri, robot itu dapat mendukung evakuasi, pemantauan lingkungan sampai pertanian.

"Mereka bisa digunakan untuk alat pemantauan lingkungan. Robot disebar ke dalam habitat untuk mendeteksi jejak bahan kimia atau faktor lainnya," ujar Ma.

Saat ini, model robot masih didukung pengisi daya kecil yang ditambatkan pada robot itu. Nah, dalam beberapa tahun lagi, Dr Ma akan membuat versi robot yang sepenuhnya nirkabel.

"Sampai saat itu, proyek penelitian terus menjadi pekerjaan yang menawan, karena kemiripannya dengan serangga alami. Ini adalah pertunjukan seberapa jauh pencapaian kecerdikan rekayasa manusia, untuk meniru sistem alam," katanya.
Penelitian ini dilaporkan telah terbit di jurnal Science.

sumber : VIVAnews 
»»  READMORE...

Benarkah Serangan Israel ke Suriah Pre-emptive?





Para pemimpin Barat sedang berusaha menjustifikasi serangan terbaru Israel ke Suriah dengan menancapkan label "pre-emptive" yang secara langsung menggoyahkan supremasi ketentuan internasional.

Ahad dini hari 5 Mei 2013, rezim Zionis mengerahkan jet tempurnya melancarkan serangan udara dan roket ke sejumlah target di pinggiran Damaskus, Suriah. Serangan itu mengingatkan kita akan serangan kejutan Israel ke Irak, Sudan dan Tunisia pada dekade lalu.

Para pemimpin Barat termasuk Presiden AS Barack Obama, Menlu Inggris William Hague dan Menlu Jerman Guido Westerwelle, menyebut serangan itu "defensif". Apa yang diklaim oleh para pejabat Barat itu bertentangan dengan piagam PBB karena pasal 51 melarang penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional. Berdasarkan ketentuan tersebut, segala bentuk penggunaan kekuatan dan dalam kondisi apapun tidak dibenarkan kecuali dalam kondisi yang perinciannya disebutkan dalam piagam PBB. Namun Barat menjustifikasi serangan Israel itu dengan "doktrin pre-emptive".

Doktrin serangan pre-emptive mengemuka dalam ketentuan internasional pasca Perang Dingin dan sebenarnya merupakan penjelasan lebih luas dari pasal 51 Piagam  PBB. Doktrin tersebut pada hakikatnya reaksi bersenjata atas serangan segera pihak lawan. Amerika Serikat menggunakan doktrin tersebut untuk melancarkan invasi ke Afghanistan dan Irak. Namun benarkah serangan Israel dapat dikategorikan pre-emptive?

Di Timur Tengah, Israel telah melancarkan banyak serangan dengan mengandalkan doktrin serangan pre-emptive dan melanggar kedaulatan negara-negara regional. Pada tahun 1981, Israel membombardir instalasi nuklir Irak. Pada 2007, Israel menghancurkan sebuah fasilitas militer Suriah dan tahun 2012, rezim Zionis menarget sebuah pabrik di Sudan. Sementara kasus terbarunya adalah serangan jet tempur Zionis ke sebuah fasilitas riset militer di Damaskus. Doktrin pre-emptive berarti reaksi bersenjata atas serangan segera pihak lawan, akan tetapi dari semua kasus di atas, tidak ada rencana serangan segera sehingga Tel Aviv harus melancarkan serangan pre-emptive.

Barat dalam penjelasannya sangat menekankan masalah "urgensi dan kecepatan" dalam menjustifikasi serangan pre-emptive Israel. Adapun rezim Zionis membenarkan pelanggarannya itu dengan mengemukakan alasan hak pertahanan pre-emptive di berbagai lembaga internasional.

Pertanyaannya adalah, bukti kongkret apa yang dijadikan landasan bagi para pejabat Tel Aviv bahwa Suriah akan segera melancarkan serangan ke Israel?

Barat sendiri mengetahui bahwa penjelasan pertahanan pre-emptive itu memang tidak dapat dibenarkan dan bahkan Mahkamah Internasional juga menolaknya. Dalam dua kasus di Kongo dan Nikaragua, Mahkamah Internasional menilai serangan pre-emptive tidak bernilai dan menegaskan bahwa hak bertahan itu harus didahului dengan serangan (dari pihak lawan).

Pada hakikatnya bentuk pertahanan pre-emptive itu tidak punya pijakan hukum internasional karena tidak disebutkan dalam Piagam PBB yang hanya menyinggung tentang hak bertahan setelah kedaulatan sebuah negara dilanggar pihak lawan.

Pada tahun 2005, negara-negara Barat berusaha melegalkan serangan pre-emptive itu dalam koridor reformasi struktur PBB, namun upaya itu ditentang mayoritas negara anggota PBB.

Harus dikatakan bahwa alasan serangan pre-emptive ini digunakan sebagai alat untuk menyerang negara dunia ketiga dan meningkatkan instabilitas di tingkat global. Barat menggunakan serangan pre-emptive itu untuk menjustifikasi tujuan imperialisme mereka. 
sumber : IRIB Indonesia
»»  READMORE...