News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Wednesday, April 9, 2014

Helikopter RACHEL Siap Mengulang Kesuksesan Mi-8

Helikopter RACHEL Siap Mengulang Kesuksesan Mi-8
RACHEL (Rusian Advanced Commercial Helicopter) merupakan proyek helikopter canggih kelas menengah. Kredit: Theirry Dubois
Pemerintah Rusia menyerahkan pengerjaan proyek tersebut pada Mil Moscow Helicopter Plant, pabrik helikopter yang pernah membuat helikopter laris Mi-8 dan Mi-17. RACHEL, proyek helikopter canggih terbaru mereka, kelak akan menjadi pembuktian Rusia sebagai negara terdepan dalam pembuatan helikopter canggih di dunia.

Dalam jumpa pers, Russian Helicopters menyatakan niat mengikuti tender Kementerian Industri dan Perdagangan Rusia untuk kontrak baru penelitian ilmiah dalam pengembangan dan pembuatan helikopter canggih berkecepatan tinggi. Tahun lalu, Russian Helicopters memenangkan tender penelitian ilmiah tersebut. Sebagian besar dana yang didapat digunakan untuk pengembangan awal proyek helikopter canggih itu.Mil Moscow Helicopter Plant yang merupakan bagian dari Russian Helicopters akan mengembangkan desain konseptual dan teknis RACHEL hingga akhir November 2015. Mil Moscow juga akan melaksanakan uji coba prototipe sebagai acuan percobaan kendaraan baru tersebut. Hal ini disampaikan oleh perwakilan Russian Helicopters, Roman Kirilov
.
Awalnya, program tersebut menawarkan dua pengembangan helikopter secara paralel, yaitu Mi-X1 kepada Biro Konstruksi Mil Moscow dan Ka-92 kepada Biro Konstruksi Kamov. Namun kemudian, kedua program diberikan pada Biro Konstruksi Mil Moscow untuk mengoptimalkan efisiensi, baik secara teknis maupun ekonomi. Hasil kerja Kamov akan dilanjutkan dalam lingkup penelitian ilmiah lebih lanjut untuk perspektif jangka panjang, misalnya dalam Russian Helicopters.
RACHEL (Rusian Advanced Commercial Helicopter) merupakan proyek helikopter canggih kelas menengah. Proyek RACHEL ditampilkan pertama kali pada International Farnborough Air Show 2012 di Inggris. RACHEL diprediksi akan menjadi helikopter terlaris Rusia, seperti helikopter kelas menengah Mi-8 dan Mi-17.
Uji coba tersertifikasi RACHEL harus dilaksanakan pada 2018-2020. Salah satu prioritas utama proyek RACHEL adalah minimalisasi biaya operasional langsung. Selain itu, helikopter ini akan dipatok dengan harga yang terjangkau bagi pembeli.
Proyek helikopter canggih berkecepatan tinggi mengacu pada program pemerintah Rusia untuk mengembangkan kendaraan aviasi sipil Rusia. Berdasarkan program tersebut, RACHEL harus dapat menempuh jarak hingga 1.500 kilometer dan dapat digunakan untuk transportasi VIP. Helikopter dengan berat 10-12 ton ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar aviasi. Untuk penggunaan pengangkutan penumpang, helikopter RACHEL memiliki kapasitas 21-24 orang. Selain itu, produsen juga mengembangkan helikopter versi khusus untuk SAR (Search and Rescue), patroli dan keperluan medis.
Pada tahap pertama program, kecepatan jelajah kendaraan mencapai 300-350 kilometer/jam. Pada tahap kedua kecepatan naik menjadi sekitar 450 kilometer/jam.
Helikopter Rusia Terdepan dalam Pasar Dunia
Direktur Pusat Analisa Perdagangan Senjata Dunia (CAWAT), Igor Korotchenko menyatakan, Rusia berada dalam posisi terdepan di dunia untuk segmen helikopter. “Kami berada di posisi terdepan dalam arena internasional untuk segmen helikopter angkut militer, helikopter kelas berat, helikopter tempur dan helikopter berbasis kapal induk yakni Ka-27M dan Ka-52K buatan Kamov,” kata Korotchenko. Namun, helikopter mewah untuk transportasi tamu VIP masih didominasi oleh pesaing dari Barat.
Korotchenko menambahkan, model Mi-8 dan Mi-17 adalah kendaraan yang paling laris di dunia dalam pangsa helikopter kelas menengah.
“Tetapi itu semua peninggalan Soviet. Sekarang Rusia perlu fokus pada pengembangan murni sendiri, berdasarkan model yang sudah ada dan pengalaman yang dimiliki,” ujar sang ahli, Igor Korotchenko.
Menurut Korotchenko, saat ini pembuatan helikopter berkecepatan tinggi merupakan tren utama pembuatan helikopter di dunia. “Proyek seperti ini tentu diikuti oleh korporasi pembuat helikopter terdepan di dunia, seperti Airbus Helikopter dan Sikorsky Aircraft. Tentu saja kami tidak akan berdiam diri,” kata Korotchenko.
Korotchenko menilai, pasar dunia saat ini masih berpatokan pada helikopter berkecepatan sedang dan Rusia memiliki posisi yang gemilang dalam kelas tersebut. Menurutnya, Mi-17 masih tetap menjadi idola di pasar dunia, setidaknya untuk 30-40 tahun ke depan. “Barat tidak memiliki kelas helikopter seperti Mi-17 yang memiliki konstruksi sederhana namun sangat bisa diandalkan. Pangsa seperti itu tentu akan terus berkembang dan semakin modern, tetapi kami tidak akan menyerahkan pangsa pasar ini begitu saja,” kata Kiritchenko

.
»»  READMORE...

Perimeter, Sistem Serangan Nuklir Otomatis Rusia

Pada masa damai, Perimeter akan memasuki mode tidur namun akan terus menganalisis informasi yang datang. Kredit: PhotoXpress
Perimeter adalah sebuah sistem komando alternatif kekuatan nuklir Rusia. Sistem ini dirancang untuk mengendalikan serangan nuklir yang masif secara otomatis. Pengembangan sistem jaminan balasan ini dimulai di tengah Perang Dingin ketika sistem persenjataan elektronik yang terus-menerus diperbaiki jelas akan segera dapat memblokir saluran kendali biasa kekuatan nuklir strategis. Sebuah metode komunikasi cadangan diperlukan untuk menjamin bahwa komando akan sampai ke peluncur.
Saat itulah gagasan ini diwujudkan dengan sebuah misil yang dilengkapi pemancar radio yang kuat sebagai saluran komunikasi. Ketika terbang melintasi Uni Soviet, misil akan mengirimkan komando luncur tidak hanya ke pusat komando pasukan misil strategis, tetapi juga langsung ke peluncur. Pada 30 Agustus 1974, Dekrit Rahasia Uni Soviet No. 695-227 menginstruksikan Biro Desain Yuzhnoe, sebuah pabrik misil balistik antarbenua di Dnepropetrovsk, untuk membuat sistem ini.
UR-100UTTKh, yang diberi kode Spanker oleh NATO, digunakan sebagai dasar sistem. Uji terbang dimulai pada 1979 dan pada 26 Desember peluncuran dengan pemancar tersebut sukses untuk pertama kalinya. Berbagai tes yang dilakukan membuktikan bahwa semua komponen sistemPerimeter dapat berinteraksi dengan baik dan hulu ledak misil komando akan tetap melalui jalur yang diinginkan.
Pada November 1984, misil komando diluncurkan dari Polotsk dan memberi komando pada fasilitas peluncuran silo dari sebuah RS-20 ICBM (SS-18 Satan) di Baikonur. Peluru Setan itu diluncurkan. Setelah tiap-tiap tahap diuji, hulu ledaknya dipastikan mendarat pada kuadran yang tepat pada jangkauan uji Kura di Semenanjung Kamchatka. Pada Januari 1985,Perimeter mulai beroperasi. Sejak saat itu sistem tersebut telah diperbarui beberapa kali. Saat ini, Perimeter menggunakan misil ICBM modern sebagai misil komandonya.
Sistem Otomatis, Minim Peran Manusia
Di NATO, sistem serangan nuklir yang dapat beraksi tanpa komando manusia disebut amoral. Sementara itu, AS memiliki sistem yang mirip yakni Sistem Komunikasi Roket Darurat.
Sistem ini terbuat dari misil balistik komando. Alih-alih terbang ke arah musuh, misil ini terbang melintasi Rusia, dan alih-alih berhulu ledak termonuklir, misil ini membawa pemancar yang dapat mengirimkan sebuah komando untuk meluncurkan semua misil tempur yang tersedia di silo, pesawat, kapal selam dan unit darat bergerak. Sistem ini sepenuhnya telah otomatis, peran manusia ditiadakan atau diminimalkan.
Keputusan untuk meluncurkan misil komando dibuat melalui sistem kendali dan komando otonom—sebuah sistem kecerdasan buatan yang kompleks. Sistem ini menerima dan menganalisis berbagai macam informasi tentang aktivitas dan radiasi seismik, tekanan atmosferik, serta intensitas pembicaraan dalam frekuensi radio militer. Ia memonitor telemetri dari pos pengamatan pasukan misil strategis dan data dari sistem peringatan dini (SPD).
Jika mendeteksi, misalnya, lebih dari satu titik sumber radiasi pengion dan elektromagnetik yang kuat, sistem ini akan membandingkan data tentang gangguan seismik di lokasi yang sama dan mengambil keputusan apakah ada serangan nuklir yang masif. Dalam kasus ini, Perimeter akan mengaktifkan serangan balasan dan bahkan dengan melewati Kazbek, komando dan kendali utama misil strategis Rusia yang dikenal dengan koper nuklirnya.
Skenario lain adalah jika menerima informasi dari SPD bahwa negara lain telah meluncurkan misil, pemimpin negara akan mengaktifkan Perimeter. Jika komando untuk mematikannya tidak datang dalam hitungan waktu tertentu, sistem akan meluncurkan misil. Ini menghilangkan kebutuhan peran manusia dan menjamin bahwa akan ada serangan balasan bahkan jika tim komando dan peluncur seluruhnya hancur.
Pada masa damai, Perimeter akan memasuki mode tidur namun akan terus menganalisis informasi yang datang. Ketika siaga atau ketika ada sinyal peringatan dari SPD, pasukan strategis, atau sistem lain, sebuah jaringan sensor akan diaktifkan untuk mendeteksi sinyal ledakan nuklir.
Para pemimpin Rusia telah berulang kali meyakinkan pemerintah asing bahwa tidak ada risiko peluncuran misil yang bersifat kecelakaan atau pun yang tidak sah. Sebelum peluncuran, Perimeter memeriksa empat kondisi. Pertama, apakah ada serangan nuklir. Kemudian ia memeriksa saluran komunikasi dengan Staf Umum. Jika masih ada sambungan, sistem akan mati. Jika Staf Umum tidak menanggapi, Perimeter akan mengirimkan permintaan kepada Kazbek. Jika tidak ada tanggapan dari sana juga, kecerdasan buatannya akan memberi hak bagi siapa pun yang ada di bunker komando untuk mengambil keputusan. Setelah itu, barulah ia mulai beraksi.
»»  READMORE...

Fakta-fakta Menarik Seputar MiG-25

Fakta-fakta Menarik Seputar MiG-25
MiG-25 pertama kali diperkenalkan pada 9 Juli 1967 dalam sebuah acara penerbangan untuk merayakan Hari Angkatan Udara di Domodedovo. Kredit: V. Kiselev/RIA Novosti
Didesain untuk bertempur dengan Valkyrie
MiG-25, yang disebut Foxbat oleh NATO, dibuat untuk menghadapi ancaman pesawat pengebom supersonik Amerika B-58 dan pesawat lain hasil modifikasi B-58 yang mampu menembus pertahanan anti-aircraft dan melancarkan serangan nuklir.
Pesawat tempur-pencegat yang dimiliki oleh Uni Soviet pada saat itu tidak mampu melawan pesawat musuh secara efektif dalam hal kecepatan dan karakteristik kinerja ketinggiannya. Pesawat tempur MiG-21 dan Su-15 yang saat itu beroperasi sama sekali tidak sebanding dengan pesawat pembom strategis Valkyrie XB-70 ataupun pesawat pengintai SR-71 Lockheed berkecepatan tinggi yang memiliki kecepatan meluncur Mach 2.8.
Para perancang MiG-25 sukses meningkatkan kecepatan pesawat hingga 3.000 kilometer per jam dan mencapai batas ketinggian 23.000 meter. Dengan spesifikasi tersebut, karakteristik MiG-25 sebanding dengan Valkyrie. Namun, MiG-25 dan Valkyrie tidak pernah berhadapan satu sama lain karena Valkyrie tidak diproduksi secara massal.
Pesawat pencegat dengan performa unggul
MiG-25 merupakan sebuah inovasi. Rancangan kerangka MiG-25 belum pernah dilihat sebelumnya dalam dunia pesawat tempur. Pesawat ini dilengkapi pipa udara (air intake) lateral berbentuk persegi dengan jalur sirkulasi (intake ramp) horizontal, ekor pesawat kembar dan sayap tipis berbentuk trapesium dengan aspek rasio rendah. Kedua mesin pesawat berada di samping bagian badan belakang. Struktur pesawat tersebut memungkinkan MiG-25 terbang dengan kecepatan sangat tinggih, bahkan memecahkan rekor pada saat itu, serta melakukan manuver canggih untuk pesawat sekelasnya.
Peralatan elektronik yang terdapat pada MiG-25 membuat pesawat ini menjadi pesawat pertama yang dapat diarahkan ke sebuah sasaran dalam mode semi-otomatis. Fitur ini sangat penting mengingat kemungkinan kecepatan mendekat yang bisa diantisipasi. Refleks manusia secara normal tidak akan mampu merespons dengan cukup cepat.
Bahan khusus tahan panas
Dalam kecepatan di atas Mach 2.5, struktur pesawat akan memanas secara signifikan hingga suhu mencapai 300-400°C. Akibatnya, tidak mungkin badan MiG-25 dibuat menggunakan bahan-bahan biasa. Salah satu pilihan bahan untuk badan pesawat ialah titanium, yang merupakan bahan yang digunakan oleh Amerika. Namun, para insinyur Rusia memilih menggunakan baja, yang akhirnya mencakup 80 persen berat total rancangan. Titanium dan campuran aluminium tahan panas digunakan untuk membuat bagian selain badan pesawat.
Pada struktur kerangka pesawat terdapat lima kilometer sambungan las dan 1.400.000 titik las. Hanya ada dua kebocoran bahan bakar kecil yang tidak signifikan yang diketahui dalam jangka setahun pengelasan, dengan panjang las total 450 kilometer. Hal ini menunjukkan kualitas pengerjaan yang sangat baik.
Penggunaan bahan khusus ternyata berdampak hebat secara mengejutkan dan tidak diperkirakan yakni pengelasan dapat dilakukan pada lapis keras (hard standing) itu sendiri.
Masalah pelik bagi Amerika
Pengembangan MiG-25 dan program uji cobanya dilakukan secara sangat rahasia. Pesawat ini pertama kali diperkenalkan kepada dunia pada 9 Juli 1967 dalam sebuah acara penerbangan untuk merayakan Hari Angkatan Udara di Domodedovo. Empat pesawat tempur terbang di atas penonton pada ketinggian rendah. Komentator mengumumkan bahwa inilah pesawat tempur baru yang mampu melesat dengan kecepatan 3.000 kilometer per jam.
Hal tersebut adalah berita besar bagi dunia Barat, dan tentu bukan berita bagus. Rapat luar biasa pun digelar oleh Kongres Amerika Serikat. Rapat tersebut mendukung dimulainya pengerjaan pesawat tempur-pencegat kelas baru F-14 dan F-15. Kedua pesawat ini membawa desain ekor kembar, seperti MiG-25, tetapi memiliki kelemahan dalam kecepatan dan ketinggian.
Pengkhianatan menjadi stimulus modifikasi
Pada September 1976, Letnan Dua Viktor Belenko menerbangkan sebuah MiG-25P dari pangkalan udara di Timur Jauh ke Jepang dan mendarat di Pulau Hokkaido, tempat ia meminta suaka politik. Pesawat itu dibongkar dan dianalisis oleh para ahli Amerika. Satu setengah bulan kemudian, pesawat tersebut dikembalikan dalam wujud terpisah-pisah setelah diminta oleh Kementerian Luar Negeri Soviet.
Pengkhianatan Belenko memberi masalah besar bagi Uni Soviet. Namun, kejadian itu membuka jalan untuk memperbaiki efektivitas tempur pesawat pencegat tersebut. Semua peralatan elektronik pada pesawat diganti karena kemungkinan rahasia pengoperasiannya telah dikenali musuh. Pesawat tempur tersebut lalu dilengkapi dengan sistem pencarian dan pelacakan sasaran yang lebih modern dan diberi nama MiG-25PD.
Ketinggian yang dapat dicapai tak terkalahkan
MiG-25 memegang 29 rekor dunia. Di antara rekor tersebut, terdapat satu yang unik dan belum terkalahkan bahkan hingga saat ini, yakni rekor ketinggian yang dapat dicapai untuk pesawat yang menggunakan mesin jet. Pada 21 Agustus 1977, pilot uji coba Fedotov naik hingga ketinggian 37.650 meter di atas Bumi.
»»  READMORE...

KH-179 Howitzer 155mm: Meriam Tarik Kaliber Terbesar Armed TNI AD

kh179d

Guna memenuhi elemen fire power dalam MEF (minimum essential force), satuan Artileri Medan TNI AD pada tahun ini mulai kedatangan alutsista andalannya yang telah dipesan pada tahun lalu. Sebut saja ada ASTROS II MK6 Self Propelled MLRS, lalu di lini meriam ada TRF-1 CAESAR Self Propelled Howitzer 155 mm yang berkaliber besar. Meremajakan lini meriam berkaliber sedang, yang puluhan tahun mengandalkan M2A2 Howitzer 105 mm, TNI AD pun bakal mendapatkan 54 pucuk meriam KH-178 dari Korea Selatan untuk melengkapi 3 batalyon.
Tapi gado-gado sista Armed TNI AD tak cuma itu saja, di tahun ini pula, kabarnya TNI AD juga akan diperkuat 18 pucuk heavy gun kaliber 155 mm, untuk melengkapi 1 batalyon Armed. Merujuk dari sejarahnya, meski agak telat, TNI AD sudah mengenal Howitzer 155 mm sejak 2008 lewat tipe FH-2000 buatan Singapura. Jumlah FH-2000 yang minim secara kuantitas, menjadikan kinerjanya kurang maksimal. Baru kemudian ada terobosan menghadirkan heavy gun Howitzer 155 mm lewat TRF-1 CAESAR buatan Perancis. Namun, perlu dicatat, baik FH-2000 dan TRF-1 CAESAR masuk kategori self propelled, alias bergerak sendiri karena dilengkapi platform kendaraan untuk mobilitasindependent.
4393
2ce423b
Mungkin atas pertimbangan kebutuhan operasi, TNI AD masih merasa perlu menghadirkan Howtizer 155 mm dalam platform lain, yakni dalam towed Howitzer, yang berarti mobilitasnya ditarik oleh suatu kendaraan. Meski sekilas self propelled Howitzer punya adopsi lebih maju dalam mobilitas, tapi dalam beberapa hal towed juga punya keunggulan, seperti kemudahan untuk dipindahkan lewat udara (lewat sling dari helikopter). Dan, pilihan TNI AD untuk towed Howitzer telah jatuh pada KH-179 buatan KIA Heavy Industries Corporation, Korea Selatan.
KH-179 dikembangkan berdasarkan sistem howitzer tarik M114A1, yang banyak dipergunakan dalam Perang Vietnam. Korea Selatan memiliki lebih kurang 1.700 pucuk M114A1. KIA memodifikasi sistem pembawa M114A1 agar dapat dipasangi meriam 155mm/L39 baru yang memiliki jarak jangkau yang lebih jauh. Meriam L39 ini terbuat dari baja monoblok yang menawarkan ketahanan panas yang lebih baik, sehingga dapat memperpanjang umur laras.
Gelar persiapan KH-179 oleh militer Korea Selatan
Gelar persiapan KH-179 oleh militer Korea Selatan
f0205060_5166864103259
f0205060_5166864198589
f0205060_516686422c71a
Dari segi pengoperasian meriam ini tak banyak berubah dari versi M114A1, dimana butuh dua awak untuk mengubah arah meriam, prajurit awak penembak di kiri memutar roda untuk mengubah arah horizontal (traverse), sementara prajurit di kanan sebagai asisten penembak memutar roda untuk mengubah elevasi vertikal moncong meriam. Sementara satu prajurit lagi bertugas sebagai pengarah dan membidik melalui teleskop dengan pembesaran 4x dan dial sight, atau bila diperlukan, mengoperasikan KH-179 untuk dukungan tembakan langsung (direct fire) menggunakan teleskop khusus yang memiliki pembesaran 3,5x.
Sistem KH-179 menerapkan dua tabung yang berbeda untuk penahan kejut (hydraulic dampers/ hydropneumatic shock absorber) dan satu tabung lain untuk pengembali kedepan (recuperator), yang dianggap mampu memperpanjang umur pakai meriam. Pada saat penembakan, ada pasak yang bisa diturunkan untuk ditanam dan menambah kestabilan penembakan.
pcpdownloadphpfhandlen2
Proyektil melesar dari laras
Breech pada pangkal laras
Breech pada pangkal laras
Tampil dalam sebuah pameran persenjataan
Tampil dalam sebuah pameran persenjataan
Bicara tentang amunisi, sebagai sekutu AS, KH-179 yang buatan Negeri K-Pop ini menikmati kompatibilitas dengan munisi NATO. Hal ini berarti KH-179 mampu menembakkan seluruh munisi 155 mm termasuk munisi khusus berpendorong roket (RAP: Rocket Assisted Projectiles). Dari segi jangkauan tembak, jarak jangkaunya adalah 22 km atau 30 km apabila menggunakan munisi RAP. Kecepatan tembaknya (rate of fire) apabila digunakan secara kontinyu maksimal 4 peluru per menit. Agar laras awet, penembakan bisanya dilakukan 2 peluru per menit. Militer Korea Selatan sendiri menjadikan KH-179 sebagai elemen kekuatan pemukul utama dalam menghadapi serangan artileri Korea Utara.
Tampak KH-179 ditarik truk KIA KM500 dalam Latgab TNI AD di Baturaja, Sumatera Selatan.
Tampak KH-179 ditarik truk KIA KM500 dalam Latgab TNI AD di Baturaja, Sumatera Selatan.
Meriam dengan bobot 6,8 ton ini dilengkapi sistem carriage yang dilengkapi APU (Auxillary Power Unit) sehingga dapat bergerak dengan tenaga sendiri. Saat ini Korea Selatan tercatat menawarkan dua varian kaliber untuk KH-179, yaitu L39 dan L45, dengan varian ketiga, yaitu L52. Di Indonesia, penampakan KH-179 belum dipublikasi secara umum, hanya sosoknya sempat terlihat dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI AD 2012 di Baturaja, Sumatera Selatan. Menimbang bobotnya yang heavy, KH-179 minimal ditarik truk Reo, atau dalam Latgab nampak meriam ini ditarik truk KM500 buatan KIA. Untuk mobilitas lewat udara, pesawat angkut berat C-130 Hercules dapat membawa 1 pucuk meriam ini dalam ruang kargo. (Diolah dari berbagai sumber)
Spesifikasi KH-179
Rancangan Pertama : 1979
Resmi operasional : 1982
Kaliber : 155/39 mm
Jarak recoil : 1.524 mm
Bobot : 6.890 kg
Panjang : 10.389 mm
Tinggi : 2.770 mm
Ground clearance : 280 mm
Sudut Elevasi : 68,6 derajat
Kecepatan maksimum ditarik : 70 km/jam
»»  READMORE...

Kapal Angkut Militer



Kapal Angkut militer adalah jenis kapal perang yang umumnya digunakan selain mengangkut barang-barang keperluan militer, kendaraan perang, ataupun senjata, juga mengangkut personel tentara maupun VIP/VVIP yang dirancang khusus.Sebagai alat angkut strategis, kapal ini berfungsi sebagai alat angkut laut yang membawa barang, peralatan militer, ataupun pasukan untuk menempuh jarak yang jauh, misalnya dari pangkalan laut militer yang satu ke pangkalan laut militer yang bertempat di belahan bumi lainnya atau pangkalan militer yang berada atau di dekat di area operasi militer/pertempuran.

Kherson LPD
Kherson LPD
Yuzhao LPD
Yuzhao LPD
ivanrogov
Ivan Gren LST
Ivan Gren LST
Zubr Hovercraft LST
Zubr Hovercraft LST
ship_lpd-17_san_antonio_cutaway_labeled_lg
Kapal angkut militer LPD

Kapal angkut militer LPD

Kapal angkut militer menjadi penting, yang dengan multi-role function nya menjadikannya dapat dioperasikan tidak hanya dalam misi militer dalam keadaan perang, melainkan juga di masa damai untuk berbagai operasi kemanusiaan, misalnya pada saat bencana alam dsb. Kemampuannya untuk mendarat di area daratan yang darurat (amphibi), membuat kapal jenis ini menjadi fleksibel untuk berbagai medan,

Sementara sebagai kapal angkut taktis, kapal ini dimanfaatkan untuk membawa barang, alat dan kendaraan militer di dalam area pertempuran ataupun area operasi militer, sehingga tidak memerlukan wide range yang jauh tentunya. 

Dalam operasi militer strategis, kapal jenis ini dituntut untuk mampu mengangkut dalam volume besar dan mampu menempuh jarak yang jauh. Operasi pergeseran pasukan dan material merupakan salah satu tugas dan fungsi kapal angkut militer, dengan menyelenggarakan pergeseran pasukan yang meliputi personel, peralatan dan perbekalan, baik yang bersifat administratif maupun taktis strategis.

KRI Makassar yang bernomor lambung 590, adalah sebuah kapal baru RI jenis Landing Platform Dock (LPD) yang diproduksi oleh Daesun Shipbuildings & Engineering CO. Ltd., yang dipesan RI dan dibangun di Korea Selatan. 
Landing Platform Dock atau LPD (juga dikenal sebagai Amphibious Transport Dock) adalah sebuah kapal perang amfibi yang meluncurkan, membawa dan mendaratkan elemen kekuatan darat untuk misi-misi perang gerak cepat.

KRI Makassar - 590
KRI Makassar - 590

Kapal LPD ini umumnya dirancang untuk membawa pasukan ke zona pertempuran lewat laut dan memiliki kemampuan membawa kekuatan udara terbatas (umumnya helikopter). Kapal jenis ini berfungsi sebagai pengangkut kapal pendarat pasukan, operasi amfibi, pengangkut tank, pengangkut personel, juga untuk operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana serta pengangkut helikopter.

KRI Makassar590 memiliki data spesifikasi antara lain panjang 122 m, lebar 22 m, draft 4,5 m, bobot mati 7.300 ton. Kecepatan operasi 14 knot, kecepatan jelajah 12 knot dan mampu mencapai kecepatan maksimum sampai 16 knot. 

Kapal ini juga dapat mengangkut pasukan 507 personel, 13 kendaraan tempur jenis tank, dua helikopter dan sejumlah peralatan militer lainnya. Dilengkapi dengan meriam, dua landasan helikopter (helipad), ruang Combat Information Center (CIC), sistem komunikasi sebagai penghubung dengan kapal-kapal jenis kombatan untuk melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan tempur serta pengendalian pendaratan helikoter.

    »»  READMORE...

    Sistem Pertahanan Udara MEADS


    Peluncur MEADS

    Lockheed Martin dan mitra industrinya tengah mempersiapkan uji coba selanjutnya dari pengembangan tahap akhir sistem pertahanan udara MEADS (Medium Extended Air Defense System), yang akan memiliki fungsi perlindungan 360 derajat dalam mengatasi ancaman dari udara dan rudal balistik.

    Uji penembakan yang akan dilakukan pada awal November nanti akan menembak dua target, yaitu drone QF-4 dan rudal balistik taktis Lancer. Target akan menyerang secara bersamaan dari posisi yang berlawanan (berseberangan) dan dari ketinggian yang berbeda untuk menguji fungsi perlindungan 360 derajat dan radar X-band. Uji coba akan berlangsung di Practica, pangkalan udara Mare, Roma, Italia.

    Setelah target terdeteksi radar kontrol tembak akan mendeteksi dan menembak/mencegat target dengan rudal PAC-3 MSE. Apakah pencegatan pertama akan segera melumpuhkan rudal balistik?Sistem MEADS secara otomatis akan memerintahkan dirinya sendiri bila perlu melakukan pencegatan kedua. Namun biasanya rudal interseptor (PAC-3) yang ditembakkan akan lebih banyak jumlahnya dari ancaman yang masuk. Menurut pihak Lockheed, uji coba semacam ini adalah yang pertama kali.

    Uji coba akan menggunakan peluncur MEADS buatan Italia dan Jerman, desainnya sama kecuali truk yang memegang sistem kendali. Rudal PAC-3 akan melakukan manuver "over-the-shoulder" (lintasannya mirip ∩) untuk mencegat target mereka, sebuah fitur unik dari MEADS.

    Bulan lalu, sistem MEADS telah disertifikasi untuk beroperasi sistem dengan Mode 5 Identification Friend or Foe (IFF). Modus 5 merupakan modus keamanan yang memberikan identifikasi line-of-sight untuk bisa membedakan antara sekutu dan musuh. 

    Proyek MEADS adalah program kooperatif dengan dana dari Washington, Roma dan Berlin. Program sendiri baru benar-benar dimulai pada 2005. Washington mendanai sebanyak 58%, Jerman 25% dan sisanya Italia 17%. Namun Amerika Serikat memilih mengakhiri pendanaan untuk MEADS setelah fiskal 2014, efektif menarik AS dari program produksi.

    Untuk mengatasi kurangnya dana pengembangan selanjutnya (akibat AS menarik diri) program MEADS kemudian ditawarkan ke Polandia (Jepang juga berkemungkinan) dan Lockheed Martin juga menawarkan Polandia kemitraan dalam tim. Dalam pertemuan baru-baru ini di Warsawa, Polandia, pemerintah AS menjelaskan bahwa Polandia akan menerima data-data teknis MEADS yang sebelumnya hanya diberikan untuk negara-negara mitra pengembangan MEADS. Jika MEADS benar akan "diambil" Polandia, Lockheed Martin berharap akan adanya basis laboratorium sistem integrasi di Polandia, seperti yang ada di AS.

    Setelah uang pendanaan akan habis pada tahun fiskal 2014 nanti, pihak pengembang berharap juga bisa memperoleh izin dari Italia dan Jerman untuk menggunakan data dari percobaan nanti untuk mempersiapkan uji coba berikutnya. Uji coba selanjutnya akan mencakup pekerjaan integrasi tingkat yang lebih tinggi dengan menggunakan data dari uji coba November nanti sebagai dasar.

    Bukan tanpa alasan AS menarik diri dari mendanai program MEADS setelah 2014. Karena kondisi ekonomi yang sulit, AS lebih memilih untuk meng-upgrade sistem pertahanan udara Patriot-nya dibandingkan membeli sistem MEADS. Sistem MEADS sendiri dikembangkan untuk menggantikan sistem Patriot AS dan Jerman, dan Nike Hercules Italia.


    »»  READMORE...

    Hantu Laut Indonesia



    Desain Midget / Kapal Selam Mini RI
    Desain Midget / Kapal Selam Mini RI
    Antara midget, seal carrier, human torpedo, sotong dan sea ghost, saling melengkapi atau saling meniadakan ?. Perbandingan midget, seal carrier, human torpedo, sotong dan sea ghost akan didasari pada misi yang bisa dan tidak bisa dilakukan.
    Midget, sotong dan sea ghost memiliki kapabilitas yang sama dalam melaksanan misi: patroli bawah air di perairan dangkal, underwater litoral patrol.
    Kelebihan Midget ketimbang Sotong dan Sea ghost.
    Faktor wawasan fikir pengawak midget membuat wahana ini dapat langsung mengantisipasi tiap ancaman yang terjadi tanpa harus berkoordinasi dengan pusat komando, selama paremeter operasional telah ditetapkan terlebih dahulu. Dalam skenario pusat komando tidak dapat melakukan komunikasi dengan pengawak midget, maka pengawak midget dapat mengambil keputusan sendiri.
    Sotong dan sea ghost sudah pasti akan dilengkapi dengan pendeteksi kawan atau lawan, IFF – identify friend of foe, parameter ini berlaku 0 atau 1, tidak ada parameter diantara kedua pilihan tadi. Ketika sotong atau sea ghost tidak dapat terkoneksi dengan pusat komando, maka secara otomatis sotong atau sea ghost akan mengeksekusi program yang telah dibenamkan dalam memorinya, yaitu 0 atau 1. Pilihan yang akan diambil sotong maupun sea ghost adalah kuntit, kemudian hancurkan atau lepaskan.
    Seal Carrier Kopaska (photo: targetabloid.com)
    Seal Carrier Kopaska (photo: targetabloid.com)
    Suatu kebolehjadian, eksekusi yang ingin diambil kantor pusat adalah sekedar menguntit atau bahkan menggertak, seperti kejadian kapal selam kita menyundul kapal selam aggressor. Langkah cerdas ‘menyundul’ ini hanya bisa diambil oleh perwira yang telah memiliki jam menyelam tinggi dan kemampuan berfikir yang matang dalam mensikapi parameter yang diberikan oleh pusat komando.
    Untuk misi patroli perairan dangkal, maka saya berpendapat bahwa kemampuan patrol litoral midget akan saling melengkapi dengan kemampuan patroli sotong maupun sea ghost. Terlalu beresiko jika sotong maupun sea ghost menggantikan fungsi midget.
    Wahana Infiltrasi Pasukan Khusus
    Kegiatan infiltrasi pasukan khusus hanya dapat dilakukan oleh midget dan seal carrier dan tidak dapat dilakukan oleh sotong maupun sea ghost.
    Jumlah personel yang dapat diangkut midget dibandingkan dengan seal carrier relative sama, mengingat sekarang kita telah mengakuisisi seal carrier yang dapat membawah lebih dari 6 personel.
    Kelebihan midget dibandingkan seal carrier adalah faktor jarak tempuh. Karena dilengkapi dengan mesin penggerak dan baterai yang memiliki kemampuan yang lebih besar dan atau bahan bakar yang lebih banyak dari seal carrier, maka midget dapat mulai diturunkan dari jarak yang cukup jauh dari target misi tersebut.
    Seal carrier memiliki radius tempuh terbatas, biasanya ditumpangkan di atas kapal selam berukuran normal atau kapal perang tertentu, kapal selam/kapal perang pengangkut ini, atau lebih sering disebut kapal selam induk/kapal perang induk harus relatif berada dalam jarak yang dekat dengan target misi agar seal carrier dapat mencapai posisi target tanpa kehabisan bahan bakar (beberapa seal carrier mengandalkan baterai sebagai sumber tenaga gerak).
    Sotong
    Sotong
    Arsenal dalam Misi Penyerangan Pelabuhan.
    Midget, seal carrier, sotong dan sea ghost memiliki kapabilitas yang relatif sama dalam menunaikan misi penyerangan pelabuhan, port raid. Misi penyerangan pelabuhan dapat dilakukan dengan melibatkan pasukan khusus atau dapat dilakukan tanpa melibatkan pasukan khusus.
    Jika melibatkan pasukan khusus, maka seal carrier dapat memberikan bantuan perlindungan tembakan bagi para anggota pasukan khusus, terlepas kita sudah mengakuisisi varian ini atau belum, sudah tersedia wahana seal carrier yang dilengkapi dengan senapan mesin ringan.
    Jika tidak melibatkan pasukan khusus, maka midget dapat lebih memainkan peranan karena jumlah torpedo yang dibawa midget lebih banyak dari jumlah torpedo yang dibawa sotong maupun sea ghost.
    Dalam misi port raid yang melibatkan pasukan khusus, seal carrier dapat saling melengkapi dengan midget. Dalam misi port raid yang tidak melibatkan pasukan khusus, midget dapat meniadakan fungsi sotong maupun sea ghost.
    Tapi jika parameter nyawa prajurit yang jadi pertimbangan, maka pilihannya jatuh pada sotong dan sea ghost. Kerugian tenggelamnya sotong maupun sea ghost hanya berdampak pada kerugian finansial dan kemungkinan bocornya teknologi kedua wahana tadi (dapat diantisipasi dengan kemampuan self destruct). Jika midget yang tenggelam, maka selain keluarga prajurit kehilangan anggotanya keluarganya, negara kita kehilangan asset berharga dan mahal, belum tentu gampang mencetak prajurit baru dengan kemampuan yang setara. Untuk pertimbangan ini, sotong dan sea ghost dapat meniadakan fungsi midget.
    Sea Ghost
    Sea Ghost (photo: Laurencius)
    Misi Bunuh Diri
    Misi ini mutlak hanya dapat dieksekusi dengan baik oleh human torpedo dan sotong. Human torpedo merupakan teknologi usang, teknologi ini ditiadakan dengan hadirnya sotong. Dengan kemampuan yang sama sama mematikan, kerugian sisi manusia dari human torpedo tidak lagi dapat diterima.
    Sotong juga dapat meniadakan sea ghost dalam mengeksekusi misi ini, kemampuan menyelam sotong yang jauh lebih baik dari kemampuan menyelam sea ghost merupakan faktor mutlak yang dimiliki sotong.
    Wahana Angkut Logistik
    Ketika pasukan khusus berhasil disusupkan ke dalam daerah target, suplai material dan tentunya bahan makanan menjadi faktor penting. Bukan saja untuk mempertahankan hidup, tapi juga berfungsi sebagai pendorong moral bagi pasukan khusus.
    Atau mengacu pada pengepungan Dunkirk, midget dapat difungsikan sebagai wahana angkut penarikan mundur pasukan. Misi infiltrasi ini hanya dapat dilaksanakan midget karena ruang kargo yang dimilikinya tidak didapati pada wahana sotong maupun sea ghost.
    Human Torpedo
    Human Torpedo
    Unsur Pencegat, Interceptor Kapal Aggressor
    Berdasarkan tayangan yang dapat diunduh via youtube, ditampilkan bahwa sea ghost dibebankan tugas sebagai interceptor, pencegat. Sebuah pilihan yang bijak. Kehilangan 10 sea ghost sebagai konsekuensi atas upaya mencegat dan menenggelamkan kapal perang aggressor dapat diterima akal sehat, ketimbang kehilangan yang timbul atas tenggelamnya kapal perang permukaan dalam melakukan misi pencegatan.
    Berdasarkan tayangan tersebut, sepertinya sea ghost lebih diposisikan sebagai sebuah kapal perang mini dengan kemampuan serang terbatas yang bergerak berdasarkan panduan pusat komando. Sesudah sea ghost diturunkan, barulah kemudian armada kapal perang atas air maupun bawah air kita bergerak ke lokasi kejadian.
    Sotong maupun sea ghost dapat meniadakan fungsi midget dalam misi ini. Karena sotong maupun sea ghost diturunkan setelah kapal aggressor diberi peringatan untuk segera keluar dari wilayak NKRI, jadi unsur dadakan, surprise attack tidak lagi begitu berperan. Ukuran sotong dan sea ghost yang lebih kecil dari midget sekalipun memberikan nilai lebih tersendiri disamping kemampuan stealth tentunya. (ukuran midget aja lebih kecil dari kapal selam berukuran normal).
    Lalu manakah yang lebih unggul, kemampuan sotong atau sea ghost ? Hehehe… karena saya bukan operator kedua wahana tadi, agak bingung saya menjawabnya. Salah Mas Narayana sih… nggak paripurna memberikan kisi-kisinya…peace mas…bercanda doang.
    Sotong punya kelebihan kemampuan menyelam yang lebih baik. Sea ghost tentunya bebas dari ancaman depth charges tapi rentan atas tembakan senapan mesin maupun rudal. Ampun deh… Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kembalikan kepada user…
    Penilaian di atas didasari pada :
    1. Tidak terjadi penurunan semangat juang dan penurunan loyalitas pada pengawak midget dalam situasi perang.
    2. Sotong dan midget diasumsikan dapat secara rutin muncul ke permukaan untuk mengisi ulang baterai tiap wahana.
    3. Midget dilengkapi dengan AIP mini seperti layaknya sebuah kapal selam standar.
    Tapi satu yang jadi imajinasi saya yang awam ini, penggunaan sotong maupun sea ghost dapat dijadikan sebagai cara menguras cadangan rudal yang dibawa kapal aggressor. Jadi ketika kapal aggressor telah kehabisan rudal pertahanan diri karena telah menenggelamkan 10 atau lebih sea ghost dengan menembakkan rudal-rudal pertahanan dirinya, otomatis mereka jadi sasaran empuk kapal permukaan kita.
    Seperti singa yang menerkam banteng yang kelelahan setelah dikeroyok sekumpulan serigala. Ibarat pesawat tempur, flare mereka sudah keburu habis duluan untuk mengantisipasi rudal susulan yang ditembakkan pesawat tempur kita.
    Kesimpulannya, midget, seal carrier, sotong dan sea ghost dapat saling melengkapi. Kita harus membangun armada tersendiri dengan kesatuan tugas tersendiri untuk tiap arsenal ini. Tidak ada wahana yang dapat melakukan semua misi, tiap wahana ada sisi plus dan minusnya.
    Harga yang murah dalam memproduksi midget, sotong maupun sea ghost ketimbang membuat kapal selam berukuran normal maupun memproduksi kapal perang permukaan merupakan alasan yang tidak dapat dibantahkan untuk memperbanyak jumlah armada midget, sotong maupun sea ghost. Mengutip ucapan Stalin, “jumlah merupakan kekuatan tersendiri”. (by Afiq0110).
    »»  READMORE...

    [Foto] Riset Teknologi TNI AD, Gladi Bersih HUT TNI AU & Penarikan Satgas MNEK


    Riset Teknologi TNI AD


    Riset teknologi TNI AD
    Riset teknologi TNI AD
    Riset teknologi TNI AD


    Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Budiman (kedua kiri) didampingi Rektor Surya University Yohanes Surya (kiri) memberikan penjelasan mengenai Superdrone (pesawat tanpa awak) saat pameran hasil riset berbasis teknologi kerja sama TNI AD dengan Surya University di Mabes TNI AD, Jakarta, Senin, 7 April 2014. Melalui pengembangan riset tersebut diharapkan Indonesia dapat mengembangkan alat utama sistem pertahanan (alutsista) sehingga militer Indonesia tak perlu (atau mengurangi) ketergantungan kepada negara lain. 

    Berikut beberapa program riset kerjasam antara TNI AD dan Surya University: 15 program riset tersebut :
    • Super Drone. Pesawat tanpa awak untuk misi intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR).
    • Laser Gun. Senjata untuk latihan menembak. Hanya saja pelurunya diganti dengan berkas sinar laser. Komputer membuat tembakannya seperti tembakan peluru. Hal ini akan menghemat penggunaan peluru.
    • Open BTS. Dengan Open BTS ini, TNI AD bisa membuat jaringan selular sendiri. Cocok untuk daerah-daerah pedalaman.
    • VOIP Based Mesh Network. Sistem jaringan yang tak tergantung pada salah satu poin artinya ketika satu titik rusak, sistem tidak akan mati. Sistem ini mudah di-install.
    • APRS and Mesh Network. Sistem untuk mengatur alutsista dan tentara ketika berada di lapangan. Dilengkapi dengan sistem GPS dan uniknya ini juga self healing.
    • Nano Satelit: Satelit yang beratnya hanya satu kilogram. Untuk tahap ini baru bisa dipakai untuk komunikasi saja.
    • Integrated Optronic Defense System. Sistem pertahanan dengan memanfaatkan sistem optik dan elektronika.
    • Simulasi komputer I. Software yang dikembangkan untuk menganalisa tank atau alat perang lainnya dan mempelajari kekurangan dan kelemahan alat ini ketika dipakai di Indonesia.
    • Simulasi komputer II: Software untuk menganalisa berbagai senapan.
    • Gyrocopter. Prototipe motor terbang, diharapkan dapat membantu transportasi antar pulau-pulau kecil di Indonesia.
    • IPv6. Tiap komputer punya alamat yang disebut IP.
    • Multi Rotor. Dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
    • Frapping Bird. Dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
    • Alat konversi BBM ke BBG. Melalui alat ini motor-motor TNI AD akan menggunakan bahan bakar hibrid, yakni bensin dan gas. Subsidi gas sangat murah dibandingkan subsidi bensin. Gas lebih hemat tiga kilo gram motor bisa menempuh jarak 240-300 km.
    • Biotanol dari sorgum: Dilengkapi dengan genset yang sudah dimodifikasi sehingga cocok dengan biothanol.
    Foto: ANTARA/Zabur Karuru/fz
    »»  READMORE...