News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label pesawat. Show all posts
Showing posts with label pesawat. Show all posts

Sunday, November 2, 2014

Jelang Indo Defence 2014, SAAB JAS 39 Gripen NG dan Eurofighter Typhoon Bersaing Rebut Perhatian

european_fighters

Ajang pameran militer tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Indo Defence, kali ini akan berlangsung lebih menarik. Pasalnya beberapa manufaktur jet tempur dari manca negara akan bertarung untuk memperebutkan kontrak pengadaan jet multirole baru sebagai pengganti armada F-5 E/F Tiger II Skadron 14 yang akan masuk masa purna tugas. Pemerintah memang berketetapan untuk segera memilih jet anyar pengganti F-5 E/F, agar pada Rencana Strategis (Renstra) II 2015-2020 dapat dilakukan pembelian sehingga pesawat yang dimaksud datang tepat pada waktunya.
Seperti telah banyak disinggung, pihak Kemhan dan TNI AU telah menerima beberapa penawaran dari manufaktur, sebut saja Sukhoi Su-35BM dari Rusia, Dassault Rafale dari Perancis, Boeing F/A-18E/F Super Hornet dari AS, SAAB JAS 39 Gripen NG dari Swedia, dan Eurofighter Typhoon yang diproduksi bersama oleh Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia. Nilai kontrak yang diperubutkan memang belum dirilis oleh Kemhan, sebab pemerintah masih menimbang beberapa aspek, mulai dari harga, biaya operasional, skema ToT (Transfer of Technology), dan beragam paket pendukungnya.
Dari beberapa kandidat jet tempur yang disebutkan diatas, yang berpeluang besar dipinang TNI AU adalah Su-35BM, JAS 39 Gripen NG, dan Eurofighter Typhoon. Ketiga manufaktur pengusung jet tersebut pun sudah sejak beberapa lama menjalankan kampanye promo untuk mensosialisasikan produk ke masyarakat. Namun, bila dipertajam lagi ke kebutuhan untuk mendukung ToT, maka pilihan mengerucut ke JAS 39 Gripen N dan Eurofighter Typhoon, sebabSukhoi di nilai kurang akomodatif untuk ToT.
Su-35 paling di favoritkan oleh masyarakat sebagai pengganti F-5E/F TNI AU.
Su-35 paling di favoritkan oleh masyarakat sebagai pengganti F-5E/F TNI AU.
SAAB JAS 39 Gripen NG vs Eurofighter Typhoon
Menjelang berlangsung Indo Defence 2014 pada 5 -8 November mendatang, ada yang unik dilakukan dua principal jet tempur asal Eropa Barat ini. Contohnya Eurofighter Typhoon akan menggelar konfrensi pers dan media briefing pada 3 November 2014. Eurofighter cukup gencar merangkul media dan mitra blogger, bahkan lewat kampanye “Indonesia Lepas Landas,” Eurofighter mengadakan aneka lomba foto/video hingga car free day eksklusif di Jakarta pada 2 November 2014. Sementara kubu SAAB yang menyodorkan JAS 39 Gripen NG mengundang mitra media dan blogger untuk melihat secara langsung cockpit demonstrator Gripen yang akan dipajang di Indo Defence 2014. Tak mau ketinggalan, Eurofighter pun akan menampilkan cockpit demonstrator Typhoon di acara yang sama.
Perbandingan dimensi Gripen dan Typhoon.
Perbandingan dimensi Gripen dan Typhoon.
Gripen menganut sistem STOL, ideal untuk dioperasikan dari landasan yang pendek.
Gripen menganut sistem STOL, ideal untuk dioperasikan dari landasan yang pendek.
Ragam senjata pada Gripen NG
Ragam senjata pada Gripen NG
Baik JAS 39 Gripen NG dan Eurofighter Typhoon punya kemampuan multirole fighter. Keduanya punya spesifikasi teknis yang berbeda, dilihat dari jumlah mesin, Gripen NG hanya dibekali satu mesin, sementara Typhoon dijejali dua mesin jet. Dari segi dimensi, bobot dan harga produksi, Eurofighter Typhoon pun lebih mahal. Gripen NG per unitnya dipatok US$60 juta, dan Typhoon per unitnya mencapai US$125 juta.
JAS 39 Gripen NG dan Eurofighter Typhoon punya kans untuk memenangkan kontrak, dari aspek ToT keduanya siap memberi penawaran ‘terbaik.’ Usul pembelian Thyphoon diajukan oleh PT Dirgantara Indonesia (DI). PT DI beralasan para produsen Thyphoon lebih mau berbagi ilmu atau transfer teknologi. Bahkan, sangat mungkin PT DI diberi lisensi memproduksi beberapa suku cadang. Sebaliknya pihak SAAB memberi opsi ToT hingga 100% jika Indonesia membeli sistem pertahanan buatan mereka. SAAB menegaskan transfer teknologi itu diperlukan agar Indonesia mandiri di masa depan. Demikian ditegaskan Wakil Presiden SAAB Group dan Kepala SAAB Indonesia Peter Carlqvist pada Singapore Air Show, di Singapura, Carlqvist menegaskan, transfer teknologi selalu ditawarkan SAAB dalam negosiasi dengan pihak mana pun. Dari segi rekam jejak di Asia Tenggara, Gripen NG sudah dipakai oleh AU Thailand plus dengan program ToT yang ditawarkan. Dalam paket pengadaan alutsista, SAAB juga menawarkan radar Giraffe AMB dan rudal MANPADS RBS-70NG kepada TNI AD.
Eurofighter Tyhphoon RAF
Eurofighter Tyhphoon RAF
Eurofighter Typhoon dengan bekal senjata lengkap.
Eurofighter Typhoon dengan bekal senjata lengkap.
Promo JAS Gripen NG yang bisa bikin pria "meleleh."
Promo JAS Gripen NG yang bisa bikin pria “meleleh.”
Nah, mana diantara keduanya yang akan dipilih Kemhan dan TNI AU, jawabannya mungkin akan kita ketahui saat Indo Defence 2014 nanti. Tidak menutup kemungkinan kubu Sukhoi dengan Su-35BM mampu menyundul di kesempatan terakhir. Berikut spesifikasi dasar dari JAS 39 Gripen NG dan Eurofighter Typhoon, dibangun dari platform jet tempur NATO, maka dari sisi perlengkapan senjata, banyak diantaranya yang saling kompatibel. (HANS)
2345
souece:indomiliter
»»  READMORE...

Thursday, October 30, 2014

Up to RM6bil for Fighter Jets?


RMAF MiG-29N (photo : ftpmirror)

KINIBIZ- The Royal Malaysian Air Force (RMAF), which is looking to replace its fleet of 18 Russian-made Mikoyan-29N Fulcrum jet fighters, will soon be accepting tenders for multi-role combat aircraft (MRCA) from defence aviation companies.

Industry sources told KiniBiz that Malaysia is going to accept proposals soon, though Defence Minister Hishammuddin Hussein has stated that Malaysia has not made any decision on whether or not to replace the ageing MiG-29N Fulcrums in RMAF’s fleet.

At an average cost of around US$100 million (RM322 million) per fighter with supporting equipment, maintenance, and training, the cost of 18 fighters is likely to be around RM6 billion, sources said.

In March last year, Malaysia had shortlisted five fighter jets as potential replacements for the flagging MiG-29Ns: the Eurofighter Typhoon by the European consortium of BAE Systems, European Aeronautic Defence and Space Company (EADS) and Finmeccanica; the French-based Dassault Aviation’s Rafale; Boeing’s F/A-18E/F Super Hornet; the Russian-made Sukhoi-30 Flanker-C, and Swedish firm Saab’s JAS-39 Gripen.
»»  READMORE...

Tuesday, October 28, 2014

Brasil Beli 36 Gripen Next Generation


Gripen E


Brasil telah menandatangani kontrak pembelian 36 pesawat tempur Gripen E/F (Next Generation) senilai USD 5,4 miliar, pihak SAAB Swedia mengumumkan di laman resminya pada 27 Oktober 2014.

Kontrak ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan Brasil melalui Command Aeronautics (COMAER), menindaklanjuti keputusan Angkatan Udara Brasil (Força Aérea Brasileira-FAB) yang memilih untuk menggunakan pesawat tempur buatan Swedia ini karena memenuhi persyaratan program modernisasi Angkatan Udara Brasil.

Pengiriman Gripen ke Angkatan Udara Brasil akan dimulai pada tahun 2019 hingga tahun 2024 dengan rincian 28 pesawat tempur Gripen E kursi tunggal dan delapan Gripen F kursi ganda.

Sebagai bagian dari kesepakatan, pihak SAAB dan COMAER juga menandatangani perjanjian 10 tahun untuk proyek-proyek kerjasama industri, termasuk transfer teknologi ke industri pertahanan Brasil. Sebagai satu-satunya pelanggan internasional yang membeli Gripen F sejauh ini, pihak Brasil akan sangat dilibatkan dalam pengembangan dan tanggung jawab untuk proses produksinya.

Menurut pihak SAAB, komitmen Brasil memilih Gripen E/F setidaknya akan mengamankan operasional pesawat jenis ini hingga tahun 2050. Namun meskipun begitu, walaupun tanpa pembelian Brasil, program Gripen E tetap pada jalur yang aman mengingat saat ini Angkatan Udara Swedia sendiri telah memesan 60 unit Gripen E (kemungkinan akan menambah 10 unit lagi).

Sebelumnya dalam referendum nasional pada bulan Mei, Swiss yang digadang-gadang menjadi pembeli yang paling potensial telah menolak membeli Gripen Next Generation, sehingga apabila SAAB gagal mengamankan kontrak dari Brasil maka akan sangat memalukan.
Gripen saat ini digunakan oleh dengan Swedia, Ceko, Hungaria, Afrika Selatan, Thailand, dan Inggris.
Selain menandatangani kontrak internasional pertama SAAB untuk Gripen Next Generation (NG), kontrak dengan Brasil juga termasuk dua hal utama yaitu pengembangan lebih jauh Gripen F kursi ganda dan prospek pengembangan Gripen F varian angkatan laut atau Gripen M (Marine) yang nantinya dapat dioperasikan dari kapal induk São Paulo Brasil.

Gripen NG merupakan pesawat tempur canggih dan fleksibel. Dibanding varian sebelumnya, Gripen NG memiliki daya dorong yang lebih besar, jangkauan lebih jauh dan daya tahan yang lebih baik. Selain itu, kapasitas senjata telah ditingkatkan, penambahan sensor baru termasuk radar AESA canggih, sistem peperangan elektronik yang sangat efektif dan sistem komunikasi multi-fungsi. 

Meskipun lebih mahal untuk dioperasikan dan diproduksi, pesawat kursi ganda telah semakin populer karena memungkinkan pilot di dalam kokpit berbagi beban kerja yang saat ini semakin kompleks. Hal ini juga ditunjukkan oleh Angkatan Laut AS dalam keputusannya untuk menyeimbangkan kembali armadanya dengan membeli pesawat tempur Super Hornet kursi ganda (F/A-18F) daripada satu kursi (FA-18E).

Gambar: Ilustrasi Gripen E dalam skema warna Angkatan Udara Brasil. Kredit: SAAB
source: artileri.org

»»  READMORE...

Monday, May 26, 2014

Rusia Tambah 16 MiG-29SMT pada 2015-2016

MiG-29SMT

Enam belas jet tempur multiperan MiG-29SMT Fulcrum akan bergabung dengan Angkatan Udara Rusia pada rentang 2015-2016 di bawah kontrak yang sudah disepakati sebelumnya, Direktur Jenderal perusahaan MiG, Sergei Korotkov mengatakan saat pameran senjata KADEX 2014 di Astana, Kazakhstan, Sabtu, 24 Mei 2014.

"Kami harus menyelesaikan kontrak (pengiriman) pada tahun 2016. Delapan pesawat akan dikirim pada tahun depan dan delapan lainnya pada 2016," Korotkov mengatakan.

Dilaporkan sebelumnya bahwa Departemen Pertahanan Rusia dan perusahaan MiG telah menandatangani kontrak untuk pengadaan 16 MiG-29SMT senilai 17 miliar rubel (USD 500 juta). Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa kontrak pembelian tersebut sudah fasilitas pelayanan dasar dan peralatan pemantauan dan dukungan lainnya.

Menurut Korotkov, pengadaan 16 jet tempur MiG-29SMT ini ditujukan untuk tetap menjaga variasi tempur Angkatan Udara Rusia. Angkatan Udara Rusia sebelumnya telah menerima 18 jet tempur MiG-29SMT pada 2009-2010. "Pesawat-pesawat terbukti baik dioperasikan dan memiliki jangkauan yang signifikan ditambah dengan penggunaan senjata modern untuk menghancurkan target udara dan darat," katanya.

Mengomentari soal kontrak, Wakil Menteri Pertahanan, Yury Borisov, mengatakan bahwa pembelian atau kepercayaan Rusia ini akan menjadi batu loncatan atau semangat bagi perusahaan MiG untuk mengembangkan jet tempur yang lebih baik lagi, seperti MiG-35.

MiG-29SMT adalah versi yang lebih modern dari MiG-29, jet tempur untuk garis depan pertempuran. Pesawat ini bisa dilengkapi dengan berbagai rudal udara ke udara dan rudal udara ke permukaan dan senjata-senjata lain yang akan membuatnya efisien dalam menghancurkan target udara, darat dan objek yang berlayar di laut.

Dilaporkan bahwa efisiensi tempur MiG-29SMT telah meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan MiG-29 versi standar, dan biaya pengoperasiannya pun telah berkurang menjadi sekitar 60 persen saja, Interfax melaporkan. (Voice of Russia).

Gambar MiG-29SMT: Alex Beltyukov - RuSpotters Team
»»  READMORE...

PT DI Akan Miliki Hak Cipta Atas Rancangan Heli Anti Kapal Selam

PTDI akan memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam (photo : Airbus Helicopter)

PTDI Rancang Helikopter Khusus Anti Kapal Selam

Jakarta -Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pabrikan pesawat dan helikopter, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mampu merancang konsep helikopter super canggih. PTDI memiliki rancangan helikopter yang dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam. Sonar ini mampu mendeteksi keberadaan kapal selam.


“Karena ini konsep dari PTDI jadi yang copy right atau hak cipta adalah PTDI,” kata Direktur Utama PTDI (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014)

Pengembangan helikopter ini bermula ketika TNI AL ingin memiliki helikopter super canggih namun harus berukuran relatif kecil dan bisa mendarat di kapal perang tipe Frigate terbaru. Alhasil PTDI mencari cara agar bisa membuat helikopter berukuran sedang yang bisa mendarat di deck kapal perang namun mampu memiliki teknologi anti kapal selam.

Biasanya teknologi kapal selam ini ditemui dan terpasang pada helikpter berukuran besar. PTDI menggandeng produsen helikopter yakni Eurocopter dan produsen sonar dunia untuk memproduksi helikopter medium dengan teknologi sonar anti kapal selam. Proses merancang helikopter ini memerlukan waktu 2 tahun.

“Waktu kita (pemerintah) beli kapal Fregate buatan Belanda Ahmad Yani class). Itu yang sudah datang. Itu deck load hanya 5 ton jadi kita harus cari helikopter bobot 5 ton dengan senjata yang canggih. Orang mengatakan saya punya sonar bagus tapi helikopternya yang gede-gede. Nggak mungkin (untuk heli sedang). Akhirnya pakai sonar kelas lebih rendah. Kalau sonar long range itu frekuensi rendah. Dia antene gede,” terangnya.

Akhirnya lahir helikopter pertama di kelas medium yang memiliki teknologi sonar anti kapal selam. Teknologi ini dikembangkan pada jenis Helikopter AS565 Panther. Meski tidak memproduksi helikopter dan sonar, namun PTDI memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam tersebut.

“Buat kami ini pertama. Bagi pabrik helikopter ide pertama dan ternyata feasible untuk dikerjakan. Yang bikin sonar, dia bilang ini pertama kali dia akan pasang sonar di helikopter ini (medium),” ujarnya.

Helikopter AS 565 Panther telah dipesan TNI AL sebanyak 11 unit. Dari 11 unit tersebut, sebanyak 2 unit dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam dan 9 tidak dilengkapi namun memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu dipasang teknologi anti kapal selam.

“Tahap pertama 11, namun yang pakai sonar ada 2. Itu delivery terakhir,” tegasnya.
»»  READMORE...