Sistem rudal pertahananan udara Rusia S-400 mulai beroperasi di atas langit Moskow. Sistem ini sebelumnya sudah diuji langsung di lapangan Kapustin Yar
Delapan unit peluncur rudal pertahanan udara S-400 tampil dalam parade di Lapangan Merah Moskow pada peringatan peringatan ke-69 kemenangan Rusia dalam Perang Patriotik Raya, Jumat (9/5) lalu. Foto: Wikipedia.org
Awak tempur Resimen Rudal Pertahanan Udara Zvenigorod yang dilengkapi dengan S-400 ‘Triumph’ ZRS (Zenitnaya Raketnaya Sistema/Sistem Rudal Pertahanan Udara) mulai menjalankan tugas, setelah melakukan latihan menggunakan simulator ‘Tembr-M’. Hal tersebut disampaikan oleh Kolonel Aleksey Zolotukhin, Perwakilan Resmi VKO (Vozdushno-Kosmicheskaya Oborona/Pasukan Pertahanan Udara) pada ITAR-TASS, Senin (12/5).
Resimen Rudal Pertahanan Udara Zvenigorod yang berwenang mengoperasikan sistem ‘Triumph’ S-400 dan ‘Pantsir-S1’ sejak Maret lalu tersebut telah berhasil menyelesaikan tes uji pengoperasian sistem S-400 dalam satu-satunya resimen pelatihan Pertahanan Udara di pangkalan Rusia. Mereka menjalankan latihan menembak langsung dengan sistem S-400 di lapangan pengujian Kapustin Yar dan mulai menjalankan tugas membela ruang udara di atas Moskow dan pusat kawasan industri Rusia.
Sebagai bagian dari Pasukan Pertahanan Udara, tujuan utama resimen rudal pertahanan udara adalah mempertahankan wilayah udara Moskow dan pusat kawasan industri, serta melindungi pejabat militer, pejabat negara, industri, dan tenaga listrik. Mereka juga bertugas melindungi pasukan dan jaringan transportasi dari ancaman serangan udara musuh.
Menurut Zolotukhin, Pasukan Pertahanan Udara di Podmoskovye dirancang untuk memperbaharui pelatihan awak tempur di pos komando resimen rudal pertahanan udara serta barisan S-300 dan S-400. Hal ini untuk memungkinkan mereka melakukan operasi tempur di lingkungan udara yang kompleks menggunakan penerbangan aktual dan simulator ‘Tembr-M’.
Sifat unik dari simulator ‘Tembr-M’, menurut Zolotukhin, terletak pada kemampuannya untuk melakukan simulasi tempur secara real-time dan dalam dimensi geografis yang sebenarnya. Di wilayah Moskow, spesialis dari resimen pelatihan dapat melatih awak tempur S-300 dan S-400 dari resimen rudal pertahanan udara untuk melakukan operasi di setiap sudut dunia dengan menggunakan peta digital wilayah yang bersangkutan.
Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di ITAR-TASS.Zolutukhin menyampaikan, tahun lalu ada lebih dari 30 latihan uji taktis di pangkalan resimen pelatihan. Lebih dari 70 awak tempur dari pos komando dan barisan resimen rudal pertahanan udara dilatih oleh spesialis resimen, dan sekitar 1.000 personil dari pasukan rudal pertahanan udara menjalani pelatihan verifikasi.
Pada 2013, Rusia menandatangani kontrak senilai 49 miliar dolar AS untuk ekspor senjata dan perlengkapan militer.
Rusia mengekspor senjata ke 65 negara di dunia dan memiliki kesepakatan kerja sama teknis-militer dengan 89 negara. Foto: Reuters
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kontrak senilai 49 miliar dolar AS tersebut merupakan jumlah ekspor senjata tertinggi Rusia sepanjang sejarah.
Ekspor perlengkapan militer Rusia meningkat sebesar tiga persen pada 2013, mencapai lebih dari 15,7 miliar dolar AS. Jumlah tersebut, menurut Putin, melampaui jumlah ekspor pada 2012.
Putin menjelaskan, Rusia merupakan negara pemasok senjata dan perlengkapan militer terbanyak kedua di dunia. Rusia menguasai 27 persen pangsa pasar, beda tipis dengan AS yang menguasai 29 persen pangsa pasar. Sementara, Jerman menguasai tujuh persen, Tiongkok enam persen, dan Prancis lima persen.
Rusia mengekspor senjata ke 65 negara di dunia. Di samping itu, Rusia juga memiliki kesepakatan kerja sama teknis-militer dengan 89 negara. Putin menyatakan hubungan teknis-militer dengan negara mitra terus berkembang secara dinamis. Mitra-mitra tersebut antara lain negara anggota CIS(Commonwealth of Independent States), negara anggota CSTO (Collective Security Treaty Organization), India, Venezuela, Aljazair, Tiongkok, dan Vietnam. “Di samping itu, kami juga hendak memperluas pangsa pasar ekspor senjata, terutama di Amerika Latin," ujar Putin, seperti dikutip RIA Novosti.
Brahmastra merupakan alat bantu penembakan mortir yang efektif, efisien, dan akurat. Brahmastra memilki kekuatan yang optimal dalam memberikan solusi untuk semua metode penembakan mortir.
Brahmastra memiliki beberapa fitur yang sangat mendukung kinerja pasukan di medan perang untuk menembakan mortir secara akurat terhadap musuh. Brahmastra adalah alat yang cepat dan akurat dalam menentukan lokasi penembakan, sehingga bisa dilakukan efisiensi waktu pada saat penembakan. Selain itu alat ini juga memiliki fungsi “SAVE” terhadap semua langkah yang telah dilakukan. Selain fungsi menyimpan, alat ini juga memiliki fungsi “REPLAY” untuk melihat kembali langkah-langkah yang telah dulakukan user, sehingga dapat dilakukan review dan menjadi masukan dalam menyusun langkah selanjutnya.
Brahmastra juga memiliki display yang dapat menampilkan gambar peta, grafik lintasan, jarak aman, dan tanda-tanda taktis yang dapat mendukung proses penembakan mortir secara maksimal. Brahmastra juga dilengkapi output data penembakan dan dapat mengakomodasi mode penembakan mortir sesuai taktik militer. Semua fungsi-fungsi tersebut dapat mempermudah operasionalisasi alat saat di medan perang.
Brahmastra sangat mendukung kinerja pasukan angkatan darat di medan perang dalam melakukan penembakan jarak jauh dengan menggunakan mortir. Kelebihan produk ini adalah semua fitur yang terdapat di dalamnya dapat mendukung kinerja pasukan dalam penembakan mortir secara lebih efektif, efisien, dan akurat.
Brahmastra merupakan proyek kerjasama yang dilakukan antara PT Pindad (Persero) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan selama pengembangannya belum ditemukan kendala yang berarti.
Beberapa komponen masih mengimpor dari luar negeri seperti LCD dengan jenis Sun Readabale LCD High Definition dan core module, sedangkanuntuk sisa komponen penyusun dirakit di PT Pindad (Persero). Khusus untuk perangkat lunak (software) untuk perangkat ini, dibuat oleh pihak BPPT.
Pengujian perangkat ini telah dilakukan secara internal dengan tim dari PT Pindad (Persero), sedangkan untuk pengujian eksternal telah melibatkan satuan TNI AD yaitu Pussenif. Sertifikasi untuk perangkat ini belum dilakukan.
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau disingkat INTI adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini menyokong industri telekomunikasi Indonesia.
Seperti dikutip dari berbagai sumber, Rabu (21/5/2014), PT INTI sudah berkiprah lebih dari 35 tahun sejak didirikan. Perusahaan pelat merah ini menjadi pemasok utama pembangunan jaringan telepon nasional yang dilakukan oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT).
Selain itu, INTI juga punya pelanggan tetap di industri yang sama yaitu anak usaha Telkom, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), dan PT XL Axiata (EXCL)
Dulu INTI hanya melayani bisnis manufaktur berbagai produk telekomunikasi, namun seiring dengan berkembangnya tren konvergensi antara teknologi telekomunikasi dan teknologi informasi (IT), INTI telah melakukan perubahan orientasi bisnis menjadi industri berbasis solusi kesisteman, khususnya dalam bidang sistem infokom dan integrasi teknologi.
Sejak pertengah tahun 2000-an INTI menangani solusi dan layanan jaringan tetap maupun seluler serta mengembangkan produk-produk seperti IP PBX, NMS (Network Management System), SLIMS (Subscriber Line Maintenance System), NGN Server, VMS (Video Messaging System), GPA (Perangkat Pemantau dan Pengontrol berbasis SNMP), Interface Monitoring System untuk jaringan CDMA, dan Sistem Deteksi dan Peringatan Bencana Alam (Disaster Forecasting and Warning System).
INTI juga mulai merambah bisnis ke luar negeri, salah satunya untuk penyediaan kabel optik di negara-negara berkembang. Program terbaru dari INTI adalah pemasangan Sistem Monitoring dan Pengendalian bahan bakar minyak (SMP BBM) atau dikenal dengan RFID bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero).
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut akan menerima alat utama sistem persenjataan baru berupa helikopter anti-kapal selam jenis AS565 Panther. Angkatan Laut sudah mengajukan permohonan pengadaan helikopter tersebut ke Kementerian Pertahanan.
"Kami mintanya satu skuadron (16 buah), dan di Kementerian Pertahanan saya dengar hampir kontrak. Kapan datangnya, kami belum tahu," kata Kepala Pusat Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati kepada Tempo, Senin, 28 April 2014.
Menurut Untung, Angkatan Laut sangat membutuhkan helikopter anti-kapal selam tersebut. Sebab, saat ini TNI AL belum punya helikopter anti-kapal selam yang mumpuni. Helikopter Panther ini dinilai punya kemampuan yang bagus untuk mendeteksi kapal selam musuh yang bersembunyi di dalam laut. Helikopter buatan Eurocopter ini juga mampu menembakkan torpedo untuk mengandaskan kapal selam musuh dari atas permukaan laut.
Sesuai rencana, helikopter Panther akan ditempatkan di atas dek kapal perang milik TNI AL. Sebab, fungsi helikopter anti-kapal selam ini merupakan perpanjangan mata dan tangan dari sebuah kapal perang. "Jadi bisa dibilang filosofi helikopter kami berbeda dengan Angkatan Udara," katanya.
Kehandalan Helikopter AKS Penerbal
TNI Angkatan Laut akan mendatangkan helikopter anti-kapal selam jenis AS565 Panther. Helikopter ini lebih hebat dibanding helikopter lain milik TNI.
Kelebihan pesawat ini adalah kekuatan jelajahnya yang tinggi dan daya jangkau deteksi keberadaan kapal selam musuh yang lebih luas. Helikopter ini juga memiliki stabilitas yang baik untuk mendarat di atas kapal perang.
Bagi penerbang militer, helikopter buatan Eurocopter ini sulit ditaklukkan. Pilot harus bisa mendaratkan kapal ketika kondisi kapal tak stabil akibat ayunan gelombang laut ataupun yang tengah melaju. "Jadi, pilot harus menyelaraskan gerakan kapal, makanya helikopter untuk kapal perang harus memiliki sistem pendaratan berupa roda seperti Panther, karena ada suspensi yang menahan hentakan saat mendarat," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati kepada Tempo, Senin, 28 April 2014.
TNI AL berencana mendatangkan satu skuadron atau 16 helikopter baru buatan Eurokopter. Saat ini Angkatan Laut sangat membutuhkan helikopter anti-kapal selam tersebut. Sebab, TNI AL belum punya helikopter anti-kapal selam yang mumpuni.
Untung berharap helikopter tebaru ini bisa mengawali pembangunan kekuatan udara milik TNI AL. Sebab, tahun 1950-1970, TNI AL punya kekuatan udara terbesar di Asia Tenggara.
Pada masa itu, TNI AL sudah memiliki pesawat anti-kapal selam Fairey AS. 4 Gannet buatan Inggris. Pesawat ini tergolong hebat sebagai pembunuh kapal selam. Lebih seram lagi, TNI AL sempat punya pesawat jet pengebom IL-28T Beagle buatan Uni Soviet. "Masih ada beberapa pesawat dan helikopter lainnya," katanya.
Indonesia masih tergantung pada pengadaan atau pembelian teknologi satelit dari luar negeri. Seperti pembelian satelit oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai US$ 250 juta atau setara Rp 2,5 triliun.
BRI membeli satelit dari perusahaan profesional asal Amerika Serikat yakni Space Systems loral. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk satelit impor, Indonesia berencana bisa membuat dan meluncurkan satelit sendiri dalam 5 tahun ke depan.
"Kita ingin sekali dalam 5 tahun ke depan sudah mampu. Kita punya satu ahli," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (29/4/2014).
Ahli tersebut telah dipercaya oleh lembaga internasional dan terlibat dalam pengembangan satelit. "Tapi kan satu, ini harus tim besar yang sangat ahli," sebutnya.
Kepada Dahlan, sang ahli telah mengusulkan rencana pengembangan satelit dan menentukan lokasi yang tepat untuk peluncuran satelit.
"Sudah mengusulkan kepada saya untuk meluncurkan satelit sendiri, dia sudah tahu dari mana meluncurkannya," ujarnya.
Saat ditanya BUMN mana yang bakal mengembangkan satelit, Dahlan belum menentukan pilihan.
Lockheed Martin memperoleh kontrak untuk menyuplai sistem target-acquisition designation-sight/pilot night vision sensor (M-TADS/PNVS) kepada US Army dan TNI AD. Dengan kesepakatan kontrak senilai USD 80,6 juta, pihak Lockheed Martin akan menyuplai total delapan unit serta suku cadangnya untuk US Army dan sembilan untuk TNI AD. Sistem ini selanjutnya akan dipasang (onboard) pada heli serang Apache AH-64.
Direktur program Missiles and Fire Control M-TADS/PNVS Lockheed Martin, Matt Hoffman, seperti yang dilansir oleh Army Technology mengatakan : "Sistem M-TADS/PNVS akan meningkatkan survivabilitas pasukan AS dan sekutu kami dengan memberikan pilot Apache kemampuan untuk menyerang target secara akurat, dan dengan meningkatkan kesadaran situasional."
Manajer produk Sensor Apache US Army, Letnan Kolonel Steven Van Riper mengatakan bahwa produksi terbaru ini sudah support dengan Apache AH-64E.
Juga dikenal sebagai Arrowhead, M-TADS/PNVS adalah sistem kontrol tembak elektro-optikal canggih yang dirancang untuk meningkatkan serangan jarak jauh, electro-optical precision engagement dan kemampuan penargetan yang lebih akurat pada siang, malam bahkan saat cuaca buruk.
Sistem ini menggantikan sistem TADS/PNVS direct-view optics dengan unit TADS baru yaitu electronic display and control (TEDAC), yang menghadirkan fusi pencitraan yang baik dan juga meningkatkan resolusi target dan kesadaran situasional di medan perang.
Hingga saat ini, lebih dari 1.200 sistem M-TADS/PNVS berikut suku cadangnya sudah disuplai oleh Lockheed Martin untuk US Army dan 13 negara lain di dunia.
The Multi-Service Standard Guided Projectile (MS-SGP) went through a successful first test firing from a 5-inch 62-caliber Mk 45 Mod 4 Naval Gun System at White Sands Missile Range, New Mexico. According to BAE Systems, the projectile’s developer, all MS-SGP guided flight test objectives were achieved. The guided flight test, culminating more than 110 MS-SGP subsystem tests, demonstrates the tactical capability to a range of 38 kilometers. The MS-SGP’s maximum range is nearly 100 kilometers, with accuracy of less than five meters. The MS-SGP significantly enhances the capability of U.S. Army and Marine Corps field artillery and U.S. Navy Mk 45 gun systems.
The MS-SGP provides a single projectile capable of responsive, tactical fires for addressing stationary or moving targets for multiple U.S. or allied services at a fraction of the cost of current alternatives. “Currently the U.S. and its allies are using significantly more expensive solutions to address fire support and tactical targets,” said Chris Hughes, vice president and general manager of Weapon Systems at BAE Systems. “The projectile can provide the U.S. forces with an affordable, long-range, and precision gun-launched projectile to greatly expand our fire support capability.”
The guided projectile is developed in the standard 5-Inch naval gun configuration and saboted 5-Inch variant sized for 155mm howitzers operated by the Army and Marine Corps. The naval Mk 45 Mod 4 five inch guns has been deployed worldwide with more than 25 navies. Designed to fit this popular caliber in naval gun systems, SGP offers current naval platforms the capacity to provide long range joint fires and support asymmetric operations around the world. The Mk 45 Mod 4 will deliver 5-Inch fires at a maximum rate of 10 rounds per minute to 52 nautical miles to achieve desired effects.
While BAE Systems has achieved this milestone with its guided projectile, Raytheon is moving into this slot with a new derivative of its combat proven Excalibur Ib. The company is funding a development program to enhance its the current GPS-guided projectile with a new Guidance and Navigation Unit (GNU) employing a semi-active laser (SAL) offering ‘end-game targeting capability’. According to Raytheon, the addition of the SAL seeker will allow the munition to attack moving targets designated by other sources, such as forward observers or remotely piloted aircraft (RPA). Using laser targeting Excalibur will be able to attack targets that have re-positioned after firing, or change the impact point to avoid casualties and collateral damage. Raytheon plans to integrate the new GPS/SAL capability in 5-inch (127mm) naval guns, enabling such weapons to engage moving targets on land and at sea. Counter-swarming boat capability will be the prime focus of such at-sea moving target capability using a high-firing rate naval guns. According to company sources the transition to the naval 5-inch configuration will be easily made as the existing 155mm Excalibur Ib GNU design also fits in a 127mm projectile body.
“No other gun-launched GPS-guided artillery round is as precise as Excalibur, which in its current design gives one the ability to hit within 4 meters of the target 90 percent of the time,” said Kevin Matthies, Excalibur program director for Raytheon Missile Systems. “Now we’re ready to take this to the next level, giving the warfighter the ability to not only re-target the munition in flight, but leverage Excalibur’s maneuverability to use the pinpoint precision of a semi-active laser seeker to hit targets on the move.”
Recent tests of the SAL seeker have demonstrated the robustness of the design in a severe gun-firing environment. The company said it will offer existing customers to upgrade their Excalibur Ib guidance and navigation units with the new GPS/SAL capability.
On the other side, BAE is moving into Raytheon’s turf offering the land-based derivative of the saboted 5-Inch SGP, that can be fired from standard 155mm howitzers in service with the Army and Marine Corps. The company plans to fire the MS-SGP from an M777 towed howitzer in the summer of 2013. MS-SGP will expand the range and area covered by direct and general support artillery units, to provide long range joint fires in support of ground combat operations. Artillery units firing the 5-Inch Saboted SGP will deliver a volume of effects on desired area targets out to a range of 70 kilometers. By use of flight profiling, the 5-Inch Saboted SGP can execute Multiple Rounds Simultaneous Impact (MRSI) missions, magnifying lethal effects.
Both the 5-Inch SGP and Saboted SGP offer rapid time of flight and the capability of in-flight retargeting to address moving targets, changing target conditions, and surface threats. They both deliver all weather precision attack capability to fully defeat targets with high-explosive warheads, while operating within a jamming environment. Tested component designs are based on a spiral of the highly successful 155-mm Long Range Land Attack Projectile (LRLAP).