News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Monday, May 13, 2013

Hypersonic Missile Sets World Record on Longest Hypersonic Flight



The X-51A Waverider prepares for flight
The X-51A Waverider prepares for the longest the longest air-breathing hypersonic flight ever.
The fourth and final flight of theBoeing X-51A Waverider test program has accomplished a breakthrough in the development of flight reaching Mach 5.1 over the Pacific Ocean May 1. The WaveRider unmanned hypersonic vehicle traveled more than 230 nautical miles in just over six minutes over the Point Mugu Naval Air Warfare Center Sea Range, Calif.
It was the longest air-breathing, scramjet-powered hypersonic flight in history, flying for three and a half minutes on scramjet power at a top speed of Mach 5.1. The vehicle flew for a total time of more than six minutes. Charlie Brink, the X-51A program manager for the Air Force Research Laboratory Aerospace Systems Directorate described the test as “full mission success”. It was the last of four test vehicles originally conceived when the $300 million technology demonstration program began in 2004. The program objective was to prove the viability of air-breathing, high-speed scramjet propulsion.
The X-51A Waverider prepares to launch its historic fourth and final flight. The cruiser achieved Mach 5.1 traveling 230 nautical miles in just over six minutes, making this test the longest air-breathing hypersonic flight ever. (U.S. Air Force photo/Bobbi Zapka)
The X-51A Waverider prepares to launch its historic fourth and final flight. The cruiser achieved Mach 5.1 traveling 230 nautical miles in just over six minutes, making this test the longest air-breathing hypersonic flight ever. (U.S. Air Force photo/Bobbi Zapka)
“This demonstration of a practical hypersonic scramjet engine is a historic achievement that has been years in the making,” said Darryl Davis, president, BoeingPhantom Works. “This test proves the technology has matured to the point that it opens the door to practical applications, such as advanced defense systems and more cost-effective access to space.”
A U.S. Air Force B-52H Stratofortress from Edwards Air Force Base released the X-51A from 50,000 feet above the Point Mugu Naval Air Warfare Center Sea Range at 10:55 a.m. Pacific time. After the B-52 released the X-51A, a solid rocket booster accelerated the vehicle for about 26 seconds to Mach 4.8 before the booster and a connecting interstage were jettisoned. After separating from the booster, the cruiser’s supersonic combustion ramjet, or scramjet, engine then lit and accelerated the aircraft to Mach 5.1 at 60,000 feet. After exhausting its 240-second fuel supply, the vehicle continued to send back telemetry data until it splashed down into the ocean and was destroyed as designed. At impact, 370 seconds of data were collected from the experiment. The X-51A made a controlled dive into the Pacific Ocean at the conclusion of its mission.
The X-51A is unique primarily due to its use of JP-7 hydrocarbon jet fuel in its scramjet engine. Other vehicles have achieved hypersonic, generally defined as speeds above Mach 5, flight with the use of hydrogen fuel. Without any moving parts, hydrocarbon fuel is injected into the scramjet’s combustion chamber where it mixes with the air rushing through the chamber and is ignited in a process likened to lighting a match in a hurricane.
“I believe all we have learned from the X-51A Waverider will serve as the bedrock for future hypersonics research and ultimately the practical application of hypersonic flight,” Brink said. As a technology demonstration program, there is no immediate successor to the X-51A program. However, the Air Force will continue hypersonic research and the successes of the X-51A will pay dividends to the High Speed Strike Weapon program currently in its early formation phase with AFRL.
Aviation Week Guy Noris added: “The success of the flight, which included 240-seconds of powered flight in scramjet mode – the longest ever achieved by an air-breather, is particularly important to the Air Force as it seeks to develop a hypersonic capability. Interest in high-speed, long range strike weapons which can fly at hypersonic speeds grew in the 2000s with the requirement to prosecute fleeting targets in counter-terrorism operations, and is assuming fresh importance with the strategic ‘pivot’ to Asia.”
Noris added this last flight incorporated improvements and lessons learned from the three former flights. These included better sealing between interfaces in the engine flow-path, hardware and software changes and redesign of the control fins.
The X-51A program is a collaborative effort of the Air Force Research Laboratory and the Defense Advanced Research Projects Agency, with industry partners Boeing and Pratt & Whitney Rocketdyne. Boeing performed program management, design and integration in Huntington Beach, Calif.
sumber : defence update
»»  READMORE...

Sunday, May 12, 2013

Turki Luncurkan Proyek Pesawat UAV Bersenjata (SIHA)



Pesawat UAV Anka MALE buatan Turki. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Industri pertahanan di Turki kini makin bergerak maju dengan makin berkembangnya produk pesawat UAV militer yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Udara Turki (TAF). Setelah proyek pengembangan pesawat UAV Anka MALE mulai masuk tahap produksi, kini negara itu kembali melaksanakan proyek pesawat UAV yang dipersenjatai dan disebut sebagai Strike UAV (SIHA).

Proyek SIHA secara resmi telah mendapatkan lampu hijau dari Komite Eksekutif Industri Pertahanan Turki pada bulan Juli 2012 dan saat ini sedang dalam persiapan program awal. Pemerintah Turki menunjuk pihak Turki Aerospace Industries (TAI) sebagai pelaksana pekerjaan proyek militer ini. TAI menggunakan model seri pesawat UAV Anka sebagai dasar pengembangan SIHA dimana pesawat UAV bersenjata ini diharapkan memiliki bobot sekitar 5.000 kg dan sanggup membawa muatan eksternal 1.000 kg hingga 1.500 kg.

Pejabat eksekutif dari divisi sistem kendaraan tak berawak TAI, Serdar Olez, mengharapkan kontrak untuk tahap konseptual bisa ditandatangani pada akhir tahun ini. "Komite telah mengambil keputusan untuk memulai program SIHA dan TAI akan menjadi kontraktor utama untuk proyek ini. Ini akan mengawali tahap desain konseptual utama dan saat ini ini kami sedang menunggu rilis dari RFP," kata Olez.

Olez menambahkan setelah prototipe pesawat selesai dibuat, maka penerbangan pertama akan berlangsung dalam waktu empat tahun. Pesawat UAV baru ini diharapkan mampu terbang lebih dari 20 jam, memiliki ketinggian penerbangan hingga 40.000 kaki, dan kecepatan jelajah sekitar 200 knot hingga 250 knot. TAI akan mengembangkan mesin turboprop baru untuk proyek tersebut. Pesawat ini dirancang untuk bisa mengoperasikan sistem rudal Udara-ke-Permukaan dan bom yang dipandu laser.
»»  READMORE...

JERMAN PASTIKAN JUAL 164 TANK KE INDONESIA




Leopard Revolution

Kanselir Jerman Dr. Angela Merkel telah memberikan lampu hijau kepada pabrikan senjata Rheinmettal AG yang berbasis di Dusseldorf untuk menjual 164 tank ke Indonesia, diungkapkan oleh seorang juru bicara Kementerian Ekonomi Jerman. Namun, tidak disebutkan berapa biaya yang harus dikeluarkan Indonesia untuk mengakuisisi 164 tank tersebut.

Kesepakatan penjualan ini terdiri dari 104 tank Leopard 2 dan 50 kendaraan tempur infanteri tank Marder 1A2s berikut amunisinya, 4 kendaraan lapis baja recovery, 3 kendaraan lapis baja (peluncur) jembatan, dan 3 kendaraan lapis baja penggusur tanah yang dikenal di Jerman sebagai "Pioneer tank."
Dikutip dari Der Spiegel, pemerintah Jerman tidak mengungkapkan apakah tank-tank tersebut baru atau bekas pakai tentara Jerman. Sebelumnya Der Spiegel yang melaporkan ekspor tank ke Indonesia mengutip dokumen pemerintah Jerman.

Dewan Keamanan Nasional Merkel memutuskan lisensi untuk ekspor senjata tersebut dalam pertemuan tertutup dan biasanya tidak akan diumumkan hingga rinciannya dirilis dalam laporan tahunan ekspor pertahanan. Hal ini terungkap setelah anggota parlemen dari partai oposisi Greens Katja Keul secara resmi mengajukan pertanyaan kepada pemerintah Jerman terkait rencana penjualan tank ke Indonesia.

Indonesia, negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, sebelumnya memang telah mengindikasikan akan membeli 130 tank Leopard dari Rheinmettal AG sebagai bagian dari program modernisasi alutsista TNI senilai 15 miliar dolar untuk lima tahun (2010-2014) saat kunjungan Merkel ke Indonesia pada 2012 lalu. Nilai perkiraan awal pada saat itu adalah 280 juta dolar untuk 130 tank.

Partai-partai oposisi di negara yang pernah memiliki kekuasaan kolonial di Indonesia, Belanda, sebelumnya telah menolak pengajuan untuk membeli tank Leopard yang diusulkan oleh Indonesia dengan alasan khawatir akan digunakan Indonesia untuk melanggar HAM.

Steffen Seibert, juru bicara Merkel, membela kesepakatan penjualan dengan Indonesia dengan mengatakan bahwa Indonesia adalah "negara mitra penting" yang sebelumnya telah mengimpor peralatan pertahanan buatan Jerman.

"Indonesia, dalam pandangan pemerintah Jerman, sejak 1998 mengalami perubahan politik mendalam menuju sistem politik demokratis," katanya, "Upaya reformasi pemerintah Indonesia terus berlangsung."

Dia ingat perkataan Merkel, saat kunjungan Presiden Indonesia ke Berlin Maret lalu, yang memuji Indonesia adalah teladan bagi keragaman beragama. Saat kunjungan ke Indonesia pun Merkel mengungkapkan beberapa alasan Jerman mau menjual alutsista kepada Indonesia, diantaranya : pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin meningkat dan Indonesia bukan negara pelanggar HAM.

Pemerintahan Merkel telah mempromosikan penjualan senjata ke negara-negara yang dianggap mitra strategis dan baru-baru ini juga telah disetujui penjualan senjata ke Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab yang dianggap kontroversial. Isu penjualan senjata memang isu kritis di Jerman.

Tank Leopard 2 saat ini dianggap sebagai salah satu tank yang paling canggih di dunia. Diproduksi oleh Krauss Maffei Wegmann-(KMW) sebagai penerus tank Leopard 1, beberapa varian telah dibuat untuk Angkatan Darat Jerman selama operasi tempur sejak tahun 1979.
»»  READMORE...

Drone UAV YaBhon RX









Overview
YABHON-RX is a tactical UAV used for day and night surveillance, search and rescue, border control, environmental monitoring and related unmanned missions.The airframe consists of a mid wing configuration with pod fuselage, single pusher engine, twin boom tail unit and fully retractable landing gear.

The airframe is made mainly as a sandwich of high density structural foam between glass fiber/epoxy skins. Airframe modules can be assembled easily in the field.

YABHON-RX is intended to be operated from a launcher and designed for fully automatic take-off and landing. An emergency parachute system provides full safety if power or command link failed.












Specifications
Wingspan 5.8 m19 ft
Length 3.75 m12.3 ft
Height 1 m3.28 ft
Empty weight 70 kg154 lb
Max. take-off weight 160 kg352 lb
Payload weight 50 kg110 lb
Fuel tank capacity50 lt13 gallon
Power50 hp









Flight Performance
Stall speed75 km/h[20 m/s]40 kt
Cruise speed204 km/h[57 m/s]110 kt
Maximum speed240 km/h[67 m/s]130 kt
Climbing rate (sea level)[27 m/s]
Endurance6 hrs
Ceiling (theoretical)5500 m18000 ft


Dimensions
Wingspan
5.8 m19 ft
Length
3.75 m
12.3 ft
Height
1 m3.28 ft
»»  READMORE...

ITS dan PT Solusi-247 kembangkan radar maritim



 Beberapa bidang riset yang akan kami lakukan dengan ITS antara lain Marine Radar, Electric Support Measure (ESM), Radio Direction Finding (RDF) Receiver , Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), dan Integrated Surveillance framework,

Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan perusahaan penyedia layanan teknologi komunikasi PT Solusi-247 menjalin kerja sama untuk mengembangkan "marine radar" (radar maritim).

Kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT Solusi-247, Beno Pradekso, bersama Pembantu Rektor IV ITS Prof Dr Darminto di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Rabu.

Beno Pradekso mengatakan pihaknya kini sedang gencar melakukan riset untuk pengembangan produk perusahaannya, karena itu pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, seperti ITS.

"Beberapa bidang riset yang akan kami lakukan dengan ITS antara lain Marine Radar, Electric Support Measure (ESM), Radio Direction Finding (RDF) Receiver , Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), dan Integrated Surveillance framework," katanya.

Menurut dia, perusahaannya telah melakukan riset ESM hampir 90 persen dan telah diuji di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Pengawasan laut yang belum optimal, karena keterbatasan fasilitas menjadi dasar bagi Solusi 247 untuk mendalami aplikasi teknologi produk itu di bidang maritim," katanya.

Hingga saat ini, persoalan mengenai kecelakaan kapal, "illegal traffic", pencurian ikan, hingga pembajakan kapal nelayan menjadi masalah tak terpecahkan karena lemahnya aktivitas monitoring.

"Oleh karena itu, kami mengajak ITS, kami memiliki pengetahuan tentang sensor dan radarnya, sedangkan ITS punya pengetahuan di bidang maritim dan perkapalannya," katanya.

Beno mengatakan ITS adalah mitra yang sangat sesuai untuk melaksanakan kerja sama ini, karena ITS unggul di bidang maritim, lalu keberadaan sentra nelayan, pelabuhan internasional, dan armada pertahanan laut di Surabaya juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Senada dengan itu, Prof Dr Darminto mengatakan kerja sama itu bukan pertama kalinya ITS bekerja sama dengan pihak swasta.

"Kami berharap produk-produk yang dikembangkan nanti dapat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat," katanya.

Untuk tahap awal, kerja sama akan dilangsungkan selama dua tahun. "Tidak perlu kita menggunakan produk asing untuk aplikasi ICT di Indonesia. Lebih baik kita buat sendiri dan kita kuasai teknologinya," katanya.
sumber : (ANTARA Newsa) 
»»  READMORE...

PERINGATAN DINI BERBASIS RADAR



http://202.46.15.98/file/gallery/2013/03/radar.pngJakarta  Massa udara yang mengisi ruang udara baik berupa awan, asap, maupun debu dalam jumlah yang masif berpotensi mengancam aktivitas manusia di bumi hingga menimbulkan bencana. Pemantauan dengan sistem radar dapat mengantisipasi hingga menjadi bagian dari peringatan dini bencana.

Teknologi radar (radio detection and ranging) pertama kali diterapkan di dunia penerbangan untuk memantau lalu lintas.

Teknologi ini menggunakan alat pemancar gelombang elektromagnetik. Pancaran gelombang akan mengenai obyek dan memantulkan. Pantulan ditangkap oleh alat penerima di sistem radar. Sinyal yang diterima dianalisis oleh sistem komputer untuk menentukan lokasi dan jenis obyek yang ”tertangkap” radar.

Penggunaan gelombang elektromagnetik diperkenalkan oleh Christian Hulsmeyer pada tahun 1904. Gelombang itu mampu mendeteksi kapal pada cuaca berkabut tebal. Radar mulai banyak dikembangkan sebelum Perang Dunia II oleh ilmuwan Amerika Serikat dan Eropa. Yang paling berperan adalah Robert Watson-Watt dari Skotlandia. Ia mengembangkan peralatan navigasi dan menara radio mulai tahun 1915. Ia menciptakan radar yang mampu mendeteksi pesawat terbang sejarak 64 kilometer.

Tahun 1939 ditemukan pemancar gelombang mikro berkekuatan tinggi dengan antena kecil yang dapat mendeteksi sasaran dalam cuaca gelap dan berkabut. Selanjutnya, teknologi radar berkembang pesat, tingkat resolusi dan portabilitas makin tinggi. Aplikasinya meluas, termasuk untuk memantau atmosfer, cuaca, dan aktivitas vulkanik.

Pemantauan cuaca 

Pengamatan kondisi atmosfer di Indonesia menggunakan radar dilakukan sejak pertengahan 1980-an, di International Center for Equatorial Atmosphere Research (ICEAR) di Kototabang, Sumatera Barat.

Di perbukitan itu dipasang sistem radar untuk mengamati kondisi atmosfer di khatulistiwa. Dari pemantauan dapat diketahui perilaku atau dinamika atmosfer dan profilnya. Stasiun EAR menggunakan radar Doppler beroperasi sejak Maret 2001. Riset dilaksanakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bekerja sama dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH), Kyoto University, kata Thomas Djamaluddin, Deputi Kepala Lapan Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan.

Stasiun pengamatan ini memiliki 560 rangkaian antena membentuk formasi lingkaran berdiameter 110 meter. Konfigurasi sistem ini memungkinkan penembakan gelombang berkecepatan 5.000 kali per detik, demikian Mamoru Yamamoto, Profesor dari Universitas Kyoto, menguraikan.

Fasilitas ini dapat mengobservasi turbulensi angin di ketinggian hingga 20 kilometer di atas permukaan bumi dan gangguan udara di lapisan ionosfer di ketinggian lebih dari 90 kilometer.

Dengan fasilitas radar beresolusi tinggi dilakukan pemantauan angin untuk mengetahui secara detail struktur atmosfer ekuator, terkait dengan pertumbuhan dan konveksi awan kumulonimbus, kata Eddy Hermawan, peneliti di Stasiun EAR.

Penelitian pola angin monsun di lapisan tersebut bertujuan untuk pemodelan prakiraan terjadinya penyimpangan dan kondisi cuaca ekstrem, seperti kekeringan dan musim basah. ”Hasil pemantauan, pola pergerakan ozon dan gas rumah kaca di atmosfer akan meningkatkan pemahaman kita pada fenomena El Nino dan perubahan iklim,” Eddy menguraikan.

Prakiraan cuaca perkotaan 

Pengamatan atmosfer dengan radar juga dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melibatkan peneliti dari beberapa negara, antara lain Jepang, untuk mengoperasikan Boundary Layer Radar dan Middle Frequency Radar.

Sistem radar beresolusi tinggi, menurut Fadli Syamsudin, Manajer Proyek Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps) Maritime Continent Center of Excellence (MCCOE) dapat digunakan untuk membuat pemodelan pola cuaca dalam skala perkotaan.

Pemodelan curah hujan sangat diperlukan di wilayah perkotaan, yaitu dalam penataan ruang dan mitigasi bencana banjir. Pengembangan model peramalan cuaca untuk kawasan khatulistiwa dilakukan BPPT bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-earth Science and Technology (Jamstec).

Model tersebut berbasis data pengamatan dari jejaring stasiun radar Hydrometeorological Array for Intraseasonal Variation Monsoon Automonitoring (Harimau). Dalam jejaring ini ada lima stasiun radar yang terpasang di beberapa lokasi di sekitar garis khatulistiwa Indonesia.

Sistem yang diterapkan di Tokyo menjadi acuan pemodelan ini. Menurut Takeshi Maesaka, peneliti di National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED), pemodelan curah hujan atau Estimasi Presipitasi Kuantitatif (QPE) di Jepang menggunakan radar X-band multi-parameter (MP).

Jejaring radar tersebut diuji coba di sekitar kota metropolitan Tokyo sejak tahun 2006 untuk memantau potensi bencana cuaca. Tahun 2008, jejaring dikembangkan di kota besar lain. Kini di Jepang ada 35 radar di 13 kawasan rawan banjir.

Jejaring ini dapat memprediksi curah hujan secara akurat tanpa perlu kalibrasi penakar hujan. Estimasi Presipitasi Kuantitatif dihasilkan dalam satu menit.

Takeshi menyarankan penerapan sistem itu di Indonesia dengan mengombinasikan dengan radar S band yang ada. Radar X-band mengestimasi lingkup lokal, radar S/C-band untuk observasi kawasan yang lebih luas.

Selain itu, radar juga digunakan untuk memantau aktivitas gunung api.


  • Kompas  
»»  READMORE...

Pesawat Panel Surya Mengudara di Amerika


Solar Impulse akan melakukan perjalanan selama 2 bulan.


Solar Impulse

Tentu Anda masih ingat dengan pesawat berbahan bakar tenaga matahari atau panel surya. Solar Impulse. Setelah melakukan uji coba penerbangan dari Spanyol menuju Maroko, kini pesawat ramah lingkungan itu mengudara perdana di langit Amerika.

Pesawat itu baru saja memulai penerbangan hingga dua bulan ke depan menuju bandara John F Kennedy, New York, melalui Dallas dan Washington.

Telegraph melansir, 7 Mei 2013, pesawat itu telah lepas landas dari Moffett Field, bandara di San Francisco, menuju pemberhentian pertama yaitu Phoenix, Arizona, yang memakan waktu 19 jam perjalanan santai.

Sepanjang penerbangan, Solar Impluse dikendarai oleh pilot asal Swiss, Bertrand Piccard, dan penggagas proyek Andre Borschberg. Keduanya saling bergantian.

"Ini bukan cara mudah untuk terbang, tapi ini cara yang paling menakjubkan. Semakin Anda terbang, semakin banyak energi yang Anda miliki di pesawat," kata Piccard.

"Kami ingin menginspirasi orang di dunia sebanyak mungkin untuk memiliki semangat yang sama. Berani, berinovasi, dan menciptakan," tambahnya.

Memiliki daya energi mirip dengan skuter motor, pesawat ini dilengkapi 12 ribu sel surya yang dipasang pada 208 kaki sayap pesawat.

Untuk baterai isi ulang pesawat, mirip dengan mobil Tesla, yakni mengumpulkan tenaga saat hari terang dan digunakan saat hari gelap.

Solar Impulse. (Telegraph)

Mendunia

Mengendalikan kokpit seukuran mobil bukanlah perkara yang gampang. Meski ringan, tapi di sini justru letak risikonya. Rentan terhadap angin kencang, kabut, hujan dan awan gelap.

Tapi, penyelenggara proyek tetap yakin, proyek ini untuk meningkatkan dukungan seluruh dunia untuk mengadopsi teknologi yang ramah lingkungan.

"Saya berharap orang memahami potensi teknologi ini dan akan menggunakannya di lapangan," kata pilot Andre Borschberg, yang telah menghabiskan 20 tahun umurnya untuk terbang di Angkatan Udara Swiss.

"Jika kita tidak mencoba untuk terbang menggunakan energi terbarukan hari ini, kita tidak akan pernah bisa," tambahnya.

Proyek ini dimulai pada tahun 2003, dan telah menelan biaya sebesar 90 juta euro, setara Rp1,14 triliun, melibatkan insinyur dari pembuat eskalator Swiss, Schindler dan bantuan penelitian dari kelompok bahan kimia asal Belgia, Solvay.

Setelah melakukan penerbangan antarbenua dari Spanyol ke Maroko pada Juni tahun lalu, Solar Impulse kini menguji model pesawat yang lebih canggih. Solar Impulse dirancang untuk terbang di seluruh dunia pada 2015.
Jika Anda belum pernah melihat pesawat ini mengudara, Anda bisa melihatnya melalui tautan ini. (umi)
sumber : VIVAnews 

»»  READMORE...

New Boxer variant presented to customers in Unterlüß for first time


Combination is fully convincing

A concept study of the highly mobile wheeled Boxer vehicle equipped with a prototype of the medium caliber turret system LANCE had already been presented to a wide audience at the Eurosatory 2010. Development of this concept study has now been successfully advanced and built up to full functionality.
In close cooperation between RMMV Kassel, RLS Augsburg and RLS Kiel, a series LANCE turret system and a series Boxer module as well as a modified series mission module have been combined to one system and tested at the Rheinmetall Defence test center in Unterlüß. Realisation of the study has thus been verified.
Boxer driving over a tank bridge at Unterlüß (left) and Boxer in the terrain with stabilised weapon system (right)
Boxer driving over a tank bridge at Unterlüß (left) and Boxer in the terrain with stabilised weapon system (right)
Both in the driving dynamic presentation and shooting demonstration in front of a high-profile delegation, Boxer and LANCE provided convincing evidence of their efficiency. The conclusion drawn from the impressive presentation: the combination of highly protected, highly mobile and mission-proven vehicle platform with the most modern medium caliber turret in the world was able to convince at all levels.
The armoured transport vehicle Boxer is being produced within the framework of a bi-national program. Boxer is a highly mobile, state-of-the-art wheeled vehicle whose modular design permits a wide variety of mission-specific configurations. Consisting of a uniform drive module, the Boxer vehicle family's user-specific mission modules can be quickly exchanged. A number of mission variants have been developed, including a troop carrier for transporting an infantry section, a field ambulance, a combat engineering section vehicle, C4I and C2 command vehicles, a logistics vehicle and a battlefield maintenance vehicle.
Live firing at the proving ground in Unterlüß
Live firing at the proving ground in Unterlüß
»»  READMORE...