News in Picture

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tuesday, May 14, 2013

RI Siap Produksi Pesawat Pengintai Tanpa Awak



PUNA Wulung

Menyusul rencana memproduksi pesawat pengintai tak berawak, Kementerian Pertahanan RI menyatakan semua pesawat itu tidak bersenjata. Meski begitu, Kementrian Pertahanan Indonesia mengatakan sudah punya  rencana jangka panjang untuk mempersenjatai model yang bisa menembakkan misil atau menjatuhkan bom-bom.

Seperti diungkap Samudro, Direktur Badan Penerapan Riset dan Teknologi yang ikut merancang prototype itu, pesawat pengintai tak berawak Wulung mengirim video langsung  kepada stasiun-stasiun  pengendali di darat tapi hanya bisa terbang sampai empat jam dan sejauh 73 kilometer dari pusat pengendaliannya di darat.

Sebagai perbandingan, beberapa pesawat pengintai Amerika bisa terbang lebih dari satu hari tanpa mengisi bahan bakar dan bisa dikendalikan lewat satelit dari jarak ribuan kilometer jauhnya.
Dengan teknologi canggih dan didukung infrastruktur rumit, pesawat pengintai tak berawak yang bersenjata telah menjadi bentuk alat perang baru yang sangat modern, seperti dilansir situs voa.

Dalam upaya menyaingi kemampuan senjata global, pembuatan pesawat pengintai Indonesia harus dimulai dari sekarang. Tidak masalah jika harus dimulai dari jangkauan puluhan kilometer dahulu karena lama kelamaan bisa ditingkatkan dengan jangkauan yang jauh lebih besar. BPPT bisa menjadi semacam litbang untuk merekayasa pesawat tanpa awak yang lebih canggih yang dikendalikan dengan menggunakan satelit. Sementara LAPAN sedang mengembangkan satelit sendiri untuk diluncurkan dengan roket milik sendiri nanti, pesawat tanpa awak Indonesia bisa siap untuk mengudara dengan jangkauan ribuan kilometer.

Yang penting titik awal itu telah kita mulai dan perjalanan jauh sedang dilaksanakan. Jika negara-negara lain terutama angkatan bersenjata  negara-negara besar menggunakan beberapa jenis pesawat pengintai tak berawak yang dibeli dari pemasok utama seperti Israel dan Amerika, I
Indonesia bisa saja membeli dari AS untuk dipreteli / dipelajari jika AS mau menjualnya ke Indonesia. Tapi jika mereka tidak bersedia, mau tidak mau Indonesia harus melakukan pengembangan sendiri ke depan.

Perjalanan panjang ribuan kilometer selalu dimulai dari satu langkah awal. Yang penting Indonesia harus konsisten dengan rencana itu, dan jangan pedulikan kritikan orang-orang yang hanya pintar melontarkan cemoohan.

Tantangan Ke depan

Tantangan pengembangan ke depan dari sisi teknis adalah Indonesia belum pernah meluncurkan satelit sendiri dengan menggunakan roket milik sendiri.  LAPAN memperkirakan lima tahun lagi Indonesia sudah bisa membuat roket pembawa satelit ke luar angkasa, sementara satelitnya sendiri sejauh ini LAPAN sudah mampu membuatnya atas bantuan Jerman.

Namun LAPAN tampaknya sedang mengembangkan satelit yang lebih canggih untuk keperluan pengintaian, dengan teknologi yang lebih rumit dari pada teknologi satelit untuk pengamatan cuaca dan sistem komunikasi.

Jika sudah pada tahap itu, tampaknya BPPT dan konsorsium tidak akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan pesawat tanpa awak itu hingga mampu terbang ribuan kilometer. PT DI tentunya juga sudah mulai memikirkan bagaimana pesawat itu bisa terbang selama berhari-hari dari sisi bahan bakarnya. Bersama LEN, sangat mungkin konsorsium mampu menghasilkan pesawat terbang bertenaga surya atau dengan bahan bakar lainnya.

Tantangan yang lain adalah dari segi pengembangan software dari pesawat tanpa awak tersebut. Konsorsium BPPT, PT DI, LAPAN, dan PT LEN perlu menggandeng ITB atau UI atau ITS untuk mengembangkan perangkat lunak yang sesuai dengan tujuan. Indonesia memiliki ribuan programmer handal yang mampu mewujudkan rencana itu yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri maupun di luar negeri.

Jika konsorsium mau mengikuti langkah Dahlan Iskan dalam merekrut orang-orang Indonesia terbaik dari seluruh dunia, maka itu akan bisa mempercepat langkah itu. Penulis pernah membaca di Jawa Pos ada seorang ahli RADAR Indonesia yang bekerja di pusat pengembangan RADAR NATO di Eropa, dan dia adalah pakarnya di sana. Indonesia perlu memanggil pulang orang-orang seperti ini agar bisa berkarya membangun Indonesia. 

No comments: